Ketika dalam shalat sirriyah (bacaan pelan) apakah makmum diam setelah selesai membaca Al-Fatihah dan surat dalam rakaat pertama dan kedua dan ketika selesai membaca Al-Fatihah dalam rakaat ketiga dan keempat. Kalau tidak, dia apa yang (perlu) dibaca?

Alhamdulillah

Pertama, Yang dianjurkan bagi orang yang
menunaikan shalat sirriyah (bacaan pelan) adalah membaca Al-Fatihah dan
membaca (surat lain) dari Al-Qur’an yang mudah baginya pada dua rakaat
pertama. Baik dia sebagai imam atau makmum. Sebagaimana yang diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhuma berkata:

كُنَّا نَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ
وَالْعَصْرِ خَلْفَ الإِمَامِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ
الْكِتَابِ وَسُورَةٍ , وَفِي الأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَاب (و الحديث
صححه الألباني فى صحيح ابن ماجه، 843)

“Kami
dahulu
membaca Fatihatul
Kitab (Al-Fatihah) dan surat (Al-Qur’an) pada shalat Zuhur dan Ashar di
belakang Imam pada dua rakaat pertama. Sedangkan pada dau rakaat terakhir,
(membaca) Fatihatul Kitab (saja).” (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh
Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah, 843)

Dan bagi orang yang
shalat –imam atau makmum- dalam dua rakaat pertama (dibolehkan) membaca
lebih dari satu surat setelah membaca Al-Fatihah. Sebagaimana diriwayatkan
oleh bukhori, 775 dan Muslim, 822 dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata:

لَقَدْ عَرَفْتُ النَّظَائِرَ الَّتِي
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرُنُ بَيْنَهُنَّ ,
فَذَكَرَ عِشْرِينَ سُورَةً مِنْ الْمُفَصَّلِ سُورَتَيْنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ

“Sungguh saya telah
mengetahui (surat-surat) yang mirip dimana Nabi sallallahu’alaihi wasallam
menggabungkan di antara (surat-surat). Kemudian beliau menyebutkan dua puluh
surat dari pertengahan, dua surat (yang dibaca) pada setiap rakaat.”

Di antaranya, Nabi
sallallahu’alaihi wa sallam menggabungkan antara Ar-Rahman dan An-Najm dalam
satu rakaat. Al-Qamar dan Al-Haqqah, At-Tur dan Ad-Dzariyat, Al-Waqiah dan
Al-Qalam.

(Sifat Shalatun
Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, karangan Al-Albany, hal. 104.

Dalil yang
menunjukkan dibolehkannya bacaan dua surat setelah Al-Fatihah, adalah apa
yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam bab ‘Al-jam’u Baina As-Suratain fi
Ar-Raka’ah (menggabungkan di antara dua surat dalam satu rakaat)’,

Dari
Anas bin Malik radhiallahu’anhu
berkata:

“Ada seorang
dari kalangan Anshar menjadi imam di Masjid Quba. Setiap kali dia membaca
surat, diawali dengan membaca surat ‘Qul huwallahua ahad’ hingga selesai,
lalu dia membaca surat lain bersamanya. Hal tersebut dia lakukan pada setiap
rakaat. Lalu orang-orang berkata kepadanya, ‘Engkau mengawali dengan surat
tersebut (Al-Ikhlas), lalu setelah selesai engkau teruskan dengan membaca
surat lain. Engkau seharusnya hanya membaca surat itu saja, atau engkau
tidak membacanya dan menggantinya dengan membaca surat lain. Maka dia
berkata, ‘Aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ingin aku menjadi imam
bagi kalian, maka aku akan melakukannya, jika kalian tidak menyukai aku
(melakukan hal itu) maka aku tinggalkan kalian (menjadi imam). Orang-orang
di sekitarnya menilai tidak ada yang lebih baik dari orang tersebut, dan
mereka tidak suka jika yang menjadi imam adalah orang selainnya. Maka ketika
Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendatangi mereka, mereka memberitahu hal
tersebut. Lalu beliau bersabda, ‘Wahai fulan, apa yang mencegahmu melakukan
apa yang diinginkan para sahabatmu, dan apa yang menjadi alasanmu sehingga
engkau selalu membaca surat tersebut (Al-Ikhlas) pada setiap rakaat?’ Maka
dia berkata, ‘Aku mencintainya”, lalu beliau bersabda, ‘Cintamu kepadanya,
akan memasukkanmu ke dalam surga.’ 

Silahkan lihat
Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/403.

Kedua: Adapun pada
dua rakaat terakhir, asalnya cukup membaca Al-Fatihah. Sebagaimana
diriwayatkan oleh Muslim, 451 dari Abu Qatadah radhiallahu’anhu,
“Sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam biasa membaca Fatihatul Kitab
dan surat pada dua rakaat pertama dalam shalat Zuhur dan Ashar, dan
terkadang memperdengarkan ayat kepada kami. Sedangkan pada dua rakaat
terakhir, (beliau hanya) membaca Fatihatul Kitab.”

Ini adalah asalnya.
Tapi diperkenankan bagi orang yang shalat, kadang-kadang membaca surat
setelah Al-Fatihah pada dua rakaat akhir. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Muslim, 452 dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu’anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( كَانَ
يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ فِي كُلِّ
رَكْعَةٍ قَدْرَ ثَلاثِينَ آيَةً , وَفِي الأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ خَمْسَ
عَشْرَةَ آيَةً
,
أَوْ قَالَ نِصْفَ ذَلِكَ , وَفِي الْعَصْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ
فِي كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ قِرَاءَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً , وَفِي
الأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ نِصْفِ ذَلِكَ

Sesungguhnya Nabi
sallallahu’alaihi wa sallam biasanya membaca pada shalat Zuhur di dua rakaat
pertama pada setiap rakaat sekitar tiga puluh ayat, dan pada dua rakaat
lainnya sekitar lima belas ayat, atau, separuh dari itu. Sedang dalam shalat
Asar, di dua rakaat pertama pada setiap rakaat membaca sekitar lima belas
ayat. Pada dua rakaat lainnya separuh dari itu.

Syekh Al-Albany
rahimahullah berkata: ”Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tambahan
setelah Al-Fatihah pada dua rakaat terakhir adalah sunnah. Pendapat ini
(diikuti) sekelompok shahabat, di antaranya Abu Bakar As-Siddiq
radhiallahu’anhu, dan ini pendapat Imam Syafi’i baik dalam shalat Zuhur atau
yang lainnya. Dan ulama kami kemudian (muta’akhirin) mengambilnya (sebagai
pendapatnya) yaitu Abu Al-Hasanat Al-Laknawi..’ (Sifatus Shalat, hal. 113)

Syekh Ibnu Utsaimin
rahimahullah ditanya: “Kalau orang yang shalat sirriyah (membaca dengan
pelan) sudah selesai membaca Al-Fatihah dan surat. Sementara Imam belum
ruku’, apakah dia diam (saja)? Beliau menjawab: “Makmum hendaknya tidak diam
apabila selesai membaca Al-Fatihah dan surat, sementara imamnya belum ruku’.
Dia dianjurkan untuk tetap membaca sampai imamnya ruku’. Bahkan pada dua
rakaat akhir setelah tasyahud awwal, apabila dia telah selesai membaca
Al-Fatihah sementara imam belum ruku’, maka dia (dianjurkan membaca) surat
lainnya sampai imamnya ruku’. Karena dalam shalat tidak ada diam kecuali
dalam kondisi makmum mendengarkan bacaan Imam.” (Majmu’ Fatawa Ibnu
Utsaimin, 15/108)

Wallahu’alam

.