Apa gerangan nasehat-nasehat pasca bulan suci Ramadhan ?

Alhamdulillah …

Wahai manusia apakah masih tersisa orang yang
berpuasa selepas bulan Ramadhan sebagaimana kondisi mereka di bulan Ramadhan
? ataukah kondisi mereka bagaikan seorang perempuan yang mengurai benangnya
yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali ? Wahai manusia
apakah masih tersisa ini semua yang dilakukan di bulan Ramadhan orang yang 
berpuasa, Al Qur’an yang dibaca dan para pembaca Al Qur’an, sedekah yang
dibayarkan, malam hari yang dihidupkan dengan ibadah, para juru dakwah yang
mendakwahkan Islam, apakah masih tersisa hal yang semacam ini setelah
Ramadhan ataukah para manusia kembali menapaki jalan yang lain yaitu jalan
syetan dengan melakukan segala macam dosa-dosa dan kemaksiatan dan segala
yang mendatangkan kemurkaan bagi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ?
Sesungguhnya konsisten dan kesabaran seorang muslim dalam menjalankan amal
shalih setelah Ramadhan pertanda dikabulkan amalannya selama bulan Ramadhan
oleh sang Maha Pemberi lagi Maha Pemurah, dan sesungguhnya meninggalkan amal
shalih setelah bulan Ramadhan dan menapaki jalan-jalam syetan merupakan
bukti dari kehinaan, kerendahan, kelemahan sebagaimana ungkapan Hasan Al
Bashri : ( mereka menghinakan dirinya dan bermaksiat kepada Allah jikalau
seandainya mereka mengagungkan Allah niscaya Allah akan menjaga mereka ).
Dan jika seorang hamba hina dihadapan Allah maka tidak seorangpun yang akan
memulyakannya.
Allah Ta’ala berfirman :

  (
ومن يهن الله فما له من مكرم ) الحج/18

(Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka
tidak seorang pun yang memuliakannya ). SQ. Al Hajj/18.

Sesungguhnya yang menggugah rasa heran adalah
kita mendapati seseorang di bulan Ramadhan dia termasuk orang yang
senantiasa tekun berpuasa, menghidupkan malam-malam harinya dengan
beribadah, senantiasa berinfak, beristighfar dan selalu taat kepada Allah
Tuhan semesta alam, kemudian ketika bulan Ramadhan telah berakhir maka tidak
ada yang tersisa melainkan telah terbalik fitrahnya dan menjadi buruk budi
pekertinya di hadapan Tuhannya, kita mendapatinya termasuk orang yang
meninggalkan Shalat, dan termasuk yang sedikit dan menjahui dari  berbuat
kebajikan serta gandrung dan aktor utama terhadap perbuatan maksiat, maka
dia berbuat maksiat kepada Allah Azza wa Jalla dengan berbagai macam dan
ragam kemaksiatan dan dosa-dosa dengan senantiasa menjahui dari melakukan
ketaatan kepada Sang Maha Raja yang Maha Suci lagi Maha Pemberi Kedamaian.
Maka demi Allah seburuk-buruk makhluk adalah mereka yang tidak mengenal
Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan.

Sudah sepatutnya seorang Muslim menjadikan
bulan Ramadhan
sebagai lembaran baru bagi pertaubatannya, berserah diri, berkesinambungan
dalam ketaatan dan menyertakan pengawasan Allah disetiap detik dan waktu,
oleh sebab itu sudah seyogyanya bagi seorang muslim pasca bulan
Ramadhan untuk
melanjutkan dan terus menerus dalam ketaatan dan menjahui segala kemaksiatan
dan keburukan sebagai bentuk refleksi dari apa yang telah dilakukannya di
bulan Ramadhan
dari perkara-perkara yang bisa mendekatkannya kepada Tuhannya para manusia.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman : 

  (
وأقم الصلاة طرفي النهار وزلفاً من الليل إن الحسنات يذهبن السيئات ذلك ذكرى
للذاكرين ) هود/114.
 

(Dan
dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada
bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang
baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah
peringatan bagi orang-orang yang ingat ).
SQ.
Hud ayat 114. 

