Berlandaskan rasa cinta saya kepada kepada para shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta berharap ridha Allah, saya ingin mengutus seseorang untuk menunaikan ibadah haji untuk para sahabat, apakah hal ini dibolehkan?
Alhamdulillah
Pertama, kami memohon kepada Allah agar
menambahkan kecintaan anda kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan para
shahabat yang mulia. Dan semoga (Allah) mencatat agungnya pahala dan balasan
kepada anda. jagalah kecintaan anda ini sebagai pendorong untuk meneladani
dan mengikuti mereka. Hal itu akan mendatangkan perasaan selalu diawasi
(muroqobah) Allah Ta’ala, baik dalam kondisi sepi maupun ramai, serta
keikhlasan hati dari kotoran syirik, riya, dengki, ujub dan sombong Dan
merendahkan diri dalam menggapai indahnya ubudiyah kepada Allah Ta’ala.
Kedua,
telah ada dalil-dalil agama yang menunjukkan dibolehkannya menghadiahkan
pahala dari sebagian kebaikan kepada mayat. Hal ini telah diuraikan pada
soal jawab no. 12652.
Akan tetapi
menghadiahkan pahala amal (kebaikan) kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam
atau kepada para shahabatnya yang mulia bukan merupakan sunnah yang
dianjurkan, hal itu karena beberapa hal;
Pertama, sesungguhnya kami tidak dapatkan
ulama salaf melakukan itu. Sebaik-baik kebaikan adalah mengikuti salaf dan
semua keburukan adalah membuat perkara baru dari kalangan khalaf (yang
belakangan). Bahkan hal tersebut tidak dilakukan oleh Nabi sallallahu alahi
wa sallam terhadap satu pun shahabatnya. Telah meninggal dunia istri beliau
Khadijah dan pamannya Hamzah sebelum kewajiban haji, dan tidak dinukil bahwa
beliau menyuruh orang untuk menghajikan keduanya atau bershadaqah untuk
keduanya. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad
sallallahu’alaihi wa sallam.
Kedua,
Allah telah menyebutkan dalam surat Al-Hasyr keutamaan orang-orang muhajirin
dan anshar. Kemudian menyanjung orang yang datang setelahnya dengan
firman-Nya:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (سورة
الحشر:10)
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka
berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang
telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami,
Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Yang disebutkan dalam ayat tersebut (tentang
amal orang kemudian untuk orang-orang sebelumnya) hanyalah doa kepada
mereka. Hal itu menunjukkan bahwa doa adalah yang terbaik dari apa yang
dapat dilakukan seorang muslim. Bukan shalat, shadaqah, haji atau
amalan-amalan lainnya.
Ketiga, sesungguhnya orang yang menghadiahkan
pahala kepada Nabi sallallahu alihi wa sallam tidak mengambil manfaat
sedikitpun kecuali menghalangi dirinya dari pahala itu. Sementara tidak
bermanfaat sedikitpun juga untuk Nabi sallallahu’alihi wa sallam. Karena
beliau sallallahu’alahi wa sallam mendapatkan pahala sepadan dengan pahala
umatnya dalam setiap amalan shalenya. Karena beliaulah yang menunjukkan
kepada mereka (terhadap amal kebaikan).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata dalam risalah beliau tentang menghadiakan pahala kepada Nabi
sallallahu’alaihi wa sallam, hal. 125-126: ”Bukan merupakan perbuatan
(ulama) salaf bahwa mereka menunaikan shalat, puasa dan membaca Al-Qur’an
dan dihadiahkan kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Begitu juga mereka
tidak bershadaqah dan memerdekakan (budak) untuknya. Karena setiap apa yang
dilakukan oleh umat Islam, maka beliau mendapatkan pahala seperti pahala
perbuatan mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun juga.”
Syekh Ibnu Utsaimin juga berkata dalam kitab
As-Syarhu Al-Mumti, 3/213: ”Sebagian pecinta Rasulullah Sallallahu’alaihi wa
sallam menghadiahkan kebaikan kepada (Nabi) seperti hataman (Al-Qur’an) dan
Al-Fatihah kepada ruh Muhammad sebagaimana yang mereka katakan atau yang
semisal itu. ini adalah bagian dari bid’ah dan bagian dari kesesatan. Saya
bertanya kepada anda wahai pemberi hadiah ibadah kepada Rasulullah
sallallahu’alahi wa sallam, apakah anda lebih mencintai Rasulullah
sallallahu’alihi wa sallam dibandingkan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali?
Kalau dia mengatakan, ya. Kami katakan, anda bohong, bohong dan bohong.
Kalau anda mengatakan, tidak. Kami katakan, kenapa Abu Bakar dan para
Khalifahnya tidak menghadiahkan khataman (Al-Qur’an), Al-Fatihah atau
lainnya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam!? Ini adalah bid’ah.
Kemudian amalan anda sekarang kalau tidak dihadiahkan pahalanya maka
Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam (akan memperoleh pahala) yang sama.
Kalau anda hadiahkan pahalanya, artinya anda menolak diri anda dari pahala
itu saja. Kalau tidak, Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam (akan
mendapatkan pahala) yang sama, apakah anda hadiahkan atau tidak.”
Telah dinyatakan dalam Fatawa Al-Lajnah
Ad-Daimah, 9/58-59:
“Tidak diperkenankan menghadiahkan pahala
khataman Al-Qur’an atau lainnya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa
sallam, karena (ulama) salafushshaleh, dari para shahabat radhiallahu anhum
dan generasi setelahnya tidak pernah melakukan itu. Sementara ibadah itu
sifatnya tauqifiyah (sudah paten) dan Beliau sallallahu’alahi wa sallam
bersabda: “Barangsiapa yang beramal suatu amalan, yang tidak ada perintah
dari kami, maka ia tertolak.”
Dan beliau sallallahu alahi wa sallam telah
mendapatkan pahala yang sama dengan umatnya pada setiap amal saleh yang
dikerjakannya. Karena beliau yang menunjukkan dan mengarahkan kepadanya.
Terdapat dalam hadits yang shahih bahwa beliau sallallahu’alihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala yang sama seperti pelakuknya.” (Silakan lihat soal jawab no.
52772).
