Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan, maka mana keindahan tersebut pada wanita yang warna kulitnya gelap, wajahnya dipenuhi jerawat, gigi yang tidak rata dan teratur …..!?
Inilah gambaran wajah saya, maka mana keindahan tersebut?, apakah Allah membenci saya dengan menciptakan saya seperi ini?. Saya telah banyak mendengar beberapa ejekan yang menjadikan saya terus-menerus merasa tertekan. Terkadang mereka juga mengatakan bahwa saya akan mengalami kesulitan mendapatkan suami yang menerima saya. Saya juga tidak mencela mereka akan hal ini, namun Islamlah yang memerintahkan seseorang untuk menikah dengan yang cantik, apa dosa wanita seperti saya, saya juga tidak memilih rupa dan bentuk seperti ini !?. Apakah masuk akal bahwa buruknya rupa menjadi alasan dari setiap penolakan yang saya alami, baik dalam strata sosial, pekerjaan bahkan dalam pernikahan, mana bentuk keadilan Tuhan !?, Kenapa tidak menciptakan manusia semuanya sama?
Alhamdulillah
Ketahuilah wahai penanya,
bahwa semua ciptaan Allah itu baik, akan tetapi terkadang Allah menguji
hamba-Nya dengan sakit, bencana, buruk rupa atau yang lainnya, karena hikmah
dan maslahat yang Dia ketahui dan kehendaki.
Rupawan atau sebaliknya sama
seperti sehat dan sakit, kaya dan miskin, sukses dan gagal, semua itu adalah
rizki dari Allah kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan hikmah, rahmat dan
karunia-Nya. Semua bentuk pemberian Allah tersebut bukan berarti menjadi
bukti cinta Allah kepadanya, begitu juga sebaliknya, yaitu; tidak berarti
yang tidak diberi menunjukkan bahwa Allah benci dan murka kepadanya. Allah
–subhanahu wa ta’ala- berfirman:
( فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ
فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي * وَأَمَّا إِذَا مَا
ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي * كَلا بَل
لا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ * وَلا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ *
وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلا لَمًّا * وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
) الفجر/15-20 .
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu
dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah
memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka
dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak
memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara
mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai harta
benda dengan kecintaan yang berlebihan”. (QS. Al Fajr: 15-20)
Syeikh Sa’di –rahimahullah- berkata:
“Allah –subhanahu wa ta’ala- memberitakan tentang tabiat
manusia, bahwa manusia itu bodoh dan dzalim, tidak mengetahui apa yang akan
terjadi pada masa mendatang, ia mengira bahwa apa yang terjadi dan
dialaminya terus-menerus ia rasakan dan tidak berakhir, dan ia mengira bahwa
pemuliaan dan nikmat Allah di dunia menunjukkan kemuliaan dan kedekatan di
sisi-Nya, dan jika Allah :
{
فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي }
“…Membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku
menghinakanku”. (QS. Al Fajr: 16)
Hanya cukup untuk makan sehari-hari dan tidak lebih, ia
menganggap bahwa Allah menghinakannya, maka Allah menolak semua prasangka
tersebut dengan firman-Nya:
كلا
“Sekali-kali tidak
demikian…”.
Yaitu; tidak semua yang Aku
berikan nikmat di dunia berarti ia mulia di sisi-Ku, dan tidak semua yang
Aku batasi rizekinya berarti Aku menghinakannya.
Sesungguhnya kaya dan miskin,
lapang dan sempit adalah ujian dari Allah; agar diketahui siapa yang
bersyukur dan siapa yang bersabar, dan karenanya ia akan dibalas dengan
pahala yang besar. Dan bagi yang tidak bersyukur atau bersabar maka ia akan
diadzab dengan adzab yang hina. Termasuk, ketika seorang hamba lebih
mementingkan kebutuhannya sendiri saja, maka itu adalah cita-cita yang
lemah. Oleh karenanya, Allah mencela orang-orang yang tidak mementingkan
keadaan masyarakat sekitar yang membutuhkan”. (Tasfir as Sa’di: 934)
Jikalau semua orang
berfikiran seperti yang anda fikirkan dan anda ucapkan, tidak menerima
takdir dan ketentuan Allah –semoga Allah mengampuni anda-, maka tidak akan
ada seorang pun yang hidup di muka bumi ini kecuali ia akan terus mengeluh
dan kesal.
