Saya berharap agar anda menjelaskan kepada kami tentang cara bermuamalah dengan syubhat-syubhat pelaku bid’ah, khususnya bid’ahnya pernyataan bahwa al Qur’an adalah makhluk, saya berharap agar anda merinci bagaimana cara menjawab syubhat mereka, disertai dengan penyebutan buku-buku para ulama yang terpercaya yang telah menjelaskan dengan panjang lebar untuk menolak ahli bid’ah dalam masalah ini.

Alhamdulillah

Untuk menjawab bid’ah
bertumpu pertama kali pada penguasaan tentang sunnah, penguasaan dasar-dasar
aqidah, memposisikan ilmu pada konsep yang benar yang bertumpu pada al
Qur’an dan Sunnah.

Hal ini tidak akan sempurna
hanya dengan fatwa-fatwa yang terpecah belah, atau dengan bacaan yang tidak
sistematis, akan tetapi dengan cara belajar secara sistematis dengan
menuntut ilmu untuk mengetahui dasar-dasarnya yang akan menghabiskan waktu
bertahun-tahun untuk meneliti, menghafal, memahami dan mendapatkannya. Pada
saat itulah memungkinkan baginya untuk memahami syubhat, memahami perkataan
para ulama, menganalisa kejanggalan yang menyisakan permasalah aqidah yang
besar seperti ini.

Kami di sini akan memberikan
contoh kecil saja yang memungkinkan untuk dijadikan dasar bahwa Al Qur’an
adalah kalamullah dan menolak syubhat bahwa al Qur’an adalah makhluk, dengan
singkat dan padat kami nukil dari salah satu penelitian khusus, dengan
demikian semoga anda mengetahui sedikit tentang hal-hal yang memungkinkan
untuk didiskusikan dalam masalah-masalah akidah, keluasannya, rinciannya dan
membutuhkan pembahasan dan penelitian.

Adalah memungkinkan dengan 10
dalil untuk menyatakan Al Qur’an al Karim adalah kalamullah bukan makhluk,
dalil-dalil tersebut adalah:

Dalil pertama:

Alloh –Ta’ala- berfirman:

( إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي
اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ
وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ )الأعراف/ 54.

“Sesungguhnya Tuhan kamu
ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia
bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan
bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah,
menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan
semesta alam”. (QS. Al A’raf: 54)

Berhujjah dengan ayat ini
dari dua sisi:

Pertama:

Bahwa Alloh –Ta’ala- telah
membedakan antara menciptakan dan memerintah, keduanya adalah bagian dari
sifat-sifat-Nya, menyandarkan keduanya kepada Dzat-Nya. Adapun penciptaan
adalah perbuatan-Nya, sedangkan perintah-Nya adalah firman-Nya. Hukum asal
dari dua kata yang digabungkan masing-masing mempunyai arti yang berbeda,
kecuali jika ada indikasi yang menyatakan tidak demikian, dalam ayat
tersebut ada banyak indikasi yang menguatkan adanya perbedaan antara
keduanya di antaranya adalah sebagaimana yang akan disebutkan kemudian.

Kedua:

Bahwa penciptaan itu tidak
terjadi kecuali dengan perintah, sebagaimana firman Alloh –Ta’ala-:

( إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ
كُنْ فَيَكُونُ ) يس/ 82 .

“Sesungguhnya perintah-Nya
apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka
terjadilah ia”. (QS. Yaasiin: 82)

Firman Alloh: “Kun !” adalah
perintah-Nya, jika dianggap sebagai makhluk pasti ciptaan-Nya tersebut
membutuhkan perintah, perintah membutuhkan perintah, dan demikian seterusnya,
yang demikian itu bisa dipastikan kebatilannya.

