Apa rukun, wajib dan sunah Haji?

Alhamdulillah

Rukun haji ada empat, wajib
haji ada tujuh. Selain dari rukun dan wajib, maka termasuk Sunnah. Ini
penjelasannya.

Al-Bahuti rahimahullah
berkata dalam Ar-Raodul Al-Murbi, 1/285), “Rukun haji ada empat;

–         
Ihram yaitu
niat masuk dalam manasik haji. Berdasarkan hadits “Sesungguhnya amal (ibadah)
dengan niat.”

–         
Wukuf di Arafah
berdasarkan hadits (Haji itu Arafah).

–         
Thawaf ziyarah
(atau dinamakan Thawaf Ifadhoh) berdasarkan firman Allah Ta’ala (Dan
hendaknya mereka thawaf di Baitul Atiq (Ka’bah).

–         
Sai berdasarkan
Hadits (Bersa’ilah, karena Allah mewajibkan kepada anda semua sa’i) HR.
Ahmad.

Sementara wajibnya ada tujuh:

–         
Ihram dari
miqat yang diakui, maksudnya berihram dari miqat. Sementara ihram itu
sendiri adalah rukun.

–         
Wukuf di Arafah
sampai terbenam matahari bagi yang wukuf waktu siang.

–         
Bermalam bagi
selain orang yang memberi minum dan menggembala di Mina pada malam-malam
hari tasyriq.

–         
Bermalam (mabit)
di Muzdalifah hingga pertengahan malam bagi orang yang mendapatkan
sebelumnya selain orang yang memberi minum dan penggembala. 

sebagian ulama menjadikan
bermalam di Muzdalifah termasuk salah satu rukun haji, tidak sah kecuali
dengannya. Ibnu Qoyyim rahimahullah condong dengan pendapat ini di Zadul
Ma’ad, (2/233). 

–         
Melempar (jumrah)
secara berurutan.

–         
Mencukur gundul
atau mencukur pendek.

–         
Thawaf wada.

Kalau haji tamattu atau qiron,
maka dia diwajibkan (menyembelih kambing) berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا
اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ
لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ(سورة

البقرة: 196)

“Maka
bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji),
(wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak
menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari
dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali.
Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah)
bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang
yang bukan penduduk kota Mekah).” (QS. Al-Baqarah: 196)

Sisa dari amalan dan ucapan
haji adalah Sunnah. Seperti thawaf qudum, mabit (bermalam) di Mina malam
Arafah, idhtiba (menyelendangkan kain ke pundak kiri dan terlihat pundak
kanannya) dan raml (berlari-lari kecil waktu thawaf) pada  tempatnya.
Mencium hajar aswad, doa dan zikir, naik ke shpfa dan Mawah.

Rukun Umroh tiga; Ihram,
thawaf dan sa’i.

Wajibnya adalah gundul atau
cukur pendek, ihram dari miqat.

Perbedaan antara rukun, wajib
dan Sunnah adalah: Kalau rukun, haji tidak sah kecuali dengannya. Sementara
wajib, haji sah meskipun ditinggallkan akan tetapi ketika meninggalkannya
terkena dam (menyembelih kambing) menurut mayoritas ulama. Sementara sunah,
siapa yang meninggalkannya tidak terkena apa-apa.

Silahkan lihat As-Syarhu Al-Mumti
(7/380-410). Untuk mengetahui dalil dari rukun, wajib dan Sunnah serta yang
terkait hukum dengannya.

Wallahu ta’ala a’lam.