Saya adalah seorang gadis berumur 23 tahun, jujur saja saya tidak shalat atau jarang shalat, kalaupun saya mengerjakan Shalat akan tetapi jarang sekali dalam pelaksanaannya bisa genap lima waktu sebagaimana yang diwajibkan, terus terang juga saya biasa mendengarkan lagu-lagu, akan tetapi – demi Allah sebagai saksi – sesunguhnya topik ini menjadikan pribadiku bergejolak dan dilema, saya ingin mendirikan shalat, melaksanakan segala bentuk ketaatan kepada Allah, dan sesungguhnya saya takut kepada-Nya, dan saya sangat bangga dengan keberadaan saya sebagai seorang Muslimah, dan Dia-lah Tuhanku yang sama sekali tiada sekutu Bagi-Nya, saya juga mencintai kecitaanku Al Mushthofa Rasulullah dan hal itu saya buktikan dengan menelaah Siroh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, dan saya juga amat tertarik dan terkesima ketika mendengarkan kisah-kisah beliau Shallallahu Alaihi Wasallam, Alhamdulillah Allah ‘Azza wa Jalla telah memulyakan aku untuk bisa melaksanakan ibadah umroh pada tahun ini, dan saya sangat berbahagia akan hal tersebut, akan tetapi tetap saja saya merasa sebagai seorang yang terhimpit atau tidak ada perbedaan antara saya dengan orang-orang kafir karena saya tidak melaksanakan shalat, sering kali saya berusaha untuk bisa kontinyu melaksanakan shalat akan tetapi saya sendiri tidak tahu mengapa hal ini terus terulang kembali kepada saya ; yaitu meninggalkan shalat, dan perlu diketahui sesungguhnya saya sudah cukup lama sekali meninggalkan shalat, di sisi lain saya juga merasa bahwasannya saya teramat bodoh tentang perkara-perkara agama Islam, sampai-sampai saya mengira dan tidak bisa dipungkiri bahwasannya tempat kembaliku nanti adalah neraka, saya membutuhkan orang yang bisa membimbing dan menuntunku, senantiasa memberikan nasihat kepada saya, yang bisa memutuskan dan menghentikan kondisi keterpurukan yang saat ini saya alami dan saya berada di dalamnya, saya sangat membenci keberadaan saya pada kondisi seperti sekarang ini !!.

Dan diatas ini semua sebenarnya di sana ada permasalahan yang lain ; yaitu saya teringat bahwasannya saya meninggalkan berpuasa beberapa hari di bulan Ramadhan padahal saya tidak mendapati satu pengahalang-pun yang memperbolehkan saya untuk tidak berpuasa !!

Dan terus terang sesungguhnya saya tidak begitu yakin apakah yang saya tidak berpuasa itu hari-hari puasa di bulan Ramadhan ataukah hari-hari puasa yang enam hari di bulan Syawwal tepatnya waktu disunnahkannya puasa enam hari di bulan Syawwal, padahal di keluarga kami memiliki tradisi senantiasa menjaga dalam melaksanakan puasa enam hari Syawwal di setiap tahunnya, karena banyak perkara-perkara yang bercampur aduk di benak saya, dan permasalahan ini terjadi pada waktu di mana saat itu saya masih jauh dari Allah, padahal saya sangat paham betul bahwasannya barangsiapa yang berbuka di siang hari bulan Ramadhan tanpa ada sebab yang membolehkan berbuka, maka Allah tidak akan menerima puasanya, dan atasnya Kaffarat atau denda, maka apa gerangan yang harus saya perbuat ?? Saya mengharap kepada anda yang mulia agar membantu saya dan memberikan pemahaman kepada saya, karena saya saat ini sangat berputus asa atas beban dosa tersebut, semoga jawaban anda akan dijadikan oleh Allah sebagai pemberat timbangan kebaikan anda Insya Allah, dan juga kaum Muslimin semuanya mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga bagi Anda…

Alhamdulillah…

Yang pertama :

