Mengapa kalian mengatakan bahwa Muhamad adalah makhluk Allah yang paling baik. Saya tidak berpendapat demikian. Sebab sebaik-baik makhluk haruslah orang yang tidak memiliki dosa, dan hal ini bertentangan pada diri Muhamad, karena dia banyak berdosa. Sebaik-baik makhluk adalah orang yang tidak dikuasai setan, dan dia adalah Isa Al-Masih. Kalian sendiri mengetahui dan Al-Quran menyatakan demikian. Demikian pula, sebaik-baik makhluk Allah adalah orang yang tidak menerima ayat-ayat dari setan tanpa dia ketahui, demikian pula sebaik-baik makhluk adalah tidak menentang perintah dari Allah, dan sebaik-baik makhluk adalah orang yang tidak mungkin terkena sihir. Bagaimana dikatakan sebaik-baik makhluk jika kedua orang tuanya adalah musyrik dan mati dalam keadaan musyrik? Demikian pula, sebaik-baik makhluk adalah orang yang tidak menyebarkan agama Allah dengan pedang atau dengan harta yang dia jual. Kaliang sangat berlebih-lebihan. Jika kalau minta saya akan sampaikan ayat-ayat yang membenarkan ucapan saya.

Alhamdulillah

Pertama:

Kami telah baca apa yang anda tulis semua hurufnya, kami
ulangi lagi membacanya. Maka kami punya hak yang menjadi kewajiban anda
untuk membaca pembelaan kami terhadap agama dan Nabi kami shallallahu alaihi
wa sallam. Dan hak kami yang menjadi kewajiban anda untuk memperhatikan
ucapan-ucapan kami sebagaimana kami memperhatikan ucapan-ucapan anda.
Bukankah demikian? 

Kedua:

Adalah baik ketika anda mengakhiri tulisan anda dengan
pengakuan bahwa Isa adalah sebaik-baik makhluk Allah Taala. Sebab mengakui
bahwa dia adalah makhluk berarti menolak keyakinan bahwa dia adalah Tuhan,
Tuhan yang disembah. Karena anda akui bahwa dia adalah makhluk, maka tidak
mungkin berkumpul dalam dirinya sebagai pencipta dan yang dicipta, yang
berkuasa dan yang dikuasai. Semoga dengan keyakinan ini, anda juga menyakini
batilnya keyakinan bahwa makhluk tersebut adalah tuhan, bukankah demikian?

Sesungguhnya Al-Masih yang anda sebutkan dalam pertanyaan,
bukanlah Al-Masih yang diimani umumnya orang-orang Nashrani. Al-Masih
manakah yang ingin anda bicarakan, karena dialog kita akan erat kaitannya
dengan; Hamba Allah yang bernama Isa bin Maryam, seorang makhluk, atau
seorang anak yang mereka jadikan sebagai tuhan?!

Lihat jawaban soal no. 82361 

Ketiga:

Kita tidak sedang membandingkan antara Nabi Isa dan Nabi
Muhammad alaihimassalam. Dalam syariat kami dilarang untuk melebihkan antara
satu nabi dengan nabi yang lain, khususnya jika hal tersebut terkandung
makna merendahkan yang lain. Inilah yang anda lakukan, anda hendak
menyebutkan Isa alaihissalam sebagai makhluk Allah terbaik  namun dengan
menuduh Nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wa sallamm. Hal ini ditolak
dalam syariat kami, walaupun jika akibatnya pihak lain yang lebih rendah.
Adapun jika diiringi dengan tuduhan terhadap salah seorang Nabi, maka siapa
yang melakukannya akan menyebabkan kufur dan keluar dari agama. Agama kami
yang suci menjaga kemuliaan para Nabi dan Rasul serta meninggikan mereka
semua. Beriman kepada mereka merupakan salah satu rukun iman. Tidaklah
seseorang dikatakan beriman jika dia mengingkar seorang nabi saja. Syariat
kami yang suci hanya menyebutkan kebaikan tentang para nabi kami. Dalam
kitab kami Al-Quran menyebutkan kebaikan-kebaikan para nabi kami, ibadah
mereka, doa mereka, perjuangan mereka, dakwah mereka, amar ma’ruf dan nahi
munkar mereka. Tidak ada, baik dalam Al-Quran maupun sunah yang menyebutkan
sesuatu yang buruk pada mereka. Justeru pada keduanya terdapat perintah
untuk memuliakan dan mengangungkan mereka. 

Keempat: 

Mencari mana yang lebih utama antara Nabi Isa dan Nabi
Muhamad alaihimassalam bukan merupakan tujuan dalam agama kami. Dan hal itu
tidak semestinya terjadi. Sebabnya adalah bahwa kami diperintahkan untuk
mengikuti Nabi kami Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan sebelum
itu kami diperintahkan untuk bersyahadat bahwa beliau adalah utusan Allah.
Hal ini tidak ada kaitannya apakah dia makhluk Allah yang paling baik atau
tidak. Bahkan ini tidak berlaku dalam agama kami saja, tapi pada setiap kaum
yang Allah utus rasul kepada mereka, mereka diperintahkan untuk beriman dan
mengikutinya, walaupun dia bukan merupakan sebaik-baik makhluK Allah. Apakah
syarat seorang nabi dia harus merupakan sebaik-baik makhluk Allah?! Jika
demikian, bagaimana halnya keadaan umat terdahulu pada pada masa itu
berkumpul sejumlah Nabi dan Rasul?! Kami bersaksi bahwa Nabi Muhamad
shallallahu alaihi wa sallam sebagai utusan Allah bukan karena beliau
sebaik-baik makhluk Allah, diapun tidak mengatakan, ikuti aku karena aku
sebaik-baik makhluk Allah. Tapi kami mengetahui hal itu karena Allah angkat
derajatnya dan tinggikan kedudukanya. Kami akan sebutkan ayat, kejadian atau
hadits yang menguatkan hal tersebut. 