Orang yang sakit akan
mengatakan: Kenapa Engkau menjadikanku sakit, sementara orang lain
sehat?….
Orang fakir akan mengatakan:
Kenapa Engkau menjadikanku fakir, sementara orang lain kaya?…..
Orang yang sedang ditimpa
bencana akan mengatakan: Kenapa Engkau menimpakan bala’ kepadaku, sementara
orang lain selamat?…
Orang yang beriman ia akan
ridha, sabar dan introspeksi diri, sementara yang lain akan menolak
ketentuan Allah, merasa sempit dan mengeluh kepada Allah.
Tidakkah anda berfikir bahwa
sekarang Allah telah menjadikan anda sehat, sementara banyak orang selain
anda yang sedang diuji dengan menderita berbagai macam penyakit…!?
Tidakkah anda berfikir bahwa
anda bisa berjalan dengan dua kaki lengkap, pulang pergi sesuka anda,
sementara banyak orang lain diluar sana yang tidak terhitung jumlahnya
kakinya lumpuh dan cacat…!?
Anggap saja misalnya anda
mengalami cacat fisik, tidakkah anda berfikir bahwa karunia Allah kepada
anda berupa Islam adalah karunia yang tidak ternilai harganya bila dibanding
dengan semua nikmat dunia, padahal di sana juga banyak orang yang tidak
beriman kepada Allah dan hari kiamat.
(
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : يَا آدَمُ ! فَيَقُولُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ
وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ . فَيَقُولُ : أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ ! قَالَ :
وَمَا بَعْثُ النَّارِ ؟ قَالَ : مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً
وَتِسْعِينَ ).
رواه البخاري (3099) ومسلم (327) .
“Allah –Ta’ala- berfirman: “Wahai Adam”. Dia menjawab: “Aku
datang memenuhi panggilan-Mu, semua kebaikan berada di kedua tangan-Mu”. Dia
berkata: “Keluarkanlah mereka yang berhak berada di neraka !, ia menjawab:
“Berapa jumlahnya?”. Dia menjawab: “Setiap 1000 dikeluarkan 999”. (HR.
Bukhori 3099, dan Muslim 327).
Renungkan kisah berikut ini wahai hamba Allah:
Al Auza’i meriwayatkan, dari Abdullah bin Muhammad berkata:
“Saya pernah singgah di pesisir pantai bersama penjaga perbatasan di daerah
sekitar Mesir. Ketika saya menyelesaikan urusan saya, maka saya melewati
tanah lapang yang luas, dan menemui sebuah kemah yang di sana ada seorang
laki-laki tua yang tidak memiliki kedua tangan dan kakinya, lemah
penglihatan dan pendengarannya. Tidak ada yang bermanfaat darinya kecuali
lisannya dengan mengatakan:
اللَّهُمَّ أَوْزِعْنِي أَن أحمدك حمدا أكافىء بِهِ شُكْرَ نِعْمَتِكَ الَّتِي
أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ وَفَضَّلْتَنِي على كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْتَ
تَفْضِيلا !!
“Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap memuji-Mu dengan
pujian yang menjadi tanda syukur kami pada semua nikmat-Mu yang telah Engkau
berikan kepadaku dan telah Engkau lebihkan aku dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”.
Al Auza’i berkata: Abdullah berkata: “Demi Allah, aku akan
mendatangi orang tersebut, dan bertanya dari mana ia dapat doa tersebut,
dari pemahaman, ilmu atau ilham yang telah diilhamkan?
Maka saya mendatangi orang tersebut dan memberi salam
kepadanya, dan mengatakan: saya mendengar engkau mengatakan:
اللَّهُمَّ أَوْزِعْنِي أَنْ أحمدك حمدا أكافىء بِهِ شُكْرَ نِعْمَتِكَ الَّتِي
أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ ، وَفَضَّلْتَنِي على كَثِيرٍ من خَلَقْتَ تَفْضِيلا
“Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap memuji-Mu dengan
pujian yang menjadi tanda syukur kami pada semua nikmat-Mu yang telah Engkau
berikan kepadaku dan telah Engkau lebihkan aku dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”.
