Kalau seseorang pergi untuk menunaikan manasik umrah dan sampai di Baitullah fajar hari jumat, apakah dibolehkan setelah selesai manasik umrah menunggu di masjid dalam kondisi ihram tanpa mandi sampai menunaikan shalat jumat. Ataukah diwajibkan tahalul dan mandi?

Begitu juga shalat Jumat di Masjidil Haram, apakah yang lebih utama itu lebih dekat dengan ka’bah atau dengan imam? Mohon disebutkan sebagian hukum masjidil haram.

Alhamdulillah

Pertama:

Dibolehkan bagi orang yang
umrah kalau telah thawaf dan sai menunda mencukur rambut atau gundul. Dengan
syarat tidak boleh melakukan larangan-larangan ihram, seperti menutup kepada,
memakai wewangian, memotong kuku dan larangan lainnya sampai dia bertahalul
dari umrah dengan bercukur atau gundul. Untuk faedah silahkan melihat soal
no. 138178.

Kalau dia telah cukur atau
gundul, maka dia telah melakukan tahalul dari umrahnya. Baik dia mengganti
pakaian ihramnya atau tidak. Dihalalkan baginya semuanya dimana sebelumnya
diharamkan karena sebab ihram.

Sementara bersegera mengganti
pakaian atau tidak hal itu tergantung kondisinya. Dan apa yang lebih layak
baginya. Meskipun yang lebih utama adalah melepas baju ihramnya dan memakai
pakaian biasa. Agar memungkinkan untuk menunaian shalat. Semua urusan
kembali kepada yang mudah dan tidak menjadikan sempit baginya.

Kedua:

Yang sesuai Sunnah pada hari
Jumat adalah seorang muslim itu mandi, memakai wewangian dan memakai pakaian
yang terbagus. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaiahi wa sallam:

مَنْ
اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ ، وَمَسَّ
مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ ، ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ ، فَلَمْ يَتَخَطَّ
أَعْنَاقَ النَّاسِ ، ثُمَّ صَلَّى مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، ثُمَّ أَنْصَتَ
إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ صَلَاتِهِ كَانَتْ كَفَّارَةً
لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ جُمُعَتِهِ الَّتِي قَبْلَهَا (رواه أبو داود، 290،
وحسنه الشيخ الألباني رحمه الله في صحيح سنن أبي داود)

“Siapa yang mandi Jumat,
memakai pakaian terbagusnya, menggunakan wewangian yang dia punyai. Kemudian
mendatangi shalat Jumat, tanpa melewati pundak orang.  Dan shalat apa yang
Allah wajibkan kepadanya, kemudian dia diam ketika imamnya telah keluar.
Sampai selesai dari shalatnya. Maka hal itu menjadi tebusan antara Jumat ke
Jumat sebelumnya.” (HR. Abu Daud, 290, dihasankan oleh Syekh Albany
rahimahullah dalam Shahih Abi Daud)

Dengan demikian, yang lebih
utama dan lebih sempurna kalau seseorang tidak ada kesulitan hendaknya
bersegera tahalul dari umrahnya untuk persiapan shalat jumah dengan mandi,
memakai wewangian dan memakai baju terbagusnya.

Ketiga:

Dianjurkan bagi jamaah shalat
dekat dengan imam waktu khutbah. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaiahi
wa sallam:

مَنْ غَسَّلَ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ، ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ ، وَمَشَى وَلَمْ
يَرْكَبْ ، وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ ، فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ ، كَانَ لَهُ
بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا (رواه أبو
داود، رقم 292، وصححه الألباني في  صحيح الجامع، رقم 6405)

“Siapa yang mandi hari jumat
dan membersihkan diri, kemudian datang lebih awal, berjalan tanpa memakai
kendaraan, dekat dengan imam, mendengarkan dengan seksama, tidak melakukan
perkara sia-sia, maka setiap langkah mendapatkan amalan setahun pahala puasa
dan qiyamnya.” (HR. Abu Daud, no. 292, dishahihkan Albany di Shahih
Al-Jami’, no. 6405).

Ibnu Qudamah rahimahullah
mengatakan, “Dianjurkan dekat dengan imam berdasarkan sabda Nabi sallallahu
alaihi wa sallam: “Siapa yang mandi hari Jumat dan membersihkan diri,
kemudian datang lebih awal, berjalan tanpa memakai kendaraan, dekat dengan
imam, mendengarkan dengan seksama, tidak melakukan perbuatan sia-sia (dengan
berbicara). Maka bagiya setiap langkah pahala  amalan setahun puasa dan
qiyamnya.” (Al-Mugni, 2/103).

Syekh Ibnu Utsaimin
rahimahullah mengatakan, “Tidak diragukan bahwa dekat dengan imam dalam
masjidil haram atau masjid lainnya itu lebih utama daripada jauh dengannya.”
(Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 13/30).

Dengan demikian, maka dekat
dengan imam itu lebih utama daripada dekat dengan Ka’bah.

Keempat:

Di antara kekhususan Masjidil
Haram adalah ia adalah masjid terbaik, dan terbanyak pahalanya bagi orang
yang shalat di dalamnya. Berasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

وَصَلَاةٌ فِي
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ
)رواه
ابن ماجه، رقم 1396 وصححه الشيخ الألباني رحمه الله في صحيح ابن ماجه)

“Shalat di Masjidil Haram itu
lebih utama 100.000 shalat di badig
selainnya.” (HR. Ibnu Majah, no. 1396, dishahihkan Syekh
Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah)

Di antara kekhususannya juga
adalah Allah menjadikannya aman berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ
جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا (سورة البقرة: 125)

“Dan
(ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul
bagi manusia dan tempat yang aman.”
(QS. Al-Baqarah: 125)

Untuk tambahan faedah
silahkan lihat soal no. 3748.

Disana ada hukum lain terkait
dengan Masjid Haram dan secara umam terkait dengah Haram. Disebutkan ahli
ilmu di kitab-kitab mereka, berdasarkan nash-nash yang ada tentang hal itu.

Untuk tambahan silahkan lihat
kitab berjudul ‘Ahkam Al-Haram Al-Makki’ karangan Syekh Sami bin Muhammad
Suqoiir. Beliau hafizahullah telah menyebutkan permasalahan dan hukum
terkait dengan Haram Makkah dan Majidil Haram.

Wallahu a’lam.