Apa hukum shalat sunah di bulan Ramadan? Dan berapa bilangan rakaat yang dianjurkan pada shalat taraweh? Saya telah melihat pada sebagian kelompok menyimpang seperti kelompok sufi dan lainnya mereka melakukan shalat taraweh 30 rakaat. Apakah ada dalil akan hal itu?
Alhamdulillah
Pertama:
Shalat sunah pada bulan
Ramadan, terutama shalat qiyam termasuk ketaatan yang dianjurkan berdasarkan
keumuman menunaikan ketaatan di bulan Ramadan baik shalat atau lainnya.
Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam juga menganjurkan menunaikan qiyam
secara khusus di bulan Ramadan. Dalam sabdanya:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
)رواه
البخاريـ رقم 37، ومسلم، رقم 759)
“Siapa yang berdiri (shalat)
di bulan Ramadan dalam kondisi keimanan dan mengharap (pahala) maka dia akan
diampuni dosa-dosa yang lalu.”
)HR.
Bukhori, no. 37 dan Muslim, no. 759).
An-Nawawi rahimahullah
membuat bab ‘At-Targib Fi Qiyam Ramadan Wahuwa Taraweh” (Bab anjuran qiyam
ramadan yaitu Taraweh). Maka bagi seorang muslim, di bulan Ramadan hendaknya
menjaga sunah shalat qobliyah dan ba’diyah. Menjaga shalat taraweh berjamaah
bersama umat Islam. Sebagaimana dianjurkan juga sunah mutlak di waktu-waktu
selain yang dilarang. Sebagai tambahan silahkan lihat jawaban soal no.
21740.
Kedua:
Biasanya Rasulullah
sallallahu alaihi wa slalam tidak menambah baik di bulan Ramadan maupun
bulan lain sebelas rakaat. Terkadang tiga belas rakaat. Diriwayatkan oleh
Bukhori, (3569) dan Muslim, (738) dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa
beliau bertanya kepada Aisyah radhiallahu anha, bagaimana dahulu Rasulullah
sallallahu alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadan? Maka beliau menjawab,
مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى
إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، فَلاَ تَسْأَلْ
عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا ، فَلاَ تَسْأَلْ
عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا ، فَقُلْتُ : يَا
رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ ؟ قَالَ : تَنَامُ عَيْنِي وَلاَ
يَنَامُ قَلْبِي
“Beliau tidak pernah menambah
lebih dari sebelas rakaat baik di Ramadan maupun selain ramadan. Beliau
shalat empat rakaat, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian
beliau shalat empat rakaat (lagi), jangan bertanya tentang bagus dan
panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat. Saya bertanya, “Wahai
Rasulullah, apakah anda tidur sebelum witir?” Beliau menjawab, “Mataku tidur
akan tetapi hatiku tidak tidur.”
Diriwayatkan oleh Bukhari,
no. 1170 dari Aisyah radhiallahu anha berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يُصَلِّي بِاللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ، ثُمَّ يُصَلِّي إِذَا سَمِعَ
النِّدَاءَ بِالصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ
“Biasanya Rasulullah
sallallahu alaihi wa sallam shalat malam tiga belas rakaat. Kemudian shalat
ketika mendengar azan subuh dua rakaat ringan.”
An-Nawawi rahimahullah
mengatakan, “Dan dari (Aisyah) radhiallahu anha di bukhori bahwa shalat
beliau sallallahu alaihi wa sallam waktu malam tujuh dan sembilan. Bukhori
dan Muslim menyebutkan setelah ini dari hadits Ibnu Abbas bahwa shalat
beliau sallallahu alaihi wa sallam waktu malam tiga belas rakaat. Dua rakaat
setelah fajar adalah sunah subuh. Dalam hadits Zaid bin Kholid bahwa beliau
sallallahu alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan kemudian dua rakaa
panjang dan menyebutkan hadits. Di akhirnya dikatakan, ‘Itu tiga belas. Qodi
berkata, “Para ulama mengatakan bahwa hadits ini menjelaskan bahwa
masing-masing baik, dari Ibnu Abbas, Zaid dan Asiyah apa yang dilihatnya.”
Ketiga:
Nabi sallallahu alaihi wa
sallam tidak menentukan bilangan tertentu dalam shalat taraweh dan tidak
ditambahkan. Masalah ini luas insyaallah. Tidak mengapa bagi seseorang untuk
menambah lebih dari sebelas rakaat. Berdasarkan keumuman sabda Nabi
sallallahu alaihi wa sallam:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ
الصُّبْحَ، صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى (رواه
البخاري، رقم 472، ومسلم، رقم 749)
“Shalat
malam itu dua dua, kalau salah seorang diantara kamu semua khawatir subuh,
maka shalat satu rakaat witir untuk shalat yang telah ditunaikan.”
