Aku telah membaca dan mendengar beberapa kali tentang keutamaan orang yang merealisasikan iman kepada Allah, maka dari itu aku mohon anda menjelaskan kepadaku tentang makna iman kepada Allah agar membantuku untuk merealisasikan iman kepada Allah dan menjauhi apa saja yang bertentangan dengan manhaj Nabi dan para sahabat.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah
Iman kepada Allah Ta’ala maksudnya meyakini dengan
pasti tentang eksistensi Allah, rububiyah, uluhiyah, nama-nama dan sifat-Nya.
Iman kepada Allah Ta’ala mencakup 4 (empat) hal
, siapa yang mengimani empat hal ini, maka ia
telah beriman dengan sesungguhnya.
Pertama: Mengimani akan eksistensi-Nya (keberadaan-Nya).
Eksistensi (keberadaan) Allah Ta’ala ini dapat
dibuktikan dengan dalil fitrah, akal, apalagi dalil syar’inya yang banyak
sekali.
Dalil Fitrah. Setiap manusia
secara fitrah telah mengimani keberadaan penciptanya, tanpa didahului proses
berpikir atau belajar. Dan tidak berpaling dari kenyataan ini kecuali orang
yang di dalam hatinya ada penyakit. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda :
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ
يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua
orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani atau majusi.”
(HR; Bukhari, no: 1358 dan Muslim, no: 2658).
Dalil Akal. Setiap manusia baik
yang sudah ada maupun yang akan ada, pastilah ada pencipta yang
menciptakannya. Karena tidak mungkin sesuatu itu mengadakan dirinya sendiri,
dan tidak mungkin pula ia ada secara tiba-tiba (spontan). Mereka tidak
diciptakan tanpa ada asalnya, dan mereka tidak menciptakan dirinya sendiri.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :
﴿أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ
شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ﴾
“Apakah mereka ini diciptakan tanpa sesuatupun ataukah
mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri).”
(Q.S; Ath Thur : 35).
Yakni, mereka tidak diciptakan tanpa pencipta. Tidak pula
mereka menciptakan diri sendiri. Maka dari itu tertetapkan bahwa pencipta
mereka adalah Allah.
Oleh karena itu pada saat Jubair bin Muth’im mendengar Nabi
shallallahu alaihi wa sallam membaca surat Ath-Thur hingga ayat 37, ia
berkata (waktu itu ia masih dalam keadaan kafir, “Seolah-olah hatiku terbang
(meninggalkan jasad), dan itulah asal mula menetapnya iman di hati ini. HR.
Bukhari.
Kita ambilkan contoh untuk memperjelas persoalan ini.
Jika ada seseorang yang bercerita kepadamu mengenai istana
yang megah, yang dikelilingi oleh kebun-kebun indah dan mengalir di bawahnya
sungai-sungai. Ruangannya dipenuhi oleh dipan dan permadani serta diperindah
dengan segala warna penyempurna. Lalu ia berkata, “Istana ini dan segala
isinya adalah ada dengan sendirinya, atau ada dengan spontan tanpa ada yang
menciptakannya. Maka serta merta anda mengingkarinya dan mendustakan
ucapannya.
Jika demikian, bagaimana mungkin alam semesta yang luas, yang
meliputi bumi, langit, bintang-bintang dan ciptaan yang agung, sarat dengan
keteraturan, ia ada dengan sendirinya atau terjadi secara tiba-tiba tanpa
ada pencipta-Nya?
Dalil akal ini dapat dipahami oleh orang Arab badui yang
hidupnya di pedalaman, ia ungkapkan dengan bahasanya yang sederhana saat ia
ditanya, “Dengan apa engkau mengenal Tuhanmu?.”
Ia menjawab, “Adanya kotoran yang menandakan adanya unta,
dengan bekas tapak kaki yang menunjukan adanya kafilah yang telah mengadakan
perjalanan, langit yang menjulang tinggi, bumi yang terhampar luas, lautan
yang berombak. Bukankah itu semua menjadi bukti adanya Dzat yang Maha
Mendengar dan Maha Melihat?.
Kedua; mengimani rububiyah Allah Ta’ala.
Maksudnya meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala saja
sebagai Rabb, tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang membantu-Nya
(tauhid rububiyah).
Rabb artinya: Pencipta, Raja, dan Pengatur (pemelihara).
Tiada pencipta, raja dan pengatur urusan makhluk selain Allah. Allah
Ta’ala berfirman:
﴿أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ
وَالْأَمْرُ﴾
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.”
(Q.S; Al A’raf : 54).
Juga firman-Nya,
قُلْ
مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ
وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ
الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (31)
“Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari
langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan
penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala
urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu
tidak bertakwa kepada-Nya)?.” (QS. Yunus: 31).
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian
(urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu
tahun menurut perhitunganmu.” (QS. As-Sajdah: 5).
“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang
ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan
menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu,
kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain
Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”
(QS. Fathir: 13).
