Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi, “Jika Aku (Allah) telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengaran yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia memukul, menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan” Bagaimana kita menggabungkan pemahaman agar kita tidak terjerumus pada keyakinan hulul (menyatunya Allah dalam diri makhluk) dengan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah dalam mensikapi ayat-ayat tentang sifat? Mohon penjelasannya, semoga Allah muliakan anda sekalian, karena sebagian orang yang meniadakan sifat memojokkan mazhab salaf dengan anggapan bahwa memahamai nash sebagaimana zahirnya, akan menjerumuskan kita pada keyakinan hulul?

Alhamdulillah

Pertama:

Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dalam bab
Sifat menyatakan bahwa semua sifat yang dinyatakan berlaku untuk Tuhannya
Azza wa Jalla, ditetapkan berdasarkan ketentuan Kitabullah dan Sunah nabinya
shallallahu alaihi wa sallam disertai keyakinan yang meniadakan kesamaan
Allah Ta’ala terhadap makhluk-Nya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa
dengannya.”

Ayat ini merupakan bantahan terhadap
orang yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Sebagian ulama menyebutkan
mereka dengan istilah ‘al-musyabbihah’ (penyerupa). Adapun firman Allah
Ta’ala sesudah itu

 وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ  (سورة
الشورى:  11)

“Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura: 11)

Merupakan bantahan terhadap kalangan
‘almu’aththilah’ (meniadakan sifat Allah) yaitu orang-orang yang
berkeyakinan bahwa sama dalam nama menuntut adanya kesamaan (Allah dengan
makhluk).

Telah kami sebutkan dalam jawaban soal no. 155206 tentang
prinsip-prinsip bermanfaat dalam masalah nama dan sifat Allah. Hendaklah
dibaca kembali. Dalam jawaban soal no. 34630 pembahasan rinci tentang ‘Iman
terhadap nama dan sifat’ serta penjelasan tentang larangan yang empat,
yaitu; Merubah, menggugurkan, menyerupakan dan merinci bagaimananya. Siapa
yang terjerumus pada salah satu dari keempat perkara tersebut, maka dia
tidak merealisasikan iman terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala
sebagaimana mestinya. 

Syekh Muhamad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata
dalam Kitabnya, ‘Al-Qawaid Al-Mutsla Fi Sifatillah wa Asma’ihil Husna’
prinsip-prinsip yang bermanfaat dalam memahami sifat-sifat Alah Ta’ala. Anda
dapat membacanya di link berikut:

http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_16822.shtml

Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqaf hafizahullah menyebutkan
dua puluh satu prinsip tentang sifat Allah Ta’ala. Hal tersebut tercantum
dalam kitabnya ‘Shifatullah Azza wa Jalla Al-Waridah fil Kitab was-Sunah’.
Dapat dibaca di situsnya dengan
link berikut

http://dorar.net/book_view.asp?book_id=2939

Kedua:

Hadits yang disebutkan oleh penanya
adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah
radhiallahuanhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,

 إنَّ الله تَعالَى قَالَ مَنْ عَادَى لِي
وَلِيّاً فَقَدْ آذنتُهُ بالحربِ وما تَقَرَّب إليَّ عَبْدِي بشيءٍ أحَبَّ
إليَّ مِمَّا افترضتُ عَليهِ ولا يَزالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إليَّ بالنَّوافِلِ
حتَّى أُحِبَّهُ فإذا أَحْبَبْتُهُ كُنتُ سَمعَهُ الّذي يَسمَعُ بهِ وبَصَرَهُ
الّذي يُبْصِرُ بهِ ويَدَهُ الَّتي يَبطُشُ بها ورِجْلَهُ الّتي يَمشي بِها
ولَئِنْ سأَلنِي لأُعطِيَنَّهُ ولَئِنْ استَعاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ   (رواه
البخاري، رقم  6137 )

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Siapa yang memusuhi
wali-Ku, maka aku umumkan peperangan terhadapnya. Tidak ada ibadah yang
paling Aku cinta dari seorang hamba kecuali ibadah yang telah Aku wajibkan
kepadanya. Seorang hamba yang selalu beribadah kepadaku dengan
perkara-perkara sunah, niscaya Aku akan mencintainya. Jika Aku telah
mencintainya, maka Aku adalah pendengaran yang dengannya dia mendengar, Aku
adalah penglihatan yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia
memukul, kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku,
niscaya akan Aku berikan. Jika dia mohon perlindungan kepadaku, niscaya akan
Aku lindungi.” (HR. Bukhari, no. 6137)

