Apakah hadits ini shahih:
من صلى أربعا بعد العشاء كن كقدرهن من ليلة القدر
“Siapa yang shalat empat rakaat setelah isya’, maka (mendapat) kadar dari Lailatul qodar’
Alhamdulillah
Pertama:
Terdapat ketetapan dari Nabi
sallallahu alaihi wa salam bahwa beliau shalat setelah isya’ empat rakaat
ketika beliau pulang ke rumahnya. Hal itu Terdapat hadits dari Ibnu Abbas
radhiallahu anhuma berkata:
” بِتُّ فِي
بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صلّى الله
عليه وسلم ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي
لَيْلَتِهَا ، فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ العِشَاءَ
، ثُمَّ جَاءَ إِلَى مَنْزِلِهِ ، فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، ثُمَّ نَامَ ،
ثُمَّ قَامَ ، ثُمَّ قَالَ : ( نَامَ الغُلَيِّمُ )، أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا
، ثُمَّ قَامَ ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ ، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ،
فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ نَامَ ، حَتَّى
سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ خَطِيطَهُ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ (رواه
البخاري، رقم 117) .
“Saya menginap di rumah
bibiku Maimunah binti Haritsah istri Nabi sallallahu alaihi wa sallam.
Dimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam malam itu di rumah beliau. Maka Nabi
sallallahu alaihi wa sallam menunaikan shalat isya’ kemudian datang ke
rumahnya, dan shalat empat rakaat. Kemudian beliau tidur dan mengatakan,
“Anak kecil telah tidur. Atau mengatakan semisal itu, kemudian beliau
berdiri (shalat). Kemudian saya berdiri (shalat) disisi kirinya, dan beliau
memindahkan sebelah kanannya. Kemudian shalat lima rakaat. Kemudian shalat
dua rakaat dan setelah itu tidur. Sampai saya mendengar dengkurannya.
Kemudian keluar menunaikan shalat.” (HR. Bukhori, no. 117).
Bahkan Terdapat dalam hadits
lain – meskipun ada sedikit lemahnya- bahwa Nabi sallallahu alahi wa sallam
biasanya beliau menunaikan shalat empat rakaat setelah isya’.
Dari Aisyah radhiallahu anha
berkata:
مَا صَلَّى
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ قَطُّ فَدَخَلَ
عَلَيَّ إِلَّا صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَوْ سِتَّ رَكَعَاتٍ (رواه أبو
داود، رقم 1303 وضعفه الألباني في ” ضعيف أبي داود – الأم، 2/57) .
“Rasulullah sallallahu alaihi
wa sallam tidak pernah shalat isya’ kemudian masuk ke (rumahku) melainkan
beliau shalat empat rakaat atau enam rakaat.” (HR. Abu Daud, no. 1303,
dilemahkan oleh Al-Albany dalah Dhaif Abi Daud, Al-Umm, no. 2/57).
Hadits yang semisalnya dari
Abdullah bin Zubair berkata,
كَانَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى الْعِشَاءَ رَكَعَ
أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، وَأَوْتَرَ بِسَجْدَةٍ ، ثُمَّ نَامَ حَتَّى يُصَلِّيَ
بَعْد صَلَاته بِاللَّيْلِ (رواه أحمد في المسند 26/34 طبعة مؤسسة الرسالة ،
وضعفه محققو الطبعة لانقطاعه)
“Biasanya Rasulullah
sallallahu alaihi wa sallam jika selesai shalat isya’, beliau shalat empat
rakaat, dan witir dengan satu rakaat. Kemudian tidur dan shalat setelahnya
shalat malam.” (HR. Ahmad di Musnad, (26/34) percetakan Muassasah
Ar-Risalaah dan dilemahkan oleh peneliti percetakan karena ada keterputusan
(sanad))
Maka sunah amaliyah Nabi
sallallahu alaihi wa sallam menunjukkan dianjurkannya shalat empat rakaat
setelah shalat isya’. Hal itu telah disepakati para ulama disyariatkannya
shalat setelah isya’. Baik hadits tentang keutamaannya itu shahih atau
tidak.
