Apakah diperbolehkan wanita lain mencabut bulu ketiakku dengan alat cabut (bulu)?
Alhamdulillah
Pertama,
Allah Ta’ala telah
mensyareatkan kepada Nabi-Nya sallallahu’alaihi wa sallam dan umatnya sunah
fitroh. Yaitu yang ada dalam hadits Aisyah radhiallahu’anha berkata,
Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
” عشر
من الفطرة : قص الشارب وإعفاء اللحية والسواك واستنشاق الماء وقص الأظفار وغسل
البراجم ونتف الإبط وحلق العانة وانتقاص الماء .
قال
زكريا : قال مصعب : ونسيت العاشرة إلا أن تكون المضمضة ” .
رواه
مسلم ( 261 ) .
“Sepuluh diantara fitrah,
memendekkan kumis, memanjangkan jenggot, (memakai) siwak, istinsyaq
(memasukkan air ke hidung), memotong kuku, membersihkan telapak tangan,
mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan membersihkan kotoran dengan
air (istinja’). Zakariyah mengatakan, Mus’ab mengatakan, “Saya lupa yang
kesepuluh, kemungkinan adalah madmadhoh (berkumur).” HR. Muslim, (261).
Maksud ‘Intiqosul ma’ adalah
istinja’.
Dan Nabi sallallahu’alaihi wa
sallam telah menentukan waktu sebagian dari sunah fitrah ini, agar tidak
membiarkan lebih dari empat puluh hari. Sebagaimana yang ada dalam hadits
Anas radhiallahu’anhu berkata,
” وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ
وَنَتْفِ الإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ
أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ” أخرجه الإمام مسلم في الصحيح ( 258 )
“(Nabi) telah menentukan
waktu bagi kami dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu
ketiak, dan mencukur bulu kemaluan agar tidak membiarkan lebih dari empat
puluh malam.” HR. Imam Muslim di Shoheh (258).
Kedua,
Lelaki tidak diperbolehkan
melihat aurat lelaki lainnya, dan wanita tidak diperbolehkan melihat aurat
wanita lainnya.
عن
أبي سعيد الخدري قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لا ينظر الرجل إلى
عورة الرجل ولا تنظر المرأة إلى عورة المرأة ، ولا يفضي الرجل إلى الرجل في
الثوب الواحد ولا تفضي المرأة إلى المرأة في الثوب الواحد ” .
رواه مسلم ( 338 ) .
“Dari Abu Said Al-Khudri
berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Seorang lelaki
tidak boleh melihat aurat lelaki lainnya, dan seorang wanita tidak boleh
melihat aurat wanita lainnya. Jangan seorang lelaki dengan lelaki lainnya
(telanjang) dalam satu pakaian. Dan jangan wanita dengan wanita lain
(telanjang) dalam satu pakaian. HR. Muslim, (338).
Nawawi rahimahullah
mengatakan, “Didalamnya ada pengharaman lelaki melihat aurat lelaki lain,
dan wanita melihat aurat wanita lain. Dan ini tidak ada perbedaan. Begitu
juga lelaki melihat aurat wanita. Dan wanita melihat aurat lelaki
(diharamkan) secara ijma’ (Konsensus para ulama’). Sementara Nabi
sallallahu’alaihi wa sallam mengingatkan hal itu dengan lelaki melihat aurat
lelaki dan wanita melihat aurat wanita lainnya. Dengan cara lebih utama
(pelarangannya lelaki melihat aurat wanita).
Dikecualikan sepasang suami
istri, masing-masing diperbolehkan melihat pasangannnya. Sementara mahram,
yang benar adalah diperbolehkan melihat sebagian kepada sebagian lainnya.
(dengan batasan) diatas pusar dan di bawah paha. Semua yang kami sebutkan
dari pengharaman tersebut dimana ketika tidak ada keperluan. Dan
diperbolehkan ketika tidak ada syahwat. Silahkan melihat ‘Fathul Barie,
(9/339).
Ketiga,
Wanita diperbolehkan mencabut
bulu ketiak wanita lain. Karena ketiak wanita terhadap wanita lain, tidak
termasuk aurat. Dengan syarat aman dari fitnah. Dimana aman dari fihaknya
dalam (memberitahukan) sifat tubuh orang yang dilihatnya untuk suaminya atau
orang lain dari kalangan wanita lain.
Keempat,
Sementara penggunaan alat
pencukur bukan dicabut, diperbolehkan. Al-Lajnah Ad-Daimah telah ditanya,
“Apakah diperbolehkan lelaki mempergunakan alat pencukur rambut untuk
mencukur seperti bulu ketiak dan bulu kemaluan?, maka dijawab, “Ya,
diperbolehkan hal itu untuk mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan.” Fatawa
Al-Lajnah Ad-Daimah, (5/171).
Wallahua’lam.