Imam Ahmad –rahimahullah-
telah berhujjah dengan ayat ini atas Jahmiyah dan Mu’tazilah, beliau berkata:

“Pendapat saya: “Alloh
berfirman:

( ألا له الخلق والأمر )

“Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah”. (QS. Al A’raf: 54)

Dia telah membedakan antara
penciptaan dan perintah”. (Diriwayatkan dari Ibnu Hambal dalam Al Mihnah:
53)

Beliau juga berkata kepada
mereka:

“Firman Alloh:

( أتى أمر الله …) [النحل: 1]

“ Telah pasti datangnya
ketetapan Allah”. (QS. An Nahl: 1)

Maka perintah-Nya, firman-Nya
dan kekuasaan-Nya bukanlah makhluk, maka janganlah kalian membenturkan
sebagian kitabullah dengan sebagian lainnya”. (Diriwayatkan dari Ibnu Hambal
dalam Al Mihnah: 54)

Beliau juga menyampaikan
dalam surat kepada Al Mutawakkil pada saat ditanya tentang masalah al
Qur’an:

“Alloh –Ta’ala- telah
berfirman:

( وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ
حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ )التوبة/ 6

“Dan jika seorang di antara
orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia
supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat
yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”.
(QS. At Taubah: 6)

Dia juga berfirman:

( ألا له الخلق والأمر )

“Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah”. (QS. Al A’raf: 54)

Dia (Alloh) telah mengabarkan
dengan kata: “penciptaan” kemudian berfirman: “dan perintah”, maka Dia Alloh
telah menjelaskan bahwa perintah bukanlah penciptaan”. (Diriwayatkan oleh
Sholeh anaknya beliau dalam Al Mihnah: 120-121)

Imam Sufyan bin Uyainah al
Hilali al Hafidz, dipercaya dan cerdas yang merupakan guru dari Imam Ahmad
telah mendahului beliau dalam berhujjah seperti ini, beliau berkata:

“Alloh –‘Azza wa Jalla-
berfirman:

( ألا له الخلق والأمر )

“Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah”. (QS. Al A’raf: 54)

Yang dimaksud dengan “Al
Kholqu” pada ayat tersebut bahwa Alloh –Tabaraka wa Ta’ala- telah
menciptakannya, sedangkan “Al Amru” yaitu Al Qur’an”. (Diriwayatkan oleh Al
Aajiri dalam Asy Syari’ah: 80 dengan sanad yang baik)

Dalil kedua:

Alloh –Ta’ala- berfirman:

( الرَّحْمَنُ . عَلَّمَ الْقُرْآنَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ
)الرحمن/ 1 – 3 .

“ (Tuhan) Yang Maha Pemurah,
Yang telah mengajarkan Al Qur’an. Dia menciptakan manusia”. (QS. Ar Rahman:
1-3)

Alloh –Ta’ala- telah
membedakan antara llmu-Nya dan ciptaan-Nya, Al Qur’an adalah ilmu-Nya
sedangkan manusia adalah ciptaan-Nya. Ilmunya Alloh berbeda dengan
makhluk-Nya. Alloh –Ta’ala- berfirman:

( قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ
أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ
مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ )البقرة/ 120.

“Katakanlah: “Sesungguhnya
petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu
mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah
tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al Baqarah: 120)

Alloh –Ta’ala- telah
menamakan Al Qur’an sebagai ilmu, Nabi telah mendapatkannya dari Tuhannya,
Dialah Alloh yang telah mengajarkan kepadanya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
dan ilmu-Nya bukanlah makhluk, jikalau ilmu-Nya makhluk maka Alloh akan
bersifat dengan lawan katanya sebelum menciptakan, Maha Tinggi Alloh dan
Maha Suci Alloh dari semua hal itu.

Imam Ahmad –rahimahullah-
telah berhujjah dengan hal itu, beliau sampaikan dalam kisah diskusi beliau
dengan Jahmiyyah di majelisnya Al Mu’tashim:

“Abdurrahman Al Qazzaz
berkata kepada saya: “Alloh ada sebelum Al Qur’an”. Saya jawab: “Kalau
begitu maka Alloh ada namun tidak mempunyai ilmu..”, dia terdiam. “Kalau dia
mengklaim bahwa Alloh ada namun tidak mempunyai ilmu, maka dia telah berlaku
kafir kepada Alloh”. (Diriwayatkan oleh Hambal dalam Al Mihnah: 45)

Dikatakan juga kepada beliau
–rahimahullah-:

“Suatu kaum berkata: “Jika
seseorang berkata: “kalamullah bukanlah makhluk”. Mereka berkata: “Siapa
imam anda dalam masalah ini ?, dari mana ucapanmu bahwa Al Qur’an bukan
makhluk ?”

