Saya merasa dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan karena unsur cinta surga dan takut dari neraka, bukan karena unsur cinta kepada Allah atau cinta ketaatan. Apa sebabnya hal itu? Dan apa solusinya. Saya ingin melaksanakan ibadah apa saja karena cinta kepada Allah dan cinta pada ketaatan. Pada posisi pertama, apa jalan menuju hal itu?

Alhamdulillah

Permasalahan dalam pertanyaan
anda wahai saudaraku yang mulia, sumbernya dari ungkapan salah yang terkenal
‘Kami tidak beribadah kepada Allah takut dari nerakaNya dan tidak mengharap
dari surgaNya. Bahkan kami beribadah kerena cinta kepadaNya.’ Sebagian
menyebutkan dengan redaksi lain. Yang kembalinya bahwa siapa yang beribadah
kepada Allah takut dari nerakaNya, maka itu termasuk ibadahnya seorang budak.
Siapa yang beribahda mengharap surgaNya, maka itu ibadahnya pedagang. Mereka
menyangka bahwa orang yang beribadah adalah orang yang menyembahNy karena
cinta kepadaNya ta’ala.

Ungkapan apapun atau redaksi
yang mengandung arti itu, siapa saja yang mengatakannya, maka itu termasuk
suatu kesalahan. Menyalahi agama yang suci. Yang menunjukkan hal itu adalah:

1.     
Bahwa antara
cinta, takut dan harapan itu saling bertentangan. Sampai –saudaraku penanya-
ingin menyembah Tuhan anda karena cinta kepadaNya. Karena orang yang takut
dan mengharap kepada Allah, kecintaan kepada Allah tidak tercabut darinya.
Bahkan mungkin lebih banyak merealisasikan dibanding orang yang menyangka
cinta kepadaNya.

2.     
Bahwa ibadah
sesuai syariat menurut ahlu Sunnah mencakup kecintaan dan pengagungan.
Kecintaan menghasilan harapan dan pengagungan menghasilkan ketakutan.

Syekh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin
rahimahullah mengatakan, “Ibadah terbangun atas dua hal yang agung, keduanya
adalah kecintaan dan pengagungan. Keduanya bersumber dari :

إنهم كانوا يسارعون في الخيرات ويدعوننا رغباً ورهَباً (سورة
الأنبياء: 90)

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan
cemas.” (QS. Al-Anbiya: 90)

Kecintaan
itu dengan harapan dan pengagungan dengan rasa takut. Oleh karena itu ibadah
adalah dengan perintah dan larangan. Perintah dibangun atas harapan dan
permintaan sampai pada suatu urusan dan larangan terbangun atas pengagungan
dan rasa takut dari yang Maha Agung.

Kalau anda
mencinta Allah Azza Wajalla, anda berharap apa yang ada padaNya. Dan
berharap sampai kepadaNya. Anda mencari jalan yang sampai kepadaNya. Anda
menjalankan ketaatan dengan cara sesempurna mungkin. Kalau anda agungkan,
anda takut kepadaNya, setiap kali anda akan melakukan kemaksiatan, anda
merasa akan keagungan Pencinta Azza Wajalla. Sehingga anda lari:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى
بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ

)سورة
 يوسف: 24)

“Sesungguhnya
wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan
Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak
melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari
padanya kemungkaran dan kekejian.”
(QS. Yusuf: 24)

Ini adalah
kenikmata Allah kepada anda. Kalau anda ingin melakukan maksiat, anda
dapatkan Allah dihadapan anda. Sehingga anda takut dan menjauh dari
kemaksiatan. Karena anda beribadah kepada Allah dalam kondisi berharap dan
penuh rasa takut.” (Majmu Fatawa Syekh Utsaimin, 8/17, 18).

