Apakah Allah boleh disifati dengan sifat makar, menipu, khianat, sebagaimana firman-Nya,
وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ (سورة الأنفال: 30)
“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ (سورة النساء: 142)
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)
Alhamdulillah
Sifat-sifat Allah Ta’ala seluruhnya merupakan sifat sempurna,
menunjukkan makna yang paling indah dan sempurna. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأَعْلَى وَهُوَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (سورة النحل: 60)
“Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nahl: 60)
وَلَهُ الْمَثَلُ الأَعْلَى فِي
السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (سورة الروم: 27)
“Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di
bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ar-Rum: 27)
Makna dari
(المثل الأعلى) adalah sifat
sempurna.
As-Sa’dy berkata dalam tafsirnya (hal. 718, 1065), berkata, “(المثل
الأعلى) adalah sifat sempurna.”
Sifat-sifat itu ada 3 macam;
Pertama: Sifat sempurna, tidak ada
kekurangan padanya dari berbagai sisi. Sifat-sifat ini boleh disematkan
kepada Allah Ta’ala secara mutlak tanpa dikaitkan dengan sesuatu. Seperti
sifat ilmu, kuasa, mendengar, melihat, kasih sayang, dll.
Kedua: Sifat yang menunjukkan kekurangan,
tidak ada kesempurnaan padanya. Sifat seperti ini sama sekali tidak boleh
disematkan pada Allah Ta’ala. Seperti tidur, lemah, zalim, khianat, dll.
Ketiga: Sifat yang mungkin mengandung
kesempurnaan dan mungkin juga mengandung kekurangan, sesuai kondisi
bagaimana hal tersebut disebutkan.
Sifat seperti ini tidak disematkan kepada Allah secara
mutlak, tapi juga tidak dinafikan secara mutlak. Akan tetapi wajib
diperinci. Pada kondisi yang menunjukkan kesempurnaan bagi Allah, maka Dia
boleh disifati dengannya, namun pada kondisi yang menunjukkan kekurangan
bagi Allah, maka Dia tidak boleh disifati dengannya. Misalnya sifat ‘makar’,
‘menipu’ atau ‘menghina’
‘Makar, ‘Menipu’ atau ‘Menghina’ jika diarahkan kepada musuh,
maka dia merupakan sifat sempurna, karena semua itu menunjukkan kesempurnaan
ilmu, kekuasaan dan kekuatan-Nya. Dan semacamnya.
Adapun ‘makar’ terhadap orang mukmin yang
jujur, maka dia merupakan sifat kekurangan.
Karena itu tidak terdapat pensifatan
Allah dengan sifat-sifat ini secara mutlak, akan ditetapi disebutkan dengan
mengaitkan sesuatu yang menunjukkan kesempurnaan.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ
وَهُوَ خَادِعُهُمْ (سورة النساء: 142)
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah
akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)
Maksudnya adalah menipu orang-orang munafik.
Dia berfirman,
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا
لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ
اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (سورة الأنفال: 30)
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy)
memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau
membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah
menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS.
Al-Anfal: 30)
Itu merupakan makar terhadap musuh-musuh Allah yang telah
melakukan makar terhadap Raslullah shallallahu alaihi wa sallam.
Kemudian Dia berfirman tentang
orang-orang munafik;
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا
آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ
إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ * اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ
فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (سورة البقرة: 14-15)
“Dan bila mereka berjumpa dengan
orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila
mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan:
“Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.”
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka
terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS. Al-Baqarah: 14-15)
Ini merupakan bentuk penghinaan terhadap
orang-orang munafik.
Maka, sifat-sifat tersebut dianggap
sempurna dalam susunan redaksi demikian. Karena itu dapat dikatakan bahwa
Allah menghina orang-orang munafik, memperdayi mereka serta berbuat makar
terhadap musuh-musuh-Nya… dan semacamnya. Akan tetapi, tidak boleh Allah
disifati dengan sifat; makar, penipu secara mutlak, karena ketika itu sifat
tersebut tidak dianggap sempurna.
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah
ditanya, apakah Allah dapat disifati dengan sifat maker, atau diberi nama
dengan sifat tersebut?
Beliau menjawab;
“Allah tidak disifati dengan sifat maker kecuali jika
dikaitkan. Allah tidak boleh disifati dengan sifat itu secara mutlak. Allah
Ta’ala berfirman,
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ
مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (سورة الأعراف: 99)
“Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang
yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)
Dalam ayat ini menunjukkan bahwa Allah memiliki maker. Yang
dimaksud maker adalah menimpakan sesuatu kepada lawan dengan cara yang tidak
dia ketahui. Di antaranya adalah seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits
riwayat Bukhari, “Perang itu adalah tipudaya.”
Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana Alalh disifati dengan
sifat maker padahal secara zahir sifat ini tercela.”
Maka dikatakan, “Makar yang dimaksud di sini adalah terpuji,
yaitu kekuatan untuk melakukan tipu daya dan bahwa Dia pasti dapat
mengalahkan musuhnya. Karena itu
Allah tidak disifati dengan sifat tersebut secara mutlak. Maka tidak boleh
anda mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala suka menipu.” Akan tetapi anda
hanya boleh menyebutkan sifat ini dalam posisi memuji. Seperti dalam firman
Allah Ta’ala,
وَيَمْكُرُونَ
وَيَمْكُرُ اللَّهُ (سورة الأنفال: 30)
“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya
itu.” (QS. Al-Anfal: 30)
وَمَكَرُوا مَكْراً وَمَكَرْنَا مَكْراً
وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (سورة النمل: 50)
“Dan merekapun merencanakan makar dengan
sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak
menyadari.” (QS. An-Naml: 50)
Akan tetapi, sifat ini juga tidak boleh
dinafikan dari Allah secara mutlak. Akan tetapi disebutkan sifat tersebut
dalam posisi pujian. Akan tetapi pada posisi yang didalamnya tidak
mengandung pujian, maka Dia tidak disifati dengan sifat tersebut. Demikian
pula halnya, Allah tidak diberi nama dengan nama-nama seperti itu. Maka
tidak boleh dikatakan, “Sesungguhnya di antara nama-nama Allah adalah
Al-Makir (penipu). Maka makar, merupakan sifat perbuatan Allah, karena
terkait dengan kehendak Allah Ta’ala.” (Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, 1/170)
Beliau juga ditanya, “Apakah Allah
disifati dengan sifat khianat dan penipu seperti dalam firman Allah Ta’ala,
“Mereka menipu Allah dan Dia yang menipu mereka.”
Beliau menjawab, “Adapun khianat, maka
Allah tidak boleh sama sekali disifati dengan sifat seperti itu. Karena
sifat ini sama sekali tercela. Karena itu artinya adalah makar saat diberi
amanah. Itu tercela. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ يُرِيدُوا خِيَانَتَكَ فَقَدْ
خَانُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
(سورة الأنفال: 71)
“Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan
itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, Maka Sesungguhnya mereka telah
berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa
terhadap mereka. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS.
Al-Anfal: 71)
Dia tidak mengatakan, “Kemudian dia
berbuat khianat kepada mereka.”
Adapun tipu daya, itu seperti makar.
Allah disifati demikian dalam posisi terpuji, namun tidak disifati dengannya
secara mutlak.
Firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ
اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ (سورة النساء: 142)
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah
akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)
Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, 1/171
Wallahua’lam
.
