Saya mengharap penjelasan perihal keutamaan Sahabat, dan apa gerangan keistimewaan mereka dari yang lainnya ??
Alhamdulillah ..
Keyakinan dan ideologi akan adil dan keutamaan para Sahabat
merupakan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang demikian itu karena Allah
Subhanahu Wata’ala telah menyanjung mereka dalam Alqur’an, dan As Sunnah An
Nabawiyyah telah membicarakan sanjungan terhadap mereka, apalagi nash-nash
akan hal semacam ini yang sampainya kepada kita secara mutawatir bisa kita
dapati di banyak model ayat Qur’an atau Hadits yang menunjukkan bukti yang
jelas bahwa memang sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kepada mereka
banyak keutamaan–keutamaan, dan menghususkan mereka dengan sifat–sifat yang
paling mulya, mereka meraih dengan yang demikian itu kemulyaan yang luhur
dan derajat yang tinggi di sisi Nya ; dan sesungguhnya Allah Ta’ala
memilihkan bagi Risalahnya tempat yang sangat layak di hati-hati para
hambanya yang bisa mewarisi Risalah kenabian ini, yaitu mereka yang bisa
mengemban syukur akan nikmat ini dan sesuai dengan kemulyaan ini ;
sebagaimana firman Allah Ta’ala :
الأنعَام
/124(اللهُ
أعلَمُ حيْثُ يجْعَلُ رِىسالَتَهُ)
“ Allah Yang Maha Mengetahui sekiranya di mana Dia
menempatkan risalah Nya ” Surat Al An’am/124.
Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata : “ Maka Allah Yang
Maha Suci Yang Maha Mengetahui di mana akan menempatkan Risalah–risalah Nya
sebagai tonggak dasar dan sumber hukum lalu siapa-siapa saja yang kelak akan
mewarisinya ; maka Dialah Dzat yang Maha Mengetahui siapa saja yang layak
mengemban Risalah-Nya dan siapa yang tidak layak mengemban Risalah ini dari
umat-umat-Nya, maka mereka yang layak akan mengimplementasikannya kepada
seluruh hamba-hamba-Nya
dengan penuh Amanah yang didasari dengan semangat, senantiasa memberikan
nasihat kepada sesama, mengagungkan pengemban Risalah dan melaksanakan serta
memenuhi segala hak-haknya, selalu bersabar dalam menjalankan perintah –
perintahnya dan mensyukuri segala macam nikmat Nya dengan senantiasa
bertaqarrub kepada Nya, demikian pula Allah Subhanahu Wata’ala Yang Maha
Mengetahui siapa saja di antara umat-umat Nya yang layak mewarisi para
Utusan Nya sebagai pengganti mereka dan menjalankan kekhalifaan mereka,
serta mengemban dan melanjutkan apa yang mereka sampaikan dari Tuhan mereka
” (Dari kitab Thoriqul Hijratain, halaman 171 ).
وقال تعالى : ( وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ
لِيَقُولُوا أَهَؤُلاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ
اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ) الأنعام/53
Allah Ta’ala berfirman : “ Dan demikianlah telah kami uji
sebagaian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagaian mereka
(orang-orang yang miskin), supaya (orang-orang yang kaya) itu berkata :
Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugrah oleh Allah
kepada mereka ? (Allah berfirman) : Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang
orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya) ? Surat Al An’am /53.