3.     
Bahwa Ibadah
para nabi, ulama dan orang bertakwa mencakup rasa takut dan harapan serta
tidak lepas dari kecintaan. Siapa yang ingin beribadah kepada Allah Ta’ala
dengan salah satu dari hal itu, maka termasuk berbuat bid’ah. Bahkan
kondisinya bisa kekufuran. Allah ta’ala berfirman dalam mensifati kondisi
orang yang berdoa dari kalangan para malaikat, nabi dan orang sholeh:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ
الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ
عَذَابَهُ

(سورة الإسراء: 57)

“Orang-orang
yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa
di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya
dan takut akan azab-Nya.”
(QS. Al-isra’: 57)

Allah
Ta’ala berfirman dalam mensifati kondisi para nabi:

إنهم كانوا يسارعون في الخيرات ويدعوننا رغباً ورهَباً (سورة
الأنبياء: 90)

“Sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan
cemas.” (QS. Al-Anbiya: 90)

Ibnu Jarir Ath-Thabari
rahimahullah mengatakan, “Maksud dari

( رَغَباً )
bahwa mereka
beribadah dalam kondisi penuh harap dari apa yang diharapkan dari rahmat dan
keutaman-Nya.

 (
وَرَهَباً )maksudnya
rasa takut mereka dari siksa dan balasanNya dengan meninggalkan ibadah
kepadaNya dan melakukan kemaksiatanNya. Seperti apa yang kami katakana,
begitu juga apa yang dikatakan ahli tafsir. (Tafsir Ath-Thabari, 18/521).

Al-Hafiz Ibnu Katsir
rahimahullah mengatakan, “Firman Allah

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik).”

Maksudnya
pada amalan yang mendekatkan (diri kepada Allah) dan melakukan ketaatan.

 وَيَدْعُونَنَا
رَغَبًا وَرَهَبًا

 “Dan
mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.”

Ats-Tsauri
mengatakan kata

( رَغَبًا )
maknanya penuh harap yang ada pada Kami.

Dan

( وَرَهَبًا )
maknanya cemas dari yang ada pada kami.

( وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ )
Ali bin Abu Talhah mengatakan dari Ibnu Abbas maksudnya membenarkan apa yang
Allah turunkan. Mujahid mengatakan, “Orang-orang yang benar-benar beriman.
Abu Aliyah mengatakan, “Orang yang penuh ketakutan. Abu Sinan mengatakan,
“Khusu’ adalah rasa takut yang senantiasa dalam hati. Yang tidak berpisah
selamanya. Dai Mujahid juga kata

( خَاشِعِينَ )maksudnya
orang yang tawadhu’. Hasan dan Qatadah serta Dohhaq mengatakan,

( خَاشِعِينَ )
adalah
merendahkan diri kepada Allah Azza Wajalla. Semua pendapat ini berdekatan. 
Tafisr Ibnu Katsir, (5/370).

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimaullah mengatakan, “Sebagian ulama salaf mengatakan, “Siapa yang
beribadah kepada Allah hanya dengan kecintaan, maka dia Zindiq. Siapa yang
beribadah hanya dengan rasa takut maka dia Haruri –maksudnya kaum Khowarij-
dan siapa yang beribadah kepada-Nya dengan hanya penuh pengharapan saja maka
dia murji’ah. Siapa yang beribadah kepadaNya dengan cinta, rasa takut dan
penuh harap, maka dia adalah orang mukmin yang mengesakan.” Majmu Fatawa,
(15/21).

4.     
Keyakinan
mereka bahwa surga itu pepohonan, sungai dan bidadari. Mereka lupa yang
lebih agung dari itu dimana seorang hamba berusaha untuk mendapatkannya.
Yaitu melihat Allah Ta’ala dan menikmatinya. Neraka bukan sekedar hawa panas
dan minuman yang mendidih (samum) dan zaqum. Bahkan ia termasuk kemararahan
dan siksa Allah serta terhalangi dari melihat Allah Azza Wajalla.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan, “Dari sini jelas hilangnya kesamaran ungkapan orang
yang mengatakan, “Kami tidak beribadah kepadaMu karena rinduk ke SurgaMu.
Tidak takut nerakaMu. Sesungguhnya saya beribadah kepadaMu hanya rindu
melihatMu. Sesungguhnya orang yang mengatakan ini menyangka dia dan orang
yang mengikutinya bahwa surga hanya urusan makan, minum, pakaian dan nikah
serta semisal itu dari kenikmatan makhluk. Oleh karena itu sebagian dari
syekh ungkapan salah ketika mendengar firmanNya:

مِنْكُم مَنْ يُريدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُم مَن يُرِيدُ
الآخِرَةَ

“Di antara mereka ada yang
menginginkan dunia dan di antara mereka ada yang menginginkan akhirat.”