Saudariku yang terhormat kami akan katakan
kepada anda : Bahwasannya pertama-tama yang mesti anda lakukan adalah ;
hendaklah anda memilah titik permasalahan kemudian anda beranjak mencari
solusi, jika anda meminta bantuan kepada kami untuk memilah permasalahan
yang sesungguhnya ada pada diri anda sendiri dan bukan bersumber dari
sesuatu yang lain ! Dan sama sekali bantuan dan sumbangsih orang lain yang
diberikan kepada anda tidak akan memberikan kemanfaatan sehingga anda
sendirilah yang semestinya mengambil tindakan penyelamatan untuk diri anda,
dari ungkapan perasaan yang anda lontarkan pada pertanyaan anda menunjukkan
bahwasannya yang melandasi timbulnya istiqamah dan kebaikan itu ada pada
diri anda sendiri, karena sesungguhnya seorang mukmin itu dialah yang akan
menghisab dan mencela perbuatan-perbuatan buruk yang muncul dari dalam
dirinya, dan nampaknya anda telah menghalau hal-hal buruk yang ada dalam
diri anda. Seorang Mukmin itu takut akan keterbatasan amal shalihnya dan
dosa-dosa yang telah ia perbuat, ia melihat dosa-dosa tersebut bagaikan
gunung yang hampir saja akan ditimpakan kepadanya, dan nampaknya hal ini
juga yang sedang anda rasakan, seorang Mukmin itu akan menjadi luhur dengan
keislaman dan keimanannya, dia akan lebih terhormat dengan agama yang agung
ini dengan mencintai Nabinya yang mulya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
!!, dan surat anda menjelaskan akan hal tersebut ?!.

 Jika memang begitu,
bagaimana anda bisa menghimpun antara sifat-sifat yang baik di atas dengan
meremehkan kewajiban agama yang paling agung yaitu SHALAT ? Kami tidak
memiliki penafsiran terkait apa yang anda paparkan melainkan manajemen
pribadi dan lemahnya pengendalian terhadapnya, karena sesungguhnya
pelaksanaan Shalat tidak terlalu membutuhkan jerih payah dan tidak menyita
begitu banyak waktu, tidaklah Shalat itu dikerjakan melainkan hanya sekedar
beberapa menit saja yang diberikan seseorang untuk Tuhannya, ia bermunajat
kepada-NYA mengutarakan segala kebutuhannya, mencurahkan dan mengadu
kepada-NYA akan beban berat kehidupan dunia dengan mengharap Rahmat-NYA dan
rindu berjumpa dengan-NYA, dan apabila jiwa-jiwa kita tidak mampu
melaksanakan komitmen pada menit-menit  yang terbatas ini maka kita tidak
bisa mengira akan berhasil dalam kehidupan kita selamanya, karena
sesungguhnya kendali jiwa itu membutuhkan kepada sebuah tekat dan azam yang
kuat, dan sebagai kaum Muslimin, Allah sama sekali tidak akan membebani kita
di atas kemampuan kita, bahkan tidak membebani kepada kita apa yang akan
menyulitkan kita, dan DIA-lah Maha Suci yang senantiasa mengampuni kita dan
memberikan kemurahan dan kemudahan kepada kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :

(

يُرِيدُ

اللّهُ

بِكُمُ

الْيُسْرَ

وَلاَ

يُرِيدُ

بِكُمُ

الْعُسْرَ
)
البقرة/185

(Allah menginginkan bagi kalian kemudahan dan
tidak menginginkan untuk kalian kesulitan ).
SQ:  Al Baqarah /185.

Dan Firmannya yang lain :

(

يُرِيدُ

اللّهُ

لِيُبَيِّنَ

لَكُمْ

وَيَهْدِيَكُمْ

سُنَنَ

الَّذِينَ

مِن

قَبْلِكُمْ

وَيَتُوبَ

عَلَيْكُمْ

وَاللّهُ

عَلِيمٌ

حَكِيمٌ
.
وَاللّهُ

يُرِيدُ

أَن

يَتُوبَ

عَلَيْكُمْ

وَيُرِيدُ

الَّذِينَ

يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ

أَن

تَمِيلُواْ

مَيْلاً

عَظِيماً
.
يُرِيدُ

اللّهُ

أَن

يُخَفِّفَ

عَنكُمْ

وَخُلِقَ

الإِنسَانُ

ضَعِيفاً
)
النساء/26-28 

(Allah hendak menerangkan Syari’at-Nya kepada
kalian, dan menunjukkan jalan-jalan kehidupan orang-orang sebelum kalian {
yaitu para Nabi dan orang-orang shalih} dan Dia menerima taubat kalian.
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan Allah hendak menerima taubat
kalian, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar
kalian berpaling sejauh-jauhnya { dari kebenaran }. Allah berkehendak
memberikan keringanan bagi kalian, karena umat manusia diciptakan dengan
kelemahan ). An Nisaa’/ 26-28.