Nikmat yang manakah yang
engkau rasakan sampai engkau memuji-Nya?, keutamaan atau kelebihan apakah
yang engkau rasakan selama ini hingga engkau mensyukuri-Nya?
Ia menjawab: “Engkau tentu
melihat apa yang Allah berikan kepadaku !?, namun demi Allah, jika
seandainya Allah mengirim api dari langit untuk membakarku, dan menyuruh
gunung untuk menghancurkanku, atau laut untuk menenggelamkanku, atau bumi
untuk menelanku. Hal itu tidak akan mengurangi rasa syukurku kepada-Nya;
karena Dia telah memberikan nikmat lisanku ini !?.
Akan tetapi wahai hamba
Allah, ketika engkau mendatangiku aku membutuhkan bantuanmu, engkau
melihatku dalam keadaan apa adanya dan tidak berdaya. Saya tidak mampu
beraktifitas dan mengurus diriku sendiri, dahulu ada anakku yang membantu
untuk shalat dan mengambilkan air wudhu, ketika saya lapar ia menyuapiku,
kalau saya haus, ia memberiku minum. Saya telah kehilangan dia sejak tiga
hari yang lalu, maka tolong carikan ia untukku –semoga Allah merahmatimu-.
Saya berkata: “Demi Allah,
tidaklah seseorang yang berusaha membantu kebutuhan orang lain lebih besar
pahalanya, kecuali ia membantu seseorang yang kondisinya seperti anda, Maka
saya mulai mencari anaknya. Tidak lama kemudian, saya menemukannya di balik
gundukan pasir, namun ia telah meninggal dunia; karena diterkam binatang
buas dan tubuhnya tercabik-cabik, lalu aku beristir’ja’ (mengucapkan
innalillah) dan berkata: “Saya tidak sampai hati untuk membawanya kepada
orang tadi”.
Ketika saya menemui orang
tersebut, terlintas dalam hati tentang Nabi Ayyub –‘alaihis salam-.
Ketika saya sampai
dihadapannya saya megucapkan salam. Dia menjawab salam dan berkata: bukankah
kamu sahabatku?,
saya menjawab :
“Ya”.
Ia berkata
: Apakah engkau sudah menemukan anakku?
Saya : “Mana yang lebih
mulia, anda atau Nabi Ayub –alaihis salam-?.
Orang : “Tentu Nabi Ayyub”.
Saya : “Apakah anda
mengetahui apa yang Allah perbuat kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah
mengujinya dengan harta, keluarga dan anaknya?”
Orang : “Ya”
Saya : “Bagaimana sikap
beliau?”
Orang : “Dia menghadapinya
dengan sabar, bersyukur, dan tetap memuji Allah”.
Saya : “Tidak hanya itu,
bahkan ia menyendiri dari keluarga dan orang-orang yang dicintainya”.
Orang : “Ya”
Saya : ““Bagaimana sikap
beliau?”
Orang : “Dia menghadapinya
dengan sabar, bersyukur, dan tetap memuji Allah”.
Saya : “Bahkan tidak
cukup dengan itu, sampai orang yang lewat merasa terganggu dengannya”,
apakah anda mengetahuinya?
Orang : “Ya”
Saya : ““Bagaimana sikap
beliau?”
Orang : “Dia menghadapinya
dengan sabar, bersyukur, dan tetap memuji Allah”.
Orang : “Singkat kata !?
–semoga Allah merahmatimu-.
Saya : “Sesungguhnya
seorang anak yang engkau menyuruhku untuk mencarinya, saya menadapati di
antara gundukan pasir dengan kondisi tercabik; karena diterkam binatang
buas, maka Allah memberimu pahala yang agung, dan memberimu kesabaran”.
Orang : “Alhamdulillah,
segala puji hanya milik-Nya yang tidak menciptakan keturunanku bermaksiat
kepadanya; hingga mengadzabnya dengan neraka”.
