Allah –Tabaraka wa Ta’ala- melihat dunia dan berfirman:
“Wahai dunia, mana sungai-sungaimu?, mana pepohonanmu?, mana kemakmuranmu ?, mana para raja-raja dan keturunan mereka ?, mana para durjana itu dan mana keturunan mereka ?, mana orang-orang yang memakan rizki-Ku dan yang menggunakan nikmat-Ku dan menyembah selain-Ku ?, milik siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat) ?, maka tidak seorang pun yang menjawabnya, maka Allah –Azza wa Jalla- menjawab: “Kerajaan adalah milik Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan”.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah:

Kenapa Allah bertanya tentang dunia padahal Dia lebih mengetahui ? dan kenapa Dia bertanya jika tidak ada seorang pun yang menjawabnya ?

Padahal segala sesuatu yang Allah menjadikannya bicara wajib berbicara, kenapa dunia tidak menjawab karena tidak seorang pun yang tersisa ?

Pertanyaan tersebut sangat mengganggu saya sejak lama, saya mohon jawaban yang meyakinkan.

Alhamdulillah

Pertama:

Kami tidak menemukan hadits
dengan redaksi di atas di dalam kitab-kitab sunnah, akan tetapi redaksi
tersebut telah disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam bukunya: “Bustanul
Wa’idziin: 22” dan tidak sebutkan sanadnya, dalam konteks beberapa
nasehat-nasehatnya. Buku seperti itu tidak bisa dijadikan sebagai sumber
riwayat dan kalimat-kalimatnya tidak bisa menjadi dasar hukum.

Namun telah diriwayatkan yang
mirip dengan makna di atas, yaitu; (bahwa hancurnya semua makhluk, semua
mereka akan mati, termasuk malaikat –‘alaihimus salam-) dengan panjang lebar
dalam hadits yang dikenal oleh para ulama sebagai hadits gambaran (peristiwa).

Hadits tersebut telah
diriwayatkan oleh Ishak bin Rahawaih dalam Musnadnya, nomor: 10 (1/84) dan
Abu Syeikh dalam Al ‘Adzamah nomor: 386, 387, 388 dan lain sebagainya.

Hadits tersebut Mudhtharib (rancu),
lemah dari hampir semua jalurnya. Telah disebutkan sebelumnya, termasuk
takhrijnya (penelitian sisi perowinya), telah dijelaskan juga para imam
hadits yang mendha’ifkannya pada jawaban soal nomor:
105309
.

Baca juga link berikut ini
untuk pendalaman:


http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=33245


http://www.al-afak.com/showthread.php?t=3082

Kedua:

Redaksi hadits yang
dipermasalahkan oleh penanya di atas adalah “pertanyaan Allah kepada semua
makhluk setelah mereka dibinasakan”. Telah diriwayatkan dalam Al Qur’an dan
Sunnah yang menyatakan hal itu secara global, tanpa melihat redaksi yang ada
di dalam pertanyaan di atas secara khusus.

Allah –Ta’ala- berfirman di
dalam Al Qur’an yang mulia:

(رَفِيعُ
الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ
مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ * يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا
يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ
الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ * الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا
ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ) غافر/15-17 .
“ (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai `Arsy, Yang mengutus
Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari
pertemuan (hari kiamat), (yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur);
tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah
berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah
Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi
balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari
ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. (QS. Ghofir: 15-17)

Imam Bukhori telah
meriwayatkan di dalam Shahihnya: 4812 dan Muslim: 2787 bahwa Abu Hurairah
berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
bersabda:

( يَقْبِضُ اللَّهُ
الأَرْضَ، وَيَطْوِي السَّمَوَاتِ بِيَمِينِهِ ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا
المَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ ؟) .

“Allah menggenggam bumi dan
menggulung semua langit dengan (Tangan) kanan-Nya, kemudian berfirman: “Aku
adalah Raja, kemana semua raja-raja di bumi ?”.