Dan perintah Shalat merupakan Rahmat yang
diwajibkan oleh Allah kepada kita dan hal itu bagian dari kemurahan dan
kebaikan-Nya, barang siapa yang senantiasa menjaganya dan melaksanakan
hak-haknya sebaik mungkin ; maka dia akan melihat keutamaan Allah Ta’ala
kepada kita mewajibkannya atas kita, dan sesungguhnya manusia yang
diharamkan dalam melaksanakan shalat berarti dia telah diharamkan mengenyam
kelezatan berdekatan dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :                           

عن

أبي
هريرة

رضي
الله

عنه
أن

النبي
صلى

الله
عليه

وسلم
قال
:

الصَّلَاةُ
خَيرٌ

مَوضُوعٌ
،

فَمَنِ
استَطَاعَ

أَن
يَستَكثِرَ

فَلْيَستَكثِرْ )رواه

الطبراني ( 1 / 84 )
وصححه

الألباني
في

صحيح
الترغيب
(390 )

Dari Abu Hurairah Radliyallahu Anhu
sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : ( Perintah Shalat
merupakan kebaikan yang telah dibentangkan, maka barang siapa yang bisa
memperbanyak Shalat hendaklah ia memperbanyaknya ) Hadits Riwayat Ath
Thabrani ( 1/ 84 ) dan di Shahihkan oleh Al Albani dalam kitab : “ Shahih At
Targhieb ” ( 390 ).

Dan coba anda perhatikan juga bagaimana Allah
Ta’ala meletakkan ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban bersuci dengan
perintah shalat, Firman-NYA : 

 )

مَا
يُرِيدُ

اللّهُ
لِيَجْعَلَ

عَلَيْكُم
مِّنْ

حَرَجٍ
وَلَـكِن

يُرِيدُ
لِيُطَهَّرَكُمْ

وَلِيُتِمَّ
نِعْمَتَهُ

عَلَيْكُمْ
لَعَلَّكُمْ

تَشْكُرُونَ )
المائدة/6
 

Artinya : (Allah tidak ingin menyulitkan
kalian, akan tetapi DIA berkehendak membersihkan kalian dan menyempurnakan
Nikmat-NYA bagi kalian agar kalian senantiasa bersyukur ). Al Maidah/ 6.

والنبي

المصطفى

صلى

الله

عليه

وسلم

،

الذي

تحبينه

وتحبين

سيرته

كان

يقول 
: (
جُعِلَت

قُرَّةُ

عَينِي

فِي

الصَّلَاةِ
)

رواه

النسائي
3940
وحسنه

الحافظ

ابن

حجر

في

التلخيص

الحبير
” ( 3 / 116 )
وصححه

الألباني

في

صحيح

النسائي 

Dan Nabi Al Mushtafa Shallallahu Alaihi
Wasallam yang anda mencintainya dan mencintai sirahnya bersabda : ( Dan
Shalat itu dijadikan penyejuk mataku ) Hadits ini di Hassankan oleh Al
Hafidl Ibnu Hajar dalam kitab “ At Talkhish Al Kabir ” ( 3/ 116 ) dan di
Shahihkan oleh Al Albani dalam kitab  : “ Shahih An Nasaa’i ”  Hadits
Riwayat An Nasaa’i ( 3940 ).

