Terjadi perdebatan antara saya dan saudara saya seputar mencintai ahli kitab. Saya katakana kepadanya bahwa hal itu tidak boleh. Tidak boleh menjadikan mereka sebagai teman atau berbasa basi dalam hari raya mereka, bahkan dilarang mengucapkan salam kepada mereka serta berbagai bentuk kecintaan lainnya. Namun saudara saya ini membantah dengan berkata, “Sesungguhnya Allah Taala telah membolehkan kita untuk menikahi mereka dan Allah telah berikan rasa saling mencintai dan kasih sayang pada suami isteri. Saya mohon jawaban dari anda yang mulia dalam masalah ini, yaitu bagaimana mengkompromikan antara kebolehan menikahi wanita ahli kitab dengan aqidah wala bara. Apakah syarat yang syar’i untuk menikahi ahli kitab?

Alhamdulillah

Pertama:

Telah dijelaskan syarat-syarat yang wajib
diwujudkan pada wanita ahli kitab agar dia halal dinikahi dalam jawaban soal
no.

95572
dan no.

2527

Kedua:

Cinta secara garis besar ada dua macam; Cinta
agama dan cinta tabiat. Cinta agama ada yang sifatnya wajib adapula yang
sifatnya haram dan adapula yang sifatnya syirik. Uraian lengkapnya dapat
anda temui di jawaban soal no. 276

Adapun cinta tabiat atau fitrah adalah cinta
yang pada dasarnya diberikan manusia, seperti orang cinta minuman dingin
atau cinta harta, termasuk di dalamnya cinta kedua orang tua kepada
anak-anaknya, atau cinta karena kebaikan seseorang serta sifat-sifat terpuji
seperti cinta manusia satu sama lain. Tidaklah sempurna iman seorang hamba
sebelum cintanya kepada Rasul shallallahu alaihi wa sallam di sisinya lebih
besar dibanding kecintaannya kepada selainnya.” (Jala’ul Afham, 1/392)

Termasuk cinta tabiat itu adalah cinta di
antara sepasang suami isteri. Perkara ini akan menyingkirkan kebingungan
yang dialami oleh sang penanya. Tidak mesti, adanya rasa cinta tabiat di
antara sepasang suami isteri hadir juga bersamanya cinta dari sisi syariat.
Dia tetap dapat membenci agamanya dan mencintainya sebagai seorang isteri.
Kedua perkara ini dapat dibedakan antara keduanya. Setiap jiwa dibekali rasa
cinta tabiat terhadap bapak, ibu, anak, isteri. Akan tetapi, meskipun
demikiaan terdapat larangan mencintai orang kafir yang memerangi dan
memusuhi Islam berapapun dekatnya kekerabatan di antara mereka.

Allah Taala berfirman,

لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ
كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْأِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ
وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا
إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (سورة المجادلة: 22)

“Engkau tidak akan mendapati orang yang beriman kepada Allah
dan hari akhir saling mencintai orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, walaupun mereka adalah bapak-bapaknya, anak-anaknya, dan
saudara-saudaranya dan keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang Allah
telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan
pertolongan yang datang daripadanNya. Dan dimasukkannnNya mereka ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan
rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya
golongan Allah itulah golonga yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Di antara kaidah syariat yang agung adalah tidak membebankan
seseorang sesuatu yang dia tidak mampu menanggungnya. Maka jika demikian,
memungkinkan untuk membedakan antra cinta tabiat dengan cinta syariat dan
ini adalah perkara yang mampu dilakukan seseorang.

Allah Taala telah menyebutkan kebencian Nabi Ibrahim
alaihissalam dan orang-orang beriman terhadap kaumnya yang kafir yang di
dalamnya terdapat keluarga dan kerabat mereka dan di antara mereka terikat
rasa cinta yang bersifat tabiat. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي
إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ
مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا
بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا
بِاللَّهِ وَحْدَهُ  (سورة الممتحنة: 4)

“Sesungguhnya telah
ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama
dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami
berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah,
kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan
dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”
QS. Al-Mutahanah: 4

Allah Taala telah nyatakan cintanya Nabi shallallahu alaihi
wa sallam kepada pamannya; Abu Thalib padahal di kafir, dan kecintaannya
tersebut adalah cinta tabiat karena adanya hubungan kekerabatan.

Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Allah Taala
turunkan ayat tentang Abu Thalib dengan berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ (سورة
القصص: 56)

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang
yang engkau cintai.” (QS. Al-Qashash: 56)

Maksudnya adalah, sesungguhnya engkau wahai Rasul, tidak
dapat memberi hidayah kepada siapa yang engkau cintai dari kalangan
kerabatmu dan pamanmu. Yang dimaksud cinta disini adalah cinta yang bersifat
tabiat, bukan cinta berdasarkan agama. Cinta berdasarkan agama tidak boleh
diberikan kepada orang musyrik, walaupu dia orang yang hubungan kekerabannya
paling dekat.

