Apakah menyentuh kemaluan membatalkan wudu? Dan apakah hukum menyentuhnya dengan pembatas sama dengan menyentuh secara langsung?

Alhamdulillah

Menyentuh kemaluan tanpa pembatas membatalkan wudu menurut
mayoritas ulama, baik dari shahabat ataupun (generasi) setelahnya, para
tabiin, begitu pula para imam, di antaranya Imam  Malik, Syafi’i dan Ahmad.

Mereka berdalil tentang hal itu dengan beberapa hadits, di
antaranya, sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam:

مَنْ مَسَّ
ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ  (رواه أبو داود، رقم 181، وصححه الألباني في صحيح
أبي داود)

“Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka hendaklah dia
berwudu.”

(HR.
Abu Daud, no. 181 dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)

Sebagian lain berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak
membatalkan wudu, seperti mazhab Abu Hanifah.

Sebagian ulama merinci antara menyentuh dengan syahwat dan
tanpa syahwat. Apabila menyentuh dengan syahwat, maka membatalkan wudu, dan
tidak membatalkan wudu jika menyentuhnya tanpa syahwat. Pendapat ini kuat
sekali dan Syekh Ibnu Utsaimin menguatkannya dalam kitab Asy-Syarhul-Mumti.
Beliau juga dengan jelas mentarjih (menguatkan pendapat ini) dalam
penjelasannya di Kitab Bulughul Maram.

Kesimpulannya, “Bahwa seseorang ketika menyentuh kemaluannya,
dianjurkan baginya berwudu secara umum, baik dengan syahwat atau tanpa
syahwat. Dan kalau menyentuhnya dengan syahwat, pendapat yang mewajibkan (berwudu
lagi) adalah kuat sekali.” (Asy-Syarhul-Mumti, 1/234)

Adapun menyentuh (kemaluan) dengan penghalang, maka hal itu
tidak membatalkan (wudu). Al-Mardawi berkata dalam kitab ‘Al-Inshaf, 1/202:
“Yang tampak dari ungkapan beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam), ‘Menyentuh
kemaluan dengan tangannya’ maksudunya adalah menyentuh tanpa pembatas,
kesimpulan inilah yang benar.”

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab
Asy-Syarhul-Mumti’, 1/228: “Karena (menyentuh) dengan adanya penghalang
bukan termasuk menyentuh.” Wallahu’alam
.