Bagaimana memahami perkara gaib yang merupakan kekhususan Allah berdasarkan panduan ayat berikut dalam surat Luqman,

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (سورة لقمان: 34)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sejalah pengetahun tentang hari kiamat. Dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dia tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Dan ayat-ayat dalam surat Al-Jin;

“عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (سورة الحن: 26-27)

“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlhatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jin: 26-27)

Apakah perkara yang lima dalam ayat di atas merupakan ilmu yang tidak Allah beritahukan kepada seorang pun dari makhlukNya, termasuk di dalamnya para nabi? Apakah Allah Taala memberitahu Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang tempat wafatnya, ataukah kita wajib tidak boleh menanyakan hal tersebut?

Alhamdulillah

Pertama:

Allah Taala
berfirman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ  (سورة النمل: 65)

 “Tidak
mengetahui yang gaib siapa yang ada di langit dan bumi kecuali Allah.” (QS.
An-Naml: 65)

Ayat ini
menunjukkan bahwa ilmu gaib secara mutlak merukan kekhususan Yang Maha
Mengetahui Perkara Gaib; Tuhan semesta alam (Allah Taala). Hanya saja, boleh
jadi Allah memperlihatkan di antara perkara gaib kepada hambaNya yang Dia
kehendaki.

Allah Taala
berfirman,

“عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا.
إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ
وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (سورة الحن: 26-27)

“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada
rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat)
di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin: 26-27)

Al-Qurthubi
rahimahullah berkata, “Para ulama rahimahumullah berkata, ‘Ketika Allah
Taala memuji dirinya yang mengetahui perkara gaib dan bahwa hal itu
merupakan kekhususanNya yang tidak ada pada makhlukNya, maka hal ini menjadi
dalil bahwa tidak ada satu pun yang mengetahui perkara gaib selain Dia.
Kemudian Dia mengecualikan orang yang Dia ridai dari kalangan para rasul,
lalu Dia berikan kepada mereka perkara gaibnya melalui wahyu kepada mereka
dan menjadikannya sebagai mukjizat mereka dan petunjuk yang benar atas
kenabian mereka.”

(Tafsir Al-Qurtubi,
19/28)

Ulama yang
tergabung dalam Lajnah Daimah Lil Ifta berkata, “Ilmu gaib merupakan
kekhususan Allah Taala, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya dari
kalangan makhluk, baik dia jin atau lainnya, kecuali berdasarkan wahyu Allah
yang diberikan kepadanya kepada siapa yang Dia kehendaki dari kalangan
malaikat dan rasul-rasulNya.”

(Fatawa Al-Lajnah
Ad-Daimah, 1/346) Lihat jawaban soal no. 

101968

Kedua:

Allah Taala
berfirman,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ
الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا
تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ (سورة لقمان: 34)

“Sesungguhnya
Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan
Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan
tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahkannya besok. Dia tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana
dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.
Luqman: 34)

Imam Bukhari
(1039) meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata, “Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda,

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ :
لَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي غَدٍ ، وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ
فِي الْأَرْحَامِ ، وَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ، وَمَا
تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ، وَمَا يَدْرِي أَحَدٌ مَتَى يَجِيءُ
الْمَطَرُ

“Kunci perkara
gaib ada 5, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah; Tidak ada seorang
pun yang mengetahui apa yang akan terjadi hari esok, tidak ada seorang pun
yang mengetahui apa yang terdapat dalam rahim, tidak ada satu jiwa pun yang
mengetahui apa yang akan dia lakukan esok, tidak ada satu jiwa pun yang
mengetahui di bumi mana dia akan mati dan tidak ada seorang pun yang
mengetahui kapan datangnya hujan.” 

Kelima perkara
ini, tidak dapat diketahui dengan ilmu yang sempurna secara terperinci, baik
kondisi maupun waktunya, kecuali Allah. Akan tetapi, sebagian perkaranya
boleh jadi dapat diketahui manusia, pada waktu tertentu, apakah berdasarkan
ilmu dari Allah berupa wahyu, dan hal ini hanya terjadi pada para nabi, atau
berdasarkan ilham atau inpirasi, hal ini hanya terjadi para orang-orang
saleh dan jujur dalam keimanannya, atau dengan petunjuk eksperimen dari
berbagai ilmu dunia atau dengan perkiraan dan penelitian.

Adapun ilmu
yang sempurna terhadap kelima perkara ini dan selainnya, maka dia merupkan
perkara gaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah.

Ibnu Rajab
rahimahullah berkata,

“Kelima perkara
ini disebutkan karena kebutuhan manusia untuk mengetahui kekhususan Allah
terkait ilmu tentangnya. Pengetahuan terhadap keseluruhan perkara tersebut
merupakan kekhususan Allah, begitu juga ilmu yang pasti terhadap satu
persatu perkara tersebut.

Adapun
mengetahui sedikit perkara dalam salah satu perkara yang disebutkan dengan
cara tidak memastikan, mungkin salah mungkin benar, maka perkara ini tidak
dinafikan, karena tidak masuk dalam ilmu yang menjadi kekhususan Allah dan
tidak Allah nafikan dari selainNya.

