Bagaimana saya mengetahui kalau saya telah maksimal melakukan sebab . Karena saya merasa maksimal, maka sekarang tinggal bertawakal kepada Allah dan diri saya tenang. Atau dengan kata lain, apa patokan dalam mencurahkan sebab? Sebagian orang mengatakan seperti ‘Ikatlah dan bertawakal’ apakah termasuk sebab saya mengikatnya dengan rantai besi? Atau ini berlebihan dalam mencari sebab?

Alhamdulillah

Mengambil sebab tidak
menafikan tawakal kepada Allah, bahkan hal itu termasuk yang disyariatkan.
Disertai keyakinan bahwa musibah dan manfaat ada di tangan Allah Subhanahu.
Dialah yang menciptakan sebab dan akibatnya. Harus ada ikatan yang benar
antara sebab dan akibat. Hal itu dapat diketahui dari pengalaman, kebiasaan
atau riwayat syar’i dan semisal itu.

Kemudian sebab harus
disyariatakn (dibolehkan). Maka tujuan yang disyariatkan dan terpuji,  maka
sebabnya pun harus seperti itu; dibolehkan dan disyariatkan.

Kemudian bagi seorang hamba
hendaknya berimbang di antara dua perkara, jangan meremehkan sebab secara
umum, juga hatinya jangan bergantung dengannya. Cuma sekedar sebagai
perantara dengannya seperti perantara manusia dalam kebiasannya dan urusan
kehidupannya. Kemudian hatinya jangan tergantung dengan sebab. Bahkan (seharusnya)
hanya kepada Allah Taala, Penguasa segala kerajaan dan pengatur seluruh
urusan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan, “Condong kepada sebab adalah hati bersandar dan
berhadap kepadanya. Hal ini tidak berhak sedikitpun diharapkan dari makhluk.
Karena dia tidak berdiri sendiri, harus ada faktor penunjang lainnya.
Meskipun demikian, dengan semua itu, kalau Allah tidak tundukkan untuknya,
maka sebab itu tidak berlaku baginya.” (Majmu Fatawa, 8/169).

Sementara patokan dalam
masalah mengambil sebab adalah sesuai dengan kondisinya. Berhati-hati pada
orang yang sakit ringan –contohnya- tidak seperti berhati-hati orang yang
sakit berat. Berhati-hati menjaga sesuatu yang mahal, berharga lagi bernilai
tidak seperti berhati-hati menjaga pada sesuatu yang nilainya rendah,
begitulah seterusnya.

Mengambil sebab dalam mencari
rizki berbeda dengan mengambil sebab dalam menolak sakit. Mengambil sebab
dalam makan dan minum tidak seperti mengambil sebab dalam mendapatkan anak,
memperbaiki dan mendidiknya.

Begitulah sebab pada segala
sesuatu sesuai dengan kondisinya, membedakan kondisi dari satu masalah
dengan masalah lainnya, dari kondisi ke kondisi lainnya. Dari sana seseorang
dapat diketahui mana yang lalai dan menyia-nyiakan sesuai kondisi dan mana
orang cerdas lagi semangat dibanding orang yang biasa kondisinya. Silahkan
lihat jawab soal no. 11749.
130499
.

Wallahu a’lam
.