Beliau berkata:

“Hujjahnya adalah firman
Alloh –Tabaaraka wa Ta’ala- :

( فمن حاجك فيه من بعد ما جاءك من العلم )

“Siapa yang membantahmu
tentang kisah `Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu)”. (QS. Ali
Imron: 61)

Dan tidaklah yang datang
kepada beliau kecuali Al Qur’an”.

Beliau –rahimahullah- juga
berkata:

“Al Qur’an bagian dari ilmu
Alloh, maka barang siapa yang mengklaim bahwa ilmu Alloh adalah makhluk maka
dia telah menjadi kafir”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hani’ dalam Al Masa’il:
2/153-154)

Dalil yang ketiga:

Alloh –Ta’ala- berfirman:

( قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي
لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا
بِمِثْلِهِ مَدَدًا )الكهف/ 109.

“Katakanlah: “Kalau sekiranya
lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh
habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS. Al Kahfi: 109)

Alloh –Ta’ala- berfirman:

( وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ
وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ
اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ )لقمان/ 27.

“Dan seandainya pohon-pohon
di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh
laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan)
kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.
Luqman: 27)

Alloh –Ta’ala- telah
mengabarkan –dan firman-Nya adalah benar- bahwa kalimat-kalimat-Nya tidak
terbatas, kalau saja semua lautan yang telah Dia ciptakan dijadikan tinta
untuk menulisnya, dan semua pohon menjadi penanya, maka akan habis tinta
semua lautan tersebut, penanya pun akan rusak, sedangkan kalimat-kalimat
Alloh belum habis. Penjelasan ini maksudnya adalah tentang keagungan kalam
Alloh –Ta’ala- dan kalam tersebut adalah sifat dan ilmu-Nya. Hal ini
tentunya tidak bisa dianalogikan dengan kalamnya makhluk yang akan musnah,
jika kalam Alloh adalah makhluk maka akan habis sebelum habisnya tinta satu
lautan dari semua lautan yang ada; karena Alloh telah menetapkan kerusakan
pada semua makhluk tidak pada Dzat dan sifat-Nya.

Dalil Keempat:

Nama-nama Alloh –Ta’ala- di
dalam Al Qur’an seperti: (Alloh, Ar Rahman, Ar Rahim, As Samii’, Al ‘Aliim,
Al Ghafuur, Al Kariim) dan lainnya dari Asma’ul Husna, semua itu adalah
bagian dari kalam-Nya; karena Dia-lah sendiri yang menamakannya dengan
nama-nama tersebut, baik secara lafadz maupun maknanya.

Alloh –Ta’ala- telah
menyamakan antara bertasbih pada Dzat-Nya dan bertasbih dengan Nama-nama-Nya,
Alloh –Ta’ala- berfirman:

 ( سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى ) الأعلى/ 1،

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang
Maha Tinggi”. (QS. Al A’la: 1)

Alloh –Ta’ala- juga telah
menyamakan antara berdo’a kepada Dzat-Nya dan berdo’a kepada Nama-nama-Nya,
sebagaimana dalam firman-Nya:

( وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
)الأعراف/180

“Hanya milik Allah asma-ul
husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu”. (QS.
Al A’raf: 180)

Demikian juga Alloh –Ta’ala-
menyamakan antara berdzikir kepada-Nya dengan berdzikir kepada Nama-nama-Nya,
sebagaimana dalam firman-Nya:

( وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا )الإنسان/25 .

“Dan sebutlah nama Tuhanmu
pada (waktu) pagi dan petang”. (QS. Al Insan: 25)

Tasbih, do’a dan dzikir
tersebut jika dilakukan kepada makhluk, maka berarti kufur kepada Alloh.