As Syaikh As Sa’di Rahimahullah berkata
: “ Mereka yang mendapatkan kenikmatan, mengerti siapa yang memberi
kenikmatan tersebut lalu menetapkannya dan melaksanakan segala bentuk
konsekwensinya dengan beramal shaleh, kemudian Allah mencurahkan keutamaan
dan pemberian-Nya kepada mereka orang-orang yang bersyukur, karena
sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Bijaksana dan tidak akan mencurahkan
keutamaan Nya kepada orang yang tidak layak mendapatkannya yaitu orang-orang
yang tidak bersyukur ”. Sebagaimana terdapat ayat-ayat Al Qur’an dan
Hadits-hadits Nabawi tentang keutamaan dan keluhuran kedudukan mereka,
terdapat pula sebab-sebab yang menyebutkan mengapa mereka para Sahabat
Radliyallahu Anhum berhak dan layak mendapatkan kedudukan yang tinggi ini,
di antaranya Firman Allah Ta’ala :
( مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ
وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ
رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ
فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ
وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ
فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ
الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنهم
مغفرة و أجرا عظيما )
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang
bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka : kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia
Allah dan keridlaan Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari
bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam taurat dan sifat-sifat
mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka
tunas itu menjadikan tanaman itu kuat dan menjadi besarlah dia dan tegak
lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya
karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan
orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
(Surat Al Fath/29).
Dan di antara wajibnya pengagungan atas ketinggian dan
keluhuran kedudukan para sahabat, adalah kesaksian Allah Ta’ala bagi mereka
tentang kejernihan hati mereka dan kejujuran keimanan mereka, dan demi Allah
yang demikian itu merupakan kesaksian agung dari Tuhan semesta alam, yang
tidak mungkin sembarang orang mendapatkan dan memperolehnya setelah berakhir
dan terhentinya wahyu, firman Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan :
(
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ
الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ
وَأَثَابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً ( الفتح / 18)
“Sesungguhnya Allah telah ridlo terhadap orang-orang mukmin
ketika mereka berbai’at kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa
yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan
memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat ) Surat Al
Fath/18.
Ibnu Katsir Rahimahullah dalam tafsirnya “
Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim ” (243/4) mengatakan tentang penafsiran
فعلم
ما في قلوبهم yaitu :
Pengetahuan Allah tentang kejujuran, kebiasaan menepati janji, kebiasaan
mendengar dan taat kepada perintah.
Dan alangkah indahnya apa yang
diungkapkan Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu Anhu : “ Barangsiapa di antara
kalian yang ingin mengambil sunnah, maka hendaklah ia mengambil sunnah dari
orang yang sudah meninggal ; sebab orang yang masih hidup tidak aman dari
fitnah ; mereka adalah para Sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
orang-orang paling utama dari umat ini ; yang paling jernih hatinya, paling
dalam ilmunya dan orang-orang yang tidak pernah melakukan kepura–puraan,
satu kaum yang Allah memilih mereka untuk menemani Nabi Nya dan menegakkan
agama Nya, maka hendaklah kalian mengetahui keutamaan mereka dan jadikanlah
mereka sebagai panutan bagi kalian di setiap napak tilas mereka, hendaklah
kalian berpegang teguh dari Akhlaq dan agama mereka semampu kalian karena
sesungguhnya mereka berada dan berjalan di atas jalan yang lurus ”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab Al Jami’, nomer (1810). Dan
sungguh Allah telah menjanjikan bagi mereka kaum Muhajirin dan Anshor dengan
surga dan kenikmatan yang kekal serta tiada batas, Allah juga menghalalkan
atas mereka keridloan Nya dalam ayat-ayat yang senantiasa di lantunkan
sampai hari kiamat, maka apakah masuk akal dengan kelebihan yang demikian
tadi lalu mereka tidak layak mendapatkan keutamaan dan kemulyaan ?? Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman :
( وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ
مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ
رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي
تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
)
“ Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk
Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla
kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
kemenangan yang besar ” Qur’an Surat At Taubah/100.
