Apakah dibolehkan menyalurkan zakat harta untuk membayar utang kartu kredit?
Segala puji bagi Allah
Pertama:
haram menggunakan “kartu kredit” yang menyebabkan
terkena denda jika terlambat dalam pembayaran pinjaman, karena termasuk
praktek riba terlarang. Telah di jelaskan secara rinci mengenai kartu ini
dalam jawabn soal no (106245)
Kedua:
Gharim atau orang yang terlilit hutang memang termasuk dalam kategori 8
asnaf yang mendapat dana zakat untuk melepaskannya dari lilitan hutangnya
itu. Dalam Al-Quran, telah disebutkan 8 kelompok yang berhak menerima zakat
dan salah satuya adalah: Al-Gharimin. Yang di maksud ghorimin adalah “Bagi
mereka yang meminjam untuk membiayai kebutuhannya dan di pakai untuk
kemaslahatnya (Hutangnya di dalam masalah kebaikan) kemudian tidak mampu
membayar hutangnya. Maka dia di beri zakat untuk membayar hutangnya sesuai
kadar yang dia tidak mampu membayarnya. Dengan syarat orang yang terlilit
hutang, hutangnya bukan untuk maksiat. Barang siapa yang berhutang dalam
kemaksiatan seperti minuman keras, judi riba maka tidak boleh diberikan
zakat padanya kecuali dia bertaubat
dan berhenti dari dosa ini dan menyesalinya serta bertekad
untuk tidak melakukannya lagi. Dengan demikian tidak ada yang salah
pemberian zakat kepadanya dalam rangka membantu dia untuk bertobat.
Syekh
Mardawi rahimahullah berkata: “Dana zakat tidak diberikan kepada
orang yang berhutang dalam maksiat, tanpa ada khilaf,” ( Al-Insaf: 3/247)
Dan berkata
Syaukani rahimahullah: ” adapun jika utangnya bukan untuk maksiat
maka boleh menerima zakat,karena Dana zakat tidak diberikan kepada orang
yang berhutang dalam maksiat kepada Allah (As-Sail Al-Jarrar:
2/59)
Dikarenakan
pinjaman melalui kartu kredit itu haram maka tidak boleh dana zakat
diberikan untuk membayarnya, kecuali jika dia bertaubat dengan sebenar-benar
taubatd, menyesal dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Jika dia
menunjukkan kebenaran tobatnya, maka dia berhak mendapatkan bantuan dana
zakat untuk melepaskannya dari hutang yang melilitnya.
Imam
Al-Mawardi Rahimahullah berkata: “Jika dia tidak bertaubat dan masih
melakukan kemaksiatan maka tidak masuk kriteria seorang gharim (terlilit
hutang) yang berhak mendapatkan dana zakat,karena terhalang oleh kemaksiatan
dan tidak boleh menolongnnya melunasi hutangnya (AlHawi, 8/508)
Syeikh Muhammad bin utsaimin
rahimahullah ditanya tentang sesorang yang berhutang untuk masalah
yang haram apakah berhak mnerima dana zakat ?
Beliau menjawab, “Jika dia
bertaubat berhak mendapatkan dana zakat, jika belum bertaubat tidak berhak
mendapatkan dana zakat karena termasuk menolong di
dalam hal yang haram. Karena, jika
dia diberikan zakat, dia akan berhutang kembali.” (Asysyarhu Almumti’,
6/235)
Berkata DR.
Umar Sulaiman Asqor: “Seseorang yang berhutang dengan riba tidak berhaq atas
dana zakat dan tidak termasuk kriteria ghorimin, kecuali jika berrtaubat
dari praktek ribawi. (Symposium penelitian ke lima
tentang masalah masalah zakat kontemporer hal 210).