1.     
Adapun ayat, dia adalah firman
Allah Ta’ala, 

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ
النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ
رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ
أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ
فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ
(سورة
آل عمران: 81) 

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para
nabi: “Sungguh, apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah
kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu,
niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah
berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang
demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau
begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama
kamu”. QS. Ali Imron: 81. 

“Ini adalah perjanjian yang Allah Taala ambil dari para Nabi
seluruhnya, yaitu agar mereka beriman kepada Nabi Muhamad shallallahu alaihi
wa sallam dan membelanya dalam dakwahnya.” 

2.     
Adapun peristwa, maka peristiwa
shalatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai imam bagi seluruh para
nabi, yaitu dalam perjalanan Isra Mi’raj, maka kedudukan beliau shalat
sebagai imam atas mereka, tak lain menunjukkan kebaikan dan keutamannya.
Jika tidak menunjukkan demikian, kami tidak tahu, petunjuk apa selain itu. 

3.     
Adapun hadits; terdapat riwayat
shahih dari beliau, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang peritiwa yang
terjadi di hari kiamat nanti, ketika para nabi tidak bersedia untuk memberi
syafaat kepada umat manusia dengan memberikan alasannya. Semua mereka
mengatakan, ‘diriku… diriku”. Lalu majulah Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam untuk memberikan syafaat Uzma (syafaat terbesar) seraya berkata,
“Akulah, akulah…” Kemudian tuhannya memuliakannya dengan menerima syafaatnya
untuk seluruh manusia di padang mahsyar. Inilah ‘maqom Mahmud’ (kedudkan
tertinggi) yang tidak Allah berikan kepada manusia selain kepada beliau
shallallahu alaihi wa sallam… 

Inilah sebagian dalil dalam agama kami tentang keutamaan Nabi
shallallahu alaihi wa sallam atas saudara-saudaranya para nabi yang lain
alaihimussalam. Mereka sendiri, para nabi, tidak mengingkari hal tersebut.
Perhatikan Nabi Musa alaihissalam, dalam sebuah hadits shahih, dia mengakui
hal tersebut. Begitu pula halnya dengan Nabi Isa alaihissalam, dia menolak
mengimami kaum muslimin, bahkan dia ridha menjadi makmum, karena dia akan
beramal berdasarkan perjanjian yang Allah ambil darinya. Maka ketika dia
diturunkan di akhir zaman, dia akan membunuh babi, mematahkan Salib dan
shalat menjadi makmum di belakang salah satu imam kaum muslimin. 

Terdapat riwayat dalam kitab yang paling shahih dalam ajaran
kami, yaitu kitab Bukhari dan Muslim, penjelasan semua itu, seraya tetap
memuliakan Nabi Isa alaihissalam dan seberapa jauh keterikatannya kepada
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka perhatikanlah hadits ini; 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى بْنِ
مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ
، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى ، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
(رواه
البخاري ومسلم) 

“Aku lebih dekat terhadap Isa bin Maryam di dunia dan
akhirat, Seluruh nabi adalah saudara sebapak, ibu-ibu mereka berbeda-beda,
sedangkan agama mereka satu.” (HR. Bukhari Muslim) 

Makna hadits adalah bahwa asal iman keimanan para nabi itu
satu sedangkan syariat-syariatnya berbeda-beda.

Maka, anda dengan ucapan yang anda sampaikan dalam pertanyaan
anda yang mengira terjadi pertentangan antara para nabi dan rasul dengan
Nabi kami, Muhamad shallallahu alaihi wa sallam, kenyatannya mereka tidak
demikian. Justeru mereka semua adalah bersaudara, mereka datang membawa
risalah aqidah yang satu, yaitu sama-sama menyeru untuk beribadah kepada
Allah semata dan meninggalkan syirik kepada Allah. 

Kelima:

Adapun ucapan anda tentang Nabi kami shallallahu alaihi wa
sallam bahwa dia banyak dosanya. Itu adalah perkataan yang mungkin dapat
saja dikatakan oleh setiap orang. Jika anda mengambil sikap ilmiah secara
sungguh-sungguh, niscaya anda tidak mengatakan demikian. Jika kami
mensucikan para Nabi dan Rasul yang diutus kepada umat selain kami, bahwa
mereka bukanlah ahli maksiat dan dosa, bagaimana halnya dengan orang
keadaanya kami anggap sebagai orang yang paling baik di antara mereka?
Perhatikanlah perbedaan besar antara kami dan anda, ketika anda menuduh nabi
kami Muhamad shallallahu alaihi wa sallam tanpa bukti, maka kami mengingkari
semua itu sebagai akhlak para nabi dan rasul yang diutus untuk selain kami.
Justeru agama kami mengajarkan kami untuk menghormati seluruh nabi dan
memuliakan mereka. 

Kami tidak merasa aneh dengan tuduhan anda terhadap nabi
kami, karena mencaci maki para nabi adalah kebiasaan kalian, menuduh para
nabi adalah pedoman kalian. Sungguh, Yahudi dan Nashrani telah
mencampuradukkan untuk kalian, mereka telah melakukan penyimpangan lalu
kalian ikuti membabi buta. Semua yang terdapat dalam kitab taurat yang
berisi caci maka terhadap para nabi, langsung kalian benarkan, lalu kalian
tambahkan dalam kitab kalian yang telah diselewengkan itu tuduhan terhadap
manusia paling suci..

