Apakah hak isteri yang menjadi kewajiban suaminya dalam Al-Quran dan Sunah? Di sisi lain, apa kewajiban suami terhadap isterinya dan sebaliknya?

Alhamdulillah.

Islam telah mewajibkan kepada suami untuk memenuhi hak-hak isterinya, begitu
pula sebaliknya.  Di antara kewajiban ada yang sifatnya bersamaan berlaku
bagi suami isteri. Kami akan sebutkan hak-hak suami isteri satu sama lain
berdasarkan Al-Quran dan Sunah dan penjelasan para ulama.

Pertama:

Hak-hak khusus isteri  yang menjadi kewajiban suaminya yang bersifat harta,
yaitu: Mahar, nafkah dan tempat tinggal.

Adapun hak yang bersifat non harta adalah bersifat adil dalam pembagian  di
antara para isteri (jika berpoligami), memperlakukan dengan baik serta tidak
menyakiti isteri.

1. Hak-hak Harta;

a.     

Mahar, yaitu harta yang berhak didapatkan seorang isteri pada saat akad atau
saat mulai tinggal bersama. Ini merupakan hak yang wajib bagi suami atas
isterinya.

Firman Allah Taala:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
(سورة النساء: 4)

“Berikanlah
maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan
penuh kerelaan.” QS An-Nisaa’: 4

Disyariatkannya mahar merupakan petunjuk betapa agungnya akad ini sekaligus
sebagai penghormatan dan pemuliaan terhadap wanita.

Mahar bukanlah syarat dalam akad pernikahan, bukan juga merupakan rukun
nikah menurut jumhur fuqoha. Akan tetapi dia merupakan konsekwensi yang
harus dilakukan akibat pernikahan. Jika akad nikah terlaksana tanpa
menyebutkan mahar, maka pernikahannya sah berdasarkan pendapat jumhur ulama,
berdasarkan firmnan Allah Taala,

لَّا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن طَلَّقْتُمُ
النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً  (سورة
البقرة: 236)

“Tidak
ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan
isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu
menentukan maharnya.” QS. Al-Baqarah: 236

Maka
dibolehkannya talak sebelum digauli dan sebelum disebutkan jumlah mahar,
menunjukkan bahwa boleh tidak disebutkan mahar dalam akad.

Jika
suami menyebutkan jumlah mahar dalam akad, maka dia wajib memberinya. Jika
tidak disebutkan, maka wajib baginya mahar mitsl, maksudnya mahar yang
jumlahnya biasa diberikan kepada wanita-wanita pada masanya.

b.     

Nafkah

Para
ulama Islam sepakat bahwa suami wajib memberi nafkah kepada isterinya dengan
syarat isterinya dapat dia gauli. Jika dia menolak digauli atau membangkang,
maka dia tidak berhak mendapatkan nafkah.

Hikmah dalam wajibnya nafkah bagi isteri adalah bahwa seorang isteri berada
di bawah kekuasaan suami berdasarkan akad nikah, dia tidak boleh keluar
rumahnya kecuali atas izin suaminya untuk bekerja. Maka dia wajib memberi
nafkah kepada isterinya dan memberi kecukupan kepadanya. Demikian pula,
nafkah adalah karena isterinya bersedia digauli.

Yang
dimaksud dengan nafkah adalah, menyediakan apa yang dibutuhkan seorang
isteri, baik berupa makanan, tempat tinggal. Maka wajib bagi suami
memberikan nafkah kepada isterinya, walau isterinya kaya. Berdasarkan firman
Allah Taala,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ
وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (سورة البقرة: 233)

“Dan kewajiban ayah
memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” QS. Al-Baqarah:
233

 Juga
berdasarkan firman Allah Taala,

 لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍۢ مِّن سَعَتِهِ .
وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُۥ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ (سورة
الطلاق: 7)
 

“Hendaklah
orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang
disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan
Allah kepadanya.” QS. At-Tolaq: 7

Terdapat dalam sunah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada
Hindun binti Utbah, isteri Abu Sufyan yang mengadu kepada beliau karena
suaminya tidak memberikan nafkah,

خذي ما يكفيكِ وولدَكِ بالمعروف

“Ambillah apa yang cukup bagimu dan untuk anakmu dengan cara yang ma’ruf.”

