Saya ingin mengetahui cara yang sesuai dengan yang pernah dipraktektan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam berdoa pada waktu shalat, apakah setelah shalat, di antara dua sujud, pada saat berdiri atau kapan ?

Alhamdulillah

Pertama:

Ketahuilah –semoga Allah
memberikan ramhat kepada anda- bahwa di dalam shalat tidak ada kondisi
tertentu yang khusus untuk berdoa, akan tetapi dalam beberapa tempat yang
telah disebutkan oleh para ulama dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- semenjak takbiratul ihram sampai salam.

Demikian juga bahwa berdoa
setelah shalat itu hukumnya sunnah dengan beberapa macam doa yang akan
disebutkan kemudian in sya Allah.

Hendaknya anda mengetahui
bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi –shallallahu ‘alaihi wa
sallam-, sebaik-baik ilmu dan perkataan adalah yang sesuai dengan sunnahnya
beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, redaksi (doanya) Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- adalah sebaik-baik redaksi; karena beliau adalah manusia
yang paling mengetahui bahasa Arab, dan yang paling fasih lisannya, paling
kuat penjelasannya, bahkan Allah –Ta’ala- telah memberikan kepada beliau
kemampuan berucap dengan kalimat yang luas maknanya namun redaksi yang
singkat yang kemudian dikenal dengan istilah jawami’ul kalim.

Dari Abu Hurairah
–radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- bersabda:

)بُعثتُ
بجوامع الكلم ) رواه البخاري ( 6611 ) ومسلم ( 523(

“Saya telah diutus dengan
jawami’ul kalim (redaksi singkat dengan makna yang luas)”. (HR. Bukhori:
6611 dan Muslim: 523)

Imam Bukhori berkata:

“Yang saya ketahui jawami’ul
kalim itu adalah bahwa Allah telah mengumpulkan banyak hal yang telah
tertulis sebelumnya pada satu atau dua hal atau yang serupa dengannya”.

Atas dasar itulah maka:

Jika anda ingin berdoa dalam
shalat maka hendaknya pada tempat-tempat yang disyari’atkan dan disunnahkan
berdoa, sebaik-baik doa adalah yang sesuai dengan redaksi  doa Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam-.

Kedua:

Jika anda merasa kesulitan
untuk menghafal bebera dzikir dan doa-doa tersebut, maka sebaik-baik doa
adalah yang jauh dari unsur memaksakan diri dengan redaksi yang indah, dan
yang jauh dari kalimat yang bersajak, dan menjadikan doa penuh dengan
keikhlasan, sesuai dengan kebutuhan yang diinginkannya dan sesuai dengan
yang dimudahkan oleh Allah kepada anda.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi
–shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada seseorang:

كيف تقول في الصلاة ؟ قال : أتشهد ، ثم أقول : ” اللهمّ إني
أسألك الجنة وأعوذ بك من النار

، أما إني لا أحسن دندنتك ودندنة معاذ ، فقال النبي صلى الله
عليه وسلم : حولهما ندندن . رواه أبو داود ( 792 ) . وصححه الألباني في صحيح
أبي داود
.

“Apa yang anda baca di dalam
shalat ?”, dia menjawab: “Apakah anda mau menjadi saksi ?, kemudian saya
membaca: “Ya Allah, aku memohon surga kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu
dari neraka”; karena saya tidak bisa menirukan ucapan lirih anda dan Mu’adz,
maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tentang kedua (hal
itulah) kami berucap dengan lirih”. (HR. Abu Daud: 792 dan dishahihkan oleh
Albani dalam Shahih Abu Daud)

Ketiga:

Adapun doa setelah salam maka
yang ditetapkan riwayatnya dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa
beliau bersabda setelah selesai melakasanakan shalat:

أستغفر الله ، أستغفر الله ، أستغفر الله

“Aku memohon ampun kepada
Allah, aku memohon ampun kepada Allah, aku memohon ampun kepada Allah”.

Kemudian beliau mengucapkan
dzikir yang telah diriwayatkan.

Baca juga jawaban soal nomor:
7646

Syeikh Abdul Aziz bin Baaz –rahimahullah-
berkata:

“Tidak dibenarkan dari Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- bahwa beliau mengangkat kedua tangannya setelah shalat
fardhu, tidak juga dibenarkan hal itu berasal dari para sahabat beliau –radhiyallahu
‘anhum- sepanjang pengetahuan kami, dan apa yang sering dilakukan oleh
sebagian orang dengan mengangkat kedua tangannya setelah shalat fardhu
adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya”. (Al Fatawa: 1/74)

Ibnu Qayyim berkata:

“Adapun doa setelah salam
dengan menghadap qiblat atau menghadap kepada makmum, bukanlah termasuk
petunjuk Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan tidak riwayat yang shahih
maupun hasan yang menyatakan demikian, adapun jika mengkhususkan hal itu
hanya pada saat shalat subuh dan ashar, maka beliau tidak pernah mengerjakan
hal tersebut demikian juga dengan para kholifah setelah beliau, beliau juga
tidak mengajarkannya kepada ummatnya, hanya saja hal itu termasuk istihsan
dan menjadi pendapat sebagian orang sebagai ganti dari sunnah setelah kedua
shalat tersebut, wallahu a’lam.

