Terkait dengan pembagian tauhid menjadi tiga bagian, apakah ada dalil tentang hal itu?

Alhamdulillah

Pembagian ini disimpulkan berdasarkan kajian
dan perenungan. Karena ketika para ulama mengkaji  nash-nash yang ada dalam
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam, mereka melihat
hal itu. Sebagian lain menambahkan macam yang keempat yaitu Tauhid
Al-Mutaba’ah. Semuanya ini lewat sebuah kajian (istiqra).

Tidak diragukan lagi orang yang mentadaburi
Al-Qur’an Al-Karim didapatkan ayat-ayat yang memerintahkan untuk ikhlas
dalam beribadah kepada Allah semata, inilah Tauhid Uluhiyah. Lalu didapatkan
ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki dan
Dia adalah Pengatur segala urusan, inilah Tauhid Rububiyah yang mana
orang-orang musyrikin juga mengakuinya akan tetapi tidak masuk Islam.
Sebagaimana juga didapatkan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Dia
mempunyai nama-nama nan indah dan sifat nan mulya. Bahwa Dia tidak ada yang
menyerupai dan tidak ada yang setara, inilah Tauhid Asma Wa sifat  yang
diingkari oleh kelompok ahli bid’ah dari kalangan Jahmiyah, Muktazilah dan
Musyabbihah serta orang yang mengikuti jalan mereka.

Terdapat juga ayat-ayat yang menunjukkan
kewajiban mengikuti Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dan menolak apa
yang menyalahi syariat. Inilah Tauhid Mutaba’ah.  Pembagian ini diketahui
setelah menggali ayat-ayat serta mendalami sunnah.

Di antaranya firman Allah subhanahu wa
Ta’ala,

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya
kepada-Mu kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 4)

“Hai
manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS.
Al-Baqarah: 21)

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan
Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)  

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki
supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57)

“Sesungguhnya Tuhan kamu
ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia
bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula)
matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada
perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha
Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.
Al-A’raf: 54)

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan
Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.’
(QS. As-Syura: 11)

‘Katakanlah:
“Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya
segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
(QS. Al-Ikhlas: 1-4)

“Katakanlah: “Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31)

“Katakanlah: “Taat kepada
Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya
kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu
sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu.
Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.
Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah)
dengan terang.” (QS. An-Nur: 54)

Dan ayat-ayat yang
menunjukan pembagian tadi banyak sekali.

Di antara hadits,
Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Muaz
radhiallahu’anhu yang disepakati keshahihannya oleh Bukhori, no. 2856 dan
Muslim, no. 30.

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ
يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا ِبهِ شَيْئاً

“Hak Allah terhadap para hamba adalah
disembah dan tidak disekutukan dengan apapun.”

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam juga
bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ
نِدًّا دَخَلَ النَّارَ (رواه البخاري، رقم 
4497
و مسلم، رقم 92)

“barangsiapa yang meninggal dunia dalam
kondisi menyembah kepada selain Allah sebagai sekutu-Nya, maka dia akan
masuk neraka.” (HR. Bukhari, no. 4497 dan Muslim, no. 92)

Jawaban Beliau sallallahu’alaihi wa sallam
kepada Jibril ketika ditanya tentang Islam, ‘Engkau menyembah Allah dan
tidak menyekutukan-Nya dengan sedikitpun juga, menunaikan shalat wajib,
mengeluarkan kewajiban zakat.” (Muttafaq alaihi; Bukhori, no. 50 dan Muslim,
no. 9)

Sabda beliau sallallahu’alaihi wa sallam,
‘Barangsiapa mentaati diriku, maka dia telah mentaati Allah. dan barangsiapa
yang membangkang dariku, maka dia telah membangkang kepada Allah.’ (Muttafq 
alaih; Bukhori, no. 2957, dan Muslim, no. 1835)

Sabda Beliau sallallahu’alaihi wa sallam,
‘Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau. Dikatakan,
‘Siapa yang tidak mau wahai Rasulullah? Beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang
mentaatiku, akan masuk surga. Dan barangsiapa yang membangkangku, maka dia
tidak mau.’ HR. Bukhori di shohehnya, 7280. Hadits dalam bab ini banyak
sekali.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata,

“Al-Ilah adalah yang disembah dan yang
ditaati. Karena al-ilah adalah yang disembah (Al-Ma’luh). Kata ‘Al-Ma’luh’
adalah yang berhak disembah. Berhak disembah karena Dia mempunyai
sifat-sifat yang selayaknya paling dicintai dan paling ditaati.”

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya Tuhan
adalah yang disenangi, disembah yang hati menyembahnya dengan penuh
kesenangan, tunduk kepadanya dengan perasaan rendah, ditakuti, diharapkan,
tempat mengadu dalam kondisi sulit, jika berkepentingan berdoa kepadanya,
dalam kemaslahatan bertawakal kepadanya, kembali kepadanya dan tenang dengan
mengingatnya, tenang dengan kecintaannya. Semua itu hanya boleh terhadap
Allah semata. Oleh karena itu tidak ada tuhan melainkan Allah, yang paling
jujur perkataannya. Sehingga orangnya adalah termasuk hamba Allah dan
golongan-Nya. Orang yang mengingkarinya adalah yang mendapatkan murka dan
kemarahan-Nya. Kalau dia jujur, maka semua masalah, kondisi dan perasaan
akan benar. Tapi kalau sang hamba tidak jujur, maka kerusakan akan
menyertainya pada ilmu dan amalannya..”

Kami berdoa kepada Allah agar umat Islam
diberi taufik semuanya baik para penguasa maupun rakyat untuk menguasai
agama dan konsisten di dalamnya, memberikan nasehat karena Allah untuk para
hamba-Nya. Hati-hati dari penyimpangan itu. karena sesungguhnya Dia kekasih
dan mampu akan hal itu. shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi, keluarga dan seluruh shahabatnya.