Dari
Aisyah dia berkata, “Hindun binti Utbah, isteri Abu Sufyan masuk menemui
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya Abu Sufyan orang yang kikir, dia tidak memberiku nafkah yang
cukup untukku dan anakku, kecuali dari hartanya yang aku ambil tanpa
sepengetahuannya, apakah hal itu dibolehkan?’ Maka Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda,  “Ambillah apa yang cukup bagimu dan untuk anakmu
dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari, no. 5049 dan Muslim, no. 1714)

Dari
Jabir sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam
khutbah Wada,

فاتقوا الله في النساء فإنكم أخذتموهن بأمان
الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله ، ولكم عليهن ألا يوطئن فرشكم أحدا تكرهونه ،
فإن فعلن ذلك فاضربوهن ضربا غير مبرح ، ولهن عليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف (
رواه مسلم، رقم 1218)

“Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah terhadap isteri kalian, karena
kalian mengambil mereka dengan  perlindungan Allah dan menghalalkan
kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Dan kalian memiliki hak yang menjadi
kewajiban mereka untuk tidak mempersilahkan seorangpun di ranjangnya orang
yang kalian benci. Jika mereka lakukan hal itu, maka pukullah mereka dengan
pukulan yang tidak melukai. Dan mereka memiliki hak yang menjadi kewajiban
kalian berupa nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Muslim, no.
1218)

c.      

Tempat tinggal.

Hal
ini termasuk hak isteri, yaitu bagaimana seorang suami menyediakan baginya
tempat tinggal sesuai kemampuan dan kelapangannya. Firman Allah Taala,

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ
وُجْدِكُمْ  (سورة الطلاق: 6)

“Tempatkanlah mereka
(para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu. “ QS. At-Tolaq:
6

2.
Hak Non Materi

a.
Adil antara para isteri. Jika seorang suami memiliki beberapa isteri, maka
termasuk hak isteri adalah bersikap adil dalam gilirang di antara para
isterinya, dalam hal bermalam, nafkah dan pakaian.

b.
Menggauli dengan baik.

Wajib bagi suami bersikap baik dalam bersikap dengan isterinya dan bersikap
lembut terhadapnya serta memberikan pemberian yang dapat melunakkan hatinya,
berdasarkan firman Allah Taalah,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (سورة
النساء: 19)

“Dan
bergaullah dengan mereka secara patut.” QS. An-Nisa’ : 19

Juga
firman Allah Taala,

وَلَهُنَّ مِثلُ الَّذِي عَلَيهِنَّ
بِالمَعرُوفِ (سورة البقرة: 228)

“Dan
para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara
yang ma’ruf.” QS. Al-Baqarah: 228

Dalam sunah, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

استوصوا بالنساء  ( رواه البخاري، رقم
3153  ومسلم، رقم 1468)

“Terimalah nasehatku (agar kalian berbuat baik kepada) isteri.” (HR. Bukhari,
no. 3153, Muslim, no. 1468)

Berikut ini merupakan contoh baiknya perlakuan Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersama isteri-isterinya, dan beliau adalah teladan,

1.     

Dari
Zainab binti Abi Salamah, berkata kepadanya Ummu Salamah,

حضت وأنا مع النبي صلى الله
عليه وسلم في الخميلة فانسللت فخرجت منها فأخذت ثياب حيضتي فلبستها ، فقال لي
رسول الله صلى الله عليه وسلم : أنفستِ ؟ قلت : نعم ، فدعاني فأدخلني معه في
الخميلة
. قالت : وحدثتني أن النبي
صلى الله عليه وسلم كان يقبلها وهو صائم ، وكنت أغتسل أنا والنبي صلى الله عليه
وسلم من إناء واحد من الجنابة (رواه البخاري، رقم 316 ومسلم، رقم 296
)

 “Saat aku berada dalam satu selimut bersama Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam, aku mengeluarkan darah haid, kemudian pelan-pelan aku keluar dari
selimut untuk mengambil pakaian (khusus haid)  dan mengenakannya. Maka
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Apakah kamu
sedang haid?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu beliau memanggilku dan mengajakku
masuk ke dalam selimut.”