Ibnul Jauzi –rahimahullah-
berkata:

Firman Allah –Ta’ala-:

( لِمَنِ
الْمُلْكُ الْيَوْمَ )

“Kepunyaan siapakah kerajaan
pada hari ini ?” (QS. Ghafir: 16)

Semua ulama sepakat bahwa
ucapan tersebut difirmankan oleh Allah -‘Azza wa Jalla- setelah hancurnya
semua makhluk.

Dan mereka berbeda pendapat
tentang kapan Allah –‘Azza wa Jalla- mengucapkannya menjadi dua pendapat:

1.     
Bahwa Dia
berfirman pada saat hancurnya semua makhluk, jadi tidak ada seorang pun yang
menjawabnya, maka Dia menjawabnya sendiri dengan berfirman: “Kepunyaan Allah
Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. Ini merupakan pendapat kebanyakan dari
para ulama.

2.     
Bahwa Dia
mengucapkannya pada saat terjadinya hari kiamat.

Dan siapa yang menjawabnya
pada saat itu ada dua pendapat:

1.     
Dia menjawabnya
sendiri, karena semua makhluk terdiam disebabkan firman Allah tersebut. Ini
pendapat Atha’

2.     
Bahwa semua
makhluk menjawabnya, dengan mengatakan: “Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi
Maha Mengalahkan”. Ini merupakan pendapat Ibnu Juraij.

(Zaadul Masiir: 7/212)

Baca juga: (Tafsir Al Baghawi:
7/143-144, As Siraajul Muniir / Al Khotiib Asy Syarbaini: 3/475, Mahasinul
Takwiil / Al Qaasimi: 8/305)

Ketiga:

Pada pertanyaan tersebut
tidak ada masalah, baik berasal dari Allah Tuhan Semesta Alam dan Dia Maha
Mengetahui Yang Ghaib, atau yang berasal dari selain-Nya, sebagaimana yang
telah dikatakan, penjelasan hal itu dari beberapa sisi:

Pertama:

Telah dikatakan bahwa hal itu
pertanyaan dan jawabannya, dan terjadi setelah dibangkitkannya semua makhluk
dan dikumpulkannya mereka di hadapan Allah Tuhan Semesta Alam, dan bahwa
semua makhluk menjawabnya, sebagaimana yang telah disebutkan periwayatannya
oleh Ibnu Juraij, dan dalam kondisi demikian tidak ada masalah.

Pendapat ini telah
diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- bahwa dia berkata:

“يَجْمَعُ اللَّهُ
الْخَلَائِقَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي صَعِيدٍ بِأَرْضٍ بَيْضَاءَ، كَأَنَّهَا
سَبِيكَةُ فِضَّةٍ لَمْ يُعْصَ اللَّهُ فِيهَا قَطُّ ، فَأَوَّلُ مَا
يَتَكَلَّمُ بِهِ أَنْ يُنَادِيَ مُنَادٍ: لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ؟
فيجيبوا كُلُّهُمْ:لِلَّهِ
الْواحِدِ الْقَهَّارِ ” .

“Allah mengumpulkan semua
makhluk pada hari kiamat di tanah lapang yang berwarna putih, seperti halnya
lempengan perak yang Allah tidak pernah didurhakai ditempat tersebut
sebelumnya, maka pertama kali yang diucapkan adalah ada penyeru yang berkata:
“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini ?, maka mereka semua menjawab:
“Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”.

Dinukil oleh Ibnu Hayyan
dalam Al Bahrul Muhith: 9/245 dan serupa dengannya dari Ibnu Athiyah dalam
Al Muharrarul Wajiz: 4/551, As Suyuthi menyandarkankannya dalam Ad Durrul
Mantsur: 7/280 kepada ‘Abd bin Hamid dalam Tafsirnya. Bahwa yang demikian
itu memang tentang soal jawab dan semua makhluk telah menjawab pertanyaan
Allah Tuhan mereka.

