Saya membaca di salah satu kitab bahwa puasa malam pertengahan Sya’ban adalah bagian dari bid’ah. Namun saya juga membaca referensi dari sumber yang lain bahwa hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa adalah malam pertengahan Sya’ban. Apa hukum yang pasti dalam masalah itu?

Alhamdulillah.

Tidak ada riwayat shahih dan marfu tentang
keutamaan nishfu (pertengahan) Sya’ban yang dapat diamalkan dan layak
dijadikan pedoman, bahkan untuk masalah keutamaan sekalipun. Yang ada
hanyalah atsar (riwayat)  dari sebagian tabiin yang maqtu (terputus
riwayatnya), atau hadits-hadits   yang derajat paling kuatnya adalah palsu
atau sangat lemah. Riwayat-riwayat semacam ini memang sudah terlanjur 
dikenal di banyak negara yang  kaum muslimnya masih diliputi kebodohan,
yaitu   (atsar yang menunjukkan) bahwa pada waktu ajal dan umur ditetapkan,
dan lain-lain.

Dengan demikian, maka tidak diperintahkan
menghidupkan malam dan siang dengan berpuasa (secara khusus di malam ini),
tidak juga mengkhususkannya dengan ibadah tertentu. Banyaknya orang yang
belum tahu melakukan hal itu, tidak dapat dijadikan pedoman. Wallallahu’alam

Syekh Ibnu Jibrin mengatakan.

”Kalau ingin menunaikan (suatu amalan) di
dalamnya seperti menunaikan pada hari-hari lainnya –tanpa ada tambahan amal
dan motivasi, juga tidak mengkhususkan sesuatu- maka hal itu tidak mengapa.
Begitu juga kalau berpuasa pada hari kelima belas bulan Sya’ban bahwa,
dengan anggapan bahwa waktu itu termasuk ayyamul biidh disertai dengan
(puasa) hari keempat belas dan ketiga belas. Atau karena hari Senin atau
Kamis bertepatan dengan hari kelima belas (lalu dia berpuasa pada hari itu),
maka hal itu tidak mengapa, jika tidak berkeyakinan ada tambahan keutamaan
atau pahala lain yang tidak ada ketetapannya.

Wallallahu ta’ala a’lam