Ummu
Salamah juga menyampaikan kepadaku bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam
menciumnya saat beliau sedang puasa, dan aku pernah mandi  junub bersamanya
dari satu wadah.” (HR. Bukhari, no. 316, Muslim, no. 296)

2.     

Dari
Urwah bin Zubair, dia berkata, Aisyah berkata,

والله لقد رأيت رسول الله صلى الله عليه
وسلم يقوم على باب حجرتي والحبشة يلعبون بحرابهم في مسجد رسول الله صلى الله
عليه وسلم يسترني بردائه لكي أنظر إلى لعبهم ثم يقوم من أجلي حتى أكون أنا التي
أنصرف ، فاقدروا قدر الجارية الحديثة السن حريصة على اللهو (رواه البخاري، رقم
443  ومسلم، رقم 892)

“Demi Allah, sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
berdiri di depan pintu kamarku sementara orang-orang Habasyah sedang
mempermainkan tombak-tombak mereka di masjid Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam. Dia menutupku dengan selendangnya, akan tetapi aku melihat mereka
yang bermain, kemudian beliau berdiri demi aku (agar aku lebih leluasa
melihat) sampai aku sendiri yang berhenti. Karena itu berilah keleluasaan
kepada anak-anak perempuan untuk bermain.” (HR. Bukhari, no. 443, Muslim,
no. 892)

3.     

Dari
Aisyah, Ummul Mukminin radhiallahu anha,

أن رسول الله صلى الله عليه
وسلم كان يصلي جالسا فيقرأ وهو جالس فإذا بقي من قراءته نحو من ثلاثين أو
أربعين آية قام فقرأها وهو قائم ثم يركع ثم سجد يفعل في الركعة الثانية مثل ذلك
فإذا قضى صلاته نظر فإن كنت يقظى تحدث معي وإن كنت نائمة اضطجع
.(رواه
البخاري، رقم 1068)

sesungguhnya Rasulullah shalat dalam keadaan duduk, lalu beliau membaca (surat)
dalam keadaan duduk, jika bacaannya tinggal sekitar tiga puluh  atau
empatpuluh ayat, maka dia berdiri dan membacanya dalam keadaan berdiri.
Kemudian beliau ruku, lalu sujud, kemudian dia lakukan hal yang sama di
rakaat kedua. Jika dia selesai dari shalatnya, maka dia perhatikan, jika aku
bangun, dia berbincang-bincang dengan aku dan jika aku tidur, dia berbaring.”
(HR. Bukhari, no. 1068)

C.
Tidak menyakiti isteri.

Ini
merupakan prinsip ajaran Islam. Jika menyakiti orang lain saja diharamkan,
maka lebih diharamkan lagi menyakiti isteri.

Dari
Ubadah bin Shamit, sesungguhnya Rasulullah telah menetapkan,

أن لا ضرر ولا ضرار (رواه ابن ماجه، رقم
2340) .

“Sesungguhnya tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan (baik bagi
diri sendiri ataupun orang lain).” (HR. Ibnu Majah, no. 2340)

Hadits ini dishahihkan oleh Ahmad, Hakim, Ibnu Shalah dan lainnya.

Lihat; Khulashah Al-Badrul Munir, 2/438

Termasuk perkara yang diperingatkan oleh syariat dalam masalah ini adalah
tidak boleh melakukukan pukulan yang melukai.