Dia mengatakan, “Mana yang
ingin Allah.” Yang lainnya mengatakan dalam firmanNya:

إِنَّ الله اشْتَرَى مِنَ المُؤمِنينَ أنْفُسَهُم
وَأَمْوَالُهُم بِأَنَّ لَهُم الجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah membeli
dari orang-orang beriman diri dan harta mereka bahwa balasan bagi mereka
adalah surga.”

Mengatakan, “Kalau jiwa dan
harta (dibeli) dengan surga, dimana (kenikmatan) melihat Allah?”

Semuanya ini karena
persangkaan mereka bahwa surga tidak masuk di dalamnya melihat (Allah). Yang
benar (setelah diteliti) bahwa surga adalah tempat yang menampung semua
bentuk kenikmatan. Yang tertingga di dalamnya adalah melihat wajah Allah.
Yaitu kenikmatan yang didapatkannya di dalam surga. Sebagaimana yang
diberitahukan dalam nash. Begitu juga penduduk neraka. Mereka terhalangi
dari Tuhannya dan masuk ke neraka. Padahal orang yang mengatakan pendapat
ini, kalau dia mengetahui bahwa maksudnya adalah Jika tidak diciptakan
neraka atau tidak diciptakan surga. Maka tetap beribadah. Dan harus
mendekatkan diri kepadaNya dan melihat kepadaNya. Maksud surga di sini
adalah apa yang dinikmati oleh makhluk.” (Majmu Fatawa, 10/62, 63).

Ibnu Qoyim rahimahullah
mengatakan, “Setelah diteliti dikatakan bahwa surga bukan sekedar nama untuk
pepohonan, buah-buahan, makanan, minuman, bidadari, sungai dan istana.
Kebanyakan manusia salah tentang penamaan surga. Sesungguhnya surga adalah
nama untuk tempat kenikmatan secara mutlak dan sempurna. Diantara kenikmatan
surga yang paling agung adalah menikmati melihat wajah Allah yang Mulia.
Mendengarkan KalamNya, menjadi penyejuk mata dekat denganNya dan keredoanNya.
Maka tidak ada tandingan kenikmatan di dalamnya dengan makanan, minuman,
pakaian dan gambar dibandingkan dengan kenikmatan ini selamanya. Sedikit
saja dari keredoanNya, itu lebih besar dibandingkan isi dari surge itu semua.
Sebagaimana firmanNya:

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ أَكْبَر (سورة التوبة: 72)

“Dan keridhaan dari Allah
adalah lebih besar.”

Ada dalam bentuk nakirah (umum)
dalam kontek istbat (penetapan). Maksudnya apa saya bentuk redoNya dari
hambaNya itu lebih besar dibandingkan surga.

قليل منك يقنعني *** ولكن قليلك لا يقال له قليل

“Sedikit darimu itu dapat
mencukupkanku ## akan tetapi sedikit dariMu tidak dikatakan sedikit

Dalam hadits shahih hadits
melihat (Allah)

فوالله ما أعطاهم الله شيئا أحب إليهم من النظر إلى وجهه

“Demi Allah, tidaklah apa
yang Allah berikan kepada mereka apapun yang paling dicintai bagi mereka
melebihi dari melihat wajahNya.”

Dalam hadits lainnya:

أنه سبحانه إذا تجلى لهم ورأوا وجهه عيانا : نسوا ما هم فيه من
النعيم وذهلوا عنه ولم يلتفوا إليه

“Bahwa Allah Subhanahu ketika
menampakkan kepada mereka dan mereka melihat wajahNya secara langsung,
mereka lupa kenikmatan yang ada. Tercengang darinya dan tidak menengok
lainnya.”

