Ibu saya memperlakukan saya dengan keras, sehingga membuat saya tidak tidak percaya diri dan menjadi minder dan tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik, saya juga tidak bisa memutuskan keputusan. Saya sudah menikah dan dikaruniai satu anak perempuan dan saya tidak ingin hal itu terjadi pada anak saya, hingga tidak berulang pengalaman buruk yang saya alami pada anak saya. Nasehat apakah yang anda berikan kepada saya ?
Alhamdulillah
Seorang anak perempuan pada
usia dua tahun mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, sebagian
psikolog meyakini bahwa perasaan percaya diri adalah merupakan awal bentuk
sosialisasi dirinya, perasaan tersebut bertumpu pada usia dua tahun ini
dengan bantuan model pendidikan orang tuanya, dan sikap mereka untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya. Tanda-tandanya mulai akan nampak perkembangan
anak tersebut pada periode ini dengan kecenderungan tertentu. Ia butuh
kebebasan berbicara, jalan dan bermain, semua itu berkaitan dengan penguatan
diri yang tidak akan terealisasi dengan baik kecuali diberi kebebasan yang
dibutuhkan. Inilah yang menguatkan teori tumbuh kembang anak. Untuk mencapai
kematangannya, tidak hanya bertumpu kepada mereka saja baik sedikit ataupun
banyak, dan jarang ia melakukannya sendiri, ia selalu melihat siapa yang
berbicara kepadanya: kerjakan ini dan itu, dan jika ia tidak pernah
menghadapi masalah, maka ia akan berhenti dan tidak bisa mengambil keputusan,
dan akan berlari atau bisa jadi ia akan menangis, ini bagian dari kesalahan
orang tua. Hal itu dikarenakan beberapa sebab, di antaranya adalah:
1.
Terlalu banyak
perintah dan larangan dari mulai perkara kecil sampai besar, meskipun
terkadang dalam masalah yang sepele. Hal ini yang akan menghambat
kreatifitas anak, dan menjadikannya tidak percaya diri dengan pekerjaannya,
dan terus menunggu seseorang yang membenarkannya, dan memberinya keyakinan
bahwa pekerjaannya sudah benar.
2.
Kritik dan
celaan pada setiap aktifitasnya, mengikuti setiap kesalahannya, mengecamnya
ketika melakukan kesalahan padahal sudah berusaha, namun ia mendapatkan
celaan lebih dari yang seharusnya, padahal ia menunggu reward dari usahanya
yang dengannya akan membantu perkembangan aktifitas anak, bersaing dalam
menyelesaikan dan memperindah hasil karyanya.
3.
Tidak memberi
kesempatan bagi anak untuk berkomunikasi dengan banyak orang, khawatir salah
ucap atau akan berbicara pada sesuatu yang tidak menyenangkan, atau
diizinkan bicara tapi dengan menirukan ibunya.
4.
Terlalu banyak
mengingatkannya dari bahaya, inilah yang menjadikannya berperasangka buruk
terus menerus, dan merasa bahwa bahaya selalu mengelilinginya dari semua
sisi.
5.
merendahkan dan
membandingkannya dengan yang lain yang akan merendahkan derajatnya.
6.
Mencemooh dan
mengejeknya
7.
Tidak
memperhatikan beberapa pertanyaan yang ditertuju kepadanya
8.
Over protect
(terlalu merasa hawatir) yang berlebihan, misalnya: sangat menghawatirkan
kesehatannya atau masa depannya.
Akan nampak pada anak-anak
yang kehilangan kepercayaan dirinya beberapa efek negatif di antaranya:
1.
Ia tidak bisa
melakukan aktifitasnya secara mandiri, jika ia diminta untuk membawakan
sesuatu sedangkan ia mendapatinya berbeda dengan yang diajarkan sebelumnya,
maka ia akan berhenti tidak bergerak. Dan jika ia mendapatkan masalah, maka
ia tidak bisa memutuskan.
2.
Mengalami
keterbelakangan (mental) dan tidak kreatif
3.
Dia akan bosan
dan merasa sempit pada setiap pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, karena
ia terbayang dengan celaan yang pernah dialaminya, ia beranggapan tidak akan
bisa menyelesaikan sesuai dengan apa yang diharapkan.
4.
Ia akan
mengalami lemah keinginan dan tidak punya daya saing, lesu, merasa lemah
tidak pada tempatnya, meremehkan dan teledor.
5.
Ia akan merasa
gelisah, gagal, memiliki kecedenderungan memusuhi, cenderung tidak peka
terhadap keadaan dan menyendiri.
Untuk menjauhkan anak anda
dari efek negatif di atas, maka orang tua harus mengikuti beberapa tahapan
untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya, di antaranya beberapa hal berikut
ini:
1.
Diberikan
gambaran secara umum dan harus diikuti alurnya, kedua orang tuanya hendaknya
memberitahukan apa saja yang dihalalkan Allah dan memperingatkan dari apa
saja yang diharamkan Allah hingga ia waspada, keduanya juga hendaknya
mengajarkan akhlak yang mulia, etika yang baik, dan menjauhkannya dari
akhlak yang tercela, perkataan dan perbuatan yang buruk, menjauhi perkara
yang sia-sia dan tidak berarti. Kemudian keduanya membiarkannya bebas
berkreasi.