1.     
Disebutkan dalam Injil Matheus,
bahwa Isa merupakan keturunan Sulaiman bin Daud, sedangkan kakek mereka
adalah orang tua ang merupakan keturunan hasil
zina dari Yahuza bin Yakub. (Ishah matheus pertama, edisi 10)

2.     
Dalam Injil Yohana, bab 2 pasal
4; Yesus menghina ibunya di tengah kerumunan manusia!

3.     
Dalam Injil Yohana, bab 10 ayat
8; Yesus bersaksi bahwa para nabi yang diutus ke Bani Israil adalah para
pencuri! 

Dalam kitab Talmud, ini kitab yang yang sangat tebal dan
menjadi rujukan dasar dalam syariat Yahudi, dan pada masa sekarang dianggap
sebagai rujukan agama bagi kaum Yahudi militan dan esktrim, baik di Israil
atau seluruh dunia, bahkan kedudukannya lebih tinggi dari kedudukan Taurat; 

1.     
“Sesungguhnya ajaran-ajaran
Yesus adalah kufur, muridnya; Yakub adalah kafir, dan kitab-kitab Injil
adalah kitab-kitab kaum kafir.”

2.     
Disebutkan pula di dalamnya
(kita berlindung kepada Allah darinya); “Sesungguhnya Yesus kaum Nashara
berada di neraka jahim paling dasar neraka. Ibunya; Maryam mendapatkan anak
tersebut melalui seorang tentara ‘Bandera’ dengan cara yang salah. Adapun
gereja-gereja Nashrani adalah tempat kotoran-kotoran, sedangkan para pemberi
nasehatnya mirip dengan anjing yang menggonggong. 

3.     
Rabi Abariyanil berkata,
“Orang-orang masehi adalah orang-orang kafir, karena mereka meyakini bahwa
Allah terdiri dari daging dan darah.”

4.     
Disebutkan dalam kitab Talmud,
“Seluruh bangsa-bangsa selain Yahudi adalah para penyembah berhala,
ajaran-ajaran para rabi menyatakan demikian.”

5.     
Disebutkan di tempat lain dalam
Talmud, “Sesungguhnya Al-Masih adalah penyihir dan penyembah berhala, maka
dia melahirkan orang-orang masehi yang menyembah berhala juga seperti
dirinya.” 

6.     
Disebutkan pula dalam kitab
Talmud, “Surga adalah tempat ruh kaum Yahudi, tidak ada yang masuk surga
kecuali orang-orang Yahudi. Adapun neraka adalah tempat kaum kafir dari
kalangan Nashara, kaum muslimin, tidak ada bagian mereka selain tangisan
karena di dalamnya terdapat kegelapan dan kekacauan.”  

Bagaimana kitab-kitab kalian ini menuduh para nabi mulia,
sementara kalian menuduh Nabi kami shallallahu alaihi wa sallam sebagai
orang yang banyak berdosa. Lihat jawaban soal no. 42216

Ketujuh: 

Adapun ucapan anda, “Demikian pula, sebaik-baik makhluk Allah
tidak akan menyampaikan ayat-ayat dari setan melalui lisanya tanpa dia
ketahui.”

Yang anda maksud adalah ‘Kisah Gharaniq’. Kesimpulan kisah
tersebut adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membaca firman
Allah Taala;

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى .
وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى (سورة النجم: 19 ، 20)
 

“Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap
Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai
anak perempuan Allah)? QS. An-Najm: 19-20. 

Lalu setan menambahkan ke lisannya engan menambah ayat
tersebut dengan tambahan;

تلك الغرانيق العلى ، وإن شفاعتهن لترتجى
 

“Itulah garaniq yang agung, pertolongan mereka diharapkan.”

Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya
juga kaum musyrikin bersujud setelah itu!

Kisah ini dinyatakan lemah orang banyak ulama dan para pakar.

Al-Baihaqi berkata, “Kisah ini tidak kuat dari sisi
periwayatannya.” (Lihat tafsir Al-Fakhurrazi, 23/44) 

Ibnu Hazm berkata, “Adapun hadits yang di dalamnya terdapat
ungkapan, 

تلك الغرانيق العلى ، وإن شفاعتهن لترتجى
 

“Itulah garaniq yang agung, pertolongan mereka diharapkan.” 

Adalah dusta dan palsu, karena sama sekali tidak shahih dari
segi periwayatannya, tidak ada nilainya menyibukkan diri dengannya, karena
membuat hadits palsu, tidak ada seorang pun yang tidak mampu.” (Al-Fishal
Fil Milal wan-Nihal, 2/311) 

Al-Qadhi Iyadh berkata, “Hadits ini tidak diriwayatkan oleh
siapapun dari para perawi yang shahih, bahkan tidak pula oleh para perawi
tsiqah dengan sanad yang selamat dan bersambung. Para mufasir yang tabiin
yang menyampaikan riwayat ini satupun tidak ada yang menyebutkan sanadnya,
tidak juga mengaitkannya terhadap seorang sahabat. Mayoritas jalurnnya
terdapat kelemahan.” (Asy-Syifa Fi Ahwalil Mushtafa, 2/790

Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata, “Banyak kalangan mufasir
berkata tentang ‘kisah garaniq’ yang menyebabkan kembalinya kaum muslimin
yang hijrah ke Habasyah, sebab mereka mengira bahwa kaum musyrikin Quraisy
telah masuk Islam. Akan tetapi riwayat ini semua jalurnya adalah mursal,
tidak saya ketahui ada sanadnya yang sahih. Wallahu a’lam.

