Diawal haid, seringkali saya mendapatkan cairan berwarna kuning kecoklatan. Hal itu terus berlangsung sehari, dua sampai tiga hari. Setelah itu keluar darah. Apakah hari-hari sewaktu keluar cairan berwarna kecoklatan termasuk haid atau bukan? Diakhir haid, setelah keluar darah terlihat warna coklat atau hitam. Apakah ini juga termasuk haid atau bukan?

Alhamdulillah

Pertama,

Cairan kekuning-kuningan atau
keruh sebelum haid, kalau bertepatan waktu haid atau sebelumnya dengan
selisih waktu sedikit, disertai rasa sakit dan lilitan (sakit) haid serta
bersambung dengan darah haid, maksudnya keluar setelahnya darah haid. Maka
itu termasuk bagian dari haidnya. Maka dilarang shalat dan berpuasa. Hal itu
seperti apabila keluar cairan keruh sehari atau dua hari disertai sakit haid
kemudian pada hari ketiga keluar darah. Maka kesemuanya itu termasuk haid.
Ini adalah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini dan merupakan
pendapat Syekh Ibnu Baz rahimahullah. Akan tetapi beliau mensyaratkan
ketersambungan saja tanpa mensyaratkan adanya rasa sakit haid. Ini juga
pendapat Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah sebelumnya. Adapun pendapat
(beliau) terakhir adalah bahwa  cairan kekuning-kuningan dan keruh, tidak
dianggap haid sama sekali

Silakan lihat soal-soal
berikut ini, di dalamnya ada sebagian penukilan dari kedua syekh tadi
rahimahumallah, no. 131869,
no. 50430, no.
37840. no.
171945
silahkan lihat
buku ‘Tsamarat At-Tadwin ‘An Ibnu Utsaimin, hal. 24. Di dalamnya ada
pendapat beliau rahimahullah, “Yang kuat menurutku terakhir kali, dan jiwaku
tenang (dengan pendapat itu) adalah bahwa haid adalah keluarnya darah saja.
Sementara cairan kekuning-kuningan dan keruh, bukan termasuk haid meskipun
sebelum adanya lendir putih. Wallahua’lam”

Terdapat juga
ungkapannya, “Wanita mengalami cairan keruh selama tujuh hari.
Kemudian disertai
darah yang jelas sampai sisa sebulan. Kemudian bersih terkadang sampai tiga
bulan. Apa hukum darah ini dan cairan keruh?

Beliau menjawab, “Darah
semuanya itu haid.
Sementara
cairan keruh tidak (termasuk haid) sedikitpun juga.” (Tsamarat At-Tadwin,
hal. 24-25)

Yang menguatkan
apa yang kami sebutkan bahwa (darah) kekuning-kuningan dan keruh sebelum
haid dianggap haid kalau hal itu terjadi pada waktu kebiasaannya serta
bersambung dengan darah haid.
Disertai juga rasa sakit haid. Karena (darah)
kekuning-kuningan dan keruh termasuk salah satu warna darah menurut
kebanyakan para ulama fiqih. Haid adalah pecahnya dinding Rahim dimana di
dalamnya ada darah dan kotoran, sehingga darah keluar dengan berbagai macam
warna berbeda-beda. Dimulai dengan warna hitam pekat atau kehitam-hitaman.
Kemudian menyusut menjadi keruh atau kekuning-kuninang. Terkadang bisa
terbalik. Dimulai (darah) kekuning-kuningan dan keruh kemudian baru darah.
Dalam hadits Aisyah radhiallahu anha terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa
kekuning-kuningan dan keruh sebelum bersih adalah haid. Sebenarnya tanpa
dibedakan keluarnya sebelum bersih atau keluar keduanya waktu kebiasaannya
sebelum (keluar) darah. Disertai tanda-tanda haid baik sakit atau melilit.

Kalau dikatakan, jika hanya
disyaratkan bersambung saja (dengan keluarnya darah haid), maka hal itu
termasuk pendapat yang kuat. Sebagaimana pendapat Syekh Ibnu Baz
rahimahullah, yaitu dengan syarat (terjadi) pada waktu kebiasaannya.

Pendapat ahli fiqih –seperti
Hanafiyah dan Hanabilah-: “Kekuning-kuningan dan keruh pada waktu
kebiasaannya termasuk haid, termasuk –wallahua’lam- keluarnya darah
kekuning-kuningan dan keruh pada waktu awal haid.

Sementara pendapat lainnya
–seperti Malikiyah dan Syafiiyyah- bahwa kekuning-kuningan dan keruh
termasuk darah haid secara mutlak, atau di waktu yang memungkinkan. Hal itu
mencakup keluarnya sebelum haid, sebagaimana yang tidak tertutupi.

Sebagai tambahan, silahkan
lihat ‘Mausu’ah Ahkamu At-Toharah’ karangan Syekh Abu Umar Ad-Dubayyan
hafizahullah, (6/281-299). Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, (1/296), Al-Mughni
(1/202). Al-Majmu’, (2/422).

Kedua,

Cairan kekuning-kuningan dan
keruh setelah darah (haid) dan sebelum suci termasuk haid. Sebagaimana
diriwayatkan oleh Malik dalam Kitab Al-Muwaththa, no. 130, dari Ummu Alqomah
rahiallahu’anha, dia berkata:

كَانَ النِّسَاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ
الْمُؤْمِنِينَ بِالدُّرْجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ مِنْ دَمِ
الْحَيْضَةِ يَسْأَلْنَهَا عَنْ الصَّلَاةِ فَتَقُولُ لَهُنَّ لَا تَعْجَلْنَ
حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنْ
الْحَيْضَةِ “. وصححه الألباني في ” إرواء الغليل ” برقم (198)”

“Sejumlah wanita mengirikan
ke Aisyah Ummul Mukminin dengan membawa bejana yang berisi kapas yang ada
(cairan) kekuning-kuningan dari darah haid. Mereka bertanya tentang shalat
(jika keluar cairan seperti ini). Kemudian (Aisyah) mengatakan kepada
mereka, “Jangan anda semua terburu-buru (shalat) sampai anda semua melihat
lendir putih. Yang beliau maksudkan hal itu suci dari haid.” Dishahihkan
oleh Al-Albany dalam Irwaul Ghalil, no. 198)

Diriwayatkan oleh Bukhori
secara mu’allaq (tanpa menyebutkan silsilah sanad) dalam Kitab Al-Haid Bab
Iqbalul Haid Wa Idbarihi (kitab haid, bab datang dan keluar waktu haid).’

Kata

(الدرجة)adalah
tempat kecil dimana para wanita meletakkan wewangian dan peralatannya.
Silahkan lihat ‘An-Nihayah fi Ghoribil Hadits Wal Atsar karangan Ibnu Atsir,
2/246.

Kata

(الكرسف)
maksudnya adalah kapas.

Ketiga,

Darah kekuning kuningan dan
keruh setelah suci tidak dianggap apapun.

Hal itu berdasarkan Ummu
Atiyah radhiallahu’anha:

” كنا لا نعد الكدرة والصفرة بعد الطهر شيئا” .

“Dahulu kami tidak menganggap
apapun cairan keruh dan kekuning-kuningan (yang keluar) setelah masa suci.”

HR. Bukhori, 320. Abu Dawud,
307. Nasa’I, 368.
Ibnu Majah, 647
redaksi Abu Daud.

Wallahua’lam.