Kenapa seseorang diharuskan mencintai Allah Ta’ala? Saya tahu bahwa kita diharuskan mencintai Allah Subhanahu akan tetapi (bagaimana) saya dapat menambah kecintaan ini begitu juga dengan mencintai agamaku?
Alhamdulillah.
Pertama,
Sesungguhnya pertanyaan anda dengan redaksi
seperti itu, sangat aneh sekali. Bukan aneh kita mencintai Allah, tidak juga
mencintai melebihi dari diri kita. Akan tetapi yang aneh adalah seseorang
mempercayai bahwa dia punya Tuhan Pencipta kemudian dia tidak mencintai-Nya,
tidak mengedepankan cinta-Nya daripada cinta pada diri, anak, orang tua dan
seluruh manusia.
Semua keindahan disenangai, karena itu
orang-orang pada senang. Maka hanya dari Allah saja. Allah Jalla Jalaluhu
Maha Indah, dan Dia mempunyai keindahan yang layak untuk dirinya di tempat
tertinggi.
Setiap ketinggian disenangi, karena itu
orang-orang pada senang. Maka Allah Maha Besar dari semua yang besar dan
paling Tinggi dari semua yang agung.
Dan semua kesempurnaan, orang-orang pada
senang. Maka milik Allah Ta’ala kesempurnaan yang maha tinggi dan tempat
tertinggi.
Setiap kebaikan dan keutamaan, orang-orang
ihsan menyenanginya. Dari pemberian dan ihsan-Nya, bagaimana tidak disenangi
Tuhan dalam masalah ini, dan Dialah Tuhan di tempat seperti.
Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata:
‘Ketahuilah, bahwa macam kecintaan yang paling bermanfaat secara mutlak,
yang lebih ditekankan, paling tinggi dan paling mulia adalah kecintaan yang
hatinya diberikan untuk mencintai-Nya. Dan diberi fitrah penciptaannya untuk
penyembahan. Dengannya bumi dan langit ditegakkan. Dengannya para makhluk
diberi fitrah dan ini adalah rahasia Syahdah (persaksian) tiada Tuhan
melainkan Allah. karena Tuhan adalah yang disembah oleh hati dengan
kecintaan, ketinggian, keagungan, kehinaan, merendahkan diri serta
beribadah. Dan ibadah tidak layak melainkan untuk-Nya saja. Dan ibadah
adalah kesempurnaan cinta disertai dengan kesempurnaan merendah dan hina.
Sementara kesyirikan dalam ubudiyah ini termasuk bentuk kedholiman terbesar
yang Allah tidak akan mengampuninya. Allah Ta’ala mencintai untuk Dzat-Nya
dari semua sisi, sementara lainnya hanyalah mengikuti dari kecintaan
kepada-Nya.
Telah ada yang menunjukkan kewajiban
kecintaat kepada-Nya Subhana semua kitab yang diturunkan, dan dakwah para
rasul, serta fitrah yang (Allah) berikan fitrah kepada para hamba-Nya. Dan
apa yang dipasang di akal, serta semua kenikmatan yang diberikan. Maka hati
secara fitrah mencintai kepada yang memberi nikmat kepadanya, berbuat baik
kepadanya. Bagaimana lagi bagi orang yang telah berbuat baik darinya? Apa
saja dari kenikmatan yang ada pada makhluk, maka itu semua dari-Nya saja
tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
( وَمَا
بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ
فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ ) [ سُورَةُ النَّحْلِ : 53 )
“Dan
apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan
bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta
pertolongan.’ SQ. An-Nahl: 53.
Dan apa yang dikenal para hamba-Nya dari
nama-nama-Nya nan Indah dan sifat yang tinggi, serta apa yang menunjukkan
dampak dari penciptaan-Nya adalah kesempurnaan dan akhir dari ketinggian dan
keagungan-Nya. Kecintaan dengannya ada dua faktor, keindahan dan ijmal
(berbuat baik dan memberi kenikmatan). Dan Tuhan Ta’ala mempunyai
kesempurnaan mutlak akan hal itu. karena Dia adalah Maha Indah senang
terhadap keindahan. Bahkan semua keindahan adalah milik-Nya. Dan kebaikan
semuanya adalah dari-Nya. Maka tidak berhak selain Dia untuk dicintainya
dari segala sisi.