Tidak ragu lagi, bahwa
permasalahannya seperti ini. Dia lebih mulia dari yang terbetik dalam benak
atau yang ada dalam hayalan. Terutama ketika (mendapatkan) kemenangan orang
yang dicintai disana ada kebersamaan dengan kecintaan. Karena ‘Seseorang
bersama orang yang dicintai’ tidak ada pengkhususan dalam hukum ini. Bahkan
ini merupakan suatu ketetapan, baik yang Nampak maupun yang tidak Nampak.
Kenikmatan, kelezatan, penghibur mata dan kemenangan apa saja yang dapat
mengalahkan kenikmatan kebersamaan itu. Kelezatan dan penghibur mata apakah
lebih tinggi dari penghibur mata bersama orang yang dicintai yang tidak ada
yang lebih tinggi dariNya. Tidak ada yang lebih sempurna dan tidak ada yang
lebih menghibur mata dariNya selamanya.

Dan ini –demi Allah – ini
adalah ilmu yang digapai para pecinta, serta bendera yang diikuti para
arifun. Yaitu ruh yang dinamakan surge dan kehidupannya. Dengannya surga
indah dan dibangun di atasnya. Bagaimana dikatakan, “Tidak beribadah kepada
Allah karena mencari surgaNya dan tidak takut dari nerakaNya ?!.

Begitu juga neraka, semoga
Allah menjaga kita darinya. Sesungguhnya penghuninya diantara siksanya
adalah terhalangi dari Allah, penghinaan, kemarahan dan kemurkaanNya. Jauh
dariNya lebih besar (siksaan) dari pada panasnya api neraka di tubuh dan
ruhnya. Bahkan panasnya di hati mereka mengharuskan panasnya pada tubuh
mereka. Dan kepadanya dituntun masuk kedalamnya.

Yang diharapkan para nabi,
utusan, para siddiq, para syuahar dan orang sholeh adalah surga. Dan mereka
lagi dari neraka. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan dan kepadaNya
kita menyandarkan. Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah, cukup bagi
kita hanya kepada Allah dan sebaik-baik wakil. ‘Madrijus Salikin, (2/80,
81).

5.     

Ungkapan itu menghantarkan
menganggap remeh penciptaan surga dan neraka. Sementara Allah Ta’ala yang
menciptakan keduanya, disiapkan masing-masing kepada orang yang berhak masuk
ke dalamnya. Dengan surga, orang ahli ibadah akan semangat. Dan dengan
neraka, membuat takut makhluk dari kemaksiatan dan kekufuran.

6.     

Dahulu Nabi sallallahu alaihi
wa salalm memohon kepada Allah surga dan berlindung dari neraka. Dan beliau
mengajarkan hal itu kepada para shahabatnya radhiallahu anhhum. Begitu juga
para ulama dan ahli ibadah mewariskannya. Mereka tidak melihat hal itu
menghilangkan kecintaan mereka kepada Tuhannya. Juga tidak mengurangi
kedudukan ibadah mereka.

Dari Anas berkata, biasanya
kebanyakan doa Nabi sallallahu alaihi wa sallam adalah:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (رواه البخاري، رقم 6026 )

“Ya Allah Tuhan Kami,
karuniakan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan
jauhkan kami dari siksa neraka.” (HR. Bukhari, no. 6026).

Dari Abu Hurairah berkata,
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berkata kepada seseorang:

مَا تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ ؟  قَالَ : أَتَشَهَّدُ ، ثُمَّ
أَسْأَلُ اللَّهَ الْجَنَّةَ ، وَأَعُوذُ بِهِ مِنْ النَّارِ ، أَمَا وَاللَّهِ
مَا أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ ، وَلَا دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ – أي : ابن جبل – قَالَ
:  حَوْلَهَا نُدَنْدِن (رواه أبو داود، رقم  792 وابن ماجه، رقم 3847 ، وصححه
الألباني في ” صحيح ابن ماجه)

