Sebagian orang melanggar larangan Allah, seperti: menyukur jenggot, merokok dan yang semisal itu. Apabila ia ditegur untuk meninggalkan perbuatan tersebut, dengan ringan ia menjawab, “Iman itu letaknya di dalam hati. Iman bukan mendidik kita untuk memelihara jenggot dan meninggalkan rokok. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa tubuhmu, tetapi Dia melihat hatimu.”
Bagaimana cara kita membantah pernyataan ini?
Alhamdulillah
Ucapan
seperti ini sering dilontarkan oleh sebagian orang yang tidak memahami agama
dan orang yang melampaui batas. Yaitu perkataan yang benar, namun
dimaksudkan untuk tujuan yang bathil. Sebab orang yang mengucapkannya
bertujuan dengan pernyataan tersebut untuk mengesahkan perbuatan maksiat
yang biasa diperbuatnya.
Ia
mengira bahwa iman cukup amalan hati, dan tidak ada korelasinya dengan amal
shalih dan meninggalkan suatu larangan. Dan anggapan ini merupakan kesalahan
yang berat. Sesungguhnya iman bukan sekedar amalan hati saja. Namun seperti
didefinisikan oleh ulama ahlus sunnah wal jama’ah, bahwa iman mencakup
ucapan lisan, keyakinan di dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan
(anggota tubuh).
Hasan
Basri rahimahullah berkata, iman itu bukanlah khayalan dan
angan-angan. Tapi iman adalah sesuatu yang diyakini dalam hati dan
dibenarkan dengan amal perbuatan.
Melakukan dosa dan mengabaikan perintah Allah, merupakan bukti ketiadaan
iman di dalam hati. Atau berkurangnya iman di dalam hati.
Allah
Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian
memakan harta riba.” (QS. Ali Imran: 130).
Dan juga
firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا
إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (35)
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu
mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 35).
“Siapa saja yang beriman kepada Allah, hari akhir dan beramal shalih.”
(QS. Al Maidah: 69).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan melakukan amal shalih.”
(QS. Al Baqarah: 277).
“Siapa saja yang beriman kepada Allah, hari akhir dan beramal shalih.”
(QS. Al Baqarah: 62).
Iman
tidak sempurna (utuh), sehingga diiringi dengan amal shalih dan menjauhi
maksiat.
Allah
berfirman,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3).
“Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil
amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’: 59).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ
وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila
Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”
(QS. Al Anfal: 24).
Dan
sebaliknya iman tidak cukup dengan amalan-amalan zahir, tanpa didasari
dengan keyakinan (yang benar) di dalam hati. Sebab, ini merupakan karakter
orang munafik, yang akan menjadi keraknya neraka dan ia kekal di dalamnya.
Demikian
pula, iman bukan sekedar keyakinan di dalam hati dan dibuktikan dengan amal
perbuatan tanpa pengikraran lisan. Karena ini model imannya mazhab murji’ah
dari kelompok jahmiyah dan yang lainnya. Dan ini merupakan mazhab yang
bathil dalam masalah iman.
Iman
yang benar adalah iman yang sinkron antara keyakinan hati, ucapan lisan dan
amalan anggota tubuh.
Melakukan maksiat merupakan indikasi lemah dan kurangnya bobot iman di dalam
hati. Karena sesungguhnya iman itu bertambah dengan melakukan ketaatan dan
berkurang dengan ukiran maksiat dan dosa.
(Al
muntaqa minfatawa syekh Shalih Fauzan, 1/ 19).
Sedangkan hadits yang mereka jadikan dalil bahwa iman itu terbatas pada
amalan hati, terdapat dalam shahih Muslim, yang teks lengkapnya sebagai
berikut:
)إِنَّ
اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ
إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
(
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu. Tapi Dia melihat pada
hati dan amal perbuatanmu.” (HR. Muslim, no:
2564).
Hadits
di atas merupakan nash yang verbal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bahwa perbaikan hati dan kelurusan amal perbuatan merupakan tuntutan iman,
yang diperintahkan kepada seorang muslim. Tidak boleh ia mengabaikan amalan
zahir atau melanggar suatu larangan, lalu dengan ringan ia mengucapkan,
“Sesungguhnya dasar penilaian Allah adalah hati.” Padahal yang benar adalah
Allah menilai hati dan amal perbuatan serta menghitung (dengan teliti) apa
yang ada di dalam hati dari iman dan seberapa besar ia buktikan dengan amal
perbuatan.
allahu a’lam.