Sungguh orang yang menyamakan antara Dia
dengan lainnya dalam mahabbah (kecintaan) telah mengingkarinya. Dan (Allah)
telah memberitahukan bahwa orang yang melakukan seperti itu telah menjadikan
selain Dia sebagai tandingan, mereka mencintai seperti kecintaan kepada
Allah, Allah berfirman:
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ
اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ) [ سُورَةُ الْبَقَرَةِ :
165 )
“Dan diantara manusia
ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”
SQ. Al-Baqarah: 165.
(Allah) memberitahukan kepada orang yang
menyamakan antara Dia dengan tandingan dalam kecintaan, bahwa mereka akan
mengatakan ketika di neraka kepada sesembahannya, ‘”Demi
Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena
kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” SQ. As-Syuara’: 97-98.
Dengan Tauhid (penuh
dengan) kecintaan, maka Allah Subhana mengutus semua Rasul-Nya, menurunkan
semua kitab-Nya dan mencakup semua utusan-Nya dari awal sampai terakhir.
Karena (kecintaan) diciptakan langit, bumi, surga dan neraka. Menjadikan
surga untuk penghuninya dan neraka untuk orang-orang musyrik di dalamnya.
Sungguh Nabi
sallallahu’alaihi wa sallam telah bersumpah bahwa, ‘Tidak sempurna keimanan
seorang hamba sampai Dia (Allah) lebih dicintai dari anak, orang tua, dan
seluruh manusia. Bagaimana dengan kecintaan Tuhan Jalla Jalaluhu?
Kalau Nabi sallallahu’alaihi wa sallam lebih
utama dari kita dan diri kita dalam kecintaan serta kelazimannya. Bukankah
Tuhan Jalla Jalaluhu, maha suci Nama-Nya lebih utama untuk dicintai-Nya, dan
beribadah kepada-Nya dari diri mereka. Dan semua hal dari-Nya untuk
hamba-Nya yang beriman mengajak kepada kecintaan-Nya. Dari apa yang dicintai
dan dibenci seorang hamba, pemberian dan pelarangan-Nya, kesehatan dan
cobaan-Nya, digenggam dan dilapangkan, keadilan dan keutamaan, mematikan dan
menghidupkan, kasih sayang dan kebaikan, rahmat dan kebaikan, ditutupi dan
pengampunan-Nya, kasih sayang dan sabarnya kepada hamba-Nya, mengabulkan
doanya, menghilangkan kesusahan, membantu yang membutuhkan, melepaskan
kesulitan tanpa minta imbalan darinya, bahkan tanpa membutuhkan sama sekali
dari seluruh sisi. Semuanya itu mengajak hati untuk menuhankan dan
mencintainya. Bahkan memberikan kesempatan hamba melakukan kemaksiatan
kepadanya serta membantu atasnya serta menutupinya sampai selesai
keinginannya, menjaganya sampai selesai keinginan berbuat kemaksiatannya,
dibantunya dengan kenikamatan. Merupakan faktor terkuat untuk mencintai-Nya.
Kalau sekiranya seorang makhluk melakukan sedikit saja hal itu kepada
makhluk lainnya, maka hatinya tidak dapat menguasi untuk mencintainya.
Bagaimana mungkin seorang hamba tidak mencintai dengan sepenuh hati dan jiwa
raganya kepada orang yang berbuat baik kepadanya secara berkesinambungan
sebanyak hembusan nafas. Dengan melakukan kejelekan kepada-Nya. Kebaikannya
turun, kejelekannya naik, mencoba mencintai dengan kenikmatannya sementara
Dia tidak membutuhkan, seorang hamba marah kepadanya dengan melakukan
kemaksiatan, sementara dia sangat membutukan kepadanya. Maka kebaikan, bakti
serta kenikmatannya tetap diberikan kepadanya, tidak mengahalangi dengan
kemaksiatannya. Begitu juga kemaksiatan dan kejelekan seorang hamba tidak
memutuskan kebaikan Tuhannya kepadanya.
Yang jadi celaan, hatinya tidak mencintai
dari urusan ini, sementara kecintaannya tergantung dengan lainnya.