“Apa yang kamu katakana dalam
shalat?” Dia menjawab, “Saya bertasyahud kemudian memohon kepada Allah surga
dan berlindung kepadaNya dari neraka. Demi Allah saya tidak dapat berucap
sebagus  kamu dan kebiasaan Muaz –maksudnya Ibnu Jabal- . Beliau berkata,
“Seputarnya inilah ucapan-ucapan kami.” (HR. Abu Dawud, no. 792 Ibnu Majah,
no. 3847 dinyatakan shahih Albany di Shahih Ibnu Majah)

Dari Baro’ bin ‘Azib
radhiallahu anhuma berkata, “Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berkata
kepadaku:

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ
ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ وَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ
نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ
رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا
إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي
أَرْسَلْتَ فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا
تَقُولُ(

رواه البخاري، رقم  5952  ومسلم، رقم  2710 ) .

“Kalau anda mendatangi tempat
tidurmu, maka berwudulah seperti wudu untuk shalat. Kemudian berbaring pada
sisi kanan dan ucapkan doa, “Ya Allah saya pasrahkan jiwaku kepadaMu, saya
serahkan urusanku kepadaMu. Saya kembalikan punggungku kepadaMu dalam
kondisi penuh harapan kepadaMu. Tidak ada tempat kembali dan tempat yang
selamat dariMu kecuali kembali kepadaMu. Saya beriman kepada KitabMu yang
Engkau turunkan. Dan dengan nabiMu yang Engkau utus. Maka anda meninggal,
maka anda meninggal dalam kondisi fitrah dan jadikanlah hal itu ucapan
terakhir anda.” (HR. Bukhari, no. 5952 dan Muslim, no. 2710).

Taqiyudin Subki rahimahullah
mengatakan, “Orang yang beramal itu ada beberapa golongan, golongan
beribadah karena Dzatnya, hal itu karena layak akan hal itu. Karena Dia
layak untuk hal itu. Meskipun tidak menciptakan surga dan neraka. Ini maksud
ungkapan orang yang mengatakan, “Kami tidak beribadah kepadaMu karena takut
dari nerakaMu dan tidak mengharap dari surgaMu. Maksudnya bahkan kami
beribadah kepadaMu karena layak Engkau seperti itu. Meskipun begitu orang
yang mengatakan hal ini, tetap meminta surg dan berlindung dari neraka.
Sebagian orang bodong menyangka berbeda dari hal itu. Itu ada suatu
kebodohan. Siapa yang tidak meminta surga dan selamat dari neraka, maka itu
menyalahi sunah. Karena hal itu termasuk sunah Rasulullah sallallahu alaihi
wa sallam. Dan itu yang diucapkan Nabi sallallahu alaihi wa sallam bahwa
beliau memohon surga dan berlindung dari neraka. Dan mengatakan, saya tidak
bisa sebaik kebiasaanmu dan kebiasaan Muad. Maka Nabi sallallahu alaihi wa
sallam bersabda, “Seputar itu, kami membiasakannya.

Ini pemimpin umat pertama dan
terakhir, mengucapkan ungkapan sepert ini, siapa yang berkeyakinan selain
itu, maka dia termasuk bodoh dan menyalahi.

Diantara adab Ahlus sunah ada
empath al yang harus ada, diantaranya mencontoh Rasulullah sallallahu alaihi
wa sallam, merasa fakir dihadapan Allah. Memohon bantuan kepada Allah dan
dapat sabar hal itu sampai menemui kematian. Ini yang diucapkan Sahl bin
Abdullah Tastari dan itu perkataan yang benar.” Fatawa Subki, (2/560).

Syeikhul Islam rahimahullah
mengatakan, “Semua apa yang disediakan Allah untuk kekasihNya termasuk surga.
Melihat kepadaNya juga termasuk surga. Oleh karena itu manusia terbaik
memohon kepada Allah surga. Dan berlindung kepadaNya dari neraka. Ketika
bertanya kepada sebagian shahabatnya apa yang dikatakan dalam shalatnya,
beliau mengatakan, “Sungguh saya memohon kepada Allah surga dan berlindung
kepada Allah dari neraka. Sungguh saya tidak bisa sebaik kebiasaanmu dan
kebiasaan Muaz, maka beliau bersabda, “Seputar itu kami biasa mengucapkan.”
(Majmu Fatawa, (10/241).