Jika dikatakan: “Sungguh
kalam Alloh –Ta’ala- adalah makhluk”.

Maka berarti nama-nama-Nya
termasuk di dalamnya, dan barang siapa yang mengklaim demikian, maka dia
telah menjadi kafir sebagaimana yang telah kami sebutkan; karena hal itu
mengandung arti bahwa Alloh –Ta’ala- tidak mempunyai nama-nama tersebut
sebelum menciptakan kalam-Nya. Maka juga berarti orang yang bersumpah dengan
salah satu dari nama-nama-Nya adalah musyrik; karena dia telah bersumpah
kepada makhluk, sedangkan makhluk bukanlah sebagai Al Kholiq (pencipta).

Dengan hujjah inilah
sekelompok ulama salaf dan para imam berdalil bahwa Al Qur’an bukanlah
makhluk, di antara mereka adalah:

Imam Hujjah Sufyan bin Sa’id
ats Tsauri berkata:

“Barang siapa yang berkata: “قل
هو الله أحد، الله الصمد
 “ adalah makhluk, maka dia telah menjadi kafir”. (Diriwayatkan
oleh Abdullah dalam As Sunnah: 13 dengan sanad yang baik)

Imam Syafi’i berkata:

“Barang siapa yang bersumpah
dengan salah satu nama dari nama-nama Alloh, lalu dia melanggarnya maka
wajib membayar kaffarat; karena nama Alloh bukanlah makhluk, dan barang
siapa yang bersumpah dengan Ka’bah atau dengan Shofa dan Marwah maka tidak
wajib membayar kaffarat; karena dia adalah makhluk, sedangkan nama-Nya
bukanlah makhluk”. (HR. Ibnu Abi Hatim dalam Adab Syafi’i: 193 dengan sanad
yang benar)

Ahmad bin Hambal berkata:

“Nama-nama Alloh yang ada di
dalam Al Qur’an, dan Al Qur’an termasuk ilmu Alloh, barang siapa yang
mengklaim bahwa Al Qur’an itu makhluk maka dia menjadi kafir, dan barang
siapa yang mengklaim bahwa nama-nama Alloh adalah makhluk maka dia menjadi
kafir”. (HR. Sholeh dalam Al Mihnah: 52, 66-67)

Dalil kelima:

Alloh –Ta’ala- telah
mengabarkan bahwa Al Qur’an telah diturunkan oleh-Nya dan disandarkan
kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

( تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ
الْعَالَمِينَ )السجدة/ 2

“Turunnya Al Qur’an yang
tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam”. (QS. As
Sajdah: 2)

Dia juga berfirman:

( وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ
مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ ) الأنعام/114

“Orang-orang yang telah Kami
datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur’an itu
diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya”. (QS. Al An’am: 114)

Dia juga berfirman:

( قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ )
النحل/ 102

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril)
menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar”. (QS. An Nahl: 102)

Dia (Alloh) tidak
menyandarkan sesuatu yang diturunkan kepada Dzat-Nya kecuali kalam-Nya, hal
ini menunjukkan adanya kekhususan dari sisi artinya, maka hal itu tidaklah
sama dengan turunnya hujan, besi dan lain sebagainya. Kesemuanya itu Alloh
telah mengabarkan bahwa juga diturunkan, akan tetapi tidak menyandarkan
kepada Dzat-Nya secara langsung, berbeda dengan kalam (firman) Nya, kalam
itu adalah sifat, sedangkan sifat itu tidak disandarkan kecuali kepada yang
memilikinya tidak kepada yang lainnya, jika sifat itu adalah makhluk, maka
akan berpisah dengan penciptanya dan tidak sah menjadi sifat-Nya; karena
Alloh –Ta’ala- tidak membutuhkan makhluknya dan tidak memiliki sedikitpun
dari sifat makhluk-Nya.

