Saya akan pergi menunaikanumrah 10 hari. Kami akan pergi ke Madinah terlebih dahulu kemudian ke Mekah. Namun saya mempunyai waktu datang bulan ketika kami pergi dari Madinah ke Mekah. Selanjutnya tentu semua orang yang bersama kami akan berihram dari Bir Ali. Apakah sah bagiku berihram seperti mereka. Meskipun adanya haid. Dan akan selesai haid ketika kami di Mekah. Dari tempat mana saya berihram dari Mekah?

Alhamdulillah

Wanita haid ketika melewati
miqot dan dia ingin menunaikan haji atau umrah, maka dia wajib berihram dari
miqot. Dan tidak diperbolehkan mengakhirkan ihram sampai ke Mekah dan
bersuci. Sunah dan ijma’ ulama’ telah menunjukkan bahwa orang haid tidak
menghalangi ihram. Sehingga seorang wanita berihram dalam kondisi haid.
kemudian tidak menunaikan umrah sampai bersih dan mandi. Diriwayatkan
Muslim, (1210) dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma dalam hadits Asma
binti Umais ketika nifas di Dzulhulaifah, bahwa Rasulullah sallallahu
alaihiwa sallam memerintahkan Abu Bakar radhiallahu anhu, kemudian dia
memerintahkan (Asma) mandi dan berihram.

Nawawi rahimahullah
mengatakan, “Nifas maksudnya melahirkan. Di dalam hadits menunjukkan sahnya
ihram orang nifas dan haid. serta anjuran keduanya mandi untuk berihram.”
Selesai

Diriwayatkan Bukhori, (1556)
dan Muslim, (1211) dari Aisyah radhiallahu anha istri Nabi sallallahu alaihi
wa sallam berkata:

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَقَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ وَلَمْ أَطُفْ
بِالْبَيْتِ وَلا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ، فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : انْقُضِي رَأْسَكِ
وَامْتَشِطِي وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ . . . الحديث . ورواه البخاري في باب كيف
تهل (أي : تحرم) الحائض والنفساء

Kami keluar bersama Nabi
sallallahu alaihi wa sallam dalam haji Wada’. Ketika sampai Mekah saya
mendapatkan haid. saya tidak towaf di Baitullah tidak juga antara Shofa dan
Marwah. Maka saya mengadu kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam, maka
beliau bersabda, “Lepaskan (rambut) kepalamu dan sisirlah kemudian
berihramlah dengan haji.” Hadits diriwayatkan Bukhori pada bab Bagaimana
berihramnya orang haid dan nifas.

Nawawi rahimahullah
mengatakan, “Dalam hal ini ada dalil bahwa orang haid, nifas, orang berhadas
dan junub sah semua amalan haji, perkataan dan caranya kecuali towaf dan dua
rakaatnya. Maka sah wukuf di Arafah dan lainnya sebagaimana yang telah kami
sebutkan. Begitu juga mandi yang dianjurkan dalam haji. Dinajurkan bagi
orang haid dan lainnya sebagaimana yang telah kami sebutkan. Didalamnya ada
dalil bahwa towaf tidak sah bagi orang haid. dan ini telah disepakati
(ijma’).” Selesai

Dari Ibu Abbas bahwa Nabi
sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

  الْحَائِضُ وَالنُّفَسَاءُ إِذَا أَتَتَا عَلَى الْوَقْتِ
(أَيْ الْمِيقَات) تَغْتَسِلانِ وَتُحْرِمَانِ وَتَقْضِيَانِ الْمَنَاسِكَ
كُلَّهَا غَيْرَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ” رَوَاهُ أَبُو دَاوُد (1744) وصححه
الألباني في سنن أبي داود

“Orang haid dan nifas ketika
sampai di Miqot, mandi dan berhram. Menunaikan seluruh manasik kecuali towaf
di Baitullah.” HR. Abu Dawud, (1744) dishohehkan oleh Albani di Sunan Abi
Dawud.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah
dalam ‘Fatawa Kubro, (1/447) mengatakan, “Orang haid dan nifas, Nabi
sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepada keduanya untuk ihram dan
talbiyah. Yang di dalamnya ada zikir kepada Allah dan menyaksikan di Arofah
dengan zikir, doa, melempar jumrah disertai dengan zikir kepada Allah dan
lainnya. Hal itu tidak dimakruhkan, bahkan wajib atasnya.”

Syekh Ibnu Baz rahimahullah
dalam ‘Majmu Fatawa, 16/126 mengatakan, “Kalau orang haid dan nifas sampai
di miqot, keduanya wajib berihram kalau menunaikan haji wajib atau umrah.
Sementara kalau sunah dan keduanya telah menunaikan haji Islam dan umrah
Islam, maka dianjurkan baginya berihram dari miqot seperti wanita suci
lainnya dalam haji dan umrah.” Selesai

Syekh Ibnu Utsaimin
rahimahullah mengatakan, “Wanita yang haid sebelum ihram, dia memungkinkan
untuk berihram dalam kondisi haid. karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam
memerintahkan Asma’ binti Umais istri Abu Bakar radhiallahu anhuma ketika
nifas di Dzulhulaifah, diperintahkan untuk mandi dan membalut dengan baju
dan berihrom. Begitu juga orang haid. tetap dalam ihramnya sampai suci,
kemudian towaf di Baitullah dan sai.” Selesai dari ‘Risalah 60 permasalah
tentang hukum haid.”.