Dari
Jabir bin Abdullah dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda
dalam haji wada,

فاتقوا الله في النساء فإنكم أخذتموهن بأمان
الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله ولكم عليهن أن لا يوطئن فرشكم أحدا تكرهونه
فإن فعلن ذلك فاضربوهن ضربا غير مبرح ولهن عليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف

 (رواه مسلم،
رقم  1218)

“Hendaklah
kalian bertakwa kepada Allah terhadap isteri kalian, karena kalian mengambil
mereka dengan  perlindungan Allah dan menghalalkan kehormatan mereka dengan
kalimat Allah. Dan kalian memiliki hak yang menjadi kewajiban mereka untuk
tidak mempersilahkan seorangpun di ranjangnya orang yang kalian benci. Jika
mereka lakukan hal itu, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak
melukai. Dan mereka memiliki hak yang menjadi kewajiban kalian berupa nafkah
dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Muslim, no. 1218)

Kedua: Hak suami yang menjadi kewajiban isterinya

Hak
suami yang menjadi kewajiban isteirnya adalah merupakan hak yang sangat
agung. Bahkan haknya yang menjadi kewajiban isteri lebih besar dari hak
isteri yang menjadi kewajiban suami, berdasarkan firman Allah Taala,

ولهن مثل الذي عليهن بالمعروف وللرجال عليهن
درجة (سورة البقرة: 228)

“Dan
mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang ma’ruf. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 288)

Al-Jashash
berkata, “Allah Taala mengabarkan bahwa ayat ini bahwa masing-masing
pasangan suami isteri memiliki hak dan hak suami yang memiliki hak yang
menjadi kewajiban isterinya yang tidak menjadi hak isteri atas suaminya.”

Ibnu
Arabi berkata, “Ini merupakan teks yang menunjukkan bahwa suami diutamakan
dalam hak-hak pernikahan melebihi hak-hak isterinya.”

Di
antara hak-hak suami adalah;

a.     

Taat.

Allah Taala telah menjadikan laki-laki sebagai pemimpin antas isterinya, dia
hak memberikan perintah, pengarahan dan pemeriharaan. Sebagaimana halnya
seorang pemimpin bersikap kepada rakyatnya, berdasarkan kekhususan yang
Allah berikan kepada laki-laki, baik secara fisik maupun akal dan juga
berdasarkan apa yang Allah wajibkan kepada para suami berupa kewajiban
memberikan nafkah. Allah Taala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ
أَمْوَالِهِمْ  (سورة النساء: 34)

“Kaum
laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),
dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
QS. An-Nisa’: 34

Ibnu
Katsir berkata, Ali bin Abi Thalhah bin Abbas berkata,

الرجال قوامون على النساء

‘Kaum
laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita’

Maksudnya adalah, mereka sebagai pemimpin bagi isterinya. Sang isteri harus
mentaati apa yang dia perintahkan terhadap apa yang Allah perintahkan untuk
ditaati. Taatnya dalam bentuk bersikap baik terhadap keluarga dan menjaga
hartanya.

Demikian pula halnya, hal itu dinyatakan oleh Muqatil, As-Suddy dan
Adh-Dhahhak. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/492)

b.     

Bersedia digauli.

Termasuk hak seorang suami atas istrinya adalah bersedia digauli. Jika
seorang wanita telah menikah dan dia sudah dapat digauli, maka dia wajib
menyerahkan dirinya kepada suaminya jika sang suami menghendakinya. Hal
tersebut dengan menyerahkan mahar yang seharusnya disegerakan, lalu memberi
waktu kepada sang isteri untuk mempersiapkan diri apa yang dia butuhkan dua
atau tiga hari, sebagaimana adat yang berlaku

Jika
seorang istri menolak digauli oleh suaminya, maka dia telah melakukan
pelanggaran dan dosa besar, kecuali jika dia memang berhalangan secara
syar’i, seperti haid, puasa fardhu, sakit dan semacamnya.