Dalil yang keenam:

Dari Khoulah bin Hakim As
Sulaimiyyah berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi
wa sallam- bersabda:

( مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ
اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى
يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ ) رواه مسلم (2708).

“Barang siapa yang singgah di
suatu tempat kemudian berkata: “Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Alloh
yang sempurna dari keburukan semua makhluk”, maka tidak akan membahayakannya
sesuatu apapun sampai dia beranjak dari tempat singgah tersebut”. (HR.
Muslim: 2708)

Jikalau kalimat-kalimat-Nya
adalah makhluk, berarti meminta perlindungan kepadanya adalah syirik; karena
meminta perlindungan kepada makhluk. Sebagaimana diketahui bahwa meminta
perlindungan kepada selain Alloh, nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah
syirik, maka bagaimana mungkin Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
mengajarkan kepada umatnya sebuah kesyirikan yang nyata, sedangkan beliau
yang membawa ajaran tauhid yang murni ??!.

Maka hal ini menunjukkan
bahwa kalimat-kalimat Alloh –Ta’ala- bukanlah makhluk.

Nuaim bin Ahmad berkata:

“Tidak boleh meminta
perlindungan kepada makhluk, tidak juga dengan ucapan hamba, jin, manusia
dan malaikat”.

Al Bukhori berkata setelah
itu:

“Dalam hal ini menjadi dalil
bahwa kalamullah itu bukan makhluk dan selain dari itu adalah makhluk”.
(Baca Kholqu Af’aalil ‘Ibaad: 143)

Dalil ketujuh:

Hadits Abu Hurairah –radhiyallahu
‘anhu- dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

( فضل كلام الله على سائر الكلام كفضل الله على سائر خلقه )
حديث حسن ، أخرجه عثمان الدارمي في ” الرد على الجهمية ” رقم : (287، 340) ،
واللالكائي رقم : (557).

“Keutamaan firman Alloh atas
semua jenis ucapan sama halnya dengan keutamaan Alloh atas semua makhluk-Nya”.
(Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Utsman Ad Darimi dalam Ar Raddu ‘alal
Jahmiyyah: 287 dan 340 dan Al Lalika’i: 557)

Hadits ini mengandung
penguatan akidah salaf bahwa Al Qur’an kalamullah bukan makhluk, hal itu
bisa dilihat dari dua sisi:

1.     
Adanya
perbedaan antara kalamullah dengan kalam lainnya. Kalam itu bisa berupa
kalamullah yang merupakan sifat-Nya atau kalamnya makhluk yang diciptakan
oleh Alloh, maka yang menjadi sifat Alloh disandarkan kepada-Nya, dan selain
kalamullah disandarkan secara umum; agar mencakup semua kalam yang
disandarkan kepada selain Alloh, jikalau semuanya dianggap makhluk maka
tidak dibutuhkan lagi adanya perbedaan antara keduanya.

2.     
Menjadikan
perbedaan antara kalamullah dengan kalam lainnya, seperti halnya perbedaan
antara Dzat-Nya dengan dzat lainnya, maka kalam dan sifat-Nya dijadikan
sesuai dengan Dzat dan dan sifat-Nya. Sebagaimana kalam dan sifat makhluk
sesuai dengan dzat dan sifatnya.

Imam Utsman bin Sa’id ad
Darimi telah berhujjah dengan pernyataan di atas di dalam “Ar Raddu ‘Alal
Jahmiyyah”: 162-163, setelah menyebutkan beberapa hadits dalam masalah ini
beliau berkata:

“Beberapa hadits di atas
menjelaskan bahwa Al Qur’an itu bukanlah makhluk; karena tidak satu pun dari
para makhluk mempunyai tingkatan keutamaan antara keduanya, sebagaimana
tingkatan keutamaan antara Alloh dengan makhluk-Nya; karena keutamaan antara
sesama makhluk bisa diketahui dan terukur. Namun tingkatan keutamaan antara
Alloh dengan makhluk-Nya tidak bisa diukur, tidak satu pun yang mampu
menghitungnya, demikian juga tingkatan keutamaan antara kalamullah dengan
kalam para makhluk, jika kalamullah dianggap makhluk maka tidak perlu
dibedakan keutamaan kalamullah dengan kalam yang lain, sebagaimana keutamaan
Alloh atas makhluk-Nya, tidak juga seperti puluhan jilid dengan ribuan jilid,
tidak sama juga dengan pemahaman yang dekat yang bisa difahami, karena tidak
ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia, maka tidaklah serupa kalam-Nya
dengan kalam lainnya dan tidak akan didatangkan yang serupa dengannya
selamanya”.

