Saya tahu anda telah menjelaskan cara mengetahui hakekat jamaah yang mengikuti hadits dan Sunnah, tidak akan sesat orang yang mengikutinya. Saya bersama Kelompok Ahlul Hadits -(Orang-orang Saudi Salafi)- sampai banyak informasi yang datang kepadaku dari sebagian orang, yang menuduh orang-orang salafi. Tentunya mereka menguatkan perkataannya disertai dengan hadits yang saya tidak dapat membantahnya. Saya menukil tuduhan-tuduhan untuk orang salafi dan menyebutkan kepadaku hadits yang meyakinkan dan saya tidak dapat membantahnya juga. Dan saya tidak mampu meninggalkan salafi karena mereka adalah satu-satunya Jamaah yanag ada di kotaku yang kecil. Disamping dengan penyembah kuburan. Kalau saya mengikuti mereka, apakah hal itu menjadikan saya termasuk orang yang taklid buta dengan orang-orang salafi? Sebagaimana yang dikatakan penentang salafi, bahwa kita harus mengikuti satu imam. Secara singkat apa solusi yang paling bagus? Kenapa kebanyakan jamaah dan mazhab menyebutkan banyak hadits dan mengatakan bahwa sanadnya shoheh kemudian membenturkan dengan hadits yang lainnya? Bagaimana kalau hadits itu shoheh? Apa yang harus saya lakukan?
Alhamdulillah
Telah banyak kami jelaskan
dalam jawaban kami, timbangan yang seorang muslim dapat menghukumi terhadap
jamaah dan kelompok serta partai yang bertentangan dengan agama. Diantara
yang telah kami jelaskan banyak sekali di sini adalah:
Bahwa perbedaan yang anda
lihat diantara umat Islam sekarang, Allah tidak menjadikan orang kebingungan.
Tidak mengetahui kebenaran dari kebatilan. Bahkan Allah Ta’ala menjadikan
tanda-tanda kebenaran dan orang yang jujur. Serta membuat dalil yang jelas
manhajnya, tidak ada yang terjerumus kecuali orang yang celaka.
Ketika Nabi sallallahu alaihi
wa sallam memberitahukan tentang perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga
golongan. Semuanya masuk ke neraka kecuali satu. Yaitu ‘Orang yang seperti
apa yang ada pada Nabi dan para shahabat’ ini adalah timbangannya. Maka
harus sesuai dengan para shahabat radhiallahu anhum. Maka tidak cukup
seseorang datang membawa hadits dan mengatakan bahwa ini hadits shoheh
kemudian menjadikan sebagai dalil untuk membenarkan mazhabnya atau
pendapatnya. Sesuai dengan apa yang difahaminya dia dari hadits itu. Yang
seyogyanya adalah mencari pemahaman para shahabat radhiallahu anhum hadits
ini apakah seperti pemahaman dia atau tidak?
Ini adalah barometer yang
membedakan hakekat pemilik kebenaran dengan yang lainnya. Yaitu merujuk
dalam memahami agama ke ulama salafus soleh. Dari kalangan para shahabat dan
yang mengikuti mereka dengan baik. Karena mereka adalah umat terbaik,
terbagus dan yang paling mengetahui sebagaimana yang diberitahukan hal itu
oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam.
Yang melihat
kelompok-kelompok jauh dari kebenaran, dia melihat bahwa mereka membuat
rancu orang dengan memakai dalil dari ayat atau hadits bukan pada tempatnya
sampai orang menyangka bahwa mereka mengikuti Kitab dan Sunnah. Akan tetapi
mereka tidak mampu menetapkan bahwa ini adalah apa yang difahami oleh para
shahabat radhialahuanhum terhadap nash-nash ini.
Yang menyelewengkan sifat Rab
Tabaraka Wata’ala, yang menyembah kuburan dan towaf disekitarnya, yang
berjoget dalam zikir, yang meniadakan Qodar, yang mengatakan Al-Qur’an
adalah makhluk dan akidah serta manhaj yang menyeleweng, tidak ada
seorangpun yang mengaku bahwa dia sesuai dengan keyakinan para shahabat Nabi
sallallahu alaihi wa sallam. Meskipun dia menyangka bersamanya ayat (Quran
atau hadits). Akan tetapi dia tidak dapat menetapkan bahwa pemahamannya
adalah (sesuai) dengan pamahaman orang yang menyaksikan (wahyu) yang
diturunkan. Dan mendengar Nabi sallallahu alaihi wa sallam dari para
shahabat yang mulia radhiallahu anhum. Ini adalah barometer yang sangat
teliti dan agung, seseorang dapat mengetahui di sela-selanya kebenaran dan
kerusakan apa yang didengarkan dan dibacanya dari akidah dan manhaj yang
pemiliknya menyangka dalam hidayah dan kebenaran.