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda :

( وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن )

(Dan ikutilah perbuatan yang buruk dengan
perbuatan yang baik niscaya perbuatan yang baik akan menghapuskan perbuatan
yang buruk, dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang baik ) 

tidak diragukan lagi sesungguhnya pekerjaan
yang karenanya Allah menciptakan manusia di muka bumi ini adalah untuk
menyembah kepada-Nya semata yang tidak menyekutukan-Nya ia merupakan
pekerjaan yang teramat luhur dan memiliki tujuan yang paling agung yaitu
agar kita merealisasikan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla, dan hal ini
telah terealisasi di bulan Ramadhan
dengan bentuk yang amat indah, maka kita melihat para manusia
mereka berjalan beriring-iringan menuju rumah Allah Ta’ala baik secara
kelompok maupun individu, dan kita juga melihat mereka sangat menjaga
pelaksanaan ibadah-ibadah fardlu tepat pada waktunya, dan mereka juga
senantiasa menjaga dalam mengeluarkan sodaqah dan berlomba-lomba serta
bersegera dalam melakukan kebaikan dan untuk yang demikian itu hendaknya
orang-orang berlomba-lomba dan mereka akan mendapatkan pahala Insya Allah
Ta’ala, akan tetapi tersisa sebuah permasalahan siapakah yang akan
diteguhkan Allah Ta’ala dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia
dan kehidupan Akhirat, maka barang siapa yang Allah meneguhkannya dengan
amal shalih setelah Ramadhan,
maka sesungguhnya Allah Jalla wa Ala berfirman :

( إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه والذين يمكرون
السيئات لهم عذاب شديد ومكر أولئك هو يبور ) فاطر/10

Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang
baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan
kejahatan bagi mereka adzab yang keras, dan rencana jahat mereka akan
hancur. Surat Fathir/10.

Maka tidak diragukan lagi sesungguhnya Amal
Shalih merupakan bentuk pendekatan yang teramat agung yang dengannya seorang
hamba mendekat kepada Allah di setiap waktu dan zaman kemudian sesungguhnya
Tuhannya bulan Ramadhan
yaitu Tuhannya bulan Jumadil Ula, Jumadits Tsaniyah,
Sya’ban, Dzul Hijjah, Muharram dan Shofar dan bulan-bulan yang lain yang
demikian itu karena sesungguhnya ibadah yang disyari’atkan oleh Allah Jalla
wa ‘Ala kepada kita semua merupakan implementasi dari rukun
Islam yang lima yang
diantaranya terdapat ibadah puasa dan ibadah ini diwajibkan kepada kita
dengan berbatas waktu yang apabila telah selesai maka yang tersisa hanyalah
rukun-rukun Islam
yang lain seperti haji, shalat, dan zakat yang kita memiliki tanggung jawab
dihadapan Allah Jalla wa ‘Ala terkait ibadah-ibadah tersebut dan hendaknya
kita melaksanakannya sesuai dengan ketentuan yang diridhoi oleh Allah ‘Azza
wa Jalla. Kita
berusaha dengan yang demikian itu agar kita bisa merealisasikan fungsi dan
inti dari sebab diciptakannya kita di atas muka bumi ini sebagaimana firman
Allah Jalla wa ‘Ala :

( وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ) الذاريات/56

(Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia
melainkan agar mereka menyembah kepadaku ) Surat Adz Dzariyaat/56,

Dan Nabi Shallallahu
Alaihi Wasallam telah memberikan petunjuk kepada para sahabat beliau agar
senantiasa berlomba-lomba dan bersegera dalam kebaikan beliau bersabda 🙁
رب درهم سبق ديناراً وأفضل الصدقة ما كان عن ظهر غنى )
 

(Bisa jadi pahala dirham yang disedekahkan
akan mendahului pahala dinar dan sodaqoh yang paling utama adalah sodaqoh
pada saat sedang tidak berkecukupan )

Disini Nabi Alaihis
Shalatu Wassalaam menjelaskan bahwasannya orang yang bersedekah dan dia
dalam kondisi sedang segar bugar dan sedang dipuncak kekikiran yang dia
takut fakir apabila menginfakkan hartanya, maka sesungguhnya pada saat
itulah sedekahnya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla memiliki nilai dan timbangan
yang amat berat dan merupakan amal shalih yang amat mulia, adapun orang yang
binasa adalah orang yang apabila sakit ( yang mengakibatkan kematiannya )
telah mendatanginya dan dia mengatakan sambil menyebut-nyebut kebaikan yang
telah dia berikan ke orang-orang sambil mengatakan : sungguh akau telah
berbuat ini dan dan itu pada si fulan, dan untuk si fulan aku juga telah
melakukan begini dan begitu maka sesungguhnya orang semacam ini – dan kita
berlindung kepada Allah – dikhawatirkan akan ditolak semua amalannya bahkan
akan dihapuskan sebagaimana firman Allah :