Dari
Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam bersabda,

إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت فبات
غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى تصبح  (رواه البخاري، رقم 3065 ومسلم، رقم
1436)

“Jika seorang suami mengajak isterinya ke ranjangnya (mengajak berjimak)
lalu isterinya menolaknya, sehingga sang suami melewati malam dalam keadaan
marah, maka malaikat melaknatnya hingga shubuh.” (HR. Bukhari, no. 3065,
Muslim, no. 1436)

c.      

Tidak mengizinkan orang yang tidak disukai masuk ke rumahnya.

Termasuk hak suami yang menjadi kewajiban isterinya adalah tidak
mempersilahkan seseorang yang tidak disukai suaminya untuk masuk ke rumahnya.

Dari
Abu Hurairah radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,

لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا
بإذنه ، ولا تأذن في بيته إلا بإذنه ( رواه البخاري، رقم 4899 ومسلم، رقم  1026
)

“Tidak dihalalkan bagi seorang wanita untuk berpuasa sementara suaminya ada
di sampingnya kecuali dengan izinnya, dan tidak mengizinkan (seseorang masuk)
ke rumahnya kecuali atas izinnya.” (HR. Bukhari, no. 4899, Muslim, no. 1026)

Dari
Sulaiman bin Amr bin Al-Ahwas, bapakku telah menyampaikan kepadaku bahwa
beliau ikut melakukan haji wada bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam, maka beliau mengucapkan pujian kepada Allah lalu memberikan
peringatan dan nasehat. Kemudian beliau berkata,

َاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا
غَيْرَ ذَلِكَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ فَإِنْ فَعَلْنَ
فَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ
فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا أَلَا إِنَّ لَكُمْ
عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا فَأَمَّا
حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ
وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ أَلَا وَحَقُّهُنَّ
عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ   (
رواه الترمذي، رقم  1163 
وقال : هذا حديث حسن صحيح ، وابن ماجه، رقم 1851).

“Berbuat baiklah terhadap wanita, karena mereka adalah tawanan kalian.
Kalian tidak berhak atas mereka lebih dari itu, kecuali jika mereka
melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, jauhilah
mereka di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak
menyakitkan. Jika kemudian mereka menaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Ketahuilah; kalian memiliki hak
atas istri kalian dan istri kalian memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas
istri kalian ialah dia tidak boleh memasukkan orang yang kalian benci ke
tempat tidur kalian. Tidak boleh memasukan seseorang yang kalian benci ke
dalam rumah kalian. Ketahuilah; hak istri kalian atas kalian ialah kalian
berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan (kepada)
mereka.” Abu Isa berkata; “Ini merupakan hadits hasan shahih. Arti dari ‘Awaanun’
yaitu; mereka adalah tawanan kalian..”
(HR. Tirmizi, no. 1163, dia berkata, “ini adalah hadits hasan shahih dan
Ibnu Majah, no. 1851)

 Dari
Jabir dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ
فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ
فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ
فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ
ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ
بِالْمَعْرُوف (رواه مسلم، رقم 1218)

“Bertakwalah kalian kepada Allah dalam memerlakukan isteri. Karena kalian
mengambil mereka dengan izin Allah, dan kehormatan mereka halal bagimu
dengan mematuhi firman-firman Allah. Setelah itu, kamu punya hak atas mereka,
yaitu supaya mereka tidak membolehkan orang lain menduduki tikarmu. Jika
mereka melanggar, pukullah mereka dengan cara yang tidak membahayakan.
Sebaliknya mereka punya hak atasmu. Yaitu nafkah dan pakaian yang pantas.”
(HR. Muslim, no. 1218)

d.     

Tidak keluar dari rumah kecuali atas izin suami.

Merupakan hak suami atas isterinya adalah tidak keluar rumah kecuali atas
izinnya.

Ulama dari kalangan mazhab Syafii dan Hambali berkata, “Dia tidak boleh
keluar untuk menjenguk bapaknya kecuali atas izin suami, dan suami berhak
melarangnya. Karena taat kepada suami adalah wajib. Maka tidak dibolehkan
meninggalkan yang wajib dengan sesuatu yang tidak wajib.

e.     