Telah memberikan kesaksian akan keutamaan mereka manusia
terbaik dan pemimpin para Rasul dan Nabi, beliau menyaksikan kiprah mereka
dalam kehidupan beliau, melihat langsung pengorbanan mereka, dan mereka
senantiasa tegar di atas kejujuran tekad mereka, lalu Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam melontarkan ungkapan yang abadi tentang keutamaan para
sahabat beliau yang mencerminkan betapa kecintaan beliau kepada mereka ;
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :” لا ثسُبُّوا أصحَابِي ؛ فوَالذِي نَفسِي
بِيَدِهِ لَو أنَّ أحَدَكُم أنْفَقَ مِثلَ أُحُدٍ ذَهَباً ماَ أدرَكَ مُدَّ
أحَدِهِم ولاَ نَصِيفَهُ “
رواه البخاري (3673) و مُسلم
(2540)
Dari Abu Hurairah Radliyallahu Anhu ia berkata : Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “ Janganlah kalian mencela
sahabat-sahabat ku ; maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar
gunung Uhud, maka hal itu tidak akan menyamai satu mud pun dari (kebaikan)
mereka atau bahkan tidak pula separuhnya ”. Di riwayatkan oleh Imam Bukhari
(3673) dan Imam Muslim (2540).
وعن
عبدالله بن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (( خَيرُ
النَّاسِ قَرنِي، ثُمَّ الذَّينَ يَلونَهُم ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلونَهُمْ ))
رواه البخاري (2652) و مسلم
(2533).
Dan dari Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu Anhu dari Nabi
Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : (( Sebaik-baik manusia adalah mereka
yang berada di masaku, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka,
kemudian orang-orang yang datang setelah mereka )) Diriwayatkan oleh Al
Bukhari (2652) dan Muslim (2533).
Al Khothib Al Baghdadi Rahimahullah mengungkapkan dalam kitab
: “ Al Kifayah ” (49) : Kalau seandainya kita mampu untuk membukukan
prinsip-prinsip para Sahabat yang lembaran jalan hidup mereka dipergunakan
untuk menolong agama, dan amal perbuatan mereka layak mendapatkan kedudukan
yang tinggi dan luhur, maka tidak akan mencukupi berjilid-jilid yang
panjang menampung kisah hidup mereka yang mulya karena semua kehidupan
mereka dihibahkan di jalan Allah Ta’ala, dan mana ada kertas yang bisa
menampung jalan hidup ratusan para Sahabat yang mereka memenuhi alam semesta
ini dengan berbagai macam kebaikan dan kemaslahatan.
Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu Anhu berkata : “
Sesungguhnya Allah Ta’ala melihat ke dalam hati-hati para hamba Nya, maka
Dia mendapati hati Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam paling baik dari
hati semua hamba Nya, lalu Allah memilihnya untuk diri Nya, dan diutusnya
untuk mengemban risalah Nya, kemudian Dia melihat hati-hati para hamba
setelah hati Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, dan Allah mendapati
hati-hati para Sahabat sebaik-baik hati dari seluruh hamba, maka di
jadikanlah mereka mentri-mentri Nabi Nya yang mereka berperang karena
membela Agama Nya, dan apa yang dalam kaca mata serta perspektif kaum
Muslimin adalah baik ; maka ia di sisi Allah adalah baik, dan apa yang dalam
perspektif mereka adalah buruk, maka menurut Allah adalah buruk ”. Di
riwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “ Al Musnad ”(379/1) dan para Muhaqqiq
mereka mengatakan hadits tersebut Sanadnya Hasan.
Dan perlu untuk penguat dan juga memperluas wawasan dalam hal
ini merujuk pada jawaban soal nomer (13713) dan (45563).