Renungkanlah, terdapat dalam surat al Fatihah ayat yang
ke-empat, “Maaliki yaumid din” (Yang menguasai hari pembalasan), dan tertera
dalam qira’at mutawatir (Maliki yaumid din”, kata “Malik” dibaca dengan
pendek.
Apabila kita padukan antara “Maaliki dengan Maliki”, keduanya
mengandung makna yang mengadakan. “Malik”, lebih dalam maknanya daripada
“Maalik” dalam kekuasaan dan kerajaan-Nya. Karena raja (di dunia) terkadang
hanya “label” saja tanpa ada kekuasaan untuk berbuat yang dia kehendaki.
Artinya dia tak memiliki kekuatan apapun untuk mengatur urusan apapun. Maka
pada saat itu ia menjadi raja, tetapi bukanlah raja yang sesungguhnya. Maka
jika Allah adalah “Maalik” dan “Malik”, maka sempurnalah Dia sebagai
Penguasa, dan Pengatur urusan (makhluk-Nya).
Ketiga; mengimani uluhiyah Allah.
Maksudnya Dia adalah sesembahan yang haq, tiada sekutu
bagi-Nya.
Ilah
artinya; Dzat yang pantas disembah dengan penuh kecintaan dan pengagungan.
Allah Ta’ala berfirman :
﴿وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ
إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ﴾
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, dan tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkani Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.” (Q.S; Al Baqarah :163).
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia
(yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan
orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan
melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18).
Setiap tuhan yang disembah selain Allah, maka
penyembahannya adalah bathil. Allah berfirman,
ذَلِكَ
بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ
الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (62)
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena
sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang
mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah,
Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al
Hajj: 62).
Sesembahan selain Allah disebut dengan ‘alihah’ tidak
memberikan hak kepadanya untuk diibadahi. Allah berfirman terkait dengan
“Latta” dan “Uzza” (yang disembah oleh masyarakat Quraisy), “Itu tidak
lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah
tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain
hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu
mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan
mereka.” (QS. An Najm: 23).
Allah Ta’ala mengisahkan Nabi Yusuf alaihis salam
yang sewaktu di penjara berkata kepada temannya, “Kamu tidak menyembah
yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek
moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang
nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah
memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40).
Tiada sesuatupun yang berhak untuk diesakan dan disembah
selain Allah. Dan tak satupun yang bersekutu dengan Allah dalam kepantasan
mendapatkan hak untuk diibadahi. Baik itu malaikat yang dekat dengan Allah,
tidak pula Nabi yang diutus. Untuk itu dakwah para Rasul dari yang pertama
sampai yang terakhir, seluruhnya mengajak umatnya untuk merealisasikan ‘laa
ilaaha illallah’.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا
إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ (25)
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu
melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak)
melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”
(QS. Al Anbiya’: 25).
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ
الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ
الْمُكَذِّبِينَ (36)
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,
maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan
ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka
berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS.
An Nahl: 36).
Akan tetapi orang-orang musyrik enggan dan menolak ajakan dan
dakwah ini, bahkan mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah. Mereka
menyembah sekutu-sekutu Allah tersebut, mereka minta pertolongan dan bantuan
kepadanya.
Keempat; mengimani nama-nama dan sifat Allah.
Maksudnya; Menetapkan nama-nama Allah Ta’ala dan
sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang telah ditetapkan Allah untuk-Nya dalam
kitab-Nya, atau melalui lisan Nabi-Nya dalam hadits-haditsnya, dengan tanpa
mengubah makna, meniadakan, menanyakan bagaimana hakikatnya dan
menyerupakannya. Allah Ta’ala berfirman
:
﴿وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
فَادْعُوهُ بِهَا﴾
“Hanya
milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
asma’ul husna itu.” (QS; Al A’raf : 180).
Ini merupakan dalil yang menunjukan adanya nama-nama bagi
Allah.
Sedangkan firman-Nya,
وَهُوَ
الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ
الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ (27)
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan,
kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali
itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di
langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Ar Rum: 27).
Ayat ini menunjukan sifat-sifat Allah Ta’ala yang Maha
Sempurna. Hal yang demikian itu karena “al matsalul a’la” adalah sifat yang
sempurna.
Kedua ayat di atas, secara umum menunjukan nama-nama dan
sifat-sifat Allah, sedangkan secara rinci, tersebut dalam banyak ayat dan
hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Nama-nama dan sifat Allah merupakan bagian dari salah satu
pintu ilmu. Maksudnya, bab nama-nama dan sifat Allah merupakan perkara yang
paling banyak diperselisihkan oleh umat Islam, di mana umat ini berbeda
pendapat dalam masalah ini dengan perbedaan yang cukup luas.
Dan sikap kita terhadap perbedaan ini adalah kembali kepada
perintah Allah Ta’ala, yakni merujuk kepada al Qur’an dan Sunnah,
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS.
An Nisa’: 59).