Saya : Lalu ia mengambil
nafas dan meninggal dunia. Sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali
kepada Allah, sungguh besar musibahku saat ini, orang seperti ini jika aku
tinggalkan di sini, ia akan dimakan binatang buas. Jika saya temani saya
tidak mampu mengurusnya. Akhirnya aku tutupi dengan selimutnya, dan aku
duduk didekat kepalanya dengan menangis. Pada saat saya duduk di sisinya,
ada empat orang mendatangiku. Dan berkata: “Ada apa dengan anda?, bisa anda
ceritakan?”. Maka aku ceritakan kepada mereka tentang saya dan jenazah di
depan saya. Mereka berkata: “Bukalah penutup wajahnya, mungkin kami
mengenalinya !?. ketika saya buka wajahnya, seraya mereka berempat menciumi
kedua mata dan tangan si mayit, dan berkata: Demi Allah, matanya tidak
pernah melihat apa yang diharamkan Allah, dan badannya selalu digunakan
untuk sujud kepada Allah pada saat manusia tidur”.
Saya : “Siapa orang ini
–semoga Allah merhmati kalian-.
Empat orang : “Dia adalah
Abu Qilabah al Jirmy sahabat Ibnu Abbas, dia adalah orang yang sangat
mencintai Allah dan Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Maka kami semua memandikan
dan mengkafani dengan beberapa baju seadanya, menshalati dan menguburkannya.
Maka empat orang tadi berlalu, saya pun kembali kepada rombonganku. Ketika
malam tiba dan saya mau tidur, saya melihat dalam mimpi bahwa orang yang
meninggal dunia tadi berada taman dari taman-taman surga dengan mengenakan
baju dari surga dengan membaca sebuah ayat al Qur’an:
( سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى
الدَّارِ )
“ (sambil mengucapkan):
“Salamun `alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan
itu”. (QS. Ar Ra’du: 24)
Saya bertanya : “Bukankah
engkau sahabat saya?”.
Ia menjawab : “Ya”
Saya : “Bagaimana
engkau bisa mendapatkan ini semua?”.
Ia menjawab : “Sesungguhnya
Allah memiliki derajat tertentu yang tidak bisa diraihnya kecuali dengan
sabar ketika ditimpa musibah, dan bersyukur pada waktu senang disertai rasa
takut kepada Allah baik dzahir maupun batin”.
(ats Tsiqat, Ibnu Hibban:
5/3-5)
Wahai penanya, tidakkah
engkau merenungkan kisah Abu Qilabah di atas, tidakkah engkau melihat pujian
dan ridhanya kepada ketentuan Allah !?, Tidakkah anda melihat bahwa nikmat
Allah yang berupa hidayah al Islam ini adalah jauh lebih berharga
dibandingkan dengan hanya kehilangan anggota tubuh dan anaknya !?, Tidakkah
anda melihat bahwa pujian dan rasa syukur kepada Allah Yang Maha Pemberi
nikmat itu ada banyak tempat dan derajatnya, dan anda tidak akan mampu
menunaikannya semuanya !?.
Maka janganlah anda halangi
diri anda –wahai hamba Allah- dari beberapa derajat yang tinggi tersebut,
dengan tidak menerima takdir Allah, atau berburuk sangka kepada-Nya, atau
dengan lidah yang enggan untuk berdzikir, bersyukur dan memuji-Nya, hingga
anda mencela Allah dan berburuk sangka kepada-Nya.
Dan jika anda menganggap diri
anda tidak cantik, maka apa yang akan diperbuat seorang wanita dengan
kecantikannya kalau ia tidak beriman, dan keimanan itu diberikan kepada anda
?, Dimana ia berada sekarang kalau misalnya ia sudah meninggal dunia ?, dan
kemana ia akan kembali kalau nanti ia meninggal dunia dalam keadaan kafir?,
Apakah kecantikannya akan bermanfaat pada hari harta dan anak-anak laki-laki
tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang
bersih ?. apakah anda benar-benar rela kalau misalnya bertukar tempat (anda
cantik tapi kafir atau tetap pada kondisi anda saat ini tapi anda
muslimah)?.
Banyak sekali
pertanyaan-pertanyaan yang harus anda jawab sendiri dengan memperhatikan
realita kehidupan nyata yang anda tidak terima dengan takdir anda.
Allah –subhanahu wa ta’ala-
berfirman:
( وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ
أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ
وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى) طه/ 131.