Yang Kedua :
Harus kita ketahui bahwasannya para Sahabat Radliyallahu
Anhum bukanlah orang yang ma’sum atau terhindar dan terjaga dari salah dan
khilaf, dan hal ini merupakan Madzhab ahlus Sunnah wal Jama’ah, sesungguhnya
mereka hanya manusia biasa apa yang terjadi pada kebanyakan orang terjadi
pula pada mereka, bisa jadi sebagian mereka melakukan kema’siatan dan
kesalahan, meski mereka di satu sisi mendapatkan keutamaan dan kemulyaan
sebagai Sahabat namun di sisi yang lain mereka juga berhak mendapatkan
ampunan dan kemakluman dari yang lainnya, dan perlu diingat bahwasannya
kebaikan-kebaikan itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan keberadaan
serta kebersamaan salah seorang sahabat bersama Nabi Shallallahu Alaihi
Wasallam meski hanya sekejap waktu dalam meniti jalan-jalan agama ini tidak
sebanding dengan suatu apapun di dunia ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Rahimahullah berkata : “ Dan merupakan prinsip Ahlus Sunnah terhadap Sahabat
adalah berkata-kata yang baik perihal mereka, menunjukkan kasih sayang dan
senantiasa memohonkan ampunan bagi mereka, akan tetapi tidak berkeyakinan
akan kema’shuman mereka dari kesalahan dan dosa dalam berijtihad melainkan
hanya bagi Rasulullah saja yang ma’shum, selain beliau maka tidak menutup
kemungkinan melakukan dosa dan kesalahan, akan tetapi mereka ini sebagaimana
firman Allah Ta’ala:
أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا
عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ)
Artinya : “ Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari
mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni
kesalahan-kesalahan mereka…” . Al Ahqaaf /16.
Bisa dipahami bahwa keutamaan-keutamaan amalan itu dibuktikan
dari hasil dan akibat dari amalan tadi bukan dari bentuk amalannya. ( Majmu’
Al Fatawa 434/4 ). Al Qur’an dan As Sunnah juga telah menegaskan yang
demikian di banyak situasi dan kondisi, di antaranya ; Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah memberikan ampunan kepada mereka para sahabat yang berpaling
pada saat berkecamuk perang Uhud, firman Allah Ta’ala :
(إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْاْ مِنكُمْ يَوْمَ الْتَقَى
الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُواْ
وَلَقَدْ عَفَا اللّهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ حَلِيم)
Artinya : “ Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara
kamu pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan
oleh syaitan, disebabkan kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa yang
lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberikan ampunan Nya kepada mereka,
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun ”. Ali Imran/155.
Dan tatkala sebagian Sahabat melakukan dosa dan kesalahan
dengan membawa berita kepada kaum kafir Quraisy akan kadatangan Nabi
Shallallahu Alaihi Wasallam dengan bala tentara pada saat tahun penaklukan
Kota Makkah, Umar bin Khatthab Radliyallahu Anhu pun dibuat geram dan hampir
membunuh mereka, lalu Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda :
( إِنَّهُ قَد شَهِدَ بَدرًا ، وَمَا يُدرِيكَ ؟ لَعَلَّ
اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهلِ بَدرٍ فَقَالَ : اعمَلُوا مَا شِئتُم ، فَقَد
غَفَرتُ لَكُم)
“ Tahukah engkau Sesungguhnya dia ikut serta dalam perang
Badar ? Semoga Allah mengampuni semua yang ikut serta dalam perang Badar,
lalu beliau bersabda pada mereka : lakukanlah apa yang kalian kehendaki,
sungguh aku telah mengampuni kalian ”. Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim
(2494).
Dan terdapat contoh yang lain yang menunjukkan dimana
sebagian Sahabat pada kondisi tersebut melakukan kemaksiatan dan dosa,
kemudian Allah Ta’ala memberikan maaf dan Ampunan-Nya kepada mereka dan hal
ini menunjukkan bahwsannya mereka berhak mendapatkan keutamaan dan
kemulyaan, dan sama sekali mereka tidak ternoda dan terpengaruh sedikitpun
dengan apa yang telah terjadi pada mereka di zaman Nabi Shallallahu Alaihi
Wasallam atau yang terjadi setelah Wafat beliau, maka sesungguhnya ayat-ayat
yang telah disebutkan diatas tentang keutamaan mereka dan kabar gembira akan
Surga yang di sediakan bagi mereka merupakan bukti dan dalil yang tidak akan
terhapuskan sedikitpun.
Wallahu A’lam.