Kami ingatkan dahulu bahwa kalangan ‘ittihadiyah’ (meyakini
menyatunya Allah dalam diri makhluk) menjadikan hadits ini sebagai landasan
keyakinan mereka yang rusak. Bukan kalangan ‘Hululiyah’ (lihat perbedaan
antara ittihadiyah dan hululiyah dalam jawaban soal no. 147639). Mereka
(kalangan ittihadiyah) berkata bahwa hadits ini menunjukkan bersatunya
khaliq (sang pencipta) dan makhluk seandainya sang hamba selalu beribadah
kepada-Nya dengan perkara-perkara wajib, maka berikutnya –kita berlindung
kepada Allah dari keyakinan demikian- seorang hamba menjadi bagian yang
disembah. Dia mendengar dengan pendengaran Allah, melihat dengan penglihatan
Allah! Artinya adalah bersatunya sang pencipta dengan makhluk-Nya sehingga
sedikit demi sedikit jadi menyatu.
Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan kekufuran dan
mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Hadits yang mereka sebutkan itu,
justru menjadi dalil yang membantah keyakinan mereka, karena didalamnya
terdapat penetapan adanya khaliq dan makhluk serta perbedaan antara
keduanya, perbedaan antara hamba yang beribadah dan yang diibadahi serta
perbedaan antara keduanya, perbedaan antara yang mencintai dengan yang
dicintai, antara penanya dan yang menjawab. Tidak ada satupun dalam hadits
tersebut bahwa keduanya menjadi satu bagian.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, “Orang-orang ittihadiyah melandasi pandangan mereka dengan hadits,
“Aku adalah pendengarannya, penglihatannya, tangannya dan kakinya.” Hadits
ini justeru dalil yang membantah mereka dari beberapa sisi, di antaranya,

Sabda beliau

 مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ
بَارَزَنِي بِالْمُحَارَبَةِ

“Siapa yang memusuhi waliku, maka dia
telah menantang-Ku untuk berperang.”

Dalam hadits itu ditetapkan bahwa
hambanya ada yang memusuhi dan memerangi adapula yang mencintai dan tidak
memusuhi, sedangkan Dia menetapkan untuk dirinya ini dan itu.

Sabda beliau,

 وَمَا تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ
أَدَاءِ مَا افْتَرَضْت عَلَيْهِ  

“Tidaklah seorang hamba beribadah kepada-Ku sebagaimana yang
telah Aku wajibkan kepadanya.”

Dalam sabda ini dinyatakan adanya hamba yang beribadah kepada
Tuhannya dan adanya Tuhan yang telah menetapkan kewajiban kepadanya.

Sabda beliau,

 وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ
بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Seorang hamba yang selalu beribadah kepada-Ku dengan perkara
sunah, maka Aku akan mencintainya.”

Dinyatakan dalam hadits ini adanya orang yang beribadah dan
yang diibadahi, adanya orang yang dicintai dan yang mencintai. Ini semua
membatalkan pandangan mereka adanya satu kesatuan.

Sabda beliau,

فَإِذَا أَحْبَبْته كُنْت سَمْعَهُ الَّذِي
يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

“Jika Aku telah mencintainya, maka aku menjadi pendengaran
yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat.”
Dst.

Dalam hadits ini dinyatakan apa yang Allah lakukan terhadap
hamba-Nya setelah Dia mencintainya berupa perkara-perkara tersebut. Dan Dia
di hadapan mereka, baik sebelum dan sesudah dicintai adalah satu.” (Majmu
Al-Fatawa, 2/371-372)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Kemudian beliau
(Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) bersabda,

وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ
وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Jika dia memohon kepadaku, niscaya akan
Aku berikan. Jika dia minta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku
lindungi.”