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang
telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga
kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu
adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Thaha: 131)
Syeikh as Sa’di –rahimahullah- berkata:
“Yaitu; Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu dengan penuh
rasa takjub, dan janganlah kamu memandang baik semua hiasan dunia dan
orang-orang yang menikmatinya, dari mulai makanan, minuman yang lezat,
pakaian yang mewah, rumah yang penuh dengan dekorasi cantik, wanita-wanita
cantik; karena semua itu adalah hiasan kehidupan dunia yang menjadikan jiwa
yang tertipu akan merasa senang, dan takjub kepada orang-orang yang
berperilaku menyimpang, dan akan menikmatinya mereka orang-orang yang dzalim
tanpa melihat sedikitpun kepada negeri akhirat. Kemudian nikmat dunia
tersebut akan cepat berlalu, dan akan membunuh orang-orang yang
mencintainya, hingga mereka menyesal yang sudah tiada bermanfaat lagi semua
bentuk penyesalan, dan mereka juga akan mengetahui apa yang akan mereka
terima pada hari kiamat. Allah menjadikan hiasan dunia itu fitnah dan ujian
agar diketahui mana yang tertipu dan silau dengan dunia dan siapa yang
paling baik amalnya. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman:
(
إنا جعلنا ما على الأرض زينة لها لنبلوهم أيهم أحسن عملا * وإنا لجاعلون ما
عليها صعيدا جرزا ) .
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi
sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara
mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan
menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus”. (QS.
Al Kahfi: 7-8)
Rizeki Tuhanmu yang disegerakan berupa ilmu, iman dan hakekat
amal shaleh, dan rizeki-Nya yang ditangguhkan berupa kenikmatan yang kekal,
dan kehidupan yang baik di sisi Rabb Yang Maha penyayang, itu lebih baik
dari yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sesuai
dengan Dzat dan Sifat-sifat-Nya. Dan lebih kekal karena tidak terputus.
Sebagaimana firman Allah –Ta’ala-:
(
بل تؤثرون الحياة الدنيا والآخرة خير وأبقى )
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.
Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Al A’la:
16-17)
Ayat ini menunjukkan bahwa jika seseorang memiliki obsesi
yang bersifat duniawi dan sangat bersemangat untuk meraihnya, maka agar
mengingat kembali rizeki Allah yang telah ia terima dan hendaklah
menimbang-menimbang antara rizeki duniawi dan ukhrowi. (Tafsir as Sa’dy/hal.
516)
Sesungguhnya kebahagiaan anda adalah jika anda berbaik sangka
kepada Allah, dan Allah –subhanahu wa ta’ala- sesuai dengan prasangka baik
hamba-Nya kepada-Nya. Dia adalah Dzat yang Maha Indah, dan Yang Patut kita
bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.
Kebahagiaanmu juga berada pada keridhaanmu pada pilihan
Allah, dan ketahuilah bahwa pilihan Allah buat anda itu pasti lebih baik
dari pada pilihan anda sendiri, dan hendaklah anda selalu memohon keutamaan
Allah, karena Allah Maha Mensyukuri Kebaikan, Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana dan Maha Penyayang.
Besegeralah anda bertaubat kepada Allah dari semua bisikan
syetan yang bersemayam di hati anda, dan mengalir dalam tulisan dan lisan
anda agar menentang ketentuan Allah, tidak puas dengan pembagian Allah,
berburuk sangka kepada-Nya –subhanahu wa ta’ala-. Ketahuilah bahwa
nikmat-nikmat Allah kepada anda atau yang lainnya lebih banyak dari yang
anda ketahui dan anda hitung selama ini.
Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman:
(
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ
لَظَلُومٌ كَفَّارٌ ) إبراهيم /34 .
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala
apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah,
tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim
dan sangat mengingkari (ni`mat Allah)”. (QS. Ibrahim: 34)
Dia juga berfirman:
(
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ
رَحِيمٌ ) النحل/18 .
“Dan jika kamu menghitung-hitung ni`mat Allah, niscaya kamu
tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nahl: 18)
Silahkan anda juga merujuk pada jawaban soal nomor:
34170 dan 100942.
Wallahu a’lam.
