Sejauhmana keshahihan hadits, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasanya berpuasa tiga hari setiap bulan, kadang beliau akhirkan hingga terkumpul baginya puasa dalam setahun, lalu beliau berpuasa pada bulan Sya’ban.”
Alhamdulillah
Hadits ini diriwayatkan dari
Aisyah, Ummul Mukminin radhiallahu anha, dia berkata,
كان رسول الله
صلى الله عليه وسلم يصوم من كل شهر ثلاثة أيام ، فربما أخَّر ذلك حتى يجتمع
عليه صوم السنة ، وربما أخَّره حتى يصوم شعبان
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasanya berpuasa tiga hari setiap
bulan, kadang beliau akhirkan hingga terkumpul baginya puasa dalam setahun,
lalu beliau berpuasa pada bulan Sya’ban.”
Diriwayatkan oleh
Ath-Thabrany dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (2/320), dia berkata, “Telah
menyampaikan kepada kami Ahmad, dia berkata telah menyampaikan kami Ali bin
Harb Al-Jandisabury, dia berkata, telah menyampaikan kepada kami Sulaiman
bin Abi Hauzah, dia berkata, telah menyampaikan kepada kami Amr bin Abi
Qais, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila dari saudaranya Isa dari
bapaknya Abdurrahman, dari Aisyah, dia berkata…. (dengan menyebutkan hadits
tersebut). Kemudian dia berkata, “Tidak diriwayatkan hadits ini dari
Abdurrahman bin Abi Laila kecuali dengan sanad ini. Hanya Amr yang mengambil
riwayat ini darinya.”
Sanad hadits ini dhaif sebab
adanya Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, ahli fiqih yang terkenal.
Imam Ahmad berkata tentangnya, “Hafalannya buruk, haditsnya berubah-ubah.”
Syu’bah berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang hafalannya lebih
buruk selain Ibnu Abi Laila.
Ali Al-Madini berkata, “Dia
buruk hafalannya, haditsnya lemah.”
Karena itu, para ahli ulama
melemahkan hadits ini. Al-Haitsami rahimahullah berkata, “Di dalamnya
terdapat Muhammad bin Abi Laila, dia diperdebatkan.” (Majma’uzzawaid,
3/195)
Alhafiz Ibnu Hajar
rahimahullah berkata, “Ibnu Abi Laila lemah, hadits dalam bab ini serta
sesudahnya menunjukkan kelemahan yang dia riwayatkan.” (Fathul Bari, 4/252)
Asy-Syaukani rahimahullah
berkata, “Dalam sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila, dia lemah.” (Nailul
Authar, 4/332)
Para ulama berbeda pendapat
tentang hikmah Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadikan bulan Sya’ban
sebagai bulan yang paling banyak beliau berpuasa, dalam beberapa pendapat.
Di antaranya adalah pendapat sebelumnya, akan tetapi dalilnya tidak shahih.
Tampaknya orang pertama yang menukil pendapat tersebut adalah Ibnu Bathal
dalam syarahnya terhadap kitab Shahih Bukhari, 4/115. Beliau juga
menyebutkan berbagai pendapat lainnya yang dikutip oleh Ibnu Hajar
rahimahullah dan menambahkannya. Kemudian beliau berkata, “Yang utama dalam
hal ini adalah sesuai dengan riwayat hadits yang lebih shahih dari
sebelumnya, yaitu yang diriwayatkan oleh Nasa’I, Abu Daud dan dishahihkan
oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai
Rasulullah, Aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan
kecuali di bulan Sya’ban?’ Beliau bersabda,
ذلك شهر يغفل
الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب
أن يرفع عملي وأنا صائم
“Ini adalah bulan yang banyak
dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Dia adalah bulan
diangkatnya amal kepada Tuhan semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat,
aku dalam keadaan berpuasa.”
(Fathul Bari, 4/215)
Wallahua’lam..
