Apakah dahulu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam melakukan perbuatan menyenangkan hati? Ataukah semua kehidupannya adalah ketaatan dan ibadah?

Alhamdulillah

Ya, dahulu Nabi sallallahu alaihi wa sallam melakukan
perbuatan yang menyenangkan dirinya. Meskipun begitu seluruh kehidupan
beliau untuk Allah Tuhan seluruh alam. Sebagaimana firman Allah Azza wa
jalla:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ (سورة الأنعام: 162)

“Katakanlah: Sesungguhnya
shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam.” (QS. Al-An’am: 162)

Maka seluruh kehidupan mulia
beliau sallallahu alaihi wa sallam untuk Allah. Kalau beribadah, maka hal
itu jelas kalau hal itu untuk Allah. Adapun selain ibadah, Nabi sallallahu
alaihi wa sallam pernah berlomba lari dengan Aisyah, membuat tertawa
istri-isterinya, lemah lembut dan bermuka masam kepada istrinya.

Diriwayatkan Muslim, no. 670,
Abu Daud, no. 1294, Nasa’i, no. 1358,  dari Jabir bin Samurah,

أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
لَا يَقُومُ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ الصُّبْحَ أَوْ الْغَدَاةَ
حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، فَإِذَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ قَامَ ، وَكَانُوا
يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِي أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وينشِدُون الشّعْر
فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ

“Bahwa Rasulullah sallallahu
alaihi wa sallam tidak beranjak dari tempat shalatnya dari  shalat subuh
sampai terbit matahari. Ketika telah terbit matahari beliau bangkit. Mereka
saling berbincang-bincang membicarakan masa-masa jahiliyah dan
menyenandungkan syair sehingga mereka tertawa dan beliau tersenyum.”

Diriwayatakan oleh Tirmizi,
1990 dan dishahihkan dari Abu Hurairah, dia berkata, mereka mengatakan,
“Wahai Rasulullah (mengapa) engkau bersenda gurau dengan kami.” Beliau
mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”
(Dishahihkan oleh Syekh Al-Albany dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 265)

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah,
no. 144, dari Ya’la bin Murroh.

أَنَّهُمْ خَرَجُوا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِلَى طَعَامٍ دُعُوا لَهُ ، فَإِذَا حُسَيْنٌ يَلْعَبُ فِي
السِّكَّةِ قَالَ : فَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَمَامَ الْقَوْمِ وَبَسَطَ يَدَيْهِ ، فَجَعَلَ الْغُلَامُ يَفِرُّ هَا هُنَا
وَهَا هُنَا ، َيُضَاحِكُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
حَتَّى أَخَذَهُ فَجَعَلَ إِحْدَى يَدَيْهِ تَحْتَ ذَقْنِهِ وَالْأُخْرَى فِي
فَأْسِ رَأْسِهِ فَقَبَّلَهُ (وحسنه الألباني في “صحيح ابن ماجة”)

“Mereka keluar bersama Nabi
sallallahu alaihi wa sallam ke (acara) undangan makan. Tiba-tiba ada Husain
bermain-main di pagar. Maka Nabi sallallahu’alaihi wa sallam maju ke depan
orang-orang dan membentangkan kedua tangannya. Anak kecil itu lari ke sana
kemari. Lalu Nabi sallallahu alaihi wa sallam membuatnya tertawa hingga
akhirnya  beliau menggendongnya dan menjadikan salah satu tangannya di bawah
dagunya sementara yang lainnya di belahan kepalanya kemudian beliau
menciumnya.” (Dihasankan oleh Al-Albany di Shahih Ibnu Majah)

Dari Anas bin Malik,
seseorang dari penduduk desa –dia bernama Zahir bin Haram- dia memberikan
hadiah kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Maka Rasulullah sallallahu
alaihi wa sallam mempersiapkan untuknya ketika dia akan keluar. Rasulullah
sallallahu’alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya Zahir dari desa dan kami
kita kota.” Kemudian Nabi sallallahu alaihi wa sallam mendatanginya ketika
dia menjual barangnya, lalu beliau peluk dari belakang –sementara orang ini
tidak melihatnya-. Dia berkata, “Lepaskan diriku, siapa ini?” Maka dia
menoleh kepadanya, ketika dia mengetahui beliau adalah Nabi sallallahu
alaihi wa sallam beliau menempelkan punggungnya dengan dadanya. Maka
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berkata, “Siapa yang mau membeli
budak ini?” Zahir mengatakan, “Engkau akan mendapatkan diriku tidak laku
wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Akan tetapi anda –di sisi Allah-
bukannya tidak laku.” Atau beliau mengatakan,”Akan tetapi anda –di sisi
Allah- mahal.”

(HR. Ahmadi dalam Musnad,
12468 cetakan Ar-Risalah, Ibnu Hibban, 5790, At Tirmizi di Syamail, 239 dan
dinyatakan shahih oleh Al-Albany)

Diriwayatkan Ahmad, no. 24334
dari Aisyah berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda waktu
itu –maksudnya di hari orang Habasyi bermain di masjid-:

لَتَعْلَمُ يَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً إِنِّي
أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ (وصححه الألباني في “صحيح الجامع”، رقم
3219)

“Agar orang Yahudi mengetahui  bahwa dalam agama kami itu ada
kelonggaran. Sesungguhnya saya diutus dengan lurus (hanif) dan toleransi.”
(Dinyatakan Shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 33219)

Riwayat tentang seputar itu banyak sekali. Imam At-Tirmizi
rahimahullah dalam kitabnya yang bermanfaaat dan bagus membuat dua bab
bermanfaat tentang hal itu. Salah satunya adalah ‘Bab tentang tertawanya
Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam’  dan bab lain ‘Bab tentang sifat
gurauan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam.’

Seseorang terkadang tidur, bermain-main atau mencumbu
istrinya. Kalau niatnya  baik, maka akan diberi pahala.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 4345 dari Muadz bin Jabal
radhiallahu berkata,

أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ ، فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي
كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي

“Adapun saya, kadang tidur dan kadang bangun. Maka aku
berharap pahala dari tidurku sebagaimana aku berharap pahala saat aku
bangun.”

Jika beliau demikian, bagaimana lagi dengan Rasulullah
sallallahu’alaihi wa sallam.

Untuk tambahan faedah silahkan merujuk soal jawab no.
143026.