Dalil ke delapan:

Termasuk dalil aqli yang
nampak jelas adalah bahwa jika kalamullah dianggap makhluk, maka tidak
keluar dari salah satu dari dua hal berikut ini:

1.     
Menjadi makhluk
setara dengan Dzat Alloh

2.     
Menjadi
terpisah dan berbeda dengan Dzat-Nya

Kedua kemungkinan tersebut
adalah batil, bahkan jelas-jelas termasuk kufur.

Adapun yang pertama, maka hal
itu berarti adanya penyatuan antara makhluk dengan penciptanya, maka hal ini
batil menurut ahlus sunnah dan menurut sebagian besar ahli bid’ah; karena
Alloh tidak membutuhkan makhluk-Nya dari segala sisi.

Sedangkan yang kedua, maka
hal itu berarti meniadakan sifat kalam bagi Alloh –Ta’ala-, karena sifat itu
melekat dengan yang disifati –sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya-
tidak bisa melekat kepada yang lainnya, jika sifat itu melekat kepada dzat
lain maka ia akan menjadi sifatnya, maka dalam hal ini berarti Alloh
dianggap tidak berbicara, yang demikian tentunya bentuk kekufuran yang nyata,
sebagaimana yang kami jelaskan pernyataan tersebut.

Dalil yang kesembilan:

Saya mengetahui bahwa sifat
itu tidak berdiri sendiri, jika sifat tersebut kepunyaan Sang Pencipta maka
melekat dengan-Nya, jika sifat itu kepunyaan makhluk maka ia pun melekat
denganya, maka pergerakan, diam, berdiri, duduk, kemampuan, keinginan, ilmu,
kehidupan dan lain sebagainya dari semua sifat, jika disandarkan kepada
sesuatu maka menjadi sifat sesuatu tersebut, ia selalu mengikuti
dan melekat dengannya.
Semua sifat tersebut jika disandarkan kepada makhluk maka
menjadi sifatnya, dan jika sebagiannya disandarkan kepada Sang Pencipta
seperti kekuasaan, keinginan, ilmu, kehidupan dan lain sebagainya, maka akan
menjadi sifat-Nya karena disandarkan kepada-Nya. Jika disandarkan kepada
makhluk maka ia termasuk makhluk, dan jika disandarkan kepada Sang Pencipta
maka ia bukan makhluk.

Sifat kemampuan berbicara
sama halnya dengan sifat-sifat yang lainnya, harus berada pada tempat
tertentu, jika sifat tersebut berada di tempat tertentu maka ia menjadi
sifat dari tempat tersebut, tidak menjadi sifat bagi selainnya. Jika sifat
tersebut disandarkan kepada Sang Pencipta (Alloh) maka ia menjadi sifat-Nya,
namun jika disandarkan kepada selain-Nya maka ia menjadi sifat dzat lain
tersebut. Sifatnya Sang Pencipta bukanlah makhluk sebagaimana Dzat-Nya,
sedangkan sifatnya makhluk juga berupa makhluk seperti halnya dirinya.

Ketika Alloh telah
menyandarkan kalam kepada diri-Nya, maka kalam-Nya bukanlah makhluk; karena
ia mengikuti Dzat-Nya, Dzat-Nya Alloh –Ta’ala- bukanlah makhluk,
membicarakan kalam yang berupa sifat menjadi bagian dari kalam dalam bentuk
dzat.

Jika dikatakan bahwa kalam
itu makhluk.

