Karena ketidaktahuan saya, saya berpuasa di hari-hari tasyriq untuk mengqadha puasa bulan Ramadan. Apakah saya siapkan (berpuasa) pada hari kedua dari tiga hari tasyriq dimana saya telah memulai berpuasa atau saya harus melanjutkan sepuluh hari (disebebkan kebiasaan atau sakit) setelah hari-hari tasyriq?
Alhamdulillah
Hari tasyriq
adalah tiga hari berurutan setelah hari raya adha. Yaitu tanggal kesebelas,
dua belas dan tiga belas dari bulan Dzulhijjah. Hari-hari ini diharamkan
berpuasa. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:
أيام التشريق
أيام أكل وشرب (رواه مسلم، رقم 1141)
“Hari-hari
tasyriq adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim, no. 1141 dari hafis
Nubaisyah Al-Huzali)
Dan sabdanya:
إن يوم عرفة
ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام وهي أيام أكل وشرب (رواه النسائي،
رقم 3004 والترمذي، رقم 773 وأبو داود، رقم 2419)
“Sesungguhnya
hari Arafah, hari nahr dan hari-hari tasyriq adalah hari raya kita orang
Islam ia adalah hari makan dan minum.” HR. Nasa’I, (3004) dan Tirmizi, (773)
dan Abu Dawud, (2419) dari hadits Uqbah bin Amir dishahihkan oleh Albani di
Shahih Abu Dawud.
Nabi
sallallahu alaihi wa sallam tidak memberi keringanan berpuasa di hari-hari
ini kecuali bagi jamaah haji tamttu’ dan qiron yang tidak mendapatkan hadyu.
Telah diriwayatkan Bukhori, (1998) dari Aisyah dan Ibnu Umar radhiallahu
anhumm berkata:
لم يُرخص في أيام التشريق أن يُصمن إلا لمن
لم يجد الهدي.
“Tidak diberi
keringanan berpuasa pada hari-hari tasyriq kecuali bagi orang yang tidak
mendapatkan hadyu.
Oleh karena
itu jumhur ulama melarang berpuasa pada hari-hari ini baik sunah, qadha’
maupun nazar. Mereka berpendapat batalnya puasa kalau sekiranya dilaksanakan
pada hari-hari ini.
Yang kuat
adalah pendapat jumhur. Tidak dikecualikan melainkan puasanya jamaah haji
yang tidak mendapatkan hadyu.
Syekh Ibnu
Baz rahimahullah mengatakan, “Bagitu juga hari Nahr dan hari-hari tasyriq
semuanya tidak boleh berpuasa. Karena Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam
melarang hal itu. Kecuali hari-hari tasyriq yang menunjukkan dibolehkan
berpuasa untuk hadyu tamatu’ dan qiron secara khusus bagi orang yang tidak
mendapatkan hadyu. Kalau berpuasa sunah atau sebab lainnya, maka tidak
dibolehkan (puasa) seperti hari raya. Dinukil dari Fatawa Ramadan,
dikumpulkan oleh Asyraf Abdul Maqsud, hal. 716.
Syekh Ibnu
Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Dibolehkan bagi jamaah haji qiron dan
mutamatti’ kalau tidak mendapatkan hadyu agar berpuasa di tiga hari agar
tidak terlewatkan musim haji sebelum puasa. Selain dari itu tidak dibolehkan
berpuasa. Meskipun bagi orang yang berpuasa dua bulan berturut-turut, maka
dia harus berbuka pada hari raya dan tiga hari setelahnya, kemudian
melanjutkan puasanya.” (Fatawa Ramadan, hal. 727)
Maka apa yang
telah anda lakukan berpuasa pada hari-hari ini (hari tasyriq) untuk
mengqadha Ramadan adalah tidak sah. Dan anda harus mengulanginya. Dan tidak
disyaratkan mengqadha Ramadan berpuasa harinya berurutan. Maka anda dapat
berpuasa qadha baik berurutan atau berseling. Silahkan merujuk soal no.
21697.
Wallahu a’lam.