Maka bagaimana seorang Mukmin ridlo terhadap
dirinya jika lenyap darinya segala kebaikan dan keberkahan ??  Ibnu Al
Qayyim Rahimahullah berkata : Alangkah sedihnya dan alangkah sengsaranya
seseorang … bagaimana bisa waktu terus berlalu umur terus berkurang
sedangkan hati terkunci tidak bisa mencium bau yang seperti ini, ia keluar
dari dunia sebagaimana kondisi saat dia memasukinya, ia sama sekali tidak
pernah mengecap kebaikan dan keindahan yang ada di dalamnya, bahkan ia hidup
di dalamnya tak ubahnya seperti hidupnya binatang, ia berpindah
kesana-kemari bagaikan orang-orang yang bangkrut, ada yang hidupnya sengsara
penuh kesulitan kematiannya begitu menyedihkan, lalu tempat kembalinya penuh
kerugian, diselimuti kesedihan dan duka yang mendalam, Yaa Allah hanya bagi
Engkaulah segala Pujian, dan kepada- MU lah tempat mengadu, dan hanya kepada
Engkaulah panjatan pertolongan, dan hanya Engkaulah yang mengentaskan segala
bencana dan kesulitan, lalu kepada-MU lah bermuara segala kepasrahan dan
tawakkal dan tidak ada daya dan upaya melainkan hanya dengan-MU. Dari kitab
“ Thariqul Hijratain ” halaman : 327.

Dan tidaklah saya bermaksud dengan apa yang
saya sebutkan ini agar anda semakin berputus asa terhadap apa yang anda
rasakan, akan tetapi agar anda senantiasa berusaha sekuat  tenaga untuk
berlepas diri dari apa-apa yang mengganggu anda selama ini, karena tidaklah
apa yang menimpa anda melainkan kelemahan anda dalam menjalankan kewajiban
yang termudah yaitu Shalat, dan anda sendiri tahu apabila Shalat yang begitu
mudah saja sulit anda laksanakan, maka dalam melaksanakan ibadah yang lain
akan terasa lebih sulit lagi. Dan sebuah kewajiban bagi anda hendaklah anda
tidak menjadikan hidup anda lahan untuk berputus asa di sisi Allah ‘Azza wa
Jalla ; dan patut anda ketahui sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala
membenci hamba-hamba-Nya yang senantiasa berputus asa. Firman Allah :

(

وَمَنْ

يَقْنَطُ

مِنْ

رَحْمَةِ

رَبِّهِ

إِلَّا

الضَّالُّونَ)

الحجر/56

artinya : ( Dan tidaklah orang yang berputus
asa terhadap Rahmat Tuhannya melainkan mereka orang-orang yang sesat ) Al
Hijr /56.

Dan sebaliknya Allah sangat menyukai
hamba-hamba-Nya yang menebarkan kegembiraan dengan Rahmat dan Kutamaan-Nya,
dan diantara kebaikan-Nya yang tidak terhingga ; sesungguhnya Allah Ta’ala
mengampuni segala macam dosa dan menghapuskan kesalahan-kesalahan bahkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 (إِلَّا

مَن

تَابَ

وَآمَنَ

وَعَمِلَ

عَمَلاً

صَالِحاً

فَأُوْلَئِكَ

يُبَدِّلُ

اللَّهُ

سَيِّئَاتِهِمْ

حَسَنَاتٍ

وَكَانَ

اللَّهُ

غَفُوراً

رَّحِيماً
.
وَمَن

تَابَ

وَعَمِلَ

صَالِحاً

فَإِنَّهُ

يَتُوبُ

إِلَى

اللَّهِ

مَتَاباً
)
الفرقان/70-
71

(kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman
dan mengerjakan amal shaleh ; maka kejahatan mereka akan diganti oleh Allah
dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan
orang yang bertaubat dengan senantiasa mengerjakan Amal Shaleh, maka
sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang
sebenar-benarnya). SQ. Al Furqaan : 70-71.

Dan salah seorang Ahli Hikmah berkata :
“Tidaklah angan-angan itu akan menjadi kenyataan melainkan dengan beramal ”,
dan anda sama sekali tidak akan terlepas dari kondisi keterputus asaan yang
syetan telah melemahkan anda dalam hal tersebut , melainkan anda memulai
dengan beramal dan berusaha konsisten dalam istiqomah, meski anda sendiri
tatkala memulainya akan mendapati kekurangan-kekurangan. Allah Ta’ala
berfirman :

(
وَلا

تَيْأَسُوا

مِنْ

رَوْحِ

اللَّهِ

إِنَّهُ

لا

يَيْأَسُ

مِنْ

رَوْحِ

اللَّهِ

إِلَّا

الْقَوْمُ

الْكَافِرُونَ)

يوسف
:87

(Dan janganlah kalian berputus asa dari
Rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah yang berputus asa dari Rahmat Allah
melainkan kaum yang kafir ). SQ. Yusuf : 87.

