Apa pahala istri sholehah dalam agama disisi Allah kalau dia dapat membahagiakan suami, mencintai, menjaga, mendekatkan kepada Allah memperlakukan seperti anak kecil dengan segala kasih sayang. Melakukan segalanya agar suami mendapatkan kebagiaan, mentaati semuanya sehingga dia menjadi bahagia sekali dengannya. Dan apa pula pahala suami kalau dia bersikap yang sama? Senantiasa mendoakan kebaikan dan keridoan Allah untuknya?
Alhamdulillah
Saya memohon kepada Allah
Ta’ala agar melanggengkan anda berdua dalam kasih sayang, kecintaan dan
kebahagiaan. Dan semoga rumah kaum muslimin sebagaimana rumah kalian berdua.
Baik dalam kebersamaan dan berintaraksi. Saya beri kabar gembira –wahai
saudariku muslimah – dengan banyak kabar gembira yang dikabarkan oleh Nabi
kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dalam penjelasan mengenai pahala
istri sebagaimana kondisi yang anda sebutkan:
Dari Abdurrahman bin Auf
radhiallahu anhu, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا ، وَصَامَتْ شَهْرَهَا ،
وَحَفظتْ فَرْجَهَا ، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا ، قِيْلَ لَهَا ادخُلِي مِنْ أَيِّ
أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ (رواه أحمدظ، 1/191 ، وقال محققو المسند : حسن
لغيره . وحسنه الألباني في “صحيح الترغيب” رقم 1932)
“Kalau istri shalat lima
waktu, berpuasa bulan (Ramadan), menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya,
dikatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam surga lewat pintu yang dia sukai.”
(HR. Ahmad, 1/191, Peneliti Musnad mengomentarai, “Hasan Ligoirihhi.”
Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam kitab Shahih Targib, no. 1932).
Dari Anas bin Malik
radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخبِرُكُم بِرِجَالِكُم فِي الجَنَّةِ ؟ قُلنَا : بَلَى
يَا رَسُولَ اللَّهِ . قال : النَّبِيُّ فِي الجَنَّةِ ، وَالصِّدِّيقُ فِي
الجَنَّةِ ، وَالرَّجُلُ يَزُورُ أَخَاهُ فِي نَاحِيَةِ المِصرِ لَا يَزُورُهُ
إِلاَّ لِلَّهِ فِي الجَنَّةِ ، أَلَا أُخبِرُكُم بِنِسَائِكُم فِي الجَنَّةِ ؟
قُلنَا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ : وَدُودٌ وَلُودٌ إِذَا غَضِبَت
أَو أُسِيءَ إِلَيهَا أَو غَضِبَ زَوجُهَا قَالَت : هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ ،
لَا أَكتَحِلُ بِغِمضٍ حَتَّى تَرضَى
(رواه الطبراني في “المعجم الأوسط” (2/ 206 ) و قد جاء عن جماعة
من الصحابة آخرين ، لذلك حسنه الألباني في السلسلة الصحيحة، رقم 3380)
وفي صحيح الترغيب، رقم 1942)
“Apakah kamu semua mau saya
beritahukan kaum lelaki di surga?” Kami menjawab, “Ya, Wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Nabi di surga, orang jujur (siddiq) di surga, seseorang
yang mengunjungi saudaranya di pelosok kota, tidak ada maksud kecuali karena
Allah, dia di surga. Apakah kamu mau saya beritahukan kaum wanita di surga?”
Kami menjawab, “Ya, wahai Rasulallah.” Beliau bersabda, “Yang mempunyai
sifat kasih sayang, mempunyai banyak keturunan. Ketika dia marah atau
disakiti, atau suaminya marah dia mengatakan, “Ini tanganku di tangan anda,
saya tidak dapat memejamkan (mata) sampai anda ridha.” (HR. Thabrani dalam
kitab ‘Mu’jam Al-Ausath, 2/206). Juga terdapat dari sekelompok shahabat
lainnya. Oleh karena itu syekh Al-Albany menghasankannya dalam kitab ‘Shahih
Targib, no. 1942 dan Silsilah Shahihah, no. 3380)
Dari Husain bin Muhsin
radhiallahu anhu, dari bibinya
أَنَّهَا أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ ، فَقَضَى لَهَا حَاجَتَهَا ، ثُمَّ قَالَ : أَذَاتُ
بَعْلٍ أَنْتِ ؟ قَالَت : نعم. قال : فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ ؟ قَالَتْ : مَا
آلُوَهُ إِلا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ . قَالَ : فَانْظُرِي كَيْفَ أَنْتِ لَهُ
فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ ) رواه أحمد (4/341) وقال محققو المسند : إسناده
محتمل للتحسين . وقال المنذري اسناده جيد . وصححه الحاكم في المستدرك
والألباني في “صحيح الترغيب” (1933
(6/383(
“Bahwa beliau mendatangi Nabi
sallallahu alaihi wa sallam dalam suatu keperluan. Kemudian telah selesai
keperluannya. Kemudian beliau bertanya, “Apakah engkau punya suami?” Dia
menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Bagaimana engkau dengannya?” Dia menjawab,
“Aku tidak menyiakan kecuali apa yang aku tidak mampu.” Beliau bersabda,
“Perhatikan sikap anda terhadapnya, karena ia adalah surgamu dan nerakamu.”
(HR. Ahmad, 4/341, Peneliti Musnad mengatakan, “Sanadnya ada kemungkinan
untuk dihasankan. Munziri mengatakan, “Sanadnya baik, dishahihkan oleh Hakim
dalam kitab Al-Mustadrak, (6/383) dan Al-Albany dalam kitab Shahih Targib,
no. 1933).
Al-Manawi dalam kitab Faidul
Qodir (3/60) mengatakan, “Maksudnya ia sebagai sebab masuknya anda ke surga
dengan keridhaannya kepada anda. dan sebab masuknya anda ke neraka karena
kemurkaannya kepada anda. Maka berbuat baiklah dalam bergaul dan jangan
menyalahi perintahnya yang bukan maksiat.”
Adapun kabar gembira bagi
suami yang baik bersama istrinya adalah bahwa Nabi sallallahu alaihi wa
sallam menyaksikan baginya kesempurnaan iman yang mengharuskan masuk ke
dalam surga serta kemuliaan dibanding seluruh manusia. Dari Abu Hurairah
radhiallahu anhu, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallalm bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ،
وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا (رواه الترمذي، رقم 1162 وقال
حديث حسن صحيح و صححه الألباني في صحيح الترمذي)
“Orang mukmin yang paling
sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Dan yang terbaik
diantara kamu semua adalah yang terbaik akhlaknya kepada istrinya.” (HR.
Tirmizi, no. 1162 dan dia mengatakan hadits Hasan Shahih. Dinyatakan Shahih
oleh Al-Albany dalam kitab Shahih Tirmizi. Silahkan lihat jawaban soal no.
43123)
Wallahu a’lam
.