(Tafsir Ibnu Katsir, 3/239) 

“Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Tidak ada
hadits shahih yang dapat dijadikan patokan, sepanjang yang saya ketahui,
yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan
kalimat tersebut. Akan tetapi, disampaikan tentang Nabi shallallahu alahi wa
sallam dalam hadits-hadits mursal. Sebagaimana dinyatakan hal itu oleh
Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsir tentang ayat haji, akan tetapi terkait
‘ilqo’ setan dalam bacaan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam ayat-ayat
surat An-Najm, sebagaimana dalam firman Allah Taala; 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ
رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي
أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ
اللَّهُ آَيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (سورة الحج: 52)
 

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan
tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan,
syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah
menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan
ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS. Al-Hajj:
52 

Maka, yang dimaksud firman Allah

إِلا إِذَا تَمَنَّى 

“Melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan.” 

Yang dimaksud adalah: Beliau membaca.

Adapun firman Allah Taala, 

أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ

“Setan memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu…” 

Yang dimaksud adalah (setan menggodanya) saat beliau tilawah.
Kemudian Allah menghapus apa yang digoda setan tersebut dan menjelaskan
kebatilannya di ayat lainnya, kemudian Dia kokohkan ayat-ayatNya sebagai
ujian dan cobaan. Sebgaimana firman Allah Taala setelah itu,
 

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ
فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ (سورة
الحج: 53) 

“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu,
sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang
kasar hatinya.” QS. Al-Hajj: 53 

Maka, wajib bagi setiap muslim berate-hati dari godaan setan
berupa syubhat yang (boleh jadi) keluar dari lisan para pembawa kebenaran
atau lainnya dan hendaknya dia hanya berpedoman pada kebenaran yang sudah
jelas kebenarannya dan menafsirkan perkara yang samar dengan perkara-perkara
yang sudah jelas agar syubhat tidak tertanam. Sebagaimana firman Allah Taala, 

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ
مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ
مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ
تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا
بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
(سورة
آل عمران: 7) 

“Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di
antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al
qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang
dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian
ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk
mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya
melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami
beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan
kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan
orang-orang yang berakal.” QS. Ali Imron: 7. 

Terdapat riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa
sallamm dari hadits Aisyah radhiallahu anha, beliau bersabda, 

إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك
الذين سمى الله فاحذروهم
(متفق عليه) 

“Jika kalian melihat orang-orang yang suka mengikuti
perkara-perkara yang masih samar, mereka orang-orang yang Allah sebut
‘Berhati-hatilah terhadap mereka.” (Muttafaq alaih) 

Semoga Allah memberi taufiqNya (Majmu Fatawa Syekh Bin Baaz,
8/301-302) 

Syekh Al-Albany dalam kitabnya yang bermanfaat ‘Nashbul
Majaniq Fi Buthlani Qishatil Garaniq’ telah berbicara tentang riwayat ini
baik dari sisi sanad ataupun matan dan menjelasakan bahwa sanadnya dhaif dan
matannya aneh.”

Kalaupun ada sebagian ulama yang menyatakan shahih riwayat
ini, maka dia tidak mengatakan bahwa firman Allah tersebut zahirnya
mengandung adanya perubahan dan penyimpangan dan adanya kekeliruan yang
dialami Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Tapi mereka jelaskan
pandangan-pandangan yang sesaui dengan keyakinan kaum muslimin seluruhnya
tanpa merubah Al-Quran dan merusak kemaksuman Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam terkait dengan apa yang disampaikan tuhannya kepadanya. Di antara
bentuk penafsiran yang disebut sebagian ulama adalah bahwa setan menggoda
dengan kalimat-kalimat tersebut ke pendengaran kaum muslimin, bukan
menggodanya melalui lisan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Penafsiran ini
disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dalam Majmu Al-Fatawa, 2/282. 

Adapun sebab sujudnya kaum musyrikin di akhir bacaan surat,
perhatikanlah apa yang dikatakan para ulama tentang hal itu;

Syekh Al-Albany rahimahullah berkata dalam akhir kitabnya
yang telah disebutkan sebelumnya,

“Betapa banyak penanya yang berkata, ‘Jika terbukti batilnya
godaan setan melalui lisan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam ungkapan,

تلك الغرانيق العلى وإن شفاعتهن لترتجى
 

“Itulah garaniq yang agung, pertolongan mereka diharapkan.”

Lalu mengapa kaum musyrikin bersujud bersama Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam padahal itu bukan merupakan kebiasaan mereka? 

Jawabannya adalah sebagaimana ucapan ulama peneliti Al-Alusi
setelah beberapa baris ucapannya yang baru saja aku kutip; “Tidak ada
seorang pun yang berkata, sesungguhnya sujudnya kaum musyrikin menunjukkan
bahwa surat tersebut secara zahir memuji tuhan-tuhan mereka. Jika tidak,
tentu mereka tidak bersujud. Karena kita mengatakan bahwa dapat dikatakan
mereka sujud karena dahsyatnya apa yang mereka rasakan dan takutnya apa yang
mereka alami saat mendengarkan bacaan surat tersebut, karena di dalamnya
terdapat firman Allah Taala, 

وَأَنَّهُ أَهْلَكَ عَادًا الْأُولَى .
وَثَمُودَ فَمَا أَبْقَى . وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ
أَظْلَمَ وَأَطْغَى . وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى . فَغَشَّاهَا مَا غَشَّى
……..
إلى آخر الآيات (سورة النجم: 50- 54) 

“Dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang
pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorangpun yang ditinggalkan nya
(hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang paling zalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah
dihancurkan Allah. Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang
menimpanya.” QS. AN-Najm: 50-54. 