( إنما التوبة على الله للذين يعملون السوء بجهالة ثم يتوبون من
قريب فأولئك يتوب الله عليهم وكان الله عليماً حكيماً وليست التوبة للذين
يعملون السيئات حتى إذا حضر أحدهم الموت قال إني تبت الآن ولا الذين يموتون وهم
كفار أولئك أعتدنا لهم عذاباً أليماً ) النساء/17-18

Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah
tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang
kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima
Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari
orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal
kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya
saya bertobat sekarang” Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang
mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami
sediakan siksa yang pedih. Surat An Nisaa’/17-18. 

Maka seorang mukmin yang jernih dan bertakwa
hendaklah takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa menjaga
ketaatan kepada Allah Ta’ala dan konsisten terhadap ketakwaannya dan selalu
serta selamanya berusaha menggapai kebaikan disertai dengan berdakwah
memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, maka seorang mukmin
hari-harinya, malam-malam harinya yang dia lalui dalam kehidupan ini
merupakan tempat penampungan maka hendaklah dia menginstropeksi apa gerangan
yang sudah disimpan dalam kehidupan ini, jika telah menyimpan kebaikan maka
hal itu akan menjadi saksi kelak di hari kiamat di hadapan Tuhannya, namun
jika ia menyimpan sebaliknya maka itu merupakan kerugian terbesar baginya
dan kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan saya dan anda semua dari
kerugian terbesar ini. Kemudian sesungguhnya para Ulama’ Rahimahumullah
telah berkata : diantara tanda-tanda diterimanya amalan di sisi Allah adalah
sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengiringi kebaikan yang telah dilakukan
dengan kebaikan-kebaikan yang lain maka kebaikan akan menyeru wahai
saudaraku wahai saudaraku, demikian pula keburukan juga akan menyeru dengan
seruan yang sama dan kita berlindung kepada Allah, maka apabila Allah
menerima amalan seorang hamba di bulan Ramadhan dan dia bisa mengambil
faedah dari bulan pendidikan ini dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah
Azza wa Jalla maka sesungguhnya dia berada dalam gerbong mereka orang-orang
yang istiqomah dan mengharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, Allah Jalla
wa ‘Ala berfirman : 

( إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة
أن لا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون نحن أولياؤكم في
الحياة الدنيا وفي الآخرة ولكم فيها ما تشتهي أنفسكم ولكم فيها ما تدعون )
فصلت/30-31 ،

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
“Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka
malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu
merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam
kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu
inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Qur’an surat
: Fushshilat/30-31. 

 ويقول
: ( ومن يتول الله ورسوله والذين آمنوا فإن حزب الله هم الغالبون ) المائدة/56
، 

Allah juga berfirman:
Dan barang siapa mengambil
Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka
sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. Qur’an surat :
Al Maidah/ 56, 

 ويقول
:    ( إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون )
الأحقاف/13

 “Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap
istiqamah maka tidak ada kekhawatiran. Qur’an surat : Al Ahqaaf/ 13. Jikalau
begitu maka para penumpang gerbong istiqomah akan selalu ada terus-menerus
dari bulan Ramadhan
yang satu ke bulan Ramadhan
yang lain karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : 

( الصلاة إلى الصلاة ورمضان إلى رمضان والحج إلى الحج مكفرات ما
بينهن إذا اجتنبت الكبائر )

 (Antara
waktu shalat yang satu dengan waktu shalat yang lain, dan antara
Ramadhan yang
satu dengan Ramadhan
yang lain, dan antara haji yang satu dengan haji yang lain adalah
menghapuskan dosa-dosa antara keduanya selama menjauhi
dosa-dosa besar ), dan Allah Ta’ala juga berfirman : 

( إن تجتنبوا كبائر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم
مدخلاً كريماً ) النساء/31

 “Jika kamu xzenjauhi
dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya,
niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami
masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). Qur’an surat : An Nisaa’/31. 

