Bolehkah berzakat fitrah dengan kurma atau keju yang tidak dianggap sebagai makanan pokok di sejumlah besar wilayah?

140315

Ruling on
kissing and embracing one wife in front of her co-wives!

.

Praise
be to Allah.

Alhamdulillah

Yang harus dikeluarkan untuk
zakat fitrah adalah makanan pokok negeri yang bersangkutan. Bila makanan
pokok negeri itu kurma, keju atau mentega, maka zakat fitrah boleh berupa
ketiga makanan tersebut. Sedangkan sesuatu yang tidak dianggap sebagai
makanan pokok, maka zakat fitrahnya tidak berpahala. Hal ini berdasarkan
ucapan Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu’anhu.:

كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، وَكَانَ طَعَامَنَا
الشَّعِيرُ ، وَالزَّبِيبُ ، وَالْأَقِطُ ، وَالتَّمْرُ. (رواه البخاري 1510
ومسلم 985).

“Di masa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallama
, kami mengeluarkan zakat fitrah pada hari raya Idul
fitri berupa satu sha’ makanan. Ketika itu makanan pokok kami adalah
gandum, anggur kering, keju dan kurma.” (Bukhari, no: 1510. Muslim, no:
985).

Para sahabat mengeluarkan
zakat fitrah berupa bahan-bahan tersebut karena semuanya adalah makanan
pokok mereka ketika itu.

An-Nawawi berkata, “Pendapat
yang paling benar menurut kami adalah, zakat fitrah harus berupa bahan
makanan pokok di negeri tersebut. Pendapat ini juga dipilih oleh Malik. Abu
Hanifah berkata, ‘Muzakki diberi pilihan, dia boleh memilih makanan apa saja
yang akan menjadi zakatnya.’ Ada satu riwayat dari Ahmad bahwa zakat fitrah
tidak berpahala kecuali berupa lima bahan pokok yang tertuang dalam al-Quran
dan hadis, yaitu: kurma, anggur kering, gandum, jelai (barli), dan keju
(susu kering).” (Al-Majmu’, 6/112).

Di dalam Syarh
al-Muwaththa`,
al-Baji berkata, “Yang ditakar satu sha’ untuk
zakat fitrah itu berupa apa? Ibnu al-Qasim meriwayatkan jawaban dari Malik
bahwa yang ditakar adalah makanan pokok negeri itu. Ini adalah pendapat Abu
Ali ibn Abu Hurairah, seorang sahabat Imam Syafi’i.

Di dalam al-Mawsu’ah
al-Fiqhiyah
(23/343) disebutkan: Para ulama mazhab Maliki berpendapat
bahwa zakat fitrah harus berupa makanan pokok negeri tersebut, seperti
kacang miju-miju (adas), beras, kacang, gandum, jelai (barli), gandum hitam,
kurma, keju (susu kering) dan gandum mutiara. Selain bahan-bahan tersebut
maka zakatnya tidak berpahala, kecuali bila ia dijadikan makanan pokok oleh
manusia dan mereka meninggalkan kelima bahan pokok itu.

Pendapat ini dipilih oleh
Syeikh al-Islam Ibnu Taymiah, seperti dalam kitab al-Fatawa al-Kubra
(2/157).

Syeikh Ibnu Utsaimin pernah
ditanya tentang hukum membayar zakat fitrah dengan jelai (sejenis gandum).
Si penanya berkata, “Kami mendengar Anda berpendapat bahwa zakat fitrah
dengan jelai ini tidak berpahala. Mohon agar Anda menjelaskannya kepada
kami.”

Syeikh Ibnu Utsaimin
menjawab, “Anda mengaku bahwa Anda telah mendengar kami berpandangan bahwa
zakat fitrah dengan jelai tidak berpahala. Sebenarnya pendapat kami ini
berlaku pada kaum yang makanan pokoknya bukanlah jelai ini. Karena di antara
hikmah zakat fitrah ini adalah bagaimana ia dapat menjadi pemberian makanan
kepada kaum miskin. Hikmah ini tidak terwujud kecuali zakat yang dibayarkan
berupa makanan pokok manusia saat itu. Penetapan kurma dan jelai dalam hadis
Abdullah ibn Umar di atas tak lain karena keduanya merupakan makanan pokok
manusia di masanya. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari,
pada bab Sedekah sebelum shalat Id, dari Abu Sa’id al-Khudri
radhiallahuanhu, beliau berkata, “Di masa Rasulullah, kami membayar zakat
fitrah berupa satu sha’ makanan.” Abu Sa’id berkata, “Makanan kami
ketika itu adalah jelai, anggur kering, keju dan kurma.” (Majmu’
al-Fatawa,
18/282).

Maka yang wajib atas setiap
muslim adalah membayar zakat fitrah berupa makanan pokok di negerinya, agar
hikmah zakat itu terwujud, yaitu memenuhi kebutuhan kaum fakir miskin di
hari Id.

Wallahu a’lam.