Maka pendapat kami:

“Jadi Maha Suci Alloh dari
mempunyai sifat yang berupa makhluk, kalian mengklaim telah mensucikan Alloh
dari kesamaan-Nya dengan makhluk, sesuai dengan pendapat kalian tersebut,
berarti kalian harus tidak menyandarkan kalam kepada-Nya, (jika tetap
menyandarkannya) maka berarti anda mendustakan pendengaran dan akal yang
menyaksikan bahwa Alloh mempunyai sifat kalam.

Akan tetapi mereka enggan
untuk mengakui bahwa kalamullah bukanlah makhluk dengan bertumpu pada
kebatilan sebelumnya mereka berkata:

“Kami menetapkan bahwa Alloh
Maha Berbicara dengan kalam yang berdiri sendiri pada yang lainnya, Alloh –Ta’ala-
berbicara kepada Musa dengan kalam yang diciptakan pada pohon, tidak
langsung dari-Nya, karena kami mensucikan-Nya dari menyamakan-Nya dengan
makhluk”.

Pendapat kami:

“Kalian telah menjadikan
kalam menjadi sifat pada tempat tertentu yang memilikinya, maka pendapat
kalian tersebut mengharuskan untuk dikatakan sebagai kalamnya pohon, karena
berarti pohon itulah yang berbicara kepada Musa:

( يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ )،

“Wahai Musa, sesungguhnya Aku
adalah Alloh, Tuhan semesta Alam”.

Kalau demikian maka menjadi
tidak ada perbedaan antara ucapan pohon dan ucapan Fir’aun yang terlaknat:

( أنا ربكم الأعلى )

“Akulah Tuhan kalian yang
paling tinggi”.

Karena ucapan pohon menjadi
sifatnya, bukan sifat Alloh. Sedangkan ucapan Fir’aun adalah sifatnya,
keduanya menyatakan sebagai Rabb (Tuhan). Maka Musa menjadi tidak benar jika
mengingkari ucapan Fir’aun dan menerima ucapan sebuah pohon !!?

Maka Fikirkanlah dengan baik
–semoga Alloh merahmati anda- tentang kekufuran yang nyata ini yang
menjerumuskan pelakunya kepada bid’ah yang tercela, dan mereka tidak ridho
dan menerima hakikat sesuai dengan yang diturunkan (melalui Al Qur’an).
Mereka mengganti wahyu yang mulia dengan ide-ide murahan yang dipengaruhi
oleh hawa nafsu.

Dalil aqli ini yang dijadikan
hujjah oleh Imam Ahmad –rahimahullah- kepada Jahmiyyah dan Mu’tazilah ketika
berdiskusi dengan mereka di hadapan Al Mu’tashim, beliau berkata:

“Kisah Nabi Musa ini, Alloh
sendiri yang berfirman di dalam kitab-Nya:

( وكلم الله موسى )

“Dan Alloh telah berbicara
kepada Musa”.

Maka Alloh telah menetapkan
berbicara kepada Musa sebagai bentuk kemuliaan dari-Nya kepada Musa,
kemudian setelah itu Dia Alloh lanjutkan dengan kata:

( تكليما )
 

sebagai penguat dari ucapan
tersebut.

Alloh –Ta’ala- berfirman:

يا موسى ( إنني أنا الله لا إله إلا أنا )

“Wahai Musa, sesungguhnya Aku
adalah Alloh yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Aku”.

Kalian mengingkari ini, maka
berarti huruf: “Yaa” kembali kepada selain Alloh ?, maka bagaimana seorang
makhluk mengklaim sebagai Tuhan !!?, ketahuilah bahwa (yang berbicara itu
adalah) Alloh –‘Azza wa Jalla- sendiri”. (Diriwayatkan oleh Hambal dalam Al
Mihnah: 52)

Dalil yang kesepuluh:

Termasuk di antara ucapan
para ulama salaf dalam menetapkan aqidah ini:

Amr bin Dinar –salah satu
Imam generasi Tabi’in- berkata:

“Saya hidup bersama para
sahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan genarasi setelahnya sejak
70 tahun yang lalu, mereka mengatakan: “Alloh adalah Sang Pencipta, dan yang
lain adalah makhluk. Al Qur’an adalah kalamullah yang berasal dari-Nya dan
kepada-Nya akan kembali”.