Maka sudah sepatutnya bagi seorang mukmin
jika ia berada pada gerbong Istiqomah dan kapal keselamatan semenjak di
mulai kehidupannya hingga hembusan nafasnya yang terakhir, ia tetap berada
dalam naungan kalimat “ Laa ilaaha illallah ” dan dipermudah dengan kucuran
nikmat-nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan sesungguhnya agama ini adalah
agama yang benar dan Dzat yang telah memberikan kepada kita istiqomah di
jalan-Nya pada saat bulan Ramadhan,
Dialah Sang Maha Suci lagi Maha Luhur yang telah memulyakan kita dengan
limpahan pemberian-Nya, keutamaan nikmat-nikmat-Nya dan curahan segala
kemurahan-Nya sehingga kita bisa meneruskan dan melanjutkan dalam
melaksanakan ibadah setelah bulan Ramadhan,
maka wahai saudaraku janganlah anda lupa bahwasannya Allah telah memberikan
kepada anda kesempatan untuk bisa I’tikaf, memberikan kepada anda untuk
bersedekah, memberikan kepada anda untuk berpuasa, dan Allah juga memberikan
kepada anda untuk berdoa dan menerima doa-doa tersebut, maka anda jangan
lupa wahai saudaraku sesungguhnya segala macam bentuk kebaikan ini merupakan
Taufiq dari Allah yang sudah seyogyanya anda menjaga dan mempertahankannya
dengan sebaik-baik penjagaan dan janganlah anda menghapuskannya dengan
keburukan-keburukan dan amalan-amalan yang bathil, maka hendaklah anda
menjaga dan melestarikan dengan senantiasa menyemai kebaikan dan kebahagiaan
di jalan anda dan agar anda berjalan dan menapaki bersama para penumpang
Istiqamah yang anda menghendaki semua ini hanya demi Allah, Utusan-Nya dan
rumah di Akhirat semata, dan pada saat itu dikatakan kepada anda sambutlah
oleh anda surga yang luasnya menyamai luas langit dan bumi yang hanya
disediakan bagi orang-orang yang bertakwa dan pada saat yang bersamaan anda
mengijabahi seruan Allah : Wahai para pencari kebaikan sambutlah maka bagi
Allah orang-orang yang akan diselamatkan dari api neraka setiap malam-malam
bulan Ramadhan,
dan wahai pencari keburukan hentikanlah
dari melakukan keburukan dan saat itu pula anda menyambut sabda Nabi
Shallallahu Alaihi Wasallam : 

( من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه ومن
قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه )

( Barang siapa yang menghidupkan Ramadhan
dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, akan diampuni
dosa-dosanya yang telah lampau dan barang siapa yang menghidupkan malam
lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lampau ).

Saya memohon kepada Allah yang telah
memberikan kepada kita semua juga kepada kalian nikmat puasa, i’tikaf, umrah
dan sodaqah agar senantiasa melimpahkan kepada kita hidayah, ketakwaan,
diterimanya segala jerih payah amal yamg telah diberikan, kontinyu dalam
menjalankan segala bentuk amal shalih dan istiqamah dalam melaksanakannya
karena sesungguhnya kontinyu dan berkesinambungan dalam amal shalih
merupakan upaya pendekatan kepada Allah yang teramat agung, oleh sebab itu
datanglah seorang sahabat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan
berkata : berikanlah wasiat kepadaku :

 (
قل آمنت بالله ثم استقم ) متفق عليه

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan bersabda
: ( katakanlah aku beriman kepada Allah lalu istiqomahlah ) hadits riwayat
Bukhari dan Muslim.

وفي رواية لأحمد قال : ( قل آمنت بالله ثم استقم قال يارسول
الله كل الناس يقول ذلك قال قد قالها قوم من قبلكم ثم لم يستقيموا )

Dan dalam riwayat Ahmad dia berkata : (
Katakanlah aku beriman kepada Allah lalu istiqomahlah, dia berkata : wahai
Rasulullah semua orang juga berkata demikian, beliau bersabda : Telah
mengucapkan kaum sebelum kalian hal seperti itu namun mereka tidak istiqamah
), maka sudah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman agar terus kontinyu
beristiqamah dalam ketaatan kepada Allah sebagaimana firman-Nya :

( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي
الآخرة ويضل الله الظالمين ويفعل الله ما يشاء ) إبراهيم/27

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang
beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan memperbuat apa
yang Dia kehendaki. SQ.
Ibrahim/ 27. 