“Dari ayat tersebut bisa dipahami bahwa
sesungguhnya harapan dan kehendak itu menjadi wajib bagi seorang hamba untuk
berusaha menggapainya dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya, adapun
perasaan putus asa : itu akan senantiasa menghambat dan menghalang-halangi
untuk menggapai sebuah cita-cita, maka yang paling utama dalam hal ini dan
yang patut sebagai tambatan harapan hamba-hamba Allah adalah ; Keutamaan,
Kebaikan dan Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka janganlah kalian
menyerupai orang-orang kafir karena sesungguhnya tidaklah yang berputus asa
dari Rahmat Allah melainkan kaum yang kafir. Karena sebab kekufuran
merekalah ; mereka dijauhkan dari Rahmat Allah dan akan semakin jauhlah
Rahmat-Nya dari mereka. Dan hal ini menunjukkan sebatas dan sejauh mana
keimanan seorang hamba, jika memang keimanannya sangat tinggi maka sejauh
itu pula harapannya dan ketergantungannya kepada Rahmat  Allah ”. Tasir Ibnu
Sa’di.

Dan pertama kali serta yang semestinya anda
memulai dalam diri anda ; hendaknya anda memunculkan dalam pribadi anda
obsesi yang sangat besar, kepedulian dan penjagaan yang sangat agung
terhadap Shalat , sebagaimana obsesi yang anda rasakan terhadap
urusan-urusan dunia yang beragam seperti ; kebutuhan makan, minum, belajar,
berkeluarga dan lain sebagainya, karena sesungguhnya setiap perilaku pasti
didahului dengan keinginan, perhatian dan pemikiran, dahulu sebagian ulama
salaf memotifasi dirinya dan bersungguh-sungguh dalam memperbanyak
shalat-shalat sunnah dengan kesungguhan yang luar biasa, sehingga Tsabit Al
Bannani Rahimahullah berkata : { Aku terus menerus melakukan Qiyamul lail
selama dua puluh tahun dan selama itu pula akau merasakan kenikmatan yang
tiada tara }.

Dan tidaklah cukup sekedar perhatian dan
pemikiran belaka sehingga pemikiran dan perhatian terhadap ibadah tersebut
direalisasikan dengan sarana menjaga shalat, dan bagaimana anda mensiasati
diri anda sehingga anda bisa konsisten terhadap apa yang sudah difardlukan
oleh Allah Ta’ala, sedang manusia itu memiliki kemampuan yang besar dalam
hal memilih yang terbaik sarana-sarana yang akan membantunya mewujudkan apa
yang dikehendakinya. Maka jagalah oleh anda untuk bersegera melaksanakan
shalat setiap kali anda mendengarkan suara muadzin mengumandangkan takbir,
dan rasakanlah sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Agung dari setiap
dunia yang anda disibukkan dengannya , lalu beranjaklah ke tempat ibadah
anda untuk melaksanakan Shalat sebagaimana yang Allah telah mewajibkannya
kepada anda, dan jangan lupa anda memanjatkan do’a yang Nabi kita
Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengajarkannya kepada kita agar kita baca
di setiap selesai melaksanakan Shalat :

(
اللهم

أعِنِّي

على

ذِكْرِك

وشُكْرِك

وحُسْنِ

عِبادتِك)

“Yaa Allah bantulah aku untuk senantiasa
mengingat-Mu, senantiasa mensyukuri nikmat-Mu, dan senantiasa bagus dalam
beribdah kepada-Mu ”.