Sementara para ahli fikih
ulama Hanafiyah berpendapat memasukkan empat rakaat setelah isya’ ini
termasuk sunah rowatib ba’diyah. Sebagaimana dalam ‘Fahul Qodir, 1-441-449.
Akan tetapi yang Nampak –
wallahu a’lam- ia adalah nafilah mutlak termasuk bilangan qiyamul lail.
Sebagaimana yang dinamakan oleh Ibnu Qudamah dalam ‘Mugni, (2/96) sebagai
shalat tatowu’ (sunah).
Kedua:
Terdapat keutamaan shalat
empat rakaat setelah shalat isya’ lima hadits yang sampai kepada Nabi
sallallahu alaihi wa sallam (Marfu) dan sepuluh atsar dari para shahabat,
tabiin dari perkataan dan perbuatannya. Ia termasuk banyak sekali haditsnya.
Dimana Ibnu Abi SYaibah telah membuat dalam kitab Mushonnafnya bab dengan
judul ‘Fi Arbai Rakaat Ba’da Shalatil Isya’ (Empat rakaat setelah shalat
Isya’).
Begitu juga yang dilakukan
Marwazi dalam kitabnya yang agung ‘Qiyamul lail’ dengan bab ‘Al-Arba Rakaat
Ba’da Isya’ Akhirah (Empat rakaat setelah Isya’ terakhir). Begitu juga
Baihaqi dalam ‘Sunan Kubro membuat bab dengan judul ‘Bab Man Ja’ala Ba’da
Isya’ Arba Rakaat Aktsar (Bab Orang yang menjadikan setelah isya’ empat
rakaat atau lebih).
Kami disini akan
mengetengahkan hadits dan atsar serta sedikit mengomentarinya.
Hadits pertama: dari Ibnu
Umar radhiallahu anhuma berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam
bersabda:
مَنْ صَلَّى
الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ ، وَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ
مِنَ الْمَسْجِدِ ، كَانَ كَعِدْلِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه الطبراني في ”
المعجم الكبير، 13،14 ص/130 ، وفي ” المعجم الأوسط، 5/254)
“Siapa yang shalat Isya’
berjamaah, dan shalat empat rakaat sebelum keluar dari masjid. Maka ia
setara lailatul qodar.” (HR. Tobroni dalam ‘Mu’jam Al-Kabir, 13,14, hal/130,
dalam Mu’jam Al-Ausath, 5/254).
Berkata, kami diberitahukan
Muhammad bin Fadl As-Saqthi, kami diberitahukan Mahdi bin Hafs, kami
diberitahukan Ishaq AlAzraq kami diberitahukan Abu Hanifah dari Muharib bin
Ditsar dari Ibnu Umar. Dari jalan Tobroni diriwayatkan Abu Nu’aim dalam
Musnad Abi Hanifah, (hal. 223).
Tobroni mengomentari, hadits
ini tidak diriwayatkan dari Ibnu Umar kecuali dari Muharib bin Ditsar. Dan
tidak dari Muharib kecuali Abu Hanifah dan (meriwayatkan) sendiri Ishaq
Al-Azraq.
Iraqi rahimahullah
mengatakan, “Ada kelemahannya.” Selesai dari ‘Totkhu Tatsrib, (4/162).
Haitsami rahimahullah
mengomentari, “Dalam sanadnya (silsilah rowi) ada yang lemah selain dituduh
dengan kebohongan.” Selesai dari ‘Majma’ Zawaid, (2/40). Beliau juga
mengatakan, “Dalam hadits ada yang lemah.” Selesai dari ‘Majma’ Zawaid,
(2/231).
Syekh Albani rahimahullah
mengomentari atas perkataan Tobroni ‘Ishaq (meriwayatkan) sendiri seraya
mengatakan, “Beliau adalah Ibnu Yusuf Al-Wasithi, terpercaya. Begitu juga
seluruh para perowi selain Abu Hanifah rahimahullah. Karena para imam
melemahkannya, Al-Hafidz Haitsami mengisyaratkan lemahnya Abu Hanifah dengan
mengomentari setelah (menyebutkan) hadits, “Di dalam hadits ada yang lemah.
