Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengisyaratkan puasa Daud dan bersabda: “Ia adalah sebaik-baik puasa” akan tetapi beliau tidak melakukannya, meskipun beliau mampu melaksakannya, hal itu berarti bagi siapa saja yang mampu melaksanakan puasa Daud, yang lebih utama adalah tidak melaksanakannya, seperti halnya yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- lakukan. Bukankah demikian, kemudian siapa kita ini untuk melaksanakan puasa dengan cara seperti itu, meskipun ada atsar yang meriwayatkan hal itu, namun orang yang paling takut kepada Allah dan lebih bertakwa kepada-Nya, beliau memilih untuk tidak melaksanakannya dengan cara itu, bukankah beliau Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih utama untuk diikuti dari pada Nabi Daud -‘alaihis salam- .
Alhamdulillah
Di antara petunjuk Rasulullah
–shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah beliau meninggalkan amalan yang utama
padahal beliau ingin mengamalkannya, atau agar diamalkan oleh semua orang;
karena beberapa sebab, di antaranya adalah: untuk meringankan ummatnya;
karena jika beliau melaksanakan amalan yang utama dan dilaksanakan
terus-menerus, maka hal itu bisa jadi akan memberatkan dan menyulitkan bagi
siapa saja yang akan berqudwah kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Disebutkan dalam Zaadul Ma’ad
fii Hadyi Khoiril ‘Iibad (2/96):
“Beliau banyak meninggalkan
amal, padahal beliau ingin mengamalkannya; hal itu karena dihawatirkan
justru akan menyulitkan mereka, pada saat beliau telah memasuki Baitullah
beliau keluar dengan bersedih, seraya Aisyah berkata dalam masalah tersebut,
maka beliau menjawab:
( إِنِّي
أَخَافُ أَنْ أَكُونَ قَدْ شَقَقْتُ عَلَى أُمَّتِي )
“Sungguh saya khawatir bahwa
saya justru akan menyulitkan ummatku”.
Ibnu Hajar Al Haitami –rahimahullah-
berkata:
“Puasanya beliau dalam dalam
satu tahun dan satu bulan banyak macamnya, beliau tidak pernah berpuasa satu
tahun penuh, tidak juga qiyam lail semalam suntuk, meskipun beliau mampu
melakukannya, agar tidak diikuti oleh ummatnya dan akan memberatkan mereka,
akan tetapi beliau menempuh jalan pertengahan, beliau berpuasa seakan beliau
tidak pernah berbuka, dan berbuka (tidak puasa) sehingga beliau dikira tidak
pernah berpuasa, beliau melaksanakan qiyam lail sehingga dikira tidak pernah
tidur, dan beliau tidur sehingga dikira tidak pernah qiyam lail”. ( Al
Fatawa Al Fiqhiyyah: 2/53)
Di antara hikmahnya adalah
kehawatiran beliau perbuatan tersebut akan diwajibkan kepada ummat,
sebagaimana beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- meninggalkan shalat
tarawih (berjama’ah) dalam bulan Ramadhan; karena beliau khawatir akan
diwajibkan kepada ummat.
Dari sini kita mengetahui
bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak selalu melaksanakan puasa
Daud –‘alaihis salam-, padahal beliau menunjukkan dan mengabarkan bahwa
puasa tersebut adalah sebaik-baik puasa, sebagaimana yang telah disebutkan
dalam Shahihain dari Abdullah bin Amr –radhiyallahu ‘anhuma- dari Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- bersabda:
( إن أفضل
الصيام صيام داود : كان يصوم يوماً ويفطر يوماً)
“Sesungguhnya puasa yang
paling utama adalah puasa Daud, yaitu; sehari puasa dan sehari tidak”.
Hal itu agar tidak
memberatkan ummatnya; karena orang-orang yang beriman berlomba untuk
berqudwah kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan puasa sehari dan
sehari tidak akan memberatkan mereka.
Telah dijelaskan sebelumnya
pada fatwa nomor: 175867
Hikmah yang lainnya adalah
bahwa beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- terkadang meninggalkan sebagian
amalan karena beliau sibuk dengan urusan yang lebih penting dan lebih utama,
di antaranya adalah: bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan
keutamaan umrah pada bulan Ramadhan dan menyatakan bahwa pahalanya sama
dengan haji, namun Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak melakukan
umrah pada bulan Ramadhan; karena beliau pada bulan Ramadhan sibuk dengan
ibadah yang lebih penting dari umrah, sebagaimana yang telah disebutkan oleh
Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad dalam masalah ini yang telah disebutkan
sebelumnya.
Atas dasar itulah maka barang
siapa yang menginginkan sebaik-baik puasa maka hendaknya melaksanakan sehari
puasa dan sehari tidak, sebagaimana perbuatan Nabi Daud -‘alaihis salam- dan
hal itu dianggap telah mengamalkan sunnah Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi
w sallam-; karena beliau telah menyatakan sebagai sebaik-baik puasa, akan
tetapi beliau tidak melaksanakannya karena beberapa sebab yang telah kami
sebutkan sebelumnya.
Untuk penjelasan lebih lanjut
bisa dibaca jawaban soal nomor: 47819 dan
32469
Wallahu A’lam.