Begitu juga, setiap orang yang anda cintai
dari makhluk, atau mencintai anda. Sesungguhnya dia menginginkan anda untuk
dirinya, dan menawarkan kepada anda. Sementara Allah subhana Wata’ala
menginginkan anda untuk anda. Sebagaimana dalam atsar ilahi, ‘Hamba-Ku
semuanya menginginkan anda untuk dirinya. dan Saya menginginkan anda untuk
anda’. Bagaimana seorang hamba tidak malu bahwa Tuhannya dengan posisi
seperti ini. Sementara dia berpaling dari-Nya, sibuk dengan mencintai
lainnya, tenggelam hatinya dengan kecintaan lainnya.
Begitu juga, setiap orang yang berinteraksi
dari makhluk, kalau dia tidak untung, maka dia tidak akan berinteraksi
dengan anda. Harus ada salah satu bentuk keuntungan. Sementara Tuhan Ta’ala
sesungguhnya, berinteraksi dengan anda, agar keuntungan untuk anda dengan
sebanyak dan setinggi keuntungan. Satu dirham dilipatkan sepuluh kali sampai
tujuh ratus kali sampai berlipat-lipat. Sementara kejelekan satu, amat cepat
sekali terhapuskan.
Begitu juga Dia Subhanahu menciptakan anda
untuk dirinya, menciptakan segala sesuatu untuk anda di dunia dan akhirat.
Maka siapakah yang lebih utama dicurahkan untuk kecintaan dan mencurahkan
semangat dalam (menggapai) keredhoan-Nya?
Begitu juga keinginan anda bahkan keinginan
semua makhluk –kepada-Nya- dan Dia paling dermawan, paling mulia. Memberikan
kepada hamba-Nya sebelum dia memintanya melebihi dari harapannya, mensyukuri
sedikit amalannya dan akan menambahkan. Memaafkan banyak kesalahan dan
menghapuskan.
يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ.
الرحمن :29
“Semua
yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam
kesibukan.” SQ. Ar-Rahman: 29.
Tidak tersibukkan
pendengaran dari pendengaran (hamba), tidak salah dari banyaknya permintaan.
Tidak sumpek rengekan orang yang meminta, bahkan senang dengan orang yang
bersungguh-sungguh dalam berdoa. Senang diminta, marah kalau tidak meminta.
Malu kepada hamba-Nya dimana seorang hamba tidak malu kepada-Nya. Menutupi
dimana dia tidak menutupi dirinya. menyayangi dimana Dia tidak menyayangi
dirinya. Dipanggil dengan kenikmatan dan kebaikannya menuju kemulyaan dan
keredhoan-Nya tapi menolaknya. Mengutus utusan-Nya ketika memintanya, diutus
bersamanya janjinya. Kemudian Allah subhanahu turun sendiri dan berfirman,
‘Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Saya beri. Dan barangsiapa
yang memohon ampunan, maka Saya ampuni?
Bagaiamana tidak dicintai
sementara hati, kebaikan tidak datang kecuali dari-Nya. Tidak menghilangkan
kejelekan kecuali Dia, tidak mengabulkan doa, mengalihkan kesalahan,
memaafkan dosa-dosa, menutupi aurat, menghilangkan kesusahan, menolong yang
membutuhkan, sementara ingin mendapatkan keinginan selain dari-Nya? ‘selesai
dari kitab Ad-Da’ Wa Ad-Dawa’, 534-538.
Kalau sekiranya dibuka
penutup kasih sayang Allah Ta’ala, kebaikan, perbuatan kepada hamba-Nya dari
yang diketahui dan tidak diketahui, maka hati meleleh dengan kecintaan dan
kerinduan kepada-Nya. Akan tetapi hati ditutup untuk melihat itu semua.
Tenggelam ke alam syahwat, bergantung dengan sebab-sebab. Maka menutup
kesempurnaan kenikmatannya. Dan itu ketentuan (Allah) Yang Maha Bijak dan
Maha Mengetahui. Kalau tidak, hati mana yang meleleh menikmati manisnya
pengetahuan kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya. Kemudian memberikan
(kecintaan) kepada yang lainnya, dan merasa tenang dengan yang lain. Dan ini
tidak akan mungkin selamanya.’ ‘Toriq Al-Hijrotain, hal. 281.
Kedua,
Allah telah menjelaskan
kepada hamba-Nya jalan menuju kepada kecintaan-Nya Subhanahu, dengan
berfirman:
( قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ
اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ * قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ
تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ ) آل عمران / 31-32.
“Katakanlah:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah
Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang kafir.” SQ. Ali Imron: 31-32.