Berdasarkan ayat di atas, bahwa setiap perselisihan dan
perbedaan pendapat kita kembalikan kepada Allah (al Qur’an) dan kepada
Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dengan berpedoman
pada pemahaman salafus shalih, dari para sahabat dan tabi’in terkait dengan
ayat-ayat di atas (nama-nama dan sifat Allah). Karena mereka adalah generasi
umat ini yang paling mengetahui maksud kalam Allah dan sabda Nabi mereka.
Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud
radhiallahu anhu menggambarkan tentang para sahabat, “Jika kalian
ingin mengikuti Sunnah, maka ikutilah Sunnah orang yang telah wafat. Karena
yang masih hidup belum aman dari sapaan fitnah, mereka itulah para sahabat
Muhammad, yang paling bersih hatinya, dalam ilmunya, paling sedikit
kelemahannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menegakkan
agama-Nya, menyertai Nabi-Nya. Oleh karena itu, kenalilah hak-hak mereka,
berpegang teguhlah dengan petunjuk mereka. Karena mereka senantiasa berada
dalam petunjuk dan jalan yang lurus.”
Barangsiapa
yang menyelisihi manhaj salaf dalam masalah asma dan sifat Allah, maka ia
telah keliru dan tersesat jalannya serta telah mengikuti jalan yang tidak
dilalui oleh orang-orang mukmin dan ia berhak mendapatkan ancaman Allah
Ta’ala:
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,
Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan
Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali.” (QS. An Nisa: 115).
Dalam ayat yang lain, Allah mensyaratkan petunjuk-Nya bagi
orag-orang yang beriman seperti imannya para sahabat Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam. “Maka jika mereka beriman kepada apa
yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk;
dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan
(dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 137).
Siapa yang menentang dan menjauhi manhaj salaf, maka berarti
ia telah menjauhi hidayah Allah untuknya sebatas ia menjauhi manhaj salaf
dalam bab nama-nama dan sifat Allah ini.
Untuk itu, wajib bagi kita dalam bab asma’ dan sifat Allah;
menetapkan bagi Allah nama-nama dan sifat yang telah ditetapkan untuk
Diri-Nya atau yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya, dan memahami nash Kitab
dan Sunnah (dalam masalah ini) secara tekstual, mengimaninya seperti yang
diimani oleh para sahabat Nabi, mereka adalah umat yang terbaik dan paling
memahami ilmunya.
Yang perlu kita waspadai adalah, ada empat larangan yang
apabila kita terjatuh pada salah satunya, maka tidak akan terwujud makna
iman kepada nama-nama dan sifat Allah. Yakni; merubah nakna,
mengingkarinya, menyerupakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya dan menanyakan
bagaimana hakikatnya.
1.
At Tahrif (merubah
maknanya).
Maksudnya merubah makna nash dari al Qur’an dan Sunnah dari
makna yang sebenarnya (nama-nama dan sifat Allah) kepada makna lain, yang
tidak Allah dan Rasul-Nya kehendaki.
Misalnya, merubah makna “Tangan” dalam banyak nash, dan
artinya dirubah menjadi “nikmat” dan “kekuatan”.
2.
At Ta’thil (meniadakan
atau mengingkari).
Maksudnya meniadakan nama-nama dan sifat Allah seluruhnya
atau mengingkari sebagiannya.
Setiap orang yang menafikan nama-nama dan sifat Allah yang
tersebut dalamal Qur’an dan Sunnah, maka berarti ia tidak mengimani
nama-nama dan sifat Allah secara benar.
3.
At Tamtsil
(menyerupakan).
Maksudnya menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.
Seperti memaknai tangan Allah seperti tangan makhluk-Nya. Atau Allah
mendengar seperti cara mendengarnya makhluk. Atau Allah bersemayam di atas
Arsy seperti bersemayamnya makhluk di atas kursi dan seterusnya.
Tidak diragukan lagi, bahwa menyerupakan sifat Allah dengan
sifat makhluk-Nya adalah munkar dan bathil. Allah Ta’ala berfirman:
لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (11)
“Tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS; Asy Syura :
11).
4.
At Takyif (menanyakan bagaiman
hakikatnya).
Yakni menetapkan bagaimana sifat-sifat Allah dan hakikatnya,
di mana seseorang berusaha dengan hati dan lisannya menggambarkan seperti
apa sifat Allah dan hakikatnya.
Ini merupakan sesuatu yang bathil secara mutlak, di mana
mustahil manusia mengetahui hal tersebut, sedangkan Allah telah berfirman:
“Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.”
(QS. Thaha: 110).
Barang siapa yang mampu menghindari empat larangan dalam
masalah nama-nama dan sifat Allah, maka ia telah menyempurnakan imannya
kepada Allah Ta’ala.
Kita memohon kepada Allah, agar Dia meneguhkan iman kita
hingga kita menghadap-Nya di atas iman tersebut. Wallahu a’lam bishawab.
Lihat; syarh arkanil iman, syekh Muhammad bin Shalih
Al Utaimin rahimahullah..