Telah
disebutkan sebelumnya bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam diberikan ilmu
segala sesuatu kecuali kelima perkara ini.

Adapun
pemberitahuan Allah terhadapnya atas sedikit dari sebagian perkara tersebut,
maka hal itu juga tidak diingkari. Ini termasuk dalam firman Allah Taala,

“عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا.
إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ
وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (سورة الحن: 26-27)

“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada
rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat)
di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin: 26-27)

Akan tetapi,
ilmu tentang datangnya hari kiamat adalah perkara kekhususan Allah, tidak
Dia beritahu kepada siapapun, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits
Jibril kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, begitupula ilmu tentang
masa yang akan datang secara umum.

Adapun ilmu
tentang apa yang ada di dalam rahim, Allah sendiri yang mengetahuinya
sebelum Allah perintahkan para malaikat untuk meniupkan ruhnya dan mencatat
nasibnya, kemudian setelah itu Allah beritahukan siapa yang Dia kehendaki
dari makhluknya, sebagaimana malaikat yang bertugas meniupkan ruh
mengetauhinya. Jika dia termasuk rasul, maka Allah beritahukan dia dengan
ilmu yakin. Jika dia selain rasul dari kalangan orang-orang saleh, maka
Allah perlihatkan kepadanya secara zahir saja. Sebagaimana diriwayatkan oleh
Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah, sesungguhnya Abu Bakar saat menjelang
kematiannya berkata kepadanya, dalam ucapan yang dia sebutkan, ‘Sesungguhnya
dia adalah saudara laki-lakimu dan saudara perempuanmu’ Dia berkata, ‘Kalau
ini saudara laki-lakikku, lalu siapa saudara perempuanku?’ Dia berkata,
masih di dalam perut putrinya Kharijah, aku memperkirakan dia anak perempuan.’
Dalam satu riwayat dia berkata, ‘Aku berfirasat anaknya adalah perempuan,
maka perlakukan dia dengan baik.” Maka kemudian, lahirlah Ummu Kultsum. 

Adapun ilmu
tentang jiwa, apa yang akan dia lakukan esok dan di negeri mana dia akan
mati serta kapan turunnya hujan, maka perkara ini secara umum tidak ada yang
mengetahui selain Allah. Adapun diberitahukannya sebagian dari perkara
tersebut, jika hal itu diberikan kepada sebagian rasulNya, maka itu berarti
sebagai pengkhusus dari keumuman tersebut. Sebagaimana diberitahunya Nabi
shallallahu alaihi wa sallam banyak perkara gaib di masa datang yang beliau
sampaikan. Sebagaimana beliau mengabarkan tentang Tabuk bahwa ‘pada suatu
malam akan menyembur angin yang sangat kuat sehingga tidak ada seorangpun
yang dapat bertahan berdiri.’ Dan ternyata terjadi seperti itu. Juga
diberitahukannya kepadanya hembusan angin setelah dia mengetahui turunnya
sedikit hujan pada waktu tertentu.

Demikian pula
Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan kepada puterinya Fatimah
semasa sakitnya bahwa dia akan wafat pada saat sakit tersebut. Diriwayatkan
dari beliau bahwa beliau bersabda,

ما بين قبري ومنبري روضة من رياض الجنة (خرجه الإمام أحمد من
حديث أبي سعيد الخدري، والنسائي من

 حديث أم سلمة، عن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)

“Antara kuburku
dan mimbarku terdapat taman (raudhah) di antara taman surga.” (HR. Ahmad
dari hadits Abu Said Al-Khudri dan Nasai dari hadits Ummu Salamah dari Nabi
shallallahu alaihi wa sallam)

Ini merupakan
dalil bahwa beliau mengetahui tempat kematiannya dan tempat penguburannya.

لم يقبض نبي إلا دفن حيث يقبض (خرجه ابن ماجه وغيره)

“Tidaklah
seorang Nabi diwafatkan kecuali dia dikuburkan di tempat wafatnya.” (HR.
Ibnu Majah dan lainnya)

Adapun
diberitahukannya selain para Nabi  terhadap sebagian dari perkara-perkara
tersebut, maka dia sebagaimana telah disebutkan, tidak membutuhkan
pengecualian, karena tidak berupa ilmu yakin, tapi dugaan kuat saja,
sebagiannya sekedar perkiraan dan sebagiannya sekedar intuisi. Semua itu
bukan ilmu, maka tidak dibutuhkan pengecualian dari adanya keyakinan tentang
keesaan Allah Taala dalam ilmuNya, sebagaimana telah disebutkan. Wallahu
a’lam.” (Fathul Bari, 9/269-272)

Para ulama yang
tergabung dalam Lajnah Daimah Lil Ifta, “Makna ayat ini adalah bahwa Allah
Taala menyimpan ilmu tentang datangnya hari kiamat, tidak ada yang
mengetahuinya waktunya selain Dia. Tidak ada yang mengetahuinya malaikat
yang dekat dengan Allah, tidak juga nabi yang diutus walaupun Allah telah
beritahu mereka tanda-tandanya.