7.     

Siapa yang ingin beribadah
kepada Allah Ta’ala dengan hanya kecintaan saja tanpa rasa takut dan
pengharapan, maka agamanya dalam bahaya. Dia sangat melakukan bid’ah.
Terkadang bisa mengeluarkan dari agama Islam. Sebagian pembesar zindiq
mengatakan, “Sesungguhnya kami beribadah kepada Allah karena cinta kepadaNya.
Meskipun ujungnya kami di neraka selamanya. Sebagian dari mereka
berkeyakinan bahwa hanya dengan kecintan saja, mendapatkan redo dan kerelaan
Allah. Dia seperti itu menyerupai keyakinan orang Yahudi dan Nashroni.
Dimana Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ
وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ
مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ
مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
(سورة المائدة: 18)

“Orang-orang
Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan
kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena
dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya),
tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya.
Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan
kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).”
(QS. Al-Maidah:
18)

Taqiyudin Subki rahimahullah
mengatakan, “Sementara orang ini yang menghilangkan sifat kecintaan. Dan
hanya dengan itu beribadah kepada Allah. Maka dia telah tumbuh dengan
kebodohan ini, dia meyakini bahwa dia mendapatkan posisi di sisi Allah
diangkatnya dari rendahnya penghambaan. Kesesatan, hina dian pada dirinya
menuju puncak kecintaan. Seakan dia aman pada dirinya. Mengambil janji dari
Tuhannya bahwa dia termasuk orang yang dekat, apalagi dari golongan kanan.
Tidak, dia termasuk golongan paling rendah.

Seharusnya bagi seorang hamba,
sikap beradab kepada Allah, merendahkan disisiNya, merendahkan diri dan
merasa kecil dihadapanNya. Takut akan siksa Allah, tidak aman dari makar
Allah. Mengharap keutamaan Allah, memohon bantuan kepadaNya, memohon bantuan
untuk dirinya. Seraya mengatakan setelah bersungguh sungguh dalam beribadah,
“Kami tidak beribadah kepadaMu dengan sebenar-benar ibadah.” Mengakui
kekurangan, memohon ampunan setelah selesai shalat. Hal itu sebagai isyarat
apa yang terjadi pada dirinya dari kekurangan dalam beribadah. Waktu akhir
malam, memberikan isyarat yang terjadi dari kekurangan, padahal dia telah
berdiri (shalat) semalaman. Bagaimana lagi bagi orang yang tidak berdiri (menunaikan
shalat)? ‘Fatawa Subki, (2/560).

Qurtubi rahimahullah
mengatakan, “Firman Allah 

( وادعوه خوفاً وطمعاً )
memerintahkan
seseorang dalam kondisi siaga dan ketakutan, serta harapan kepada Allah Azza
Wajalla. Sampai menjadikan harapan dan ketakutan bagi seseorang bagaikan dua
sayap untuk burung. Membawanya ke jalang istiqamah. Kalau hanya salah satu
saja, maka akan celaka manusia. Allah berfirman:

  نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ .
وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ (سورة الحِجر: 49 ، 50)

“Kabarkanlah
kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.”

(QS. Al-Hijr: 49-50)

Tafsir Al-Qurthubi, 7/227)

Anda dapat melihat, wahai
saudaraku penanya, seharusnya anda berjalan dalam ibadah anda sebagaimana
yang dilakukan oleh para Nabi dan orang sholeh sebelum anda. Sehingga dapat
menunaikan apa yang Allah perintahkan kepada anda dari ibadah sesuai dengan
cara yang Allah cintai. Maksud hal itu adalah mendekatkan diri kepadaNya dan
mengharap pahala yang Allah sediakan bagi orang yang beribadah. Takut dari
kemarahanNya dan azab yang didapatkan kalau terjadi kekurangan dalam
ketaatan atau meninggalkannya. Siapa yang menyangka dia mencintai Tuhannya
Ta’ala hendaknya dia memperlihatkan ketaatan kepada NabiNya sallallahu
alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
(سورة آل عمران: 31)

“Katakanlah:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Wallahu a’lama

.