Ibnu Katsir rahimahullah
berkata, ‘”
( قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
) yakni kamu akan mendapatkan
diatas apa yang kamu minta dari kecintaan kamu kepada-Nya. Yaitu kecintaan
Dia kepada kamu semua. Dan ini lebih agung daripada yang pertama.
Sebagaimana perkataan sebagian ahli hikmah dan ulama’, ‘Urusan bukan
mencintai, akan tetapi urusannya adalah dicintai.’ Hasan al-Basri dan ulama’
salaf lainnya mengatakan, ‘Suatu kaum menyangka mereka mencintai Allah, maka
Allah uji mereka dengan ayat ini.
( فَإِنْ تَوَلَّوْا )
yakni menyalahi perintah-Nya, ( فَإِنَّ
اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ ).
Hal itu menunjukkan menyalahi jalan-Nya itu kufur. Dan Allah tidak menyukai
orang yang mempunyai sifat seperti itu. meskipun dia mendakwakan dan
menyangka dirinya mencintai karena Allah dan mendekatkan kepada-Nya. Sampai
dia harus mengikuti Rasul Nabi Ummi (buta aksara) penutup seluruh Rasul dan
utusan Allah untuk seluruh makhluk jin dan manusia.’ Selesai ‘Tafsir Ibnu
Katsir, 2/32.
As-Sa’dy rahimahullah berkata dalam
mentafsirkan ayat ini, ‘Ayat ini di dalamnya ada kewajiban mencintai Allah.
Begitu juga tanda, hasil dan buahnya. Maka Allah berfirman, ‘قُلْ
إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
‘ yakni dakwaan anda semua dengan tempat yang tinggi, dimana tingkatan yang
diatasnya tidak ada lagi tingkatan. Maka tidak cukup dengan hanya dakwaan,
akan tetapi harus dibuktikan. Dan tanda kejujurannya adalah mengikuti
Rasul-Nya sallallahu’alaihi wa sallam pada semua kondisi, ucapan dan
perbuatannya. Pada pokok dan cabang agama, yang nampak maupun yang
tersembunyi. Barangsiapa yang mengikuti Rasul, hal itu menunjukkan kejujuran
dakwaannya mencintai Allah Ta’ala. Allah mencintai dan memaafkan dosanya.
Mengasihi dan menguatkan semua gerakan dan diamnya. Barangsiapa yang tidak
mengikuti Rasul, maka tidak mencintai Allah Ta’ala. Karena kecintaan kepada
Allah, mengharuskan mengikuti Rasul-Nya. Barangsiapa yang tidak ada hal itu,
menunjukkan ketiadaan (kecintaan) bahwa dia itu pembohong kalau sekiranya
dia menyangka (mencintai Allah). meskipun kalau sekiranya ditakdirkan ada
(kecintaan itu), maka tidak bermanfaat kalau tanpa ada syaratnya. Dengan
ayat ini, semua makhluk ditimbang, sejauh mana bagian dia mengikuti Rasul,
maka keimanan dan kecintaan untuk Allah (seperti itu juga). Dan kalau
berkurang, maka berkurang juga.’ Selesai ‘tafsir As-Sa’dy, hal. 128.
و فد
روي البخاري (6502) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْه قَالَ : قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ اللَّهَ قَالَ :
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ
إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا
يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ،
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ
الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي
يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي
لأُعِيذَنَّهُ ) .
Diriwayatkan oleh Bukhori, 6502 dari Abu
Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam
bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi
kekasih-Ku (wali), maka saya telah izinkan untuk diperangi. Dan apa yang
didekatkan oleh hamba-Ku yang lebih Saya senangi dengan apa yang Saya
wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku
dengan (melakukan amalan-amalan) sunnah sampai Saya mencintainya. Kalau Saya
telah mencintainya, maka Saya adalah kuping yang digunakan untuk
mendengarkan. Dan mata yang digunakan untuk melihatnya. Tangan yang
digunakan untuk memukulnya serta kaki yang digunakan untuk berjalan. Kalau
dia meminta-Ku, (pasti) akan Saya beri. Kalau dia meminta perlindungan,
(pasti) Aku lindungi.