Seakan beliau tidak berani menyebutkan namanya menjaga dari keburukan para
pengagum Hanafiyah pada zamannya. Semoga Allah menjaga kejelekan fanatis
pelakuknya. Seluruh perowi hadits telah dijelaskan biografinya dalam kitab
‘Tahzib’ selain Siqthi. Beliau dijelaskan biografinya dalam ‘Tarikh Bagdad,
(3/153).
Khotib mengatakan, “Beliau
tsiqoh (terpercaya) Daruqutni menyebutkan beliau jujur. Selesai dengan
diringkas dari ‘Silsilah Ahadits Dhoifah, no. 5060.
Hadits kedua: dari Ibnu Abbas
sampai kepada Rasulullah sallallahu alihi wa sallam beliau bersabda:
من صلى أربع
ركعات خلف العشاء الآخرة ، قرأ في الركعتين الأوليين : ( قل يا أيها الكافرون )
و ( قل هو الله أحد ) ، وقرأ في الركعتين الأخريين (تنزيل السجدة) و ( تبارك
الذي بيده الملك ) كتبن له كأربع ركعات من ليلة القدر . (رواه المروزي في ”
قيام الليل ” ص/92، والطبراني في ” المعجم الكبير، 11/437، والبيهقي في السنن
الكبرى ، رقم 2/671)
“Siapa yang shalat empat
rakaat setelah shalat isya’ terakir, pada dua rakaat pertama membaca (Qulya
Ayyuhal kafirun) dan (Qul Huwallahu Ahad). Sementara pada dua rakaat
terakhir membaca (Tanzil Sajdah) dan (Tabarokallazi Biyadihil Mulk) maka dia
akan ditulis seperti empat rakaat di malam lailatul Qadar.”
)HR.
Marwazi di ‘Qiyamul Lail, (hal. 92). Tobroni di Mu’jam Kabir, 11/437,
Baihaqi di Sunan Kubra, 2/671).
Semuanya lewat jalan Said bin
Abi Maryam, saya diberitahu oleh Abdullah bin Farukh, saya diberitahu oleh
Abu Farwah dari Salim Al-Aftos, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas
marfu’an (Sampai kepada Nabi).
Baihaqi rahimahullah
mengatakan, “Ibnu Farukh Al-Misri (meriwayatkan) sendirian.” Selesai
Sanad (silsilah perowi) ini
lemah disebaban Abu Farwah Yazid bin Sinan Ar-Rohawi. Para pengkritis hadits
semua sepakat melemahkannya. Bahkan Yahya bin Main mengatakan, “Tidak
(punya) sesuatu. Nasa’I mengatakan, “Haditsnya ditinggalkan. Ibnu ‘Adi
mengatakan, “Mayoritas haditsnya tidak terjaga. Silahkan melihat ‘Tahzibut
Tahzib, (11/336). Oleh karena itu Haitsami melemahkannya dalam ‘Majma
Zawaid, (2/231) dan Albani dalam ‘Silsilah Ahadits Dzoifah (ketika
menjelaskan hadits no. 5060).
Hadits Ketiga: Dari Anas
radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ
قَبْلَ الظُّهْرِ كَعِدْلِهِنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ ، وَأَرْبَعٌ بَعْدَ
الْعِشَاءِ كَعِدْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه الطبراني في ” المعجم
الأوسط 3/141)
“Empat rakaat sebelum zuhur
seperti setelah isya’. Dan empat rakaat setelah isya’ seperti dari lailatul
qadar.” HR. Tobroni di Mu’jam Al-Ausath, (3/141). Dari jalur Yahya bin Uqbah
bin Abi ‘Izar dari Muhammad bin Jahadah berkata (Tobroni): Muhammad bin
Jahadah tidak meriwayatkan hadits ini kecuali Yahya.”
