Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الله طيب يحب الطيب نظيف يحب النظافة

“Sesungguhnya Allah itu baik, mencintai kebaikan. Bersih mencintai kebersihan.”

Apakah hadits ini shoheh? Kalau tidak, apakah ada hadits-hadits yang menganjurkan kebersihan?

Alhamdulillah

Pertama:

Hadits yang disebutkan dalam
pertanyaan lemah sekali. dikeluarkan oleh Tirmizi dalam Sunannya, 2799. Abu
Ya’la dalam Musnadnya, 791. Bazzar dalam Musnadnya, 1114 dari jalan Abu
‘Amir Al-Aqdi.

Dikeluarkan oleh Ibnu Qutaibh
dalam ‘Garib Hadits, (1/297) Barjalani dalam ‘Al-Karam, (12) dari jalan
Ma’afi bin Imron. Dikeluarkan Dauraqi dalam ‘Musnad Sa’ad bin Abi Waqos,
(31) dari jalan Abi Nu’aim Fadl bin Dukain. Dikeluarkan Khotib dalam 
‘Al-Jami’ Liakhlaq Rowi wa Adabis Sami’, (855) dari jalan Mugirah bin
Abdurrahman. Keempatnya (Abu Amir Al-Aqodi, Ma’afi bin Imron, Abu Nu’aim dan
Mugirah) dari Kholid bin Iyas dari Muhajir bin Mismar dari Amir bin Sa’ad
bin Abi Waqqos dari ayahnya.

Yang berbeda dengan mereka
adalah Abdullah bin Nafi’ diriwayatkan dari Kholid bin Iyas dari Amir bin
Sa’ad dari ayahnya dari Nabi sallallahu alai wa sallam.

Dikeluarkan dari jalan Abu
Ya’la di Musnadnya, (79). Ibnu Hibban di ‘Majruhin, (1/279) dan Ibnu Adi di
Kamil, (3/414).

Hadits seputar Ali bin Kholid
bin Ilyas atau Iyas beliau ditinggalkan haditsnya tidak dihalalkan
periwayatan darinya. Bukhori mengomentari, “Tidak ada sesuatu darinya,
haditsnya munkar. Ibnu Main berkata, “Tidak ada sesuatu. Begitu juga
dalam’Dhuafa’ karangan Uqoili, (2/3). Ahmad bin Hanbal mengatakan,
“Haditsnya ditinggalkan. Abu Nuaim mengatakan, “Haditsnya tidak berkwalitas.
Abu Hatim berkata, “Haditsnya lemah, munkar haditsnya. Silahkan melihat
‘Jarkh wa Ta’dil, (3/321). Nasa’I mengatakan, “Haditsnya ditinggalkan.
Begitu juga dalam kita Dhu’afa wal Matrukin’ karangan Nasa’I (172). Ibnu
Hibban mengatakan dalam ‘Majruhin, (1/279), “Meriwayatkan hadits palsu dari
orang terpercaya sampai ke dalam hati bahwa dia yang memalsukannya. Tidak
halal menulis haditsnya kecuali dari sisi takjub.” Selesai

Hadits dilemahkan Ibnu Jauzi
sebagaimana dalam ‘Ilal Al-Mutanahiyah’, (1186). Ibnu Rajab sebagaimana
dalam ‘Jami’ Ulum Wal Hikam, hal. 99. Ibnu Hajar sebagaimana dalam
‘Al-Matolib Al-Aliyah, (2260). Busoiri sebagaimana dalam ‘Ittihaf Khiyarah
Al-Mahirah, (1510).  Dan Syekh Albanu sebagaimana dalam ‘Dhoif Sunan
Tirmizi, (74).

Hadits ada jalan lain,
dikeluarkan Daulabi di ‘Al-Kuna Wal Asma’, (1203). Dari jalan Dawud bin
Rasyid berkata, kami diberitahukan Abu Toyib Harun bin Muhammad. Berkata,
kami diberitahukan oleh Bukair bin Mismar dari Amir bin Sa’ad dari ayahnya
dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Ia termasuk jalan lemah juga. Di
dalamnya ada Haris bin Muhammad Abu Toyib. Didustakan oleh Ibnu Ma’in
sebagaimana dalam ‘Al-Kamil’ karangan Ibnu Adi, (8/441).

Ada jalan ketiga, dikeluarkan
oleh Ibnu Adi di ‘Kamil, (6/510) dari jalur Ahmad bin Budail dari Husain bin
Ali Ja’fi dari Ibnu Abi Ruwad dari Salim dari Ibnu Umar dari Nabi sallallahu
alaihi wa sallam. Abdul Aziz bin Abi Ruwad sendirian. Oleh karena itu Ibnu
Adi memasukkan dalam kemungkarannya. Syekh Albani menghukumi dari
periwayatan ini ia adalah munkar sebagaimana dalam ‘Silsilah Dhoifah,
(7086).

Sementara pertanyaan penanya
yang mulia tentang berbagai hadits yang menganjurkan kebersihan banyak
sekali diantaranya berikut ini:

1.     
Nabi
sallallahu alaihi wa sallam menjadikan kebersihan separuh dari keimanan.
Dimana beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ “. أخرجه مسلم (211

“Kebersihan separuh dari
keimanan. Dikeluarkan oleh Muslim, 211.