Kedua:

Bahwa jika dianggap bahwa
jawaban tersebut tidak berasal dari makhluk-Nya, artinya yang bertanya dan
yang menjawab adalah Tuhan semesta alam, sebagaimana yang dinukil dari Ibnu
Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- bahwa dia berkata:

“Jika semua yang di langit
dan di bumi hancur dan tidak ada yang tersisa kecuali Allah, maka Dia
berfirman: “Milik siapakah kerajaan pada hari ini ?, maka tidak seorang pun
yang menjawabnya, maka Dia menjawabnya sendiri: “Kepunyaan Allah Yang Maha
Esa dan Maha Mengalahkan”.

Silahkan melihat di Al Bahrul
Muhith di tempat tadi.

Maka dalam hal ini tidak ada
masalah, karena tujuan pertanyaan tersebut secara balaghah lebih luas dari
hanya sekedar menanyakan sesuatu yang belum diketahui sebelumnya,
sebagaimana di dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- bersabda:

(
يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ،
وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاَةِ الفَجْرِ وَصَلاَةِ العَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ
الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ ، فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ : كَيْفَ
تَرَكْتُمْ عِبَادِي ؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ ،
وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ) .

“Saling bergantian di antara
kalian malaikat malam dan malaikat siang, mereka semua bertemu pada shalat
Subuh dan shalat Ashar kemudian malaikat yang bermalam dengan kalian naik (menghadap
Allah), maka Allah bertanya kepada mereka, Sedangkan Allah Maha Mengetahui
akan keadaan mereka: “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku ?, maka
mereka menjawab: “Kami meninggalkan mereka pada saat mereka mendirikan
shalat dan kami pun mendatangi mereka pada saat mereka mendirikan shalat
juga”.

Tujuan pertanyaan tersebut
bukan untuk memberitahu keadaan pada hamba-Nya, sebagaimana yang telah
ditetapkan dan diketahui, dan sebagaimana dalam hadits tersebut:

وهو أعلم بهم
(Dan Dia Maha Mengetahui keadaan mereka), akan tetapi hikmah dibalik hal
tersebut adalah menjelaskan kemulian pada hamba-Nya, penghormatan akan
keagungan keadaan mereka dan memuji keutamaan mereka di hadapan malaikat.

Dan di antara tujuan
pertanyaan tersebut adalah bisa jadi justru sebaliknya, yang bertanya sangat
mengetahui dengan yakin bahwa yang ditanya tidak bisa menjawabnya.
Sebagaimana di dalam Shahih Muslim (2873) dari hadits Umar –radhiyallahu ‘anhu-:

” إِنَّ
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يُرِينَا مَصَارِعَ
أَهْلِ بَدْرٍ، بِالْأَمْسِ، يَقُولُ: ( هَذَا مَصْرَعُ فُلَانٍ غَدًا، إِنْ
شَاءَ اللهُ )، قَالَ: فَقَالَ عُمَرُ: فَوَالَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ مَا
أَخْطَئُوا الْحُدُودَ الَّتِي حَدَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ، قَالَ: فَجُعِلُوا فِي بِئْرٍ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ ،
فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى انْتَهَى
إِلَيْهِمْ ، فَقَالَ:  ( يَا فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ وَيَا فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ
هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَكُمُ اللهُ وَرَسُولُهُ حَقًّا ؟ فَإِنِّي قَدْ
وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي اللهُ حَقًّا )، قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللهِ
كَيْفَ تُكَلِّمُ أَجْسَادًا لَا أَرْوَاحَ فِيهَا ؟ قَالَ: ( مَا أَنْتُمْ
بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ
يَرُدُّوا عَلَيَّ شَيْئًا ) .