Sanad ini lemah sekali
disebabkan Yahya bin Uqbah bin Abi ‘Izar. Abu Hatim mengomentarinya,
Haditsnya ada cacat. Bukhori mengatakan, ‘Haditsnya mungkar. Ibnu Ma’in
mengatakan, ‘Pembohong dan tercela. Silahkan melihat ‘Lisanul Mizan,
(8/464).
Haitsami rahimahullah
mengatakan, “Di dalamnya ada Yahya bin Uqbah bin Abi ‘Izar beliau lemah
sekali.” Selesai dari ‘Majma Zawaid, (2/230).
Albany rahimahullah
mengatakan, “Lemah sekali.” Selesai dari ‘Silsilah Ahadits Dhoifah, (no.
2739, 5058).
Hadits keempat: dari Baro’
bin ‘Azib radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى
قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ كَأَنَّمَا تَهَجَّدَ بِهِنَّ مِنْ
لَيْلَتِهِ ، وَمَنْ صَلَّاهُنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ كُنَّ كَمِثْلِهِنَّ مِنْ
لَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِذَا لَقِيَ الْمُسْلِمُ الْمُسْلِمَ فَأَخَذَ
بِيَدِهِ وَهُمَا صَادِقَانِ لَمْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُمَا (رواه
الطبراني في ” المعجم الأوسط 6/254)
“Siapa yang shalat empat
rakaat sebelum zuhur, seperti dia melakukan tahajud waktu malamnya. Siapa
yang shalat (empat rakaat) setelah isya’. Maka ia seperti dalam lailatul
qadar. Ketika seorang muslim bertemu dengan muslim lainnya, dan memegang
tangannya keduanya berteman. Keduanya tidak berpisah sampai diampuninya.”
(HR. Tobroni dalam ‘Mu’jam Ausath, 6/254). Berkata, kami diberitahu Muhammad
bin Ali As-Soig, kami diberitahu Said bin Mansur. Kami diberitahu Nahid bin
Salim Al-Bahili kami diberitahu Ammar bin Abu Hasyim dari Robi’ bin Luth
dari pamannya Baro’ bin ‘Azib radhiallahu anhu.
Tobroni mengomentari, hadits
ini tidak diriwayatkan dari Robi’ bin Luthh kecuali Ammar Abu Hasyim. Dan
Nahid bin Salim (meriwayatkan) sendirian.
Haitsami rahimahullah
mengatakan, “Di dalamnya ada Nahid bin Salim Al-bahili dan lainnya. Saya
tidak mendapatkan orang menyebutkan mereka.” Selesai dari Majma Zawaid,
(2/221).
Albani rahimahullah
mengatakan, “Lemah ….. Nahid bin Salim Al-bahili saya tidak mendapatkan
biografinya. Dimana Haitsaimi mengomentari hadits ini seraya mengatakan, “Di
dalamnya ada rowi Nahid bin Salim Al-Bahili dan lainnya. Saya tidak
mendapatkan orang menyebutkan mereka. Selain Bahili saya belum mengetahui
maknanya. Melainkan syekh Tobroni. Beliau mengatakan, “Kami diberitahukan
Muhammad bin Soig, kami diberitahukan Sain bin Mansur, kami diberitahukan
Nahid bin Salim Al-Bahili…. Akan tetapi Haitsami tidak biasanya beliau
berbicara terkait dengan Syekhnya Tobroni yang belum dikenal atau yang masih
tersembunyi dimana mereka tidak disebutkan dalam ‘Al-Mizan’ contohnya.
Wallahu a’lam selesai dari ‘Silsilah Ahadits Dhoifah, (no. 5053).
