Saya melaksanakan ibadah haji bersama suami saya dengan haji ifrad . Saya termasuk penduduk Makkah, dan kami tidak melaksanakan ibadah sa’i. Apa yang harus kami lakukan?, dan kalau kami harus membayar fidyah, maka instansi manakah yang dapat dipercaya untuk menyalurkan pembagian fidyah?

Alhamdulillah

Ibadah sa’i adalah salah satu
rukun haji, maka haji tidak sempurna tanpa ibadah sa’i. seorang yang sedang
berihram tidak boleh melakukan tahalluh akbar, sampai ia melaksanakan sa’i.
sedangkan tahallul ashghor yang setelahnya dibolehkan melakukan apa saja
kecuali jima’ dengan istri. Tahallul ini dilakukan setelah melempar jumrah
dan memotong rambut. Dan apabila ia melakukan thawaf dan sa’i, maka ia boleh
bertahallul tahallul akbar yang setelah itu halal baginya untuk melakukan
apa saja.

Adapun seseorang yang
melaksanakan haji ifrad hanya diwajibkan baginya satu kali sa’i, apabila ia
telah melakukan sa’i setelah thawaf qudum, maka sa’i tersebut sudah cukup.

Atas dasar itulah, jika anda
belum melaksanakan sa’i setelah thawaf qudum, maka sampai sekarang anda
masih berstatus sebagai muhrim, dan belum melaksanakan tahallul akbar. Dan
suami anda tidak boleh melakukan hubungan suami-istri sampai anda
bertahallul, yaitu; dengan melaksanakan ibadah sa’i.

Dan kalau pernah terjadi
jima’ sebelumnya karena belum mengetahui hukumnya, maka anda tidak berdosa,
namun lebih baik lagi jika anda membayar fidyah, yaitu; masing-masing dari
anda berdua menyembelih seekor kambing atau memberi makan enam orang miskin
atau berpuasa tiga hari.

Anda berdua juga wajib
beristigfar dan bertaubat kepada Allah karena keteledoran tersebut.
disebabkan anda berdua tidak melengkapi rangkaian ibadah haji sebagaimana
yang Allah perintahkan, anda juga tidak bertanya kepada para ulama
sebelumnya, padahal anda berdua termasuk pernduduk Makkahy yang dengan mudah
melaksanakan ibadah sa’i.

Syeikh Ibnu Baaz
–rahimahullah- pernah ditanya: Saya termasuk penduduk Makkah, saya telah
melaksanakan ibadah haji pada tahun lalu, saya sudah melakukan thawaf tapi
belum melakukan sa’i, bagaimanakah hukumnya?

Beliau menjawab:

“Anda tetap diwajibkan
melaksanakan sa’i, ini kesalahan anda. Sa’i tetap wajib meskipun anda
termasuk penduduk Makkah atau tidak. Sa’i wajib dilakukan setelah thawaf,
sekembalinya dari Arafah. Barang siapa yang meninggalkan sa’i, maka ia wajib
melakukannya sekarang. Apabila sebelumnya sudah menggauli istrinya, maka ia
harus membayar (dam) denda sembelihan, dan disedekahkan kepada fakir miskin
penduduk Makkah; karena tidak mungkin tahallul tsani kecuali dengan sa’i.
Solusi anda adalah harus melakukan sa’i sekarang dengan niat haji yang telah
lalu”. (Fatawa Syeikh Ibnu Baaz: 17/341)

Syeikh Shalih al Fauzan
–hafidzahullah- berkata tentang seseorang yang haji dan meninggalkan sa’i;
karena tidak mampu berjalan dan tidak mampu menyewa tandu: “Adapun orang
yang meninggalkan sa’i, ini adalah kesalahan; karena anda wajib
menyempurnakan rangkaian ibadah haji, sedangkan sa’i adalah salah satu rukun
haji yang tidak sempurna haji seseorang kecuali dengannya. Jika anda berniat
haji dengan haji ifrad, maupun haji qiran dan telah melakukan sa’i setelah
thawaf qudum, maka anda tidak wajib sa’i lagi setelah thawaf ifadhah.

Namun apabila anda berniat
haji dengan haji tamattu’ atau haji qiran atau haji ifrad dan anda belum
melaksanakan sa’i setelah thawaf qudum, maka sa’i tetap wajib bagi anda.
Diwajibkan bagi anda untuk pergi melaksanakan sa’i di antara bukit Shafa dan
Marwa sebanyak tujuh kali dengan niat sa’i untuk haji sebelumnya. Dan
apabila anda pernah menggauli istri anda selama belum melaksanakan sa’i,
maka anda wajib membayar dam dengan menyembelih kambing dan dibagikan kepada
orang fakir miskin penduduk Makkah, dan apabila anda ingin kembali ke daerah
asal anda, maka juga melakukan thawaf wada’. (Al Muntaqa min Fatawa al
Fauzan).

Wallahu a’lam.