2.
Ibunya
hendaknya memberikan kepadanya kepercayaan untuk mengerjakan sesuatu yang
diperkirakan ia mampu melakukakannya, dan jika ia bersalah sang ibu terus
memotifasinya untuk segera membenarkannya, dengan menjelaskan bagaimana
seharusnya dalam mengerjakannya. Terkadang cukup memotifasinya saja,
membiarkannya mengerjakan sendiri dengan memantau dari kejauhan. Dan jika
kepercayaan tersebut tidak dalam jangkaun anak tersebut, maka ia akan
meminta bantuan ibunya, dan memintanya untuk memberikan pendapatnya pada
hal-hal tertentu, mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga sang anak
tadi mengetahui bahwa segala sesuatu bisa benar juga bisa salah, dan akan
menguatkan tekadnya.
3.
Kedua orang
tuanya hendaknya bersungguh-sungguh untuk memotifasinya di hadapan
kerabatnya, teman-temannya, dan memberinya hadiah yang sesuai dengan hasil
yang dicapai, menguatkan apa yang telah dicapainya dari mulai masalah
ibadah, seperti; menjaga shalat lima waktu, hafalan al Qur’an, mendapatkan
peringkat kelas, dan tinggi budi pekertinya dan lain-lain.
4.
Memberinya
julukan istimewa yang berbeda dengan yang lainnya, melarangnya menggunakan
julukan yang memalukan, dan jika ia membuat kedua orang tuanya jengkel, baru
dipanggil dengan namanya, hingga ia mengetahui bahwa dirinya tidak memenuhi
hak-hak keduanya atau salah satunya, atau ia akan mengetahui bahwa dirinya
telah melakukan kesalahan.
5.
Menguatkan
keinginannya, dengan membiasakannya untuk mengerjakan dua perkara:
a.
Menjaga
rahasia, ketika ia belajar untuk menyembunyikan rahasianya, maka
keinginannya akan tumbuh dan berkembang, kemudian akan tumbuh juga rasa
percaya dirinya.
b.
Membiasakannya
berpuasa, ketika ia bertahan dari rasa lapar dan haus pada saat berpuasa, ia
akan merasakan kemenangan atas diri dan hawa nafsunya, maka setelah itu
keinginannya akan menguat untuk menghadapi kehidupan nyata yang akan
menambah rasa percaya dirinya.
6.
Menguatkan rasa
percaya dirinya bersosialisasi, yaitu; dengan menyelesaikan kebutuhan rumah,
perintah kedua orang tua, cara bergaul dengan orang-orang tua, dan
bagaiamana berkumpul dengan sesama anak-anak.
7.
Menguatkan rasa
percaya dirinya dalam hal ilmu dan belajar, yaitu dengan cara mengajarkan al
Qur’an, hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sejarahnya yang
agung, maka ia akan tumbuh dengan bekal ilmu yang banyak sejak kecil, maka
rasa percaya dirinya akan menguat, karena ia memahami sesuatu secara ilmiyah
yang jauh dari khurafat dan dongeng.
Disamping beberapa poin di
atas, kedua orang tuanya harus mengambil tindakan pencegahan, dan sarana
terapi untuk membebaskan anak dari merasa bahwa dirinya memiliki kekurangan,
beberapa hal penyebab dirinya merasa kurang adalah: penghinaan,
merendahkannya, mengolok-olok, memanggilnya dengan kata-kata kasar dan
ungkapan buruk di depan saudara dan kerabatnya, dan mungkin di depan
teman-temannya, atau di hadapan orang lain yang belum pernah dilihat dan
bertemu dengannya, yang demikian itu akan menjadikannya merasa hina dan
tidak berguna, yang akan menjadi karakter pribadinya yang selalu melihat
orang lain dengan perasaan hasad dan dengki, dan membenci kehidupan yang
mengitarinya.
Jika kata-kata tajam yang
terlanjur diucapkan oleh kedua orang tuanya, akan tetapi dengan tujuan
perbaikan dan mengingatkan dari kesalahannya karena melakukan dosa besar
atau kecil, maka sebenarnya terapi atau cara mengingatkan anak dari
perbuatan dosa tidak sesuai jika dengan metode seperti itu yang justru akan
memberikan dampak negatif pada kejiwaan anak dan perilaku pribadinya, dan
akan menjadikannya seseorang yang terbiasa hidup dengan bahasa umpatan,
celaan yang akan menurunkan mental dan akhlaknya.
Sebaik-baik terapi dalam
masalah ini adalah mengingatkan anak dengan baik dan lembut lalu menjelaskan
alasan yang bisa diterima agar ia menjauhi kesalahan tersebut. Kedua orang
tua tidak boleh membentaknya dan menjelek-jelekkannya di hadapan banyak
orang. Keduanya sejak awal hendaknya menggunakan metode yang baik untuk
memperbaiki dan menilainya sesuai dengan qudwah kita Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- dalam memperbaiki, mendidik dan meluruskan dari hal-hal
negatif. Dunia anak adalah sangat perasa, cepat terpengaruh, mudah
terpancing, kurang memahami, sedikit kreasi. Maka membangun kepercayaan diri
pada anak sejak dini adalah modal utama untuk membangun kepribadiannya pada
setiap tahapan kehidupannya.