)HR.
Bukhori, no. 472 dan Muslim, no. 749).
Dari situ, maka para ahli
fikih mazhab di berbagai kota, dalam mazhab Hanafi 20 rakaat, begitu juga
menurut Imam Ahmad. Sementara menurut Imam Malik, 36 rakaat. Tidak mengapa
seseorang melakukan hal itu atau lainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan setelah menyebutkan perbedaaan para ulama tentang
hal itu, “Yang benar, semuanya itu baik. Sebagaimana hal itu ditegaskan oleh
Imam Ahmad rahimahullah. Bahwa beliau tidak menentukan bilangan tertentu
dalam qiyam di Ramadan. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak
menentukan bilangan, maka memperbanyak rakaat dan mempersedikit tergantung
lama dan pendeknya berdiri. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam dahulu
lama berdiri waktu malam. Sampai Terdapat riwayat shahih dari Hadits
Huzaifah (Bahwa beliau membaca dalam satu rakaat surat Al-Baqarah, An-Nisa’
dan Ali Imran). Sehingga lamanya berdiri membuatnya tak memperbanyak rakaat.
Sementara Ubay bin Ka’ab ketika mengimami mereka dalam satu jamaah, tidak
memungkinkan berdiri lama, sehingga diperbanyak rakaatnya. Hal itu sebagai
ganti dari berdiri lama. Dan mereka menjadikan hal itu dengan
melipatgandakan dari bilangan rakaatnya. Karena beliau dahulu qiyamul lail
sebelas atau tiga belas rakaat. Kemudian orang-orang di Madinah setelah itu
lemah dari berdiri lama, sehingga mereka memperbanyak rakaat sampai 39
rakaat.” (Majmu Fatawa, 23/113, lihat juga: 23/120).
Ulama Lajnah Lil Ifta
mengatakan, “Tidak ada ketetapan bilangan rakaat shalat taraweh dengan
bilangan tertentu. Para ulama berbeda pendapat diantara mereka yang yang
berpendapat 23, ada yang 36 diantara mereka ada yang lebih banyak dan ada
yang lebih sedikit. Para shahabat mereka shalat pada zaman Umar 23 rakaat di
Masjid Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Sementara Nabi dahulu tidak
pernah menambah dari 11 atau 13 rakaat baik Ramadan atau selain Ramadan. Dan
tidak menentukan kepada orang-orang dengan bilangan tertentu dalam taraweh
dan qiyamul lail. Bahkan beliau menganjurkan untuk qiyaullail dan lebih
khusus qiyam Ramadan, dalam sabda Beliau sallahu alaihi wa sallam, “Siapa
yang shalat (malam/taraweh) di bulan Ramadan seraya mengharap (pahala), maka
akan diampuni dosa yang telah lalu.” Beliau tidak menentukan bilangan rakaat.
Hal ini berbeda sesuai dengan tata cara qiyam. Siapa yang memperpanjang
shalatnya, maka disedikitkan bilangan rakaatnya. Sebagaimana yang dilakukan
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Siapa yang meringankan shalatnya
karena mempertimbangkan jamaah, maka diperbanyak bilangan rakaatnya
sebagaimana yang dilakukan para shahabat di zaman Umar. Tidak mengapa
menambah bilangan rakaat di sepuluh malam akhir dari bilangan dua puluh
pertama. Dengan membagi dua sesi, bagian shalat di awal malam dan
diringankan bahwa itu taraweh seperi pada dua puluh pertama. Dan bagian
shalat di akhir malam dan diperpanjang karena ia adalah tahajud. Dahulu Nabi
sallallahu alaihi wa sallam bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir
tidak seperti bersemangat pada malam lainnya.” (Fatawa Lajnah Daimah Vol.
II, 6/82).
Kesimpulannya, tidak ada
bilangan tertentu dalam shalat taraweh, misalnya dilarang menambah atau
mengurangi. Siapa yang shalat taraweh 30 rakaat lebih atau kurang, tidak
mengapa. Jangan membid’ahkan hal itu.
Syekh Ibnu Baz rahimahullah
mengatakan, “Shalat taraweh tidak ada bilangan tertentu. Siapa yang shalat
20 rakaat tidak mengapa, siapa yang shalat 30 rakaat tidak mengapa. Siapa
yang shalat 40 rakaat tidak mengapa, siapa yang shalat 11 rakaat tidak
mengapa. Siapa yang shalat 13 rakaat tidak mengapa. Siapa yang shalat lebih
atau kurang tidak mengapa. Masalahnya luas.” “Fatawa Nurun ‘Alad Darbi,
9/437. Sebagai tambahan silahkan lihat jawaban soal no.
9036.
Wallahu a’lam
.