Dan hampir rata-rata doa yang
berkaitan dengan shalat adalah beliau lakukan di dalamnya, beliau juga
memerintahkan untuk dibaca di dalamnya, inilah yang seharusnya kondisi orang
yang sedang shalat; karena dia sedang menghadap Rabbnya, memohon kepada-Nya
ditengah-tengah shalat, jika sudah mengucapkan salam maka semua munajat
tersebut sudah terputus, dan kondisi menghadap-Nya tersebut dan kedekatan
dengan-Nya sudah berakhir, maka bagaimana dia menyia-nyiakan kesempatan
untuk berdoa kepada-Nya pada saat munajat dan dekat dengan-Nya, kemudian ia
beru berdoa setelah shalat berakhir ?!, tidak diragukan lagi kondisi
sebaliknyalah yang lebih utama bagi orang yang shalat, hanya saja ada
sedikit penjelasan bahwa orang yang sedang shalat jika sudah selesai
melaksanakan shalat, ia berdzikir kepada Allah, bertahlil, bertasbih, memuji
dan mengagungkan-Nya dengan dzikir-dzikir yang disyari’atkan setelah selesai
shalat, disunnahkan untuk bershalawat kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- setelah itu dan berdoa sesuai dengan yang ia inginkan, dan doa
tersebut setelah selesai melaksanakan ibadah kedua tersebut, tidak dilakukan
setelah selesai shalat langsung. Bahwa setiap orang yang telah berdzikir
kepada Allah, memuji dan bershalawat kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi
wa sallam- disunnahkan untuk berdoa setelahnya, sebagaimana hadits Fadhalah
bin Ubaid:

” إذا صلّى أحدكم ، فليبدأ بحمد الله والثناء عليه ، ثم ليصلِّ
على النبي صلى الله عليه وسلم ، ثمّ ليدع بما شاء

“Jika salah seorang dari
kalian telah melakukan shalat, maka mulailah dengan memuji Allah dan
mengagungkan-Nya, lalu bershalawatlah kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- kemudian hendaknya berdoa dengan doa yang ia inginkan”.

Tirmidzi berkata: “Hadits
shahih dan telah dishahihkan oleh Alhakim dan disetujui oleh Imam Adz
Dzahabi”. (Zaadul Ma’aad: 1/257-258)

Keempat:

Adapun tempat-tempat berdoa
di dalam shalat maka kami rangkumkan sebagai berikut:

1.     

Setelah takbiratul ihram dan
sebelum mulai membaca surat Al Fatihah yang dinamakan dengan doa istiftah.

Dari Abu Hurairah berkata:
“Bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- jika memulai shalatnya
beliau diam sejenak, maka aku berkata: “Demi Allah wahai Rasulullah, apa
yang and abaca pada saat anda diam antara takbir dan bacaan (Al Fatihah) ?,
beliau bersabda:

أقول : ” اللهم باعد بيني وبين خطاياي كما باعدت بين المشرق
والمغرب اللهم نقني من خطاياي كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس اللهم اغسلني من
خطاياي بالثلج والماء والبرد ” . رواه البخاري ( 711 ) ومسلم ( 598

(.

“Aku mengucapkan: “Ya Allah,
jauhkanlah aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah
menjauhkan antara ufuk timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah
kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih
dari noda. Ya Allah cucilah kesalahan-kesalahanku dengan es, air dan embun”.
(HR. Bukhori: 711 dan Muslim: 598)

2.     

Doa qunut dalam shalat witir

Dari Hasan bin Ali berkata:
“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengajariku beberapa
kalimat yang dibaca pada saat shalat witir:

“اللهمّ اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت
وقني شرما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت ولا يعز من عاديت
تباركت ربنا وتعاليت ” . رواه الترمذي ( 464 ) والنسائي ( 1745 ) وأبو داود (
1425

)

وابن ماجه ( 1178 ) . والحديث : حسَّنه الترمذي وغيره . وصححه
الألباني في صحيح أبي داود
.