Mereka merasa bahwa semua itu terjadi pada diri mereka,
tampaknya mereka belum pernah mendengarnya sebelum itu dari Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam saat beliau berdiri di hadapan Rabnya dalam
posisi yang agung dan di depan orang banyak. Mereka mengira, berdasarkan
urutan perintah untuk bersujud sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya,
bahwa sujud mereka walau tidak berdasarkan iman yang cukup, dapat menolak
apa yang mereka kira. Kemungkinan juga sebabnya adalah ketakutan mereka
tatkala mendengarnya hal seperti itu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Telah diturunkan setelah itu surat Haamiim Sajadah, sebagaimana dengan jelas
disampaikan dalam hadits Ibnu Abas yang dikutip oleh As-Suyuti di awal kitab
Al-Itqan. Ketik Utbah bin Rabiah mendengar firman Allah Taala yang
didalamnya terdapat ayat; 

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ
صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ
(سورة فصّلت:
13) 

“Jika mereka berpaling Maka Katakanlah: “Aku telah
memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan
Tsamud”. QS. Fusilat: 13 

Beliau lantas menutup mulut Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam, dan mengingatkan hubungan kekerabatan antar mereka serta membelanya
ketika kaumnya menuduhnya keluar dari agama mereka. Dia berkata, “Bagaimana
(bisa demikian), padahal kalian mengetahui bahwa Muhamad jika berkata
sesuatu tidaklah dusta?” Maka azab yang diturunkan kepada mereka
diringankan.” (Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Ad-Dalail, Ibnu Asakir
dalam hadits yang panjang dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu) 

Kedelapan:

Adapun ucapan anda, “Demikian juga makhluk Allah yang paling
baik tidak menentang perintah Allah.” Kami tidak ketahui apa perintah Allah
yang Allah perintahkan kepada NabiNya kemudian beliau tidak laksanakan.
Sementara Allah telah memberinya sifat seagai hamba dan memujiNya dan beliau
adalah orang yang paling tahu tentang Rabbnya serta orang yang paling takwa
dan takut kepada kepadaNya. Perintah apakah gerangan yang beliau tentang?!
Sungguh ini hanya bualan saja. 

Kesembilan;

Adapun ucapan anda; “Makhluk yang paling baik tidak mungkin
mengalami  terkena sihir.” Adalah ucapan yang batil. Sihir yang terjadi pada
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidaklah anda ketahui kecuali
setelah diberitahu oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan tidaklah Nabi
shallallahu alaihi wa sallam kecuali Allah izinkan untuk mengabarkannya. Ini
termasuk perkara yang dapat menimpa manusia, hal ini menunjukkan bahwa
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia. Sebagian ahli bid’ah
dari kalangan kaum muslimin ada yang menolak hadits ini, mereka mengira
bahwa hadits ini bertentangan dengan kedudukan Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam yang maksum dan pundak kedudukan ukhuwah. Sebenarnya para ulama
telah membantah argumen mereka sejak dahulu dan juga kepada anda zaman
sekarang.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Imam Al-Maziri berkata,
‘Sebagian ahli bid’ah mengingkari hadits ini dengan sebab lain. Mereka
beranggapan bahwa perkara tersebut merusak kedudukan kenabian dan
menimbulkan keraguan padanya dan membolehkan kejadian tersebut dapat
menghalangi kepercayaan terhadap syariat. Anggapan oleh ahli bid’ah ini
adalah batil. Karena dalil-dalil yang pasti menunjukkan kejujurannya,
keshahihannya dan kemaksumannya terkait dengan perkara tabligh dan mukjizat
menjadi saksi terhadap hal tersebut. Membolehkan terjadinya sesuatu yang
bertentangan dengan dalil adalah batil. Adapun terkait sebagian urusan dunia
yang tidak menjadi sebab diutusnya beliau dan bukan menjadi faktor yang
menunjukkan keutamaan beliau adalah perkara yang umum dapat dialami oleh
manusia. Maka tidaklah mustahil dia beranggapan terhadap sesuatu dalam
perkara dunia yang sebenarnya tidak terjadi. Ada yang mengatakan bahwa dia
telah menggauli salah seorang isterinya, padahal sesungguhnya tidak.

Seseorang dapat mengalami hal ini dalam mimpinya, maka tidak
mustahil jika hal ini terjadi saat dia terjaga, yaitu menganggap sesuatu
yang sebenarnya tidak terjadi. Ada yang berpendapat bahwa beliau mengira
telah melakukan sesuatu, padahal beliau tidak melakukannya, akan tetapi dia
tidak meyakini kebenaran dugaannya tersebut, sehingga keyakinannya dianggap
benar. 

Qadhi Iyadh berkata, “Terdapat berbagai riwayat tentang
hadits ini yang menjelaskan bahwa sihir yang terjadi hanya menimpa fisik
anggota badannya saja, tidak menimpa akalnya, hati dan keyakinannya. Maka
makna ucapannya dalam hadits,

حتى يظن أنه يأتي أهله ولا يأتيهن

“Hingga dia mengira bahwa dia mendatangi isterinya, padahal
dia tidak mendatanginya.” 

Ada pula riwayat,

يُخيل إليه

“Dia berfantasi.” 