Hadits kelima: dari Yahya bin
Abi Katsir berkata,
أمر النبي صلى
الله عليه وسلم أصحابه أن يقرءوا (الم السجدة) ، و (تبارك الذي بيده الملك)
فإنهما تعدل كل آية منهما سبعين آية من غيرهما ، ومن قرأهما بعد العشاء الآخرة
كانتا له مثلهما في ليلة القدر ” (رواه عبد الرزاق في ” المصنف ” 3/382)
“Nabi sallallahu alaihi wa
sallam memerintahkan para shahabatnya membaca (Alif lam mim Sajdah) dan
(Tabarokalladzi bi yadihi al-mulk). Keduanyanya menyamai setiap ayatnya
tujuh puluh ayat lainnya. Siapa yang membacanya setelah isya’ terakhir, maka
keduanya sama seperti di malam lailatul qadar.” (HR. Abdur Rozaq di
‘Mushonnaf, 3/382).
Dari Ma’mar bin Rosyid dari
Yahya bin Abi Katsir secara mursal (tanpa menyebutkan nama shahabat langsung
ke Nabi). Yahya bin Abi Katsir termasuk generasi tabiin yunior wafat tahun
(132 H) tidak mengetahui siapa yang membawa hadits ini. Tidak tersembunyi
lagi, hal ini termasuk sisi yang melemahkan hadits. Silahkan melihat
‘Tahzibul Kamal, 11/269.
Ketiga:
Sementara atsar yang
diriwayatkan dari perkataan para shahabat dan para tabiin yang semakna
dengan hadits ini yaitu sebagai berikut:
Atsar pertama: dari Abdullah
bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata:
مَنْ صَلَّى
أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِتَسْلِيمٍ، عَدَلْنَ
بِمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه ابن أبي شيبة في ” المصنف، 2/127)
“Siapa yang shalat empat
rakaat setelah isya’ tidak diputus diantaranya dengan salam. Maka
(pahalanya) seperti itu di malam lailatul qadar.” HR. Ibnu Abi Syaibah di
‘Mushanaf, (2/127).
Berkata, kami diberitahukan
Waki’ dari Abdul Jabar bin Abbas, dari Qois bin Wahb dari Muroh dari
Abdullah. Sanadnya ini bagus dan tersambung.
Atsar kedua: dari Abdullah
bin Amr radhiallahu anhuma berkata:
مَنْ صَلَّى
أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ كُنَّ كَقَدْرِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
(رواه ابن أبي شيبة في ” المصنف، 2/127)
“Siapa yang shalat empat
rakaat setelah isya’, hal itu seperti pada lailatul qadar.” (HR. Ibnu Abi
Syaibah di Mushonaf, (2/127) berkata, kami diberitahukan Ibnu Idris, dari
Hushoin dari Mujahid dari Abdullah bin Amr)
Kami katakan, sanadnya ini
para perowinya terpercaya. Melainkan yang diperselisihkan adalah
mendengarnya (atsar) Mujahid dari Abdullah bin Amr bin Ash. Bardiji
berkomentar, Mujahid meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abdulah bin Amr.
Dikatakan, belum pernah mendengar dari keduanya.” Silahkan melihat ‘Tahzibut
Tahzib, (10/43).
Atsar ketiga: dari Aisyah
radhiallahu anha berkata:
” أَرْبَعٌ
بَعْدَ الْعِشَاءِ يَعْدِلْنَ بِمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه ابن
أبي شيبة في ” المصنف، 2/127)
“Empat (rakaat) setelah isya’
setara (pahalanya) di Malam lailatul qadar.”
)HR.
Ibnu Abi Syaibah di Mushonaf, 2/172, berkata, “Kami diberitahu Muhammad bin
Fushoil dari Ala’ bin Musayyin dari Abdurrahman bin Aswad dari ayahnya dari
Aisyah.”
Sanad ini para rowinya
terpercaya. Akan tetapi kami belum mengetahui orang yang menyebutkan
Abdurrahman bin Aswad termasuk gurunya Ala’ bin Musayyab.