“Ya Allah, berilah aku
petunjuk sebagaimana Engkau telah memberikan petunjuk kepada seseorang yang
telah mendapatkan petunjuk-M, berikanlah aku kondisi sehat sebagaimana
Engkau telah memberikan kesehatan kepada seseorang yang telah Engkau berikan
kesehatan, jagalah urusanku sebagaimana Engkau telah menjaga seseorang yang
telah Engkau jaga, jauhkan dariku keburukan dari apa yang telah Engkau
putuskan, karena Engkau yang Maha Memutuskan bukan yang diputuskan, bahwa
tidaklah hina seseorang yang dekat dengan-Mu, dan tidaklah mulia seseorang
yang Engkau musuhi, Engkau Maha Pemberi berkah, Ya Allah dan Maha Tinggi”.
(HR. Tirmidzi: 464, Nasa’i: 1745, Abu Daud: 1425 dan Ibnu Majah: 1178,
hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi dan yang lainnya dan dishahihkan oleh
Albani dalam Shahih Abu Daud.

3.     

Doa setelah berdiri dari ruku’
pada saat terjadi kejadian dan musibah secara masal, yang disebut dengan
qunut nawazil

Hal itu berlaku secara umum
pada semua shalat wajib dengan berdoa sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
serta diamini oleh mereka yang shalat di belakangnya. Baca juga jawaban soal
nomor: 20031

4.     

Pada saat ruku’

Bahwa Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- beliau bersabda:

سبحانك اللهمّ ربنا وبحمدك اللهمّ اغفر لي ” رواه البخاري ( 761
) ومسلم
( 484 )

من حديث عائشة
.

“Maha Suci Allah, Tuhan kami,
dan dengan segala puji bagi-Mu, Ya Allah ampunilah aku”. (HR. Bukhori: 761
dan Muslim: 484 dari hadits Aisyah)

5.     

Dalam keadaan bersujud

Yang merupakan sebaik-baik
kondisi untuk berdoa, berdasarkan sebuah hadits:

” أقرب ما يكون أحدكم من ربه وهو ساجد فأكثروا فيه من الدعاء ”
رواه مسلم ( 482 ) من حديث أبي هريرة

.

“Sedekat-dekatnya seseorang
di antara kalian dengan Tuhannya adalah dalam kondisi sujud, maka
perbanyaklah untuk berdoa”. (HR. Muslim: 482 dari hadits Abu Hurairah)

Keadaan (doa pada saat
bersujud) ada banyak hadits yang meriwayatkannya dan tidak mungkin semuanya
disebutkan di sini

6.     

Di antara dua sujud dengan
mengucapkan:

” اللهمّ اغفر لي وارحمني واجبرني واهدني وارزقني ” رواه
الترمذي ( 284 ) وابن ماجه ( 898 ) من حديث ابن عباس ، وهناك أدعية أخرى .
وصححه الألباني في صحيح الترمذي

“Ya Allah, ampunilah (dosa)
ku, kasihanilah aku, cukupilah kebutuhanku, berilah aku petunjuk dan berilah
aku rizeki”. (HR. Tirmidzi: 284 dan Ibnu Majah: 898 dari hadits Ibnu Abbas
dan di sana ada beberapa doa lain dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih
Tirmidzi)

7.     

Setelah tasyahhud dan sebelum
salam

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- bersabda:

” إذا فرغ أحدكم من التشهد الأخير فليتعوذ بالله من أربع يقول :
اللهمّ إني أعوذ بك من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن
شر فتنة المسيح الدجال ” رواه البخاري ( 1311 ) ومسلم ( 588 ) – واللفظ له – من
حديث أبي هريرة

“Jika salah seorang dari
kalian selesai membaca tasyahhud akhir maka berlindunglah dari 4 hal dengan
berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam dan dari
adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah
al masih Dajjal”. (HR. Bukhori: 1311 dan Muslim: 588, ini redaksi dari
beliau dari hadits Abu Hurairah)

Kemudian setelah itu berdoa
sesuai dengan keinginannya untuk kebaikan dunia akhirat, berdasarkan hadits
Ibnu Mas’ud:

” أن النبي صلى الله عليه وسلم علّمهم التشهد ثم قال في آخره ثم
ليتخير من المسألة ما شاء ” رواه البخاري ( 5876 ) ومسلم ( 402

(

“Bahwa Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- telah mengajari mereka bertasyahhud kemudian berkata
setelah itu: “Kemudian pilihlah semua permintaan sesuai dengan keinginannya”.
(HR. Bukhori: 5876 dan Muslim: 402)

Doa-doa yang diucapkan di
dalam shalat sangat banyak sekali tidak memungkinkan di tulis semuanya pada
jawaban ini, hanya saja beberapa di atas memberi isyarat beberapa yang telah
diriwayatkan. Menjadi sebuah nasehat bagi saudara penanya dan bagi setiap
muslim, bahwa ia hendaknya mempunyai buku “Al Adzkar” karya Imam Nawawi,
buku tersebut buku yang luas pembahasannya, maka jika ia ingin yang ringkas
maka hendaknya memiliki buku “Al Kalimut Thayyib” karya Syeikh Islam Ibnu
Taimiyah yang telah ditahqiq oleh Albani, semoga Allah mengasihi mereka
semua.

Wallahu A’lam
.