Dalam hadits ini, dibedakan antara yang
meminta dengan yang diminta, antara yang minta perlindungan dengan yang
dimintakan perlindungan kepadanya. Di sini posisi hamba adalah yang memohon
dan minta perlindungan kepada-Nya. Ini merupakan hadits mulia yang mencakup
bebeberapa tujuan yang mulia.” (Majmj Al-Fatawa, 17/134)

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah, saat
menjelaskan hadits ini berkata, “Penjelasan tentang maknanya ada beberapa
pendapat. Dari semua pendapat yang ada tidak ada yang mendukung pendapat
tentang ittihadiyah, juga tidak mendukung orang yang berpendapat tentang
penyatuan total. Karena diujung hadits ini dinyatakan, ‘Jika dia bertanya
kepada-Ku….. jika dia minta perlindungan kepada-Ku’ hadits ini dengan
jelas membantah pendapat mereka.” (Fathul Bari, 11/345)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata
setelah mengutip pendapat Ibnu Hajar, “Adapun apa yang beliau nyatakan
berupa bantahan terhadap pendukung kesesatan, dengan sabdanya, ‘Jika dia
bertanya kepada-Ku…. Jika dia minta
perlindungan kepada-Ku’ yang dimaksud dalam bantahan tersebut adalah bahwa
hadits tersebut menuntut adanya yang memohon dan yang dimohon, yang meminta
perlindungan dengan yang diminta perlindungan.

Tampaknya beliau (Asy-Syaukani rahimahullah) tidak
memperhatikan secara seksama. Karena jika dia perhatikan, niscaya
permasalahannya tidak sebatas memohon dan minta pertolongan sebagaimana yang
dia sebutkan. Karena hadits secara keseluruhan membantah mereka. Karena
sabdanya, ‘Siapa yang memusuhi wali-Ku’ juga merupakan bantahan terhadap
mereka, karena hal tersebut menunjukkan adanya pihak yang memusuhi,
dimusuhi, dan pihak yang karenanya dia dimusuhi. Juga menunjukkan adanya
pihak yang membela dan dibela, adanya pihak yang diumumkan dan yang
mengumumkan, pihak yang memerangi dan yang diperangi, pihak yang beribadah
dengan yang diibadahi, ada hamba, yang diperhamba, yang mencintai dan yang
dicintai. Begitu seterusnya hingga akhir hadits.

Secara keseluruhan, hadits ini membantah keyakinan
ittihadiyah yang berpedoman dengan hadits ini tanpa mereka ketahui. Bahkan
yang lebih jelas lagi adalah sabdanya, ‘Tidaklah ada yang membuat-Ku sangat
ragu untuk melakukannya, selain mencabut nyawa seorang mukmin.’ Karena
hadits ini menunjukkan adanya pihak yang karenanya dia ragu, yaitu jiwa
hamba beriman, dan pihak yang ragu, yaitu yang mencabut nyawanya, adanya
pihak yang tidak menyukai kematian yaitu hamba beriman dan pihak yang tidak
ingin menyakitinya, yaitu Allah Ta’ala.

Kesimpulannya adalah bahwa pandangan tentang ittihadiyah akan
tampak kebatilannya bagi siapa saja yang berakal, tidak butuh menjelaskan
berbagai argumen terhadap mereka.

Sumber syubhat yang masuk dalam keyakinan mereka berasal dari
keyakinan mereka tentang adanya dua tuhan.
Mereka meyakini ada dua tuhan; tuhan kebaikan dan tuhan
keburukan. Tuhan kebaikan adalah cahaya, sedangkan tuhan keburukan adalah
kegelapan. Lalu mereka jadikan keduanya sebagai sumber segala yang ada. Jika
cahaya yang lebih mendominasi, maka jadilah hamba yang bercahaya, jika yang
mendominasi adalah kegelapan, maka jadilah hamba yang gelap. Mereka lupa
bahwa keyakinan kufur ini sejak awal terbantahkan dengan sendirinya, karena
gelap bukanlah cahaya, dan sesuatu yang diisi oleh keduanya, tidaklah
demikian keadaannya.” (Qatrul Wali Ala Hadits Al-Wali, Asy-Syaukani,
419-421)

Lihat redaksi hadits dan tambahan penjelasan tentang maknanya
pada jawaban soal no. 21371 dan
14397

Wallahua’lam
.