Apa hukum membatalkan puasa saat melakukan puasa qadha yang wajib?

Alhamdulillah

Siapa yang telah memulai puasa
qadha wajib, seperti qadha Ramadan atau kafarat sumpah, maka tidak boleh
baginya membatalkannya tanpa uzur, seperti sakit atau safar. Siapa yang
membatalkannya tanpa uzur, dia wajib qadha untuk hari itu, maka dia harus
puasa sehari sebagai gantinya dan tidak ada kafarat baginya, karena kafarat
tidak wajib kecuali sebab jimak di siang hari bulan Ramadan. Perhatikan soal
no.

49750

Akan tetapi jika membatalkannya
tanpa uzur, wajib baginya bertaubat kepada Allah dari perbuatan yang
diharamkan tersebut.

Ibnu Qudamah berkata (4/412),
“Siapa yang mulai puasa wajib, seperti qadha Ramadan atau nazar atau puasa
kafarat, tidak boleh baginya membatalkannya. Dalam masalah ini tidak ada
perbedaan pendapat, alhamdulillah.”

An-Nawawi rahimahullah berkata
dalam kitab Al-Majmu, 6/383, “Jika seseorang berjimak pada puasa selain
Ramadan, baik dalam puasa qadha atau nazar atau selain keduanya, maka tidak
ada kafaratnya, ini merupakan pendapat jumhur ulama. Qatadah berkata,
kafarat berlaku bagi yang membatalkan puasa qadha Ramadan.”

Lihat Al-Mughni (4/378),

Syekh Ibn Baz ditanya (15/355)
dalam kitab Majmu Al-Fatawa, “Saya dahulu dalam beberapa hari melakukan
puasa qadha, namun setelah shalat Zuhur saya merasakan lapar, maka saya
makan dan minum dengan sengaja, bukan karena lupa dan tidak tahu hukumnya.
Apakah hukum perbuatan saya?

Beliau menjawab,

“Anda wajib menyempurnakan
puasa. Tidak boleh berbuka jika puasanya wajib, seperti puasa qadha Ramadan
dan puasa nazar. Hendaknya anda bertaubat atas apa yang anda lakukan. Siapa
yang bertaubat, Allah terima taubatnya.”Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah
Taala ditanya (20/451), “Saya pernah berpuasa pada tahun-tahun lalu untuk
puasa qadha, namun saya batalkan dengan sengaja, maka setelah itu saya qadha
puasa itu sehari, saya tidak tahu hal itu diqadha satu hari sebagaimana yang
saya lakukan? Ataukah puasa dua bulan berturut-turut? Apakah saya harus
mengeluarkan kafarat? Mohon penjelasannya.

Beliau menjawab:

Jika seseorang telah memulai
puasa wajib seperti puasa qadha Ramadan dan kafarat sumpah, dan kafarat
fidyah memotong rambut dalam ibadah haji jika seorang yang berihram
menggundul kepalanya sebelum tahalul, atau puasa serupa yang wajib. Maka
tidak dibolehkan dalam puasa seperti itu membatalkannya tanpa uzur syar’i.
Demikian pula, siapa yang telah memulai melakukan amal yang wajib, maka dia
harus menyempurnakannya, tidak boleh dia batalkan kecuali ada uzur syar’i
yang membolehkannya untuk membatalkan.

Wanita tersebut yang telah
mulai puasa qadha, lalu dia berbuka pada salah satu harinya tanpa uzur, lalu
dia mengqadha untuk mengganti hari itu, maka setelah itu tidak ada kewajiban
apa-apa lagi baginya. Karena qadha maksudnya mengganti satu hari dengan hari
lain. Akan tetapi hendaknya dia bertaubat dan beristighfar kepada Allah Azza
wa Jalla, karena dia telah membatalkan puasanya yang wajib tanpa uzur.”

.