Maksudnya, tampak pada beliau karena
kegesitannya, dan kebiasaannya beliau mampu mendatangi isteri-isterinya.
Namun beliau sempat terkena pengaruh sihir sehingga tidak mendatanginya dan
tidak mampu menggaulinya sebagaimana halnya yang dialami orang terkena
sihir. Semua yang terdapat dalam berbagai riwayat bahwa beliau berfantasi,
namun dia tidak melakukannya, atau semacamnya, yang dimaksud adalah fantasi
pandangan, bukan karena ada kerusakan yang menimpa akalnya dan hal ini bukan
perkara yang dapat menimbulkan gangguan dalam risalah atau tugasnya, dan
bukan pula perkara yang layak dijadikan tuduhan oleh kaum yang sesat.”
(Syarah Muslim, 14/174-175) 

Imam Ibnu Qayim rahimahullah berkata,

“Sejumlah orang mengingkari hal ini (Nabi shallallahu alaihi
wa sallam terkena sihir). Mereka mengatakan bahwa hal ini tidak boleh
terjadi pada beliau. Mereka mengira bahwa hal tersebut dapat menunjukkan
adanya kekurangan dan cacat pada beliau. Tapi perkaranya tidak sebagaimana
mereka kira, tapi ini adalah termasuk jenis yang mungkin dapat dialami oleh
Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana halnya penyakit pada umumnya.
Dia termasuk salah satu bentuk penyakit. Orang yang terkena perkara ini,
sebagaimana dirinya terkena racun, tidak ada perbedaan pada keduanya.
Terdapat riwayat shahih dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata, 

سحر رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى إن
كان ليخيل إليه أنه يأتي نساءه ولم يأتهن ، وذلك أشد ما يكون من السحر
(زاد
المعاد، 4/113) 

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
disihir hingga dia berkhayal bahwa dirinya mendatangi isterinya, padahal dia
tidak mendatanginya. Ini adalah sihir yang paling berat.” (Zadul Maad,
4/113)

Kini kami bertanya kepada anda, jika anda bersungguh-sungguh
dalam berdialog, mana yang paling berat bagi pengikutnya dan lebih
menunjukkan kerendahannya, terjadinya sihir seperti ini sedangkan dia
merupakan salah satu penyakit saja yang disebabkan oleh orang Yahudi, atau
Yahudi yang berhasil menguasai Isa bin Maryam yang kami anggap nabi dan
kalian anggap sebagai anak tuhan, sehingga mereka berhasil menyalibnya dan
membunuhnya disambut riang gembira dan penghinaan mereka terhadap beliau. 

“Orang-orang yang lalu lalang menghinanya dan mencaci
makinya, mereka berkata, ‘Jika engkau adalah anak Allah, selamatkan dirimu
dan turunlah dari salib.’ Para tokoh dukun dan pengajar syariat serta
orang-orang tua juga ikut menghinanya Mereka berkata, ‘Dia menyelamatkan
orang lain, tapi tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri?! Dia adalah raja
bani Israil, turunlah sekarang dari salbi agar kami dapat beriman kepadanya
. Dia pasrah kepada Allah seraya berkata, ‘Aku adalah anak Allah, Allah akan
menyelamatkannya jika dia ridha kepadanya.’ Bahkan dua orang pencuri yang
disalib bersamanya juga mencacinya dan mengucapkan ucapan yang sama.” 

Saat zuhur seluruh muka bumi diliputi kegelapan hingga pukul
3. Lalu sekitar pukul 3 sang Yesus teriak dengan suara keras; Tuhanku,
Tuhanku, mengapa engkau tinggalkan aku?!!” (Injil Matta, 27/38-47, juga,
Markus, 15/29-35)

Perhatikan jawaban soal no. 12615

Maka kami katakan, “Tidak mungkin terjadi peristiwa dusta 
dan kehinaan semacam ini pada nabi yang mulia; Nabi Muhamad dan saudaranya
Isa serta saudara-saudara mereka para nabi alaihimussalam.” 

Kesepuluh: 

Adapun ucapan anda, “Bagaimana mungkian kedua orang tua
makhluk Allah yang paling mulia dalah orang musyrik dan mati dalam keadaan
musyrik?” Inipun merupakan keanehan. Apa urusannya bahwa beliau adalah
manusia paling baik dengan masalah bahwa kedua orang tuanya adalah musyrik?!
Apakah Allah memilihnya ataukah memilihnya dan memilih keluarga serta
kerabatnya?! Perhatikanlah nabi Ibrahim alaihissalam, bapaknya mati dalam
keadaan musyrik, namun hal itu tidak mengurangi derajat dan kedudukannya.
Beliau tetap dikenang sebagai Abul Anbiya (bapak para nabi). Perhatikan pula
Nuh alaihissalam, isterinya dan puteranya meninggal dalam keadaan kafir.
Begitu juga isteri nabi Luth meninggal dalam keadaan kafir. Kalau sudah
begini, mau apalagi?! 

Perhatikan pula, apa yang disampaikan oleh kitab-kitab suci
kalian dan milik Yahudi, apa yang mereka katakana tentang Maryam
alaihissalam, bahkan terhadap diri para Nabi itu sendiri, agar anda wahai
penanya, kelompok mana yang paling benar perkataannya dan lebih lurus
petunjuknya. 

Kesebelas:

Adapun ucapan anda, “Begitupula, manusia makhluk Allah yang
paling baik tidak akan menyebarkan agamanya dengan pedang atau dengan harta
yang dia jual.”