Abdullah bin Nafi’ berkata:
“Malik pernah berkata: “Al Qur’an adalah kalamullah, dan sangat tercela
pendapat yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk”. (Diriwayatkan oleh
Sholeh bin Ahmad dalam Al Mihnah: 66 dengan sanad yang shahih)

Rabi’ bin Sulaiman sahabat
Imam Syafi’i dan muridnya berkata saat menceritakan diskusi antara beliau
dengan Hafsh Al Fard dalam Al Qur’an:

“Maka Imam Syafi’i bertanya,
Imam Syafi’i menyampaikan hujjahnya, diskusi yang panjang, maka Imam Syafi’i
berhujjah bahwa Al Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk dan mengkafirkan
Hafsh Al Fard. Ar Rabii’ berkata: “Saya bertemu dengan Hafsh Al Fard setelah
majelis tersebut dan mengatakan: “Imam Syafi’i ingin membunuh saya”. (Diriwayatkan
oleh Abdur Rahman bin Abi Hatim dalam Aadab Asy Syafi’i: 194-195 dengan
sanad yang shahih)

Ibnu Abi Hatim berkata:

“Saya telah bertanya kepada
bapak saya dan kepada Abu Zar’ah tentang madzhab-madzhab Ahlus Sunnah dalam
masalah ushuluddin dan para tokoh ulama yang beliau berdua ketahui dan yang
menjadi keyakinan beliau berdua ?

Beliau berdua menjawab:

“Kami telah mengetahui para
tokoh ulama di semua kota di daerah Hijaz, Irak, Syam dan Yaman, maka di
antara madzhab mereka bahwa iman itu ucapan dan perbuatan bisa bertambah dan
berkurang dan Al Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk dari semua sisinya”.
(Diriwayatkan oleh Thabrani dalam As Sunnah: 1/176 dengan sanad yang shahih)

Imam Abu Qosim Hibatullah bin
Hasan Ath Thabari Al Lalika’i dalam karyanya yang besar “Syarh Ushul I’tiqad
Ahlis Sunnah wal Jama’ah telah merumuskan:

“Pendapat mengenai hal itu
terhitung sebanyak 550 ulamanya umat dan generasi salafnya, semua mereka
berkata: “Al Qur’an kalamullah bukan makhluk, dan barang siapa yang
mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk maka ia telah kafir”.

Beliau –rahimahullah- berkata:

“Mereka yang berjumlah 550
ulama atau lebih tersebut berasal dari kalangan tabi’iin, pengikut tabi’iin,
para imam tidak termasuk para sahabat, pada masa yang berbeda, setelah
bertahun-tahun berlalu, di antara mereka juga ada 100 para imam yang menjadi
rujukan umat, mereka menjalankan agamanya dengan madzhab mereka. Dan jika
anda sibuk menukil dari perkataan ahli hadits maka nama-nama yang muncul
akan mencapai ribuan”. (As Sunnah: 493)

Secara ringkas dan dengan
sedikit perubahan di salin dari buku “Al Aqidah As Salafiyah fii Kalam
Rabbil Bariyyah wa Kasyfu Abathiil Al Mubtadi’ah Ar Raddiyah: 121-147.

Untuk pendalaman materi maka
baca juga jilid 12 dari Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah: “Al Qur’an Kalamullah”
dan “Mukhtashor Ash Showa’iq Al Mursalah” karya Ibnu Qayyim.

Baca juga makalah yang
bermanfaat untuk dibaca dalam masalah ini dengan judul: “Lima Kaana Al Qoulu
bikholqil Qur’an Kufran ? wal Kalam An Nafsi ? karya Syeikh Amr Basyuni pada
link berikut ini:


http://taseel.com/display/pub/default.aspx?id=3300&mot=1

Wallahu A’lam.