Maka dalam hadits qudsi yang agung itu
menjelaskan bahwa barangsiapa yang mencintai Allah, maka dia akan
mendekatkan diri kepada-Nya dengan apa yang dicintai-Nya. Dari menunaikan
kewajiban dan sunnah-sunnah. Maka hal itu seorang hamba akan mendapatkan
kecintaan Allah Ta’ala.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, ‘Dan
Kecintaan Allah tumbuh dari mengenal-Nya. Dan kesempurnaan pengenalan-Nya
didapatkan dengan mengenal nama, sifat dan pekerjaan-Nya yang mulia. Serta
memikirkan penciptaan-Nya yang mana didalamnya ada kecanggihan, hikmah dan
penuh keajaiban. Maka hal itu menunjukkan kesempurnaan, kekuasaan, hikmah,
ilmu dan rahmat-Nya.
Terkadang tumbuh dari memperhatikan
nikmat-nikmat. Dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma dari Nabi
sallallahu’alaihi wa sallam (marfu’an),
(
أحبوا الله لما يغدوكم من نعمه ، وأحبوني لحب الله ) . خرجه الترمذي في بعض نسخ
كتابه [ضعفه الألباني] .
“Cintailah Allah dikarenakan
memberikan kepada kamu dari kenikmatan-kenikmatan-Nya. Dan cintailah aku
karena kecintaan kepada Allah.’ HR. Tirmizi dalam sebagian naskah kitabnya,
dan dilemahkan oleh Al-Albany.
Sebagian ulama’ salaf berkata, ‘Barangsiapa
yang mengenal Allah, maka dia akan mencintai-Nya. Dan barangsiapa yang
mencintainya, maka dia akan mentaati. Karena kecintaan itu mengandung
ketaatan. Sebagaimana ungkapan sebagian ahli makrifah, ‘Sesuai dalam segala
kondisi.’
Kecintaan kepada Allah itu ada dua derajat,
Salah satunya fardu (wajib) yaitu kecintaan
yang terkandung melakukan perintah wajib dan meninggalkan dari larangan yang
diharamkan. Sabar terhadap takdir yang menyakitkan. Batasan ini merupakan
suatu keharusan dalam mencintai Allah. barangsiapa yang kecintaannya bukan
dalam taraf ini, maka dia pembohong mendakwakan kecintaan kepada Allah.
sebagaimana perkataan ahli makrifah, ‘Barangsiapa yang mengaku cinta kepada
Allah sementara tidak menjaga batasan-batasan-Nya, maka dia pembohong.
Barangsiapa yang jatuh melakukan sesuatu yang diharamkan atau kurang dalam
melaksanakan kewajiban, maka kecintaan kepada Allah berkurang. Dimana dia
lebih mengedepankan kecintaan kepada diri dan hawa nafsunya dibandingkan
kecintaan kepada Allah. Karena kecintaan kepada Allah, kalau sempurna. Akan
menghalangi terjerumus dari sesuatu yang tidak disukainya. Sesungguhnya
terjerumus dari apa yang tidak disukainya dikarenakan kurangnya kecintaan
yang wajib dalam hati. Mengedepankan hawa nafsu dari pada kecintaan
kepada-Nya. Oleh karena itu keimanannya berkurang. Sebagaiamana sabda Nabi
sallallahu’alaihi wa sallam, ‘Tidaklah orang akan berzina ketika dia berzina
sementara dia dalam kondisi beriman.’ Al-Hadits
Derajat kedua dari kecintaan, yaitu sunnah.
Menaikkan kecintaan itu dengan mendekatkan diri melakukan ketaatan yang
sunnah. Menahan dari (terjerumus) syubhat dan makruh yang kecil. Redho
dengan qadho yang menyakitkan. Sebagaimana perkataan ‘Amir bin Abdul Qais,
‘Saya mencintai Allah dengan kecintaan yang meringankan diriku pada semua
musibah. Saya redho dengan semua bencana, saya tidak perduli dengan
kecintaanku dalam kondisi apa waktu pagi dan petangku.’
Umar bin Abdul Aziz berkata, ‘Saya waktu pagi
hari tidak ada kesenangan kecuali pada ketentuan qada’ dan qadar. Ketika
anaknya yang sholeh meninggal beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah menyukai
untuk diambilnya. Dan saya berlindung dengan (nama) Allah saya mempunyai
kecintaan yang menyalahi kecintaan kepada Allah. sebagian tabiin berkata
dalam kondisi sakitnya, ‘Dia mencintai diriku, maka saya mencintai-Nya.’
Selesai dari ‘Fathul Bari, karangan Ibn uRajab, 1/46-48.
Wallahu’alam .