“Sungguh Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- kemarin telah memperlihatkan kepada kami tempat
berperangnya ahli badar, beliau bersabda: “Ini tempat berperangnya fulan
besok insya Allah”, maka Umar berkata: “Demi Dzat yang mengutus beliau
dengan hak, mereka tidak akan salah dalam menentukan batas-batas yang telah
ditentukan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka mereka
dijadikan dekat dengan sumur. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
beranjak menuju mereka dan bersabda: “Wahai fulan bin fulan, wahai fulan bin
fulan, apakah kalian telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Allah
dan Rasul-Nya dengan benar ?, karena aku telah mendapatkan apa yang telah
Allah janjikan kepadaku”. Maka Umar berkata: “Bagaimana Anda mengajak bicara
para jasad yang tidak mempunyai ruh ?”. Beliau bersabda: “Kalian tidak lebih
mendengar dari apa yang aku ucapkan kepada mereka, hanya saja mereka tidak
mampu menjawabnya”.

Di dalam Shahih Bukhori
(3976) Qatadah berkata:

” أَحْيَاهُمُ اللَّهُ
حَتَّى أَسْمَعَهُمْ، قَوْلَهُ ، تَوْبِيخًا ، وَتَصْغِيرًا ، وَنَقِيمَةً ،
وَحَسْرَةً ، وَنَدَمًا ” .

“Allah menghidupkan mereka
sehingga Dia memperdengarkan kepada mereka firman-Nya agar mereka merasa
hina, kecil, tidak berdaya, rugi dan menyesal”.

Qatadah –rahimahullah- telah
menjelaskan tujuan dari pertanyaan seperti itu dan memperdengarkan ucapan
tersebut kepada orang-orang kafir. Bukan berarti tujuan pertanyaan tersebut
untuk mengetahui jawaban mereka yang sebenarnya, juga tidak berarti Allah
menghendaki bahwa mereka memberitahukan sesuatu yang belum diketahui oleh
Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Yang demikian itu tidak asing
menurut bahasa Arab dan di dalam syair-syair mereka, seorang pujangga mereka
biasa bertanya kepada puing rumah, tempat tinggal, orang-orang yang
dicintainya, atau berbicara kepada ontanya atau mendatangi kuburan dan
mengajaknya bicara dan bertanya kepadanya, dan lain sebagainya. Dimana hal
tersebut sudah tidak asing lagi, tidak bisa dipungkiri bahkan oleh mereka
yang masih mempunyai ilmu sedikit tentang lidah orang Arab dan bait-bait
syair mereka.

Maka pada saat demikian maka
bisa dikatakan di sini:

Tidak diartikan secara
tekstual, juga bukan berarti konteksnya bahwa Allah –‘Azza wa Jalla-
berkehendak untuk menjadikan para makhluk berbicara untuk menjawab
pertanyaan-Nya, tidak juga berarti bahwa Dia meminta mereka agar mengucapkan
sesuatu, akan tetapi hal itu adalah waktu menunjukkan kekuasaan dan
keagungan-Nya, dan barang siapa yang ingin menandingi kekuasaan-Nya di dunia
dengan perkataan, pengakuan dan kedustaan ucapan mereka, maka pada hari itu
tidak diberi kuasa sedikit pun, meskipun hanya untuk berucap dan beralasan
dengan sepatah dua patah kata dengan lisan mereka, dan tidak kuasa untuk
maju di hadapan Allah Tuhan semesta alam, baik dengan ucapan ataupun dengan
perbuatan.

Syeikh Allamah Thahir bin
Asyur –rahimahullah- berkata:

“Sebuah pertanyaan itu bisa
jadi sebagai “Taqriri” penetapan agar para thagut (mereka yang melampaui
batas Allah) dari penduduk Mahsyar mengetahui dengan sendirinya bahwa mereka
pada saat di dunia telah melakukan kesalahan tentang klaim mereka bahwa para
berhala mereka mempunyai kekuasaan pada saat mereka menyandarkan kepada
berhala tersebut kekuasan untuk mengatur kerajaan di bumi dan di langit.
Seperti keyakinan orang-orang Yunani dengan adanya tuhan (dewa) laut, dewa
perang dan dewa hikmah, dan keyakian orang-orang Qibti di Mesir akan adanya
dewa matahari, dewa kematian dan dewa hikmah dan seperti keyakinan bangsa
Arab pada berhala tertentu untuk kabilah tertentu, seperti berhala Laata
untuk bani Tsaqiif, Dzil Kholasah untuk kabilah Daus, dan berhala Manat
untuk kabilah Aus dan Khazraj.