Atsar keempat: dari Abdullah
bin Umar radhiallahu anhuma berkata:
” مَنْ صَلَّى
أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ
الْمَسْجِدِ فَإِنَّهُنَّ يَعْدِلْنَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ لَيْلَةِ
الْقَدْرِ ” (رواه محمد بن الحسن الشيباني – كما في الآثار، 1/292)
“Siapa yang shalat empat
rakaat setelah isya’ akhir, sebelum keluar dari masjid. Maka hal itu setara
dengan empat rakaat di malam lailatul qadar.” (HR. Muhammad bin Hasan
Syaiani sebagaimana dalam atsr, (1/292). Dari syekhnya Imam Abu Hanifah.
Kami diberitahukan Harits bin Ziyad atau Muharib bin Ditsar –keraguan dari
Muhammad- dari Ibnu Umar)
Sanad ini lemah, karena
adanya keraguan dan tidak menentu. Harits bin Ziyad kami belum diketahui
biografinya. Akan tetapi Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengomentarinya,
“Dia dari Muharib tidak diragukan lagi. Sementara Harits bin Ziyad saya
melihat dia tidak pernah disebutkan meriwayatkan dari Ibnu Umar.” (Al-Istar
Bima’rifati Ruwatil Atsar, hal. 57)
Atsar kelima: dari Ka’b bin
Mati; yaitu Pendeta Ka’ab berkata:
مَنْ صَلَّى
أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ يُحْسِنُ فِيهِنَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ
عَدَلْنَ مِثْلَهُنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Siapa yang shalat empat
rakaat setelah isya’ diperbaiki ruku’ dan sujudnya, maka sama seperti pada
malam lailatul qadar.
Terdapat banyak atsar dari
pendeta Ka’ab. Kami tidak ingin memperpanjang dengan menyebutkannya. Dimana
telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Nasa’I, Daruqutni, Baihaqi dan
lainnya.
Syekh Albani rahimahullah
mengomentari –pada salah satu sanadnya- “Sanad ini tidak mengapa, akan
tetapi terputus hanya sampai shahabaat Ka’b –yaitu pendeta Ka’b- Jika dia
angkat haditsnya (sampai Nabi), haditsnya tidak bisa dijadikan hujah karena
kondisi seperti ini termasuk mursal (tidak menyebutkan nama shahabat
langsung ke Nabi). Bagaimana lagi kalau hanya sekedar sampai shahabat saja
(mauquf).” Selesai dari ‘Silsilah Ahadits Dhoifah, (Hadits n0. 5053).
Atsar keenam: dari Maisarah
dan Zadan berkata:
كَانَ
يُصَلِّي مِنَ التَّطَوُّعِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ
بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ ، وَأَرْبَعًا بَعْدَ
الْعِشَاءِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Beliau biasanya shalat sunah
empat rakaat sebelum zuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah marib,
empat rakaat setelah isya’ dan dua rakaat sebelum subuh.
Ini yang kami dapatkan tanpa
menyebut nama Shahabat. Yang sering adalah Ali bin Abi Tholib, beliau yang
meriwayatkan dari Maisarah. Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah di Mushonaf,
(2/19) berkata kami diberitahukan Abu Ahwas dari Atho’ bin Saib.
Atsar ketujuh: dari
Abdurrahman bin Aswad berkata,
” مَنْ صَلَّى
أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ عَدَلْنَ بِمِثْلِهِنَّ مِنْ
لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه ابن أبي شيبة في ” المصنف، 2/127)
“Siapa yang shalat empat
rakaat setelah isya’ akhir, (pahalanya) seperti di malam lailatul qadar.”
(HR. Ibnu Abi Syaibah di ‘Mushonaf, 2/127, dia berkata, kami diberitahukan
Fadl bin Dukain, dari Bukair bin Amir dari Abdurrahman)
Atsar kedelapan: dari Imron
bin Kholid Al-Khoza’I berkata, saya pernah duduk di Atho’ kemudian ada
seseorang datang dan bertanya, “Wahai Abu Muhamad, sesungguhnya Towus
menyangka bahwa siapa yang shalat isya’ kemudian setelahnya shalat dua
rakaat, di rakaat pertama membaca ‘surat Sajdah’ dan rakaat kedua ‘surat
Al-Mulk’ dia ditulis seperti berdiam malam lailatul qadar. Maka ‘Athi
menjawab, “Towus memang benar, saya tidak pernah meninggalkannya.