Sesungguhnya orang yang beristiqamah dalam
ketaatan kepada Allah dialah yang diterima doa-doanya yang senantiasa di
ulang-ulang dalam sehari melebihi dua puluh lima kali  ( Ya Allah tunjukilah
kami jalan yang lurus ) itulah yang biasa kita ucapkan dalam
Al
Fatihah, mengapa kita
mengucapkannya sebuah ucapan yang kita yakin dengan penuh keyakinan jika
kita bisa istiqamah maka Allah akan mengampuni kita, akan tetapi
kadang-kadang kita bermalas-malasan dalam menerapkan yang demikian itu dalam
wujud sebuah amalan maka seyogyanya kita harus bertaqwa kepada Allah dan
menerapkan amalan ini dengan penuh keyakinan yang dinyatakan dalam ungkapan
perkataan, kita juga berusaha meniti jalan sebagai para penumpang gerbong
orang yang senantiasa melantunkan doa “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus”
dan hendaknya kita berada di jalan-jalan orang yang meniti jalan antara
hanya kepada Engkau  kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon
pertolongan dalam naungan tunjukilah kami jalan yang lurus menuju ke surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang kunci pembukanya adalah kalimat “
Laa ilaaha illallah ” saya memohon kepada Allah agar menutup lembaran hidup
kami dan anda sekalian dengan akhir yang baik. 

Sesungguhnya umat manusia setelah berakhirnya
bulan suci Ramadhan
terbagi menjadi beberapa bagian namun yang menonjol terbagi
menjadi dua bagian ;

Kelompok yang pertama
: Yaitu Kelompok orang yang kita
mengetahuinya di bulan Ramadhan sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan
ketaatan maka mata anda tidak melihat kelompok orang tersebut melainkan
orang yang banyak bersujud, menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah,
banyak membaca Al Qur’an atau bahkan dia sering menangis karena takut kepada
Allah sehingga hampir-hampir orang-orang menyebut mereka dihadapan anda
sebagai ahli ibadah kaum salaf, atau sehingga anda sangat berkeinginan untuk
menjadi seperti dia karena kesungguhannya dan semangatnya dalam beribadah,
dan apabila bulan yang penuh keutamaan ini telah berlalu ia kembali
menyia-nyiakan waktu dan menghabiskannya dalam kemaksiatan seakan-akan
selama bulan Ramadhan dia terbelenggu dengan berbagai macam ketaatan maka
dia tersungkur dan terbenam dalam syahwat, kelalaian dan kekeliruan dia
mengira bahwa dengan memperturutkan syahwat, dia bisa menjauhkan kesedihan
dan kegalauannya dan dia melupakan bahwa kemaksiatan itu penyebab dari
kebinasaan dan sesungguhnya dosa-dosa merupakan luka-luka dan betapa banyak
terjadi luka yang mengakibatkan kematian dan kebinasaan, berapa banyak
kemaksiatan yang mengharamkan seorang hamba untuk sekedar mengucapkan
kalimat “ Laa ilaaha illallah ” pada saat sakaratul maut. Maka setelah dia
hidup selama sebulan penuh disertai keimanan, Al Quran dan ibadah-ibadah
yang mendatangkan kedekatan kepada Allah, tiba-tiba dia kembali ke belakang
sambil terjungkir dan tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah, mereka
inilah yang disebut sebagai hamba-hamba musiman yang tidak mengetahui dan
mengenal Allah Ta’ala melainkan pada musim-musim tertentu, atau pada saat
himpitan cobaan dan bencana menimpa mereka, sirna sudah ketaatan beranjak
pergi mengikuti perginya bulan mulia maka inilah seburuk-buruk agama bagi
mereka. Dan yang serupa dengan kondisi seperti ini adalah ; seseorang
mengerjakan shalat untuk satu perkara yang menuntut dia untuk
mengerjakannya, maka tatkala urusannya telah selesai diapun sudah tidak
shalat dan puasa lagi. Wahai manusia jikalau begitu terus apa gerangan
faedah dari beribadah sebulan penuh apabila setelah selesainya musim ibadah
tersebut ia kembali kepada akhlak dan perilaku yang buruk lagi ?