Demikian juga anggapan bahwa
mereka mampu menguasai manusia seutuhnya seperti perkataan Fir’aun (yang
diceritakan oleh Al Qur’an):

(مَا عَلِمْتُ
لَكُمْ مِنْ إِلهٍ غَيْرِي) [الْقَصَص: 38]

“Aku tidak mengetahui tuhan
bagimu selain aku”. (QS. Al Qashash: 38)

Dan ucapannya yang lain:

( أَلَيْسَ
لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهذِهِ الْأَنْهارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي) [الزخرف: 51]

“Bukankah kerajaan Mesir ini
kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku”. (QS. Az
Zukhruf: 51)

Termasuk gelar para kisra
Persia yang menamakan diri mereka dengan: “Malik Al Muluuk / Syahansyah”
(Raja diraja), termasuk gelar dari raja-raja India adalah “Raja Dunia” (Syah
Jahani)

Makna tersebut bisa ditafsiri
dari hadits tentang sifat hari (di padang) Mahsyar:

( ثُمَّ
يَقُولُ اللَّهُ : أَنَا الْمَلِكُ ، أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ ؟)

“Kemudian Allah berfirman:
“Aku adalah Raja (Penguasa), mana raja-raja bumi ?”.

Maksud dari pertanyaan di
atas adalah memberikan rasa takut pada hari tersebut, maksudnya adalah
kemana mereka semua saat ini ? kenapa mereka tidak muncul dengan kebesaran
dan kesombongan mereka ?

Bisa juga pertanyaan tersebut
mempunyai arti kiasan agar merasakan rindu akan jawaban yang akan datang
setelahnya; karena kondisinya bahwa yang mendengar pertanyaan tersebut
menunggu-nunggu jawabannya, karena Dia Allah yang mampu menjawabnya. Dan
kalimat:
(
لِلَّهِ الْواحِدِ الْقَهَّارِ )
boleh menjadi
bagian dari perkataan yang telah ditakdirkan yang bersumber dari sisi Allah
–Ta’ala- dan dari sisi tersebut muncul pertanyaan dan jawaban dari-Nya.

Karena jika pertanyaan
dipakai untuk penetapan dan memicu rasa keingintahuan, maka kondisi tersebut
menuntut bagi yang mengucapkan untuk menjawabnya, dan yang serupa dengan itu
adalah firman Allah:

( عَمَّ
يَتَساءَلُونَ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ ) [النَّبَأِ: 1، 2]

“Tentang apakah mereka saling
bertanya-tanya?, Tentang berita yang besar”. (QS. An Naba’: 1-2)

Dan boleh juga bahwa yang
diucapkan disembunyikan, yakni mereka yang ditanya mengatakan: “Kepunyaan
Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan”, sebagai bentuk pengakuan dari
mereka. Maka mereka mengatakan:

لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
sebagai kalimat
sisipan.

Penyebutan dua sifat: Maha
Esa dan Maha Mengalahkan bukan sifat-sifat mulia lainnya; karena kedua sifat
tersebut maknanya sesuai dengan firman Allah:

(لِمَنِ
الْمُلْكُ الْيَوْمَ)

“Kepunyaan siapakah kekuasaan
pada hari ini ?”

Yaitu; Keesaan Allah terbukti
dan bahwa Dia Mengalahkan semua thagut”.

(At Tahrir wat Tanwir:
24/110-111)

Kesimpulan:

Bahwa tidak ada masalah dalam
pertanyaan tersebut, apapun yang dimaksud dengan orang yang bertanya dan
yang menjawabnya. Maksudnya adalah mengingatkan akan keagungan Allah –‘Azza
wa Jalla- dan keesaan-Nya dalam kekuasaan dan kerajaan bagi semua makhluk.
Tujuan seperti ini telah diketahui oleh orang-orang Arab dalam bahasa mereka
dan cara menjelaskannya.

Wallahu A’lam.