Diriwayatkan Abu Nu’aim di ‘Hilyatul Auliya, (4/6) berkata, kami diberitahu
Umar bin Ahmad bin Umar Al-Qodi, kami diberitahu Abdullah bin Zidan kami
diberitahu Ahmad bin Hazim kami diberitahu ‘Aun bin Salam kami diberitahu
Jabir bin Mansur saudara Ishaq bin Mansur As-Salui dari Imron bin Kholid
Atsar kesembilan: dari Qosim
bin Abi Ayub berkata:
” كَانَ
سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ يُصَلِّي بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ أَرْبَعَ
رَكَعَاتٍ، فَأُكَلِّمُهُ وَأَنَا مَعَهُ فِي الْبَيْتِ فَمَا يُرَاجِعُنِي
الْكَلَامَ ” (رواه المروزي في ” تعظيم قدر الصلاة 1/167)
“Biasanya Said bin Jubair
shalat setelah isya’ terakhir empat rakaat, kemudian saya berbicara
dengannya sementara saya bersamanya di dalam rumah, kemudian beliau tidak
memperhatikan perkataanku.” (HR. Marwazi di ‘Ta’dhim Qodris Shalat)
Atsar kesepuluh: dari Mujahid
berkata, “Empat rakaat setelah isya’ terakhir posisinya seperti di malam
lailatul qadar.” HR. Ibnu Abi Syaibah di Mushonaf, (2/127) berkata, kami
diberitahu Ya’la dari A’masy dari Mujahid.
Keempat:
Kesimpulannya bahwa Terdapat
ketetapan dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bahwa dahulu beliau shalat
empat rakaat setelah isya’. Sementara hadits yang sampai kepada Nabi terkait
dengan keutamaanya semuanya sangat lemah. Yang paling bagus dan paling kuat
adalah hadits Ibnu Umar (sedikit) lemahnya.
Sementara atsar yang ada dari
para shahabat dan tabiin merupakan dalil, ini termasuk perbuatan ulama salaf
dengan sunah ini. Serta menyebarnya dikalangan mereka. Ia termasuk qiyamul
lail yang ada keutamaannya dalam Kitab dan Sunah dengan puluhan dalil.
Sementara ungkapan ia menyamai shalat pada malam lailatul qadar ini termasuk
permasalah yang masih didiamkan. Terutama Terdapat dalam perkataan pendeta
Ka’ab. dahulu biasanya Ka’ab terlalu luas dalam memberitahukan terkait
dengan syariat ini. Kalau dikiyaskan dengan kitabnya Ahli Kitab.
Dikhawatirkan keutamaan ini sumbernya dari Ka’b Al-Ahbar. Dikalangan para
shahabat yang mengambil darinya, sesungguhnya melakukan hal itu karena
terkait dengan keutamaan suatu amalan yang diharapkan pahalanya dan tidak
merusak amalannya.
Syekh Albany rahimahullah
berpendapat, dengan memberikan posisi atsar ini ‘Hukum rafa’ (sampai kepada
Nabi)’ dimana diperbolehkan berhujah dengannya serta mengamalkannya. Seraya
beliau mengatakan, “Hadits telah shahih sampai kepada para shahabat (mauquf)
dari sekelompok para shahabat. Kemudian Ibnu Abi Syaibah meriyawatkan
semisalnya dari Aisyah, Ibnu Mas’ud, Ka’b bin Mati’, Mujahid, Abdurrahman
bin Aswad sampai kepada mereka semua. Semua sanadnya shahih –kecuali Ka’b-
ia meskipun hanya sampai para shahabat, tapi ia mendapatkan hukum rafa’ (sampai
kepada Nabi) karena perkara ini tidak tidak dapat disampaikan semata dengan
menggunakan logika sebagaimana yang Nampak.” (Silsilah Ahadits Dhoifah, no.
5060).
Wallahu a’lam.