Memberi hukuman

Suami berhak menghukum isterinya apabila membangkang perintahnya atas
perkara yang baik bukan perkara kemaksiatan. Karena Allah Taala
memerintahkan suami untuk menghukum isterinya dengan mengisolirnya atau
memukulnya apabila mereka tidak taat kepadanya. 

Sedangkan para ulama dari kalangan mazhab Hanafi menyebutkan empat perkara
yang dibolehkan bagi suami untuk menghukum isterinya dengan memukulnya, di
antaranya; “Tidak mau berhias jika suaminya ingin agar isterinya berhias,
tidak memenuhi ajakan suaminya untuk berhubungan intim padahal dia sedang
suci, meninggalkan shalat dan keluar dari rumah tanpa seizinnya.”

Di
antara dalil dibolehkannya menjatuhkan hukuman adalah; Firman Allah Taala,

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ
فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ (سورة النساء:
34)

“Wanita-wanita yang
kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka
di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.” QS. An-Nisa’ : 34

Dan firman Allah Taala,

ييَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا  (سورة التحريم: 6)

“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
QS. At-Tahrim: 6

Ibnu
Katsir berkata, “Qatadah berkata, ‘Engkau perintahkan mereka untuk taat
kepada Allah dan melarang mereka untuk bermaksiat kepada Allah dan agar
engkau laksanakan perintah Allah atas mereka dan membantu mereka untuk itu.
Apabila engkau lihat kemaksiatan mereka lakukan, hendaknya engkau cegah dari
mereka serta peringatkan mereka dari perbuatan tersebut.”

Demikian pula Adh-Dahhak dan Muqatil berkata, “Kewajiban seorang muslim
adalah mengajarkan keluarganya dari kerabatnya serta budak-budaknya apa yang
Allah wajibkan kepada mereka dan apa yang Allah larang dari mereka.” (Tafsir
Ibnu Katsir, 4392)

f.
Pelayan isteri terhadap suaminya. Dalil dalam hal ini banyak, sebagiannya
telah dijelaskan      sebelumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Wajib melayani suaminya dalam hal yang
ma’ruf, yang biasa dilakukan seorang isteri kepada suaminya. Perkaranya
dapat berbeda sesuai perbedaan kondisi. Pelayanan yang diberikan orang
kampung berbeda dengan pelayanan yang diberikan orang kota . Pelayanan
terhadap wanita yang kuat berbeda dengan pelayanan yang diberikan wanita
yang lemah.” (Al-Fatawa Al-Kubro, 4/561)

g.
Menyerahkan dirinya.

Jika
akad nikah telah terpenuhi syarat dan terlaksana dengan sah, maka wajib bagi
wanita menyerahkan dirinya kepada suami dan mempersilahkannya untuk
menggaulinya. Karena dengan adanya akad, suami berhak mendapatkan pengganti
berupa hak untuk menggaulinya sebagaimana isteri berhak mendapatkan
pengganti berupa mahar.

h.
Memperlakukan pasangan dengan baik. Yaitu berdasarkan firman Allah Taala,

Al-Qurthubi
berkata, “Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Para isteri berhak mendapatkan
perlakuan yang baik dari para suaminya, seperti halnya isteri wajib
memperlakukan para suami dengan baik berupa ketaatan terhadap apa yang
diwajibkan kepada mereka terhadap suaminya.”

Ada
juga yang mengatakan, “Para isteri memiliki  hak atas para suaminya yaitu
tidak boleh disakiti sebagaimana para isteri memiliki kewajiban terhadap
para suaminya. Hal ini dinyatakan oleh Ath-Thabari.”

Ibnu
Zaid berkata, “Hendaknya kalian bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan
isteri sebagaimana para isteri hendaknya bertakwa kepada Allah taala dalam
memperlakukan kalian.”

Makna dari ungkapan-ungkapan di atas berdekatan mencakup seluruh hak-hak
suami isteri (Tafsir Al-Qurthubi, 3: 123,124)

Wallahu a’lam.