Kami telah sebutkan hal ini dalam diskusi kami di situs ini.
Silakan rujuk kedua jawaban dari kedua pertanyaan terkait; no.
43087 dan 100521

Jika anda selesai menyimak kedua jawaban tersebut, maka
alangkah baiknya jika anda perhatikan teks-teks dari kitab-kitab anda, boleh
jadi anda akan memiliki pandangan lain;

1.     
Al-Masih alaihissalam berkata,
“Jangan kalian kira aku datang untuk menebar kedamaian di muka bumi.
Tidaklah aku datang kecuali untuk menebar kedamaian, tetapi pedang. Sungguh
aku akan hunuskan pedang kepada seseorang yang melawan bapaknya, seorang
puteri yang melawan ibunya, menantu melawan mertuanya, musuh manusia
terhadap keluarganya. Siapa yang lebih mencintai bapak atau ibunya melebihi
terhadapku, dia tidak berhak terhadap aku. Siapa yang mencintai putera
puterinya lebih dari aku, maka dia tidak berhak terhadap aku. Siapa yang
tidak mengambil salib dan mengikuti aku, maka dia tidak berhak terhadap aku.
Siapa yang mendapati kehidupannya dia kehilangannya, dan siapa yang
menyia-nyiakan kehidupannya demi aku, dia akan mendapati kehidupannya.”
(Injil Matta, pasal 10, paragraph 35 dan sesudahnya) 

2.     
Al-Masih alaihissalam berkata,
“Siapa yang memiliki pedang, hendaknya dia mengambilnya. Siapa yang tidak
memilikinya, hendaknya dia menjualnya dan membeli pedang.” (Lukas, 22/36,37)

3.     
Al-Masih alaihissalam berkata,
“Adapun musuh-musuhku adalah mereka yang tidak menginginkan aku menguasai
mereka. Bawalah mereka ke sini dan sembelihlah mereka di hadapanku.” (Lukas,
11) 

Berikutnya dengarkanlah para cendikiawan non muslim, baik
para penulis, sastrawan, pakar sejarah, apa yang mereka katakan; 

1.     
Thomas Carlel berkata dalam
bukunya ‘Pahlawan dan ritual kepahlawanan’, ‘Tuduhan terhadapnya (Nabi
Muhamad shallallahu alaihi wa sallam) bahwa dia menggunakan pedang untuk
mengajak manusia menerima seruan dakwahnya adalah tuduhan serampangan yang
tidak dapat dipahami. Karena, tidak dapat dipahami bahwa jika seseorang
dihunuskan pedang kepadanya lalu dia masukkan pedangnya untuk dibunuh orang
atau mereka menurutinya. Jika telah beriman kepadanya orang yang mampu
memerangi musuhnya, maka sungguh berarti mereka telah beriman dengan
sukarela dan jujur. Merekapun terancam diperangi oleh orang lain sebelum
mampu melakukannya.” 

Lihat “Haqa’iqul Islam Wa Abathilu Khusumihi”, Abbas Aqad,
hal. 227. 

2.     
Sejarawan Prancis, Gustav
Lebon, dalam bukunya ‘Peradaban Arab’, berbicara tentang rahasia
menyebarluasnya Islam di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan
di zaman-zaman penaklukan sesudahnya, dia mengatakan, “Sejarah telah
mencatat bahwa agama-agama tidak disebarluaskan dengan kekuatan. Maka, Islam
pun tidak tersebar oleh pedang, tapi tersebar dengan dakwah semata. Dengan
dakwah sematalah bangsa-banga yang tadinya menundukkan bangsa Arab jadi
masuk Islam, seperti bangsa Mogol dan Turki. Al-Quran tersebarluas di India,
yang hanya dilintasi saja oleh bangsa Arab, kini populasi kaum muslimin di
sana lebih dari 500 juta jiwa. Begitupula di Cina, Islam tidak kurang
menyebarnya, padahal bangsa Arab, tidak menundukkan satu daerah pun di sana.
Anda akan saksikan di masa lain, cepatnya dakwah di sana. Kini populasi kaum
muslimin di sana lebih dari 20 juta jiwa. 

Apakah telah jelas bagi anda, sejauh mana tuduhan terhadap
Islam?! Apakah telah jelas bagi anda, bagaimana para pendeta dan media masa
telah memberikan informasi sesat?  

d. Yang saya tangkap, anda justeru ingin cuci tangan dari
kenyataan bahwa agama andalah yang tersebar luas dengan pedang! Dan anda
ingin mengesankan bahwa agama anda membawa misi kasih sayang! Semua itu
tidak benar. Anda dapat menyimak contoh-contoh berikut dari realita anda; 

1.     
Raja Olaf telah Menyembelih
siapa yang menolak memeluk agama Nashrani di Norwgia. Dia potong tangan
mereka, kaki mereka, lalu dia buang dan usir hingga Nashrani menjadi agama
satu-satunya gi Negara tersebut.

2.     
Di gunung Aswad di Balkan,
seorang pastur penguasa ‘Danial Peter Waftch memimpin operasi pembantaian
terhadap orang-orang non masehi pada malam Natal.

3.     
Di Habasyah, raja Saif Ar’ad
(1342-1370) mengekskusi siapa saja yang menolak masuk ke dalam agama
Nashrani atau membuang mereka dari negeri tersebut.

4.     
Juga kita ketahui, bahwa
orang-orang Nashrani lah, bukan Islam, yang membantai orang-orang Indian di
Amerika.

5.     
Juga kita ketahui bahwa
Nashrani lah yang mengusir bangsa Palestina dari tanah airnya dan kemudian
diserahkan kepada musuuh bersama bagi Al-Masih dan Nabi Muhamad
alaihimassalam.

6.     
Siapakah yang memantik perang
dunia? Pada perang dunia pertama terbunuh tidak kuran dari 10 juta orang,
sedangkan pada perang dunia kedua, tewas sekitar 70 juga orang..