Dan anda telah menyebutkan bahwasannya kalian
semua sekeluarga sangat menjaga puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, dan
ini merupakan pertanda baik dan sebuah bekal kebaikan yang bisa membantu
anda dalam melaksanakan shalat tepat waktu, ketika anda melihat ibunda anda
dan saudari-saudari anda melaksanakan shalat tepat waktu maka sanjung dan
pujilah Allah Ta’ala atas yang demikian itu, maka betapa banyak diantara
pengaduan-pengaduan dan, laporan-laporan yang datang dari para anak-anak
yang keluarga mereka memukulinya karena mereka meninggalkan shalat dan
melepaskan jilbab ( Tidak lagi berjilbab ), dan anda … sungguh Allah
Ta’ala telah memulyakan anda dengan keluarga yang mereka senantiasa membantu
anda bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Bergaullah dan jadikanlah sahabat para
pemudi-pemudi yang senantiasa melaksanakan Shalat dan Istiqomah dalam
menjalankannya, dan mintalah  bantuan kepada mereka untuk senantiasa
mengingatkan, dan saling berwasiat kepada anda dalam hal shalat , yang
demikian merupakan kebaikan yang telah ditentukan bagi anda.

Dan akhirnya berhati-hatilah dan jahuilah
perbuatan maksiat karena maksiat merupakan pangkal segala penyakit, dan
perbuatan maksiat itu akan mendatangkan kemaksiatan-kemaksiatan yang lain
sehingga akan terhimpun dalam diri manusia dan perlahan-lahan akan
membinasakannya, yang diantara akibatnya seorang hamba akan merasa berat
dalam melaksanakan shalat dan dia akan diharamkan dari cahaya dan
keberkahannya, kami memohon kepada Allah keselamatan dunia dan akhirat. Imam
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata : { Kemaksiatan itu akan menanamkan
kemaksiatan-kemaksiatan yang sejenisnya, dan sebagiannya akan melahirkan
sebagian kemaksiatan yang lain, sehingga akan menjadikan seorang hamba berat
untuk meninggalkannya dan keluar darinya, sebagaimana perkataan sebagian
ulama Salaf : sesungguhnya balasan dan akibat dari perbuatan buruk itu
keburukan yang datang setelahnya, dan sesungguhnya imbalan dari perbuatan
baik adalah kebaikan yang akan didapat setelahnya }. Dari kitab “ Al
Jawaabul Kafi ” halaman: 36 . 

Yang kedua :

            Adapun pertanyaan anda tentang
puasa Ramadhan, dan sesungguhnya anda ragu-ragu dengan hari-hari yang anda
tinggalkan dan tidak berpuasa di dalamnya dengan tanpa adanya udzur yang
syar’i, maka kami jawab pertanyaan anda : janganlah anda kembali menengok
kepada keragu-raguan tersebut, karena nampaknya yang mendominasi pada
prasangka anda adalah bahwasannya anda telah melaksanakan ibadah tersebut 
pada waktu diwajibkannya bersama keluarga anda, dan dominasi prasangka sudah
melaksanakan sebuah ibadah dianggap cukup untuk menggugurkan beban
pelaksanaannya untuk yang kedua kali, maka keragu-raguan setelah pelaksanaan
ibadah tidak dianggap dan tidak dijadikan sebagai tolok ukur. Disebutkan
didalam  “ Fatawa Al Lajnah Ad-Daaimah ” (7/143 ) : “ Keragu-raguan yang
datang setelah selesai melaksanakan ibadah Thowaf, Sa’i dan Shalat, maka
tidak diperkenankan kembali menengok kepadanya ; karena secara dhahir ibadah
tersebut sudah benar dilaksanakan”. As Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah
berkata : “Apabila timbul keraguan setelah selesai melaksanakan Ibadah ;
maka tidak diperkenankan menengok kembali kepada ibadah tadi dengan timbul
keraguan dalam hati apakah ibadah tersebut sah ataukah batal, selama tidak
ada perkara yang meyakinkan bahwa ibadah tadi batal ”. Dari kitab : “ Majmu’
Fatawa As Syaikh Al Utsaimin ” ( 14/ soal nomer : 746 ). Kemudian jika
meninggalkan puasa itu dengan tanpa ada ‘Udzur Syar’i maka tidak wajib
mengqodlo’ atau membayar kaffarot, akan tetapi diwajibkan bertaubat dan
memperbanyak  Istighfar, sebagaimana yang telah disebutkan penjelasannya
dahulu pada jawaban soal nomer ( 50067 ). Saya
memohon kepada Allah Ta’ala agar menuliskan pahala bagi anda, dan agar anda
senantiasa diberikan keteguhan hati dalam kebenaran dan jalan agama dan agar
senantiasa menjaga anda dari godaan syetan yang terkutuk .

Wallahu A’lam.