Tidak ada yang
mengetahui kapan turunnya hujan dan dimana dia turun kecuali Allah. Boleh
jadi orang yang berpengalaman mengetahuinya ketika telah ada tanda-tandanya
dan telah habis sebab-sebabnya, akan tetapi itu ilmu yang sifatnya perkiraan
secara global, diselubungi dugaan yang boleh jadi meleset..

Allah pun
secara khusus yang mengetahui apa yang terdapat dalam rahim secara
terperinci; Dari sisi tercipta atau tidaknya, pertumbuhannya, keberadaannya
hingga mencapai puncak waktunya, keguguran atau tidaknya sebelum waktunya,
baik hidup atau mati, penyakit yang mungkin menimpanya. Semua itu Dia miliki
tanpa meraih ilmu yang didapat dari selainnya atau terkait dengan
sebab-sebab dan pengalaman tertentu. Dia Maha Mengetahui apa yang akan
terjadi dan sebelum terjadi dan sebelum adanya sebab-sebab. Karena Dzat yang
berkuasa atas sebab dan yang mengadakannya memiliki ilmu yang tidak akan
meleset dan tidak akan berbeda dengan apa yang terjadi. Dialah Allah
Subhaanahu wa taala.

Boleh jadi ada
manusia yang mengetahui sedikit tentang apa yang terdapat dalam rahim,
apakah jenis kelaminnya laki-laki atau wanita, selamatkah atau cacat, atau
dekatnya masa melahirkan atau kemungkinan mengalami keguguran sebelum
sempurna masa kehamilan. Akan tetapi semua itu berdasarkan taufik dari Allah
yang memberikan sebab semua itu, seperti melalui sinar rontgen, bukan semata
langsung dari kemampuan dirinya atau tanpa sebab. Itupun diketahui setelah
Allah perintahkan malaikat untuk membentuk rupa janin, juga tidak dapat
diketahui segala perkara yang terkait kondisi dalam rahim, hanya globalnya
saja pada sebagian perkaranya dan ada kemungkinan kadang-kadang keliru.

Tidak ada
seorang pun yang mengetahui apa yang akan dia lakukan kemudian, baik dari
urusan agama atau dunia. Inipun perkara yang hanya diketahui Allah secara
terperinci. Seseorang boleh jadi memperkirakan keuntungan dan kerugian
secara global, sehingga mendorongnya memiliki harapan dan dorongan berusaha,
atau rasa khawatir dan menghalanginya untuk bergerak, berdasarkan
tanda-tanda dan kondisi yang ada di sekitarnya. Semua itu tidak dinamakan
ilmu.

Tidak ada
seorang pun yang mengetahui di negeri mana dia akan mati, di daratan apa di
lautan, di negerinya atau di negeri lain, yang mengetahuinya secara
terperinci hanyalah Allah semata. Karena Allah Taala memiliki kesempurnaan
ilmu dan meliputi segala urusan, yang tampak ataupun yang tersembunyi.

Kesimpulannya;
Ilmu Allah bersumber dari zatnya sendiri, bukan dihasilkan dari pihak lain,
juga tidak terkait dengan sebab-sebab dan pengalaman. Dia mengetahui apa
yang telah terjadi dan yang akan terjadi, ilmunya tidak diselubungi
ketidakjelasan, tidak juga bertentangan, sifatnya menyeluruh terhadap
seluruh yang ada dan terperinci, yang besar atau yang kecil, berbeda dengan
selainnya. Maha suci Allah.”

(Fatawa Al-Lajnah
Ad-Daimah, 2/174-176)

 

Ketiga:

Nabi
shallallahu alaihi wa sallam saat menderita sakit jelang kematiannya bahwa
beliau akan wafat.

Imam Tirmizi
meriwayatkan (3872) dari Aisyah, Ummul Mukminin, dia berkata, ‘Saat nabi
shallallahu alaihi wa sallam sakit, datanglah Fatimah dan langsung bersimpuh
di hadapannya. Beliau (Nabi) menciumnya kemudian mengangkat kepalanya, maka
dia (Fatimah) menangis. Kemudian dia bersimpuh lagi, lalu beliau mengangkat
kepalanya lagi, kini dia tertawa. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam
telah wafat, aku (Aisyah) berkata kepadanya, ‘Kenapa dahulu ketika engkau
bersimpuh di hadapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu ketika beliau
angkat kepalamu, engkau menangis, kemudian engkau bersimpuh lagi dan ketika
beliau angkat kepalamu engkau tertawa. Apa yang membuatmu demikian?’ Dia
berkata, ‘Beliau memberitahu aku bahwa dia akan wafat karena sakitnya itu,
maka karena itu aku menangis, kemudian beliau kabarkan lagi bahwa aku adalah
orang yang paling cepat menyusulnya dari keluarganya, maka ketika itu aku
tertawa.”  (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi).

Yang tampak
juga adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengetahui tempat
wafatnya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya mengutip ucapan Ibnu Rajab
rahimahullah.

Wallahu ta’ala
a’lam.