Kelompok yang kedua
: Yaitu satu golongan manusia yang mereka merasa sedih berpisah dengan bulan
Ramadhan karena sesungguhnya mereka merasakan kelezatan perlindungan dari
segala yang buruk maka mereka menghinakan diri mereka dengan mengecap
pahitnya kesabaran, karena sesungguhnya mereka mengetahui hakekat diri
mereka dan kelemahannya dan betapa butuhnya kepada yang dipertuan Agung –
yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala – sehingga mereka melakukan berbagai macam
ketaatan kepada-Nya, sesungguhnya mereka berpuasa dengan sebenar-benarnya
dan ketika mereka menghidupkan malam-malam harinya itu semua karena bukti
kerinduan mereka kepada-Nya, maka mereka menghantarkan kepergian bulan
Ramadhan dengan linangan dan genangan air mata, hati-hati mereka benar-benar
memendam dan menginginkan kebaikan bulan yang mulia tersebut, menginginkan
agar belenggu dosa-dosa yang selama ini tersembunyi bisa dihempaskan dan
diselamatkan dari pedihnya siksaan api neraka, dan mereka berharap bisa
bergabung dengan gerbong orang-orang yang amalannya diterima dan bertanyalah
pada diri dan pribadi anda wahai saudaraku dimana posisi anda dari dua
kelompok tersebut ? 

Dan demi Allah apakah ada kesamaan antara dua
kelompok tersebut ?? bahkan kebanyakan mereka kalangan manusia tidak
menyadarinya, para ahli tafsir mereka menafsirkan firman Allah Ta’ala :

( قل كل يعمل على شاكلته ) الإسراء/84
yang artinya : (Katakanlah:
“Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing” ), yaitu setiap
orang melakukan sesuai dengan keadaan dan kondisi akhlak dan perilaku yang
ia ciptakan sendiri dan ini merupakan celaan bagi orang kafir dan pujian
bagi orang beriman. 

Dan ketahuilah wahai saudaraku sesungguhnya
sebaik-baik amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang kontinyu
meskipun hanya sedikit, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: 

( أيها الناس عليكم من الأعمال ما تطيقون فإن الله لا يمل حتى
تملوا ، وإن أحب الأعمال إلى الله ما دووم عليه وإن قل وكان آل محمد صلى الله
عليه وسلم إذا عملوا عملاً ثبتوه ) أي داوموا عليه ، رواه مسلم

 ( Wahai umat manusia
hendaklah kalian melakukan amalan-amalan yang kalian mampu untuk memikulnya
karena sesungguhnya Allah tidak akan merasa jenuh hingga
kalian sendiri yang jenuh, dan sesungguhnya amalan-amalan yang paling
dicintai di sisi Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu meskipun hanya
sedikit atau kecil, dan adalah keluarga Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
apabila mengerjakan sebuah amalan mereka menekuninya atau konsisten dalam
menjalaninya ) Hadits riwayat Muslim. 

Dan ketika Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam
ditanya tentang Amalan-amalan yang paling disukai di sisi Allah, beliau
bersabda : ( Yaitu amalan yang dilakukan secara kontinyu meskipun hanya
sedikit ). 

وسئلت عائشة رضي الله عنها كيف كان عمل رسول الله صلى الله عليه
وسلم هل كان يخص شيئاً من الأيام قالت : ( لا ، كان عمله ديمة ، وأيكم يستطيع
ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستطيع ، فالعبادات مشروعيتها شرائطها مثل
ذكر الله تعالى ، والحج والعمرة ونوافلهما ، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر
وطلب العلم والجهاد وغير ذلك من الأعمال فاحرص على مداومة العبادة حسب وسعك ).

 Dan ketika Aisyah
Radliyallahu Anha ditanya tentang bagaimana dulu amalan Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam apakah pernah mengkhususkan suatu amalan di
hari-hari tertentu ? beliau menjawab : ( Tidak, amalan beliau adalah yang
dilakukannya secara kontinyu, dan apapun yang bisa kalian lakukan maka hal
itu pula yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka
semua ibadah-ibadah yang disyariatkan yang memenuhi syarat-syaratnya seperti
; Dzikir kepada Allah Ta’ala, haji dan umrah sekaligus ibadah-ibadah Nafilah
yang berkaitan dengan keduanya, memerintahkan yang baik dan mencegah
kemungkaran, menuntut ilmu, jihad di jalan Allah dan yang lain sebagainya
dari segala macam amalan-amalan, maka jagalah untuk senantiasa kontinyu
dalam beribadah sebatas kemampuan dan keleluasaan anda ). Dan Shalawat serta
Salam Allah semoga tetap terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, para
keluarganya dan para sahabat-sahabatnya.

Wallahu A’lam..