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ
كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُم
(سورة المجادلة: 22)

“Engkau tidak akan mendapati orang yang beriman kepada Allah
dan hari akhir saling mencintai orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, walaupun mereka adalah bapak-bapaknya, anak-anaknya, dan
saudara-saudaranya dan keluarganya.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Cinta berdasarkan agama tidak boleh (kepada non muslim),
adapun cinta yang bersifat tabiat, maka hal ini tidak termasuk dalam perkara
cinta berdasarkan agama (I’anatul Mustafid Bi Syarhi Kita At-Tauhid, 1/356)

Perkara ini telah dirangkum dalam sebuah jawaban yang tepat
oleh Syekh Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah, dia bekata:

“Cinta ada dua macam;

Pertama:

Cinta tabiat, seperti cinta seorang kepada isterinya,
anaknya, hartanya. Perkara ini telah disebutkan dalam firman Allah Taala,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ
أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً
وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (سورة الروم:
21)


Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya adalah dia
menciptakan dari jenis diri kalian isteri-isteri agar kalian tenang
bersamanya dan Dia menjadikan di antara kalian saling mencintai dan
mengasihi. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan tanda-tanda  bagai kaum
yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Cinta agama, seperti cinta kepada Allah, rasulNya dan
mencintai apa yang dicintai Allah dan rasulNya berupa perbuatan, ucapan dan
orang-orang.

Allah Taala berfirman,

فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ
يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ )
سورة المائدة: 54)

“Maka Allah akan mendatangkan kaum yang Dia mencintai mereka
dan mereka mencintainya.” (QS. Al-Maidah: 54)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم
كمثل الجسد …

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan dan kasih
sayang di antara mereka adalah bagaikan tubuh…”

Di antara dua kecintaan tersebut tidak ada keharusan saling
berdampingan, artinya bahwa cinnta tabiat boleh jadi diiringi dengan
kebencian terhadap agamanya. Sebagaimana mencintai orang tua yang masih
musyrik, maka sang anak harus membencinya karena Allah, namun hal tersebut
tidak mencegahnya untuk mencintai keduanya secara tabiat. Karena fitrah
manusia adalah mencintai kedua orang tuanya dan kerabatnya. Sebagaimana
dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencintai pamannya karena
kekerabatannya padahal sang paman kafir. Allah Taala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء (سورة القصص: 56)

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada siapa
yang engkau cintai, akan tetapi Allah memberi hidayah kepada yang Dia
kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Dari sisi inilah isteri yang berasal dari kalangan Ahli Kitab
dicintai (cinta tabiat), tapi dia harus dibenci dari sisi kekufurannya dan
agamanya. Perkara tersebut tidak menghalangi seorang suami untuk mencintai
isterinya secara tabiat. Jika sang isteru, dari satu sisi dicintai,
sementara di sisi lain dibenci. Kasus seperti ini banyak. Begitu juga kadang
berkumpul antara kebencian tabiat dengan kecintaan agama, sebagaimana dalam
jihad. Secara tabiat dia tidak disukai tapi dicintai karena dia merupakan
perintah Allah dan karena akibatnya yang baik di dunia dan akhirat. Allah
Taala berfirman, 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ
لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ (سورة البقرة:216
)

“Telah diwajibkan bagi kalian berperang padahal berperang
tidak kalian sukai, betapa banyak sesuatu yang kalian tidak sukai padahal
dia baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Termasuk dalam katagori inipula, cinta seorang muslim kepada
saudaranya sesama muslim yang menzaliminya, maka dia mencintainya karena
Allah dan membencinya karena kezalimannya kepadanya. Bahkan kadang berkumpul
antara kecintaan tabiat dengan kecintaan tabiat seperti terhadap obat yang
sakit. Orang sakit membencinya karena rasanya yang pahit namun dia
mengkonsumsinya karena berharap ada manfaat bagi dirinya. Begitupula kadang
berkumpul antara kecintaan agama bersama benci karena agama, seperti
terhadap mukmin yang fasiq, dia mencintainya karena padanya masih ada iman
dan membencinya karena dia melakukan maksiat.

Orang berakal adalah orang yang menetapkan cinta dan bencinya
berdasarkan syariat dan akal yang bebas dari pengaruh hawa nafsu, Wallahu
a’lamm.”

No.

18602
Fatwa dari web beliau (Syekh
Abdurrahman Al-Barrak, hafizahullah)

http://albarrak.islamlight.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=18602
Wallahu a’lam.