7.     
Berapakah manusia yang terbunuh
akibat bom atom yang dijatuhkan di kedua kota ‘Nagasaki’ dan ‘Hiroshima’ di
Jepang?

8.     
Anda juga mengetahui kaum
Nashrani dalam perang Salib, ketika mereka mengepung Baitul Maqdis dan
memperketat pengepungan, lalu penduduknya sudah mengira bahwa mereka telah
kalah, maka mereka meminta perlindungan kepada panglima perangnya ‘Tankard’,
baik terhadap diri maupun harta mereka. Maka sang panglima menjanjikan
keamanan bagi mereka dengan syarat mereka berlindung di Masjidil Aqsha
sambil mengibarkan bendera damai. Maka penuhlah Masjidil Aqsha dengan orang
tua, wanita dan anak-anak, lalu mereka disembelih bagaikan
domba betina, hingga darah mereka mengalir dari tempat ibadah
hingga mengenai lutut kuda, jalan-jalan penuh dengan mayat bergelimpangan
serta bagian-bagaian tubuh yang terpotong dan tercabik-cabik. Para sejarawan
menyebutkan bahwa yang terbunuh di dalam Masjidil Aqsha saja berjumlah 70
ribu orang. Para sejarawan barat tidak ada yang mengingkari peristiwa
tercela ini. 

9.     
Pada zaman kita sekarang ini
adalah sebaik-baik saksi dari semua itu. Mereka telah menyerbu Afghanistan,
lalu berpindah ke Irak untuk membinasakannya, mereka memerangi dan membunuh
serta membuat kerusakan di muka bumi. Tokoh mereka bahkan berkata,
‘Sesungguhnya Tuhan memerintahkan mereka untuk invasi Irak’ Maka nasehat
Al-Masih yang sering mereka sebut-sebut dan agungkan itu?! 

10.
Bukankah Lorb Allenby,
perwakilan tentara sekutu; Inggris,Prancis, Italia, Rumania, Amerika, pada
tahun 1918 berdiri di Baitul Maqdis ketika mereka berhasil menguasainya di
akhir perang besar pertama, seraya berkata, ‘Hari ini, telah selesai perang
Salib.” 

11.
Bukankah jenderal Goro, orang
Prancis yang juga perwakilan tentara sekutu, saat masuk Damaskus dia berdiri
di atas kuburan pahlawan muslim ‘Shalahudin Al-Ayyubi’ seraya berkata,
“Wahai Shalahudin, kami telah kembali.”

12.
Bukankah di Bosnia
Herzegovenia, rumah-rumah diruntuhkan, darah ditumpahkan dan kehormatan
dirampas atas nama salib?

13.
Bahkan dimana mereka dengan
kejadian yang terjadi di Checen dan hingga sekarang terjadi, juga di Afrika,
Indonesia dan lainnya? Apakah mereka dapat mengingkari bahwa perang yang
terjadi di Kosovo adalah perang salib? Bukankah Bush pada perang terakhir
berkata, ‘Perang ini dapat menjadi perang salib.’. 

Kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran ini tidak terjadi pada
jihad kaum muslimin terhadap musuh-musuh mereka. Mereka tidak membunuh kaum
wanita, juga anak-anak dan orang tua. Layak untuk disimak pesan Abu Bakar
Ash-Shidiq, ketika dia berkata kepada Usamah bin Zaid dan tentaranya;

 “Janganlah kalian berkhianat, menelikung, melampaui batas,
mencabik-cabik mayat, membunuh anak kecil, orang tua, wanita, jangan tebang
pohon korma, jangan tebang pohon berbuah, jangan sembelih kambing, sapi,
onta keuali untuk dimakan. Jika kalian melewati kaum yang sedang total
beribadah di tempat-tempat ibadah mereka, biarkan mereka dalam ibadah
mereka.”

Lihat: ‘Mausu’ah Syubuhat An-Nashara Haulal Islam’ dan
‘An-Nabawiah’, Syekh Muhamad Abu Syahbah. 

Adapun ucapan anda tentang harta, sesungguhnya perkara ini
harus membuat malu orang yang menyebutkannya. Semua dunia tahu, siapakah
mereka mendatangi Negara-negara miskin sambil membawa roti di tangan
kanannya sementara tangan satunya lagi membawa injil! Seluruh dunia tahu,
siapa yang di tangannya membawa pil obat dan sejumlah uang dollar sementara
tangan lainnya membawa Injil! 

Akhirnya, sepertinya kami sudah tampilkan kekeliruan dari apa
yang telah anda sampaikan tentang Nabi kami Muhamad shallallahu alaihi wa
sallam. Dan tampaknya anda hanyalah korban media penipu sehingga anda
berpendangan negative kepada orang yang tidak berhak dipandang negatif, lalu
anda bisu terhadap mereka yang berhak dibeberkan kejahatannya. Ketahuilah
bahwa Islam adalah agama dalil dan argumen, bukan agama tuduhan dan
kepalsuan. Sadarilah dan ikutlah bergabung dalam rombongan para nabi dan
orang-orang salih. Upayakan, jangan sampai anda mati kecuali di atas agama
yang diyakini para Nabi dan Rasul, dia adalah tauhid. Upayakan anda
bergabung dalam kafilah pengikut sebaik-baik agama dan syariat agama
penutup.

Kami mohon kepada Allah semoga anda diberikan hidayah dan
dilapangkan dada menerima Islam, juga semoga anda diperlihatkan kebenaran
sebagai kebenaran dan diberikan karunia untuk dapat mengikutinya, lalu
diperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan diberikan karunia untuk
menjauhinya.

Wallahul muwaffiq.