Apa arti dari basmalah?, dan apakah basmalah dibaca juga pada tengah surat?, kenapa?, dan apakah arti dari
“اقرأ باسم ربك “ ?
Alhamdulillah
Perkataan seseorang: “بسم
الله “ sebelum memulai aktifitas artinya
adalah :
“Saya memulai aktifitas ini dengan disertai dan meminta
pertolongan kepada Allah mengharapkan keberkahan dari-Nya. Allah adalah
Tuhan (yang berhak disembah) yang dicintai yang semua hati tertuju
kepada-Nya dengan penuh rasa cinta, pengagungan dan ketaatan (ibadah), Dia
juga Maha pengasih dengan ramhat-Nya yang luas, Maha Penyayang yang
menyampaikan rahmat-Nya kepada semua makhluk-Nya”.
Ada makna yang lain; yaitu: “Saya memulai aktifitas ini
dengan menyebut nama Allah”. Imam Ibnu Jarir –rahimahullah- berkata:
“Sesungguhnya Allah –ta’ala- telah menyebutkannya yang Maha Suci
nama-nama-Nya, Dia mengajarkan Nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
untuk memulai dan menyebut nama-nama-Nya yang baik sebelum melaksanakan
semua aktifitas, dan menyuruhnya untuk menghiasi semua urusannya dengan
nama-nama Allah tersebut, dan menjadikan semua apa yang telah diajarkan
kepada beliau sebagai sunnah yang diikuti oleh umatnya, dan jejak langkah
yang harus mereka lalui, dalam memulai perkataan, tulisan dan kebutuhan
mereka, hingga ucapan dzahir dari basmalah menunjukkan makna yang terkandung
dibalik aktifitasnya.
Terdapat sesuatu yang tersembunyi dalam ungkapan basmalah
sebelum memulai aktifitas, kata yang tersembuyi tersebut kira-kira: “Saya
memulai aktifitas saya dengan basmalah, seperti: “
بسم الله أقرأ “ (dengan nama Allah saya
membaca) maka kata kerja “
أقرأ “ diakhirkan dan
disembunyikan. Contoh: “بسم
الله أقرأ “, “
بسم الله أكتب
“ (dengan nama Allah aku menulis), “
بسم الله أركب “ (dengan nama
Allah aku berkendara), dan lain sebagainya. Atau permulaan (aktifitas) saya
dengan nama Allah, berkendara saya dengan nama Allah, bacaan saya dengan
nama Allah, dan lain sebagainya. Ketika kata kerjanya diakhirkan maka hal
itu lebih baik untuk mendapatkan berkah dengan mendahulukan nama Allah,
dengan tujuan pengkhususan, yaitu; saya memulai dengan nama Allah tidak
dengan nama yang lain.
Lafdzul Jalalah (
الله
) adalah nama yang paling agung dan yang paling ma’rifat (istilah gramatika
bahasa Arab), yang sebenarnya tidak membutuhkan definisi (karena sangat
dikenal), ia adalah nama khusus dari Dzat yang Maha Menciptakan –jalla
jalaluhu- bukan yang lain-Nya. Menurut pendapat yang benar bahwa nama Allah
adalah pecahan dari kata:
( أله – يأله – ألوهة وإلهة ),
maka ia adalah ilah yang berarti yang disembah.
Sedang kata
(الرحمن) , nama dari nama-nama
Allah yang khusus bagi-Nya, yang artinya adalah memiliki rahmat yang luas
karena dengan bentuk:
فعلان , menunjukkan arti penuh dan banyak, Ar
Rahman adalah nama Allah yang paling khusus setelah lafadz jalalah.
Sebagaimana sifat rahmat adalah sifat yang paling khusus bagi-Nya, oleh
karenanya kebanyakan disebutkan setelah lafadz jalalah, sebagaimana dalam
firman-Nya:
قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن .. (سورة
الإسراء: 110)
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman…” (QS. Al
Isra’: 110)
Kata
(الرحيم) adalah salah satu dari nama-nama
Allah dengan makna bahwa Dia (Allah)-lah yang menyampaikan semua rahmat-Nya
kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.
Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata:
“Ar Rahman adalah menunjukkan pada sifat yang nenunjukkan
kepada-Nya –subhanahu wa ta’ala-, sedang Ar Rahim adalah menunjukkan bahwa
sifat tersebut berkaitan dengan hamba yang akan dirahmati. Yang pertama
seakan sebagai sifat dan yang kedua adalah sebagai pelaksanaan. Yang pertama
menunjukkan bahwa kasih sayang itu adalah sifat-Nya, dan yang kedua
menunjukkan bahwa Dia menyayangi hamba-Nya dengan kasih-sayang-Nya. Jika
anda ingin memahami hal ini maka perhatikan firman-Nya berikut ini:
وكان بالمؤمنين رحيما (سورة الأحزاب: 43)
“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang
beriman”. (QS. Al Ahzab: 43)
Dan firman-Nya yang lain:
إنه بهم رءوف رحيم (سورة التوبة: 117)
“Sesungguhnya Allah Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka”. (QS. At Taubah: 117)
Tidak pernah disebutkan:
(رحمن بهم)
maka bisa disimpulkan bahwa Ar Rahman adalah yang memiliki sifat rahmat, dan
Rahim adalah yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya.”. (Bada’i Fawaid: 1/24)
Kedua:
Sedangkan hukum membaca
basmalah sebelum membaca al Qur’an maka memiliki empat kreteria:
Pertama:
Basmalah disebutkan di awal
surat selain surat Bara’ah (Taubah). Banyak di antara para ulama
menjelaskan: “Hukumnya mustahab (sunnah) membaca basmalah di awal surat
dalam shalat maupun di luar shalat. dan seyogyanya membaca basmalah itu
selalu dijaga, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa khatam al Qur’an tidak
sempurna jika seorang qori’ tidak membaca basmalah pada setiap awal surat
kecuali surat Bara’ah. Ketika Imam Ahmad –rahimahullah- ditanya tentang
membaca basmalah pada setiap awal surat, beliau menjawab: “Janganlah ia
meninggalkannya”.
Kedua:
Basmalah disebutkan di tengah
surat, inilah yang ditanyakan dalam soal di atas. Jumhur ulama’ dan qari’
bependapat: tidak masalah memulai tengah surat dengan basmalah. Dikisahkan
dari Imam Ahmad tentang basmalah, setelah beliau berkata: janganlah ia
meninggalkannya di awal surat: “Jika ia membacanya pada sebagian surat
bagaimana hukumnya ?, beliau menjawab: “Tidak masalah”. (Al ‘Ibadi
meriwayatkannya dari Syafi’i –rahimahullah- tentang sunnahnya membaca
basmalah di tengah surat.
Para imam qira’at berkata:
“Sangat dianjurkan membaca basmalah jika di dalam ayat yang akan dibacanya
ada kata ganti yang kembali kepada Allah, seperti firman Allah:
إلَيْهِ
يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ (سورة فصلت: 47)
“Kepada-Nyalah dikembalikan
pengetahuan tentang hari kiamat”. (QS. Fushilat: 47)
Dan firman Allah yang lain:
وَهُوَ
الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ (سورة الأنعام: 141)
“Dan Dialah yang menjadikan
kebun-kebun…”. (QS. al An’am: 141)
Karena penyebutan ayat
seperti ini setelah meminta perlindungan dari kejelekan akhlak dan bisa jadi
kembalinya kata ganti tersebut kepada syetan.
Ketiga:
Membacanya pada awal surat
Bara’ah (Taubah), hampir tidak ada perbedaan di antara para ulama bahwa hal
tersebut makruh.
Shaleh berkata dalam “Masail”
nya dari bapaknya Ahmad –rahimahullah-: Saya bertanya tentang surat al Anfal
dan surat at Taubah, apakah boleh bagi seseorang memisah antara kedua surat
tersebut dengan:
( بسم
الله الرحمن الرحيم )
? . Bapak saya berkata: “Dalam al Qur’an hendaknya mencukupkan dengan apa
yang sudah menjadi ijma’ para sahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- tidak ditambah dan tidak dikurangi”.
Keempat:
Membaca basmalah pada tengah
surat Bara’ah. Para ulama qira’at berbeda pendapat dalam masalah ini,
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hajar al Haitsami dalam “Al Fatawa
Al Fiqhiyah”: 1/52 beliau berkata: “As Sakhowi yang termasuk ulama qira’at
berkata: “Tidak ada perbedaan bahwa disunnahkan untuk memulai tengah ayat
dari surat al Bara’ah dengan basmalah, dan dibedakan antara di awal dan di
tengah surat namun karena tidak mengandung manfaar pendapat ini dibantah
oleh al Ja’bari yang juga termasuk ulama qira’at bahwa pendapat yang
mengatakan makruh yang lebih dekat dengan kebenaran; karena memang menuntut
untuk meninggalkan basmalah di awal surat karena diturunkan dengan pedang,
di dalam surat tersebut juga terdapat sikap tercela dari orang-orang munafik
yang pada surat yang lain tidak disebutkan, maka dari itu tidak
disyari’atkan membaca basmalah baik di awal maupun juga di tengah surat.
(Baca: Al Aadab asy
Syar’iyyah / Ibnu Muflih: 2/325, dan Al Mausu’ah al Fiqhiyyah: 13/253, dan
al Fatawa al Fiqhiyyah al Kubro: 1/52)
Ketiga:
Adapun makna firman Allah
–ta’ala-:
اقرأ باسم ربك
(سورة العلق: 1)
“Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu…”. (QS. Al ‘Alaq: 1)
Imam Ibnu Jarir
–rahimahullah- berkata: “Tafsir dari firman Allah –ta’ala-:
اقرأ باسم ربك
الذي خلق
Begitu agung ujian kepada-Nya
dengan firman-Nya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu wahai Muhammad –shallallahu
‘alaihi wa sallam- berkata: “Bacalah wahai Muhammad dengan menyebut nama
Rabbmu yang telah menciptakan”.
Wallahu a’lam.