Anda mengikuti dari para
ulama salafi dari apa yang dikatakan kepada anda, dan menyebutkan kepada
anda tentang tauhid, fikih dan hadits, sesungguhnya termasuk mengikuti Islam
yang benar yang Allah redhoi terhadap seluruh manusia. Terkadang syetan
masuk dan memberikan was was kepada anda, bahwa ini adalah taklid (fanatic)
yang tidak diperbolehkan. Tidak diragukan bahwa ini adalah permulaan jalan
kesesatan dari kebenaran. Orang awam dari kalangan umat Islam, Allah
wajibkan kepadanya agar bertanya kepada ahli ilmu dan mengambil perkataannya
serta fatwanya. Anda ketahui bahwa mereka adalah yang paling dekat dengan
kebenaran yaitu orang yang mengikuti jalan para shahabat Nabi sallallahu
alaihi wa sallam dalam memahami nash Kitab dan Sunnah, mereka adalah
pengikut ulama salafus soleh.
Seorang muslim yang mampu
dalam ilmu agama, dapat menyungkap sendiri kebenaran atau kerusakan dari apa
yang didengar dan dibacanya disela-sela belajarnya dan membandingkan
antaranya dan antara apa yang ditetapkan para ulama salaf, tidak mengapa
kebenaran dalam sebagian permasalah dengan ada yang tidak sesuai. Akan
tetapi tidak mungkin manhaj dan jalan yang benar itu bukan jalan ulama salaf
umat ini dari para shahabat, tabiin dan orang yang mengikuti dengan baik.
Semua apa yang dinukilkan
dari para ulama salafi, sesungguhnya adalah perkataan para shahabat, Said
bin Musayyib, Zuhri, Mujahid, ‘Atho’, Malik, Hammad bin Zaid, Hammad bin
Salamah, Syafi’I, Ahmad, Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan selain dari mereka
tanda petunjuk dan kebenaran.
Anda akan dapatkan ahli
bid’ah akan menyebutkan kebaikan tanpa menyebutkan kejelekannya. Anda akan
dapati pertentangan Sunnah dengan kitab mereka. Menolak Sunnah karena
bertentangan dengan kitabnya. Menyelewengkan apa yang ada dalam kitabullah
dengan jelas. Melemahkan Sunnah yang jelas dan terang karena berbeda dengan
pendapat dan hawa nafsunya. Dan begitulah, oleh karena itu mereka disebut
‘Ahli Hawa Nafsu’.
Sementara ahlus Sunnah
menyebutkan kebaikan dan kejelekan. Melihat Sunnah dengan sepenuhnya,
mengedepankan Sunnah –kalau itu shoheh- dibandingkan dengan lainnya. Ia
tidak mempunyai hawa nafsu yang diikutinya sampai menolak hadits karenanya
atau menyelewengkan ayat. Pada hakekatnya tidak ada diantara nash wahyu
bertentangan. Pertentangannya hanya sekedar dohirnya saja. Setiap ilmu ada
pakarnya. Hadits ada pakarnya yang menjelaskan yang benar dari yang salah.
Menerangkan maksudnya, menghilangkan permasalahan dan memadukan yang
dohirnya seakan bertentangan.
Ringkasannya:
Sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Nabi sallallahu alaihi wa sallam, orang yang paling mengetahui
petunjuk ini adalah ahli hadits dan para ahli fikh. Mereka adalah ulama
salafus soleh, siapa yang mengikuti mereka akan selamat, siapa yang
menyelisihi akan binasa. Maka anda hendaknya konsisten dengan jalan ini dan
meminta kepada Allah Ta’ala petunjuk, taufik dan ketetapan.
Sementara ucapan penanya
tentang ahlu hadits mereka adalah (Saudi salafi) penyempitan yang kurang
benar. Ahli hadits tidak dikhususkan negara tertentu atau orang tertentu,
bahkan ahli hadits adalah setiap orang yang mengikuti Sunnah Nabi sallallahu
alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar sesuai dengan pemahaman para
shahabat radhiallahu anhum dan orang yang mengikutinya dengan baik. Wallahul
Hadi.