Kebersihan mencakup semua
kebersihan tidak diragukan lagi.

2.     

Banyak hadits yang di dalamnya menganjurkan mandi pada hari Jum’ah dan dua
hari raya. Sebagaimana dalam Bukhori, 879 dan Muslim, 846 dari Hadits Abu
Said Al-Khudri radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa
sallam bersabda:

غُسْلُ يَوْمِ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

“Mandi pada hari Jum’ah itu
wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (balig).

Begitu juga perintah Nabi
sallallahu alaihi wa sallam kepada para Shahabat yang bekerja sampai keluar
darinya bau. Maka beliau memerintahkan kepada mereka untuk mandi. Dalam
shoheh Bukhori, (903) dan Muslim, (847) dari Aisyah radhiallahu anha
berkata:

كَانَ
النَّاسُ مَهَنَةَ أَنْفُسِهِمْ ، وَكَانُوا إِذَا رَاحُوا إِلَى الجُمُعَةِ ،
رَاحُوا فِي هَيْئَتِهِمْ فَقِيلَ لَهُمْ: لَوِ اغْتَسَلْتُمْ
“.

“Dahulu orang-orang mempunyai
pekerjaan sendiri. Ketika mereka pergi shalat Jum’ah, mereka pergi dalam
kondisi apa adanya, maka dikatakan kepadanya ‘(Alangka bagusnya) kalau
mereka mandi.

3.     
Nabi
sallallahu alaihi wa sallam menganjurkan untuk membersihkan mulut dan
menggunakan siwak. Seraya beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

” السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ ” .
أخرجه النسائي في “سننه” (5) ، وصححه الشيخ الألباني في

“إرواء
الغليل” (66

“Siwak itu membersihkan mulut
dan mendapat redo Tuhan.” HR. Nasa’I di sunannya, (5) dan dinyatakan shoheh
oleh Syekh Albani di ‘Irwaul Golil, (66).

4.     
Nabi
sallallahu alaihi wa sallalm menganjurkan mencuci pakaian dan
membersihkannya. Dari Abu Dawud di Sunannya, (4062) dari Jabir bin Abdullah
berkata:  

أتانا – رسولُ الله – صلَّى الله عليه وسلم – فرأى رجُلاً
شعِثاً قد تفرَّقَ شَعرُهُ ، فقال: “أما كان هذا يَجدُ ما يُسَكِّنُ به
شَعْرَهَ؟ ” ورأى رجُلاً آخر عليه ثيابٌ وسِخَة فقال: “أَما كان هذا يجدُ ما
يَغسِلُ به ثوبَهُ؟ “. والحديث صححه الشيخ الألباني في السلسلة الصحيحة (493

“Rasulullah sallallahu alaihi
wa sallam mendatangi kami dan beliau melihat seseorang berdebu dan rambutnya
terburai. Maka beliau bersabda, “Apakah dia tidak mendapatkan sesuatu yang
dapat merapikan rambutnya. Dan beliau melihat orang lain memakai baju kotor,
maka beliau bersabda, “Apakah dia tidak mendapatkan apa yang dapat mencuci
bajunya.” Hadits dinyatakan shoheh oleh Syekh Albani di Silsilah Shohehah,
(493).

5.     

Anjuran Nabi sallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya agar membangun
masjid di rumah disertai membersihkan dan memberi wewangian. Dari Aisyah
radhiallahu anha berkata:

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسلم ببنيان
المساجد في الدور ، وأمر أن تنظف وتطيب “. أخرجه أحمد في “المسند” (26386) ،
وصححه الشيخ الألباني في السلسة الصحيحة (2724)

“Rasulullah sallallahu alaih
wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid di perkampungan. Dan
memerintahkan untuk membersihkan dan memberi wewangian. Dikeluarkan Ahmad di
Musnad, (26386). Dinyatakan shoheh oleh Syekh Albani di silsilah shohehah,
(2724).

6.     
Nabi
sallallahu alaihi wa sallam menganjurkan kepada umatnya untuk membersihkan
halaman rumah dan membersihkannya. Seraya beliau sallallahu alaihi wa sallam
bersabda:

طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ
أَفْنِيَتَهَا ” . أخرجه الطبراني في “المعجم الأوسط” (4057) ، وحسنه الشيخ
الألباني في “السلسلة الصحيحة” (236

“Bersihkan halaman anda,
karena sesungguhnya orang Yahudi tidak membersihkan halamannya.” HR. Tobroni
di ‘Mu’jam Ausath, (4057) dinyatakan hasan oleh Albany di Silsilah Shohehah,
(236).

Urusan kebersihan tidak
sekedar bersih secara pribadi, kebersihan masjid dan rumah. Bahkan sampai
urusan kebersihan jalan. Sampai hal itu menjadi kebiasaan yang umum
diketahui oleh para Shahabat radhiallahu anhum dan mereka menukilkannya.
Sampai Muhammad bin Sirin mengatakan, “Ketika Abu Musa Al-Asy’ari datang di
Basroh. Beliau mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya amirul mukminin
mengutusku kepada kalian semua. Untuk mengajarkan sunah dan membersihkan
jalan-jalan kamu. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di ‘Mushonafnya, (25923)
dengan sanadnya